
Sepulangnya dari rumah sakit, Berryl justru membawa Hanindita melewati jalan berbeda dari biasanya. Bahkan lama perjalanan pun membutuhkan waktu lebih panjang dari biasanya membuat Hanindita mengerutkan keningnya.
"By, ini bukan jalan menuju mansion. Emang kita mau kemana?" tanya Hanindita bingung. Matanya tak lepas dari memandangi jalanan yang di setiap berjarak satu meter ditumbuhi pohon-pohon rindang meneduhkan.
Berryl tersenyum lalu merapatkan rengkuhannya pada bahu Hanindita sambil menghidu harum aroma rambut Hanindita.
"Kita nikmati saja perjalanan ini," tukasnya seraya memainkan ujung rambut Hanindita.
Patuh, Hanindita kembali mengalihkan pandangannya pada jalanan. Lalu ia meminta sopir menurunkan kaca jendela. Seketika angin berhembus lembut membelai surainya. Ia memejamkan mata, menikmati semilir angin yang terasa begitu menyejukkan. Tak lama kemudian, sampailah mereka di sebuah gerbang berwarna coklat. Mobil mereka pun masuk ke pekarangan rumah yang cukup besar setelah gerbang dibuka penjaga dari dalam.
Mata Hanindita membelalak saat melihat bangunan bertingkat 2 yang tidak begitu besar tapi memiliki pekarangan rumah yang sangat luas dan indah sebab ditumbuhi berbagai macam tanaman dan pepohonan rimbun.
Hanindita sontak hendak berlari mendekati sekumpulan bunga warna-warni yang nampak begitu cantik di matanya, tapi baru saja kakinya hendak melangkah, lengan Berryl telah terlebih dahulu menahan pergerakannya agar tidak melanjutkan langkahnya. Yang salah bukan apa yang hendak dilakukan Hanindita, tapi cara berjalannya. Hanindita hendak berlarian padahal ia baru saja keluar dari rumah sakit paska percobaan pembunuhan yang ingin dilakukan Megan. Mungkin karena terlalu bahagia, Hanindita sampai lupa kini ia tak hanya sendiri. Ada nyawa lain yang harus jaga dan lindungi.
"Hati-hati sweetie!" sergah Berryl kemudian ia melepaskan Hanindita secara perlahan.
"Em ... maaf hubby, aku lupa," cicitnya merasa bersalah.
"It's okay. Tapi ingat, lain kali harus lebih hati-hati! Oke." bisik Berryl yang diangguki Hanindita.
__ADS_1
Dengan langkah lebih hati-hati, Hanindita berjalan menuju taman yang berisi sekumpulan bunga-bunga indah beraneka warna. Ada mawar merah, mawar putih, melati, Lily, aster, dan matahari.
Hanindita tampak berjongkok lalu memegang serta mencium bunga-bunga yang tampak begitu cantik itu dengan perasaan membuncah. Ia tak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya. Kebahagiaan merupakan anugerah terindah sepanjang hidupnya. Tiada lagi penderitaan, yang ada hanya kebahagiaan dan kasih sayang luar biasa yang dilimpahkan Berryl dan keluarganya untuknya.
Berryl memandangi setiap apa yang dilakukan Hanindita di taman itu sambil tersenyum. Lalu ia berjalan mendekatinya dan mengajaknya duduk di salah satu ayunan yang ada di sana. Hanindita menurut dan ikut duduk di sana dengan bersisian.
"Mulai sekarang dan seterusnya kita akan tinggal di sini. Ini adalah villa yang sengaja aku beli untukmu. Kau suka?"
Hanindita menoleh seraya tersenyum manis lalu mengangguk mantap.
"Aku suka, sangat suka. Tempat ini sangat indah, terima kasih, hubby. Kau memang yang terbaik," serunya dengan mata berbinar bahagia.
...***...
Sementara itu, di desa tampak Lidya sedang mengerjakan pekerjaan rumah tangga sendirian. Tak ada lagi pakaian mahal yang ia kenakan, semuanya telah dibuang Handoko dan digantikan dengan pakaian bekas usang yang pernah mereka berikan pada Hanindita.
"Mas, udah ya, aku lelah!" lirih Lidya dengan wajah sendunya. Penampilannya begitu berantakan. Rambut dikuncir asal. Wajahnya kumal tanpa polesan. Baju daster lusuh. Sangat jauh berbeda dari Lidya yang dulu, yang selalu tampak cetar dengan make up tebal dan pakaian mahal.
Handoko tersenyum sinis lalu mengangkat cangkir berisi kopi miliknya lalu menyesapnya sedikit.
__ADS_1
Prang ...
Cangkir berisi kopi itu hancur berserakan di lantai. Lidya menatap nanar lantai yang kembali kotor dengan tumpahan kopi dan beling yang berserakan. Geram merasa pekerjaannya kembali bertambah, Lidya pun melemparkan sapu dengan kasar menimbulkan suara kegaduhan dari sana.
"Apa-apaan kamu mas? Aku udah capek-capek bersih-bersih rumah kamu malah kayak gitu? Kamu pikir aku nggak capek?" teriak Lidya geram.
Handoko berdecih sinis, bila ia merasa pekerjaan itu melelahkan, mengapa mereka dulu justru memperlakukan putrinya semena-mena.
"Lelah? Lalu bagaimana kabar Hanindita yang kalian perlakukan semena-mena, hah?" bentak Handoko lalu ia melemparkan semua barang yang ada di atas meja. "Kau bahkan tega-teganya menipuku dan memfitnah istriku berselingkuh dengan pria lain. Kau juga membuat seolah-olah Hanindita bukanlah anakku, mengapa kalian tega?"
"Maafkan aku, mas. Aku tahu aku salah, aku menyesal."
"Maaf? Menyesal? Apa masa lalu bisa diputar kembali lalu diperbaiki dengan satu kata maaf dan menyesal? Kalau iya, pasti sudah lama penjara kosong," ucap Handoko dengan ketus. "Kalian benar-benar iblis. Aku takkan pernah memaafkan kalian," imbuhnya dengan kebencian yang membara.
Brak ...
Handoko pergi dari hadapan Lidya setelah mendorong perempuan yang masih berstatus sebagai istrinya tersebut hingga terjatuh ke lantai.
"Aaargh ... " Lidya menjerit lalu meraung karena terjatuh hingga ada pecahan beling yang terinjak dirinya.
__ADS_1
Lidya hanya bisa meraung tanpa melakukan apapun. Andai ia memiliki tempat lain, pasti ia sudah lari dari sana.