
Sambil menggeram menahan amarah, Karl langsung mengemudikan mobilnya secepat mungkin mengikuti GPS yang tertera di layar ponselnya. Ia benar-benar dalam rasa penyesalan yang dalam. Bertahun-tahun ia membenci dan memusuhi sepupunya sendiri karena seorang wanita yang tak lebih dari seekor ular berbisa. Ia tak menyangka Arlene, gadis yang begitu ia cintai dengan tega-teganya menipu diri hanya karena seorang pria yang tidak mencintainya. Padahal ia begitu mencintai dirinya dengan tulus, tapi apa yang ia dapatkan, pengkhianatan.
Bertahun-tahun ia menemani Arlene di masa terpuruknya karena penolakan Berryl. Bahkan ia juga membiayai pengobatan Arlene selama ini, berharap ia dapat sembuh. Walaupun Arlene belum bisa membuka hati untuk dirinya tapi karena perasaannya tulus, ia tidak mempermasalahkan Arlene yang tidak bisa membalas cintanya. Bahkan ia membantu Arlene agar dapat dekat dengan Berryl walaupun ia harus melakukan cara yang tidak terpuji sekalipun. Itu hanya demi membuktikan kalau cintanya tulus.
Tapi apa yang ia dapatkan? Hanya pengkhianatan. Kebohongan. Arlene yang ternyata terlampau terobsesi dengan Berryl yang bukan hanya tampan tapi juga seorang CEO perusahaan besar. Sedangkan ayahnya, terobsesi menjadi anggota keluarga Van Houten yang terkenal di kerajaan bisnis hampir di seluruh Asia dan beberapa negara Eropa dengan kantor pusat berada di Belanda yang dipegang oleh ayahnya sendiri, Abelano Van Houten.
Dia yang hanya sepupu dari saudara ibu Berryl, tentu tak bisa mendapatkan kekuasaan yang seperti Berryl miliki. Sebab perusahaan itu memang diwariskan turun-temurun dari pihak ayah Berryl. Namun biar begitu, Abelano cukup bijak. Ia memberikan ayahnya kekuasaan atas perusahaan cabang Singapura. Seharusnya Karl tahu diri dan berterima kasih, bukannya memusuhi sepupunya sendiri hanya karena seorang wanita.
Apakah Karl menyesal?
Pasti, ia sangat menyesal karena itu ia memacu mobilnya secepat mungkin untuk mencegah Megan bertindak jauh. Entah mengapa ia khawatir kalau Megan akan melakukan sesuatu yang buruk pada istri sepupunya itu.
Dan benar dugaannya, setibanya di lokasi, ia melihat Megan hendak menusukkan sebilah pisau ke perut Hanindita. Karena itu, secepat mungkin ia menarik pelatuk pistol yang sudah ia genggam sejak turun dari mobil dan langsung mengarahkannya ke pundak Megan.
Dorrr ...
"Aaarghhh ... "
Vano dan Vino terkejut saat terdengar suara letusan senjata api tepat di dekat mereka. Vano dan Vino yang tadi diam-diam merangsek mendekati Megan dari belakang lantas menoleh ke arah sumber suara, sedangkan Berryl telah sigap menangkap tubuh Hanindita yang oleng karena sempat terkena tusukan pisau.
"Sweetie," lirih Berryl saat melihat perut Hanindita yang mengeluarkan darah. Nafasnya tercekat, ia khawatir terjadi sesuatu pada Hanindita juga calon anaknya yang belum sempat ia buktikan keberadaannya.
"Hubby, jangan khawatir! Aku nggak papa kok." Lirih Hanindita meringis menahan sakit.
"Kita ke rumah sakit sekarang ya!" ujar Berryl panik lalu ia melirik Megan yang terkapar dengan darah yang mengalir dari pundaknya. Pisau yang ia gunakan untuk menusuk Hanindita tadi pun telah jatuh ke tanah.
__ADS_1
Berryl panik sampai tidak menyadari kedatangan Karl, ia langsung menggendong Hanindita ke dalam pelukannya dan memasukkannya ke dalam mobil.
"Berryl," panggil Karl membuat Berryl menoleh dengan tatapan tajam penuh amarah.
"Bajing-an," erang Berryl murka dengan sorot mata tajam. Berryl maju untuk melampiaskan amarahnya pada Karl, tapi Karl menghentikannya.
"Tahan dulu amarahmu, ajak salah satu temanmu untuk mengantar kalian ke rumah sakit. Biarkan wanita ular itu jadi urusanku dan salah satu temanmu," tukas Karl membuat Berryl menatapnya bingung.
"Nanti aku jelaskan." Paham arti tatapan Berryl padanya. "Kau bebas melampiaskan amarahmu nanti padaku tapi selamatkan dulu istrimu," ujarnya lagi lalu Berryl pun segera meminta Vano mengantarkannya ke rumah sakit.
...***...
Di rumah sakit.
Seorang wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik di usia senjanya, berlari dengan tergopoh-gopoh mendekati Berryl yang sedang gelisah menunggu dokter keluar dari ruang UGD.
"Berryl belum tahu, mom. Berryl masih menunggu dokter yang sedang mengobservasi Anin. Mom doakan saja Anin tidak apa-apa," tukas Berryl lirih. Wajahnya yang biasanya datar, terlihat sangat panik. Begitu pula Ivanka, walaupun awalnya ia kurang menyukai Hanindita namun seiring berjalannya waktu, melihat sikap Hanindita, membuatnya jadi begitu menyayangi Hanindita sama seperti ia menyayangi kedua anak kandungnya.
"Kau sudah telepon Daddy mu?" tanya Ivanka.
Berryl menggeleng.
"Ya sudah, biar mom yang menghubunginya nanti. Tapi bagaimana peristiwa seperti ini bisa terjadi?" tanya Ivanka penasaran.
"Biar Karl yang jelaskan aunty. Maafkan Karl aunty, Berryl, semua ini kesalahan Karl. Maafkan atas kebodohan Karl yang telah membuat kakak ipar terluka. Maafkan Karl!" lirih Karl yang langsung menghempaskan lututnya seraya bersimpuh di hadapan Berryl dan Ivanka membuat Ivanka tercengang. Sedangkan Berryl yang sudah sejak tadi menahan amarahnya langsung meloloskan sebuah tinju tepat di hidung Karl.
__ADS_1
"Berryl," pekik Ivanka dan Berliana yang juga baru datang.
"Kau .. kalau sampai terjadi sesuatu pada istriku, maka aku takkan pernah memaafkan mu seumur hidupmu " Ucap Berryl sambil menggeram menahan amarah. Andai ini bukan rumah sakit, Berryl pasti sudah memberikan pelajaran yang lebih dari itu
"Sebenarnya apa yang terjadi? Karl katakan, apa yang telah kau lakukan sebenarnya?" cecar Ivanka yang sudah tak bisa menahan rasa penasarannya.
"Maaf aunty, Karl salah. Karl telah dibodohi gadis yang Karl cintai. Karena kebodohan Karl, Karl mau-mau saja dimanfaatkannya dan ayahnya. Karl tidak sadar kalau selama ini Arlene dan ayahnya hanya memanfaatkan Karl. Bahkan Arlene menipu Karl dengan berpura-pura lumpuh. Karl terlalu dibutakan oleh cinta sehingga bersedia membantunya begitu saja. Karl mengacau perusahaan Berryl agar dapat menculik istri Berryl. Sebenarnya tujuan Karl hanya ingin mempengaruhinya agar bersedia meninggalkan Berryl tanpa memikirkan risikonya. Karl tidak tahu, kalau Megan justru ingin mencelakakan istri Berryl. Maafkan Karl aunty, Berryl. Maafkan aku!" Lirih Karl dengan wajah sendu penuh penyesalan.
Plak ...
"Seharusnya kau berpikir sebelum bertindak. Hanya karena seorang perempuan yang notabenenya orang lain kau tega ingin mengusik kehidupan keluargamu sendiri, otakmu dimana Karl? Padahal aku menyayangimu seperti anak sendiri, tapi ini balasanmu? Seharusnya kau berpikir, perempuan yang masih berniat mendekati laki-laki lain padahal sudah tahu laki-laki itu telah beristri apa pantas disebut sebagai perempuan baik-baik? Tidak Karl. Aunty sangat kecewa padamu. Kau berdoa saja agar tidak terjadi sesuatu yang buruk pada menantuku atau kau akan mendapat hukumanmu!" Tegas Ivanka. Tak peduli kalau Karl adalah anak adiknya sendiri, tapi ia tidak terima kalau keluarganya diusik apalagi sampai membuat menantunya terluka seperti ini.
Tak lama kemudian, seorang dokter keluar dari ruang UGD tempat Hanindita dirawat. Berryl dan Ivanka yang melihat pun segera mendekatinya.
"Bagaimana keadaan istri saya, dok?" tanya Berryl.
"Syukurlah, luka tusukkannya tidak terlalu dalam jadi Anda tidak perlu khawatir kami sudah mengatasinya. Namun, kondisi istri Anda belum stabil. Sepertinya istri Anda juga tengah hamil muda. Untuk mengetahui lebih pasti, lebih baik Anda segera ke bagian obgyn." tukas dokter itu menjelaskan seraya tersenyum.
Bibir Berryl tertarik ke atas membentuk lengkungan tipis yang sangat indah. Begitu pula Ivanka, ia langsung memeluk Berryl bahagia. Akhirnya, keinginannya terkabul. Begitu pula dengan Berryl, ternyata dugaannya tidaklah salah. Ia bersyukur, istri dan calon anaknya baik-baik saja.
"Kau selamat kali ini. Aku harap, kau tidak berbuat kebodohan seperti ini lagi di kemudian hari." Tukas Berryl memperingatkan Karl.
"Kau tenang saja, sepupu. Aku janji, takkan menjadi pria bodoh lagi. Terima kasih dan selamat kau akan segera menjadi seorang Daddy." Ucap Karl dengan tersenyum lebar.
...***...
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🙏...