
Berryl, Vano, Vino, Tessa, dan kedua temannya Gaya dan Citra telah sampai di sebuah vila yang terletak di dekat lereng pegunungan. Suasananya begitu tenang, asri, dan menyenangkan. Udaranya pun begitu bersih. Jauh dari kata polusi dan bising bunyi kendaraan. Kalaupun ada, paling satu dua yang melintas. Selebihnya lebih suka menggunakan sepeda.
Di sepanjang lereng pegunungan, dikelilingi perkebunan teh yang sangat indah. Perkebunan itu berbentuk undakan membuat sepanjang mata memandang, justru makin memukau.
"Gimana? Loe suka?" tanya Vino sambil menepuk bahu Berryl yang sedang memandangi hamparan hijau yang tak jauh dari vila.
"Hmmm ... ternyata, menyenangkan juga datang kemari. Otak gue mendadak relaks." ujar Berryl seraya merentangkan tangannya dan mendongakkan wajah untuk menghirup udara yang sangat-sangat menyejukkan juga menyegarkan itu.
"Hei, kalian mau mandi nggak?" tanya Vano seraya merangkul pundak Gaya.
"Cih, rangkul-rangkulan, baru juga kenal." ejek Berryl sambil menggelengkan kepalanya.
"Why bro? Loe ngiri?" ejek Vano seraya tersenyum meremehkan.
"Iri? No way." tolak Berryl mentah-mentah.
"Ya udah, gimana, kalian mau mandi nggak? Kami mau mandi ke sungai. Di sini ada air terjun yang keren bro kata Gaya."sambung Vano kembali membahas perihal mandi.
"Kayaknya asik juga. Kamu mau, beb?" tanya Vino pada Tessa yang baru saja ikut bergabung.
"Ya dong kan yang awalnya ngerekomendasiin itu aku, beb." ujar Tessa seraya mendekat dan bergelayut manja di lengan Vino.
Berryl hanya bisa berdecih saat melihat pasangan yang lagi kasmaran itu. Paling juga nggak lama pikirnya. Ia sudah sangat hafal dengan tingkah laku kedua sahabatnya itu. Beruntung, mereka tidak pernah keluar batasan. Kalau sampai mereka macam-macam, bisa habis mereka di tangan Berryl.
"Ya udah, hayok kalau gitu! Loe juga ikut kan, Ryl?" tanya Vino.
"Ya udah, gue ngikut aja. Kayaknya cukup menyenangkan." sahut Berryl datar.
"Cit, temenin Berryl tuh! Kasian, dia jomblo akut. Siapa tau loe bisa naklukkin si beruang kutub satu itu." goda Vano seraya mengerling ke arah Citra.
"Beruang kutub? Bernard dong." ledek Gaya terkekeh. Berryl menatap tajam ke arah Gaya membuatnya bungkam seketika. "Oops ... sorry." cicitnya sambil menyembunyikan wajahnya di belakang Vano.
Vano dan Vino pun tergelak karena celetukan Gaya. Biarpun mereka sudah dewasa, kadang kala menonton film kartun dapat membangkitkan moodnya jadi mereka sangat tau siapa itu Bernard. Tak terkecuali Berryl yang kerap tanpa sengaja melihat si kembar itu menonton kartun. Tentu ia tahu, tokoh beruang putih super bodoh dan super teledor bernama Bernard. Bahkan kadang si kembar itu juga suka menonton si kembar botak dari negeri Jiran.
"Hahahaha ... betul, betul, betul. Bahkan namanya pun cocok, Berryl Bernard." imbuh Vino sambil tergelak.
"Hai, Bernard." lanjut Vano masih dengan tawa di bibirnya.
Kesal terus diledek, Berryl maju dan memiting leher Vano dan Vino di lengan kanan dan kirinya membuat si kembar itu menjerit minta ampun.
"Aaargh ... a-ampun, Bernard eh sor-sorry, maksudnya Ryl, Berryl. Ka-mi kan cuma ber-can-da." ujar Vano dengan nafas tercekat karena lehernya yang tercekik.
"I-iya, Ryl, nggak usah ma-rah, en-tar cewek-ce-wek jadi takut sama loe."
__ADS_1
"Ryl, please lepasin Vino dong?" bujuk Tessa dengan wajah memelas.
"Anu ... itu ... eh Ber-Ber-Berryl, maksudnya. Ma-maaf, gue tadi ... gue tadi ... "
"Berryl, please, lepasin mereka ya! Entar ... entar gue temenin loe jalan deh sebagai gantinya." cicit Citra mencoba menolong kedua kekasih sahabatnya.
Berryl pun melepaskan Vano dan Vino hingga mereka terbatuk-batuk karenanya.
"Ukhuk ... ukhuk ... ukhuk ... "
"Makasih ya, Ryl." ujar Citra tersenyum lebar. Ia berada dapat jackpot karena berhasil meluluhkan kemarahan Berryl.
"Makasih? Untuk?" Berryl mengerutkan keningnya.
"Karena udah mau lepasin Vano dan Vino."
"Apa kau pikir aku melepaskan mereka karenamu?" tanya Berryl dan Citra mengangguk.
Berryl tersenyum sinis, "Jangan terlalu tinggi menghayal!" ujarnya sinis membuat Citra membeku di tempatnya.
"Ryl, gila loe ya, mau bunuh kami berdua, loe." geram Vano.
"Dasar, temen nggak ada akhlak." desis Vino lalu merangkul bahu Tessa untuk berlalu dari sana.
Perjalanan menuju ke air terjun sebenarnya tidak terlalu jauh. Tapi karena untuk menuju ke sana harus naik turun bebatuan yang membukit, membuat mereka membutuhkan ekstra tenaga dan waktu untuk menuju ke sana. Tapi pengorbanan itu tak sebanding dengan apa yang mereka lihat. Air terjun itu mengalir deras dengan indahnya. Di bawahnya air sungai mengalir begitu jernih. Banyak bebatuan yang cukup besar bertaburan di sana untuk dijadikan tempat duduk atau nongkrong sambil bermain air. Air sungai itu juga tidak terlalu dalam sehingga air terjun itu bukan hanya dipenuhi orang dewasa saja, tapi juga anak-anak.
Bibir Berryl tertarik ke atas saat melihat anak-anak kecil berenang kesana-kemari sembari berkejar-kejaran. Padahal saat itu sudah tengah hari, tapi suasana masih terasa begitu menyejukkan.
Berryl duduk di salah satu batu dengan kaki terulur ke dalam sungai setelah sebelumnya ia melepaskan sepatunya.
Melihat apa yang dilakukan Berryl, diam-diam Citra pun mendekat untuk duduk di dekat Berryl. Menyadari ada seseorang yang duduk di sampingnya, Berryl lantas segera berdiri menjauhi Citra membuat Citra meremas tangannya.
"Kenapa, Cit?" tanya Tessa yang baru saja berenang ke sisinya.
"Huh, sok jual banget tuh cowok!" dengus Citra membuat Tessa terkekeh.
"Baru tau? Karena itu Vino dan Vino bilang dia beruang kutub soalnya dia itu terlalu dingin dan susah ditaklukkan. Itu sih kata mereka, nggak tau deh yang sebenarnya kayak gimana. Loe usaha aja lagi, siapa tau berhasil." bisik Tessa seraya mengepalkan tangannya untuk memberi semangat.
...***...
Tok tok tok ...
"Ada Megan?" tanya seorang gadis yang Hanindita ketahui merupakan teman Megan.
__ADS_1
"Ada di kamar." sahut Hanindita datar. Ia memang tak suka berbasa-basi apalagi beramah-tamah dengan orang lain. Apalagi ia sudah tau, gadis itu memang kerap datang ke rumah itu untuk menemui Megan.
Gadis itu pun tanpa sungkan masuk ke rumah dan menerobos pintu kamar Megan tanpa rasa canggung.
"Meg ... " seru Elsa saat memasuki kamar Megan.
Megan yang sedang berchating ria lantas mendongakkan wajahnya menatap Elsa.
"Hmmm ... muka loe kayak ceria banget? Dapat lotre loe?" tukas Megan yang kini telah kembali fokus ke layar persegi di depannya.
"Lebih dari lotre, tau nggak apa?" seru Elsa dengan wajah berbinar. Megan menggeleng, tampak tidak tertarik.
Lalu Elsa mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan beberapa foto yang ada di galerinya.
"Desa kita kedatangan cowok-cowok cakep. Kayaknya blasteran bule gitu. Cakep-cakep ya?" seru Elsa penuh semangat.
Megan yang mendengar itu pun lantas mengambil ponsel Elsa dan melihatnya. Megan membulatkan matanya saat melihat wajah-wajah tampan yang terpampang di layar ponsel itu.
"Loe mau liat nggak? Mungkin aja mereka masih di air terjun."
"Nggak perlu loe bilang dua kali juga, hayo."
Megan pun segera meraih jaket dan memakainya. Tak lupa ia mengaplikasikan sedikit make up dan lipstik agar ia terlihat lebih cantik. Setelah itu, mereka pun segera menuju ke air terjun berharap bertemu dengan pria-pria tampan itu. Siapa tau ia bisa menggaetnya satu untuk menjadi pacarnya. Semua orang pasti akan iri melihatnya memiliki kekasih dari kota yang bukan hanya tampan tapi seorang bule.
Namun setibanya di sana, Megan membelalakkan matanya. Ternyata bukan hanya ia dan Elsa yang tertarik melihat si pria bule itu, tapi hampir semua warga desanya pun sudah memadati sepanjang sungai.
"Minggir kalian!" seru Megan saat jalan yang ingin ia lewati ditutupi orang-orang.
Mereka pun segera beringsut memberi jalan. Sebagai pekerja di perkebunan milik Handoko, tentu mereka tau siapa itu Megan. Jadi mereka pun segera berlalu dari sana.
"Gila, ganteng banget." seru Megan antusias.
"Iya Meg, tapi kayaknya mereka udah punya cewek deh." ujar Elsa sambil mengerucutkan bibirnya.
"Kita samperin yuk!" ajak Megan. "Gue mau kenalan sama cowok itu, yang beda sendiri dan jalan sendiri. Dia keren banget. Yuk, Sa!"ajak Megan tak sabaran. Ia begitu terpana saat melihat wajah tampan Berryl.
"Serius loe? Entar kita dijambak-jambak pacar mereka gimana?"
"Ck ... ayo, ih! Ada gue, takut bener." Megan pun segera menyeret tangan Elsa untuk menemaninya berkenalan dengan Berryl, Vano, dan Vino.
...***...
Meg, Meg, kira-kira mereka mau nggak kenalan sama cewek modelan kayak loe? 🤦
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰...