Terjerat Pesona Gadis Desa

Terjerat Pesona Gadis Desa
Ch.50


__ADS_3

"Bu, lepasin Megan, Megan nggak mau berada di dalam sini. Bu, minta ayah lepasin Megan, ayolah Bu!" Mohon Megan dengan berurai air mata. Kemarin Megan baru saja mendapatkan putusan pengadilan. Karena ia terlibat kasus yang cukup berat, ia pun dijatuhi hukuman penjara selama 9 tahun. Itu pun lebih ringan dari tuntutan jaksa penuntut umum, yaitu 15 tahun.


Lidya hanya bisa menangis tergugu sembari memeluk tubuh putrinya. Padahal baru 2 bulan Megan mendekam di dalam penjara, tapi keadaannya sudah sangat buruk. Tubuhnya lebih kurus, lingkar matanya hitam, rambut berantakan, sungguh sangat jauh dari penampilan Megan yang biasanya.


"Maafin ibu, nak. Ibu nggak bisa. Ayah kamu udah nggak seperti dulu lagi. Dia sekarang sangat membenci ibu. Ibu tahu, ibu selama ini salah. Mungkin ini adalah hukuman untuk kita karena telah merampas yang bukan hak kita. Kita juga selalu semena-mena dan menyiksa Dita tanpa belas kasihan. Kita memperlakukan anak piatu itu dengan sangat buruk. Ibu juga memfitnah ibunya dan mengatakan Dita bukan anakmu, padahal sebaliknya, dia benar-benar anak kandung ayah kalian. Karena keserakahan ibu, dia dibenci ayahnya sendiri. Ia juga tak pernah mendapatkan kasih sayang ayah kalian, sedangkan kalian yang bukan anak kandung justru mendapatkan segalanya. Ibu yang salah, Megan. Semua salah ibu. Seandainya ibu tidak serakah dan iri dengki dengan apa yang ibu Dita miliki, pasti semua takkan berakhir seperti ini," ungkap Lidya jujur.


Megan sampai terperangah tidak percaya. Jadi apa yang dikatakan Hanindita tempo hari bukan sebuah kebohongan. Hanindita benar-benar anak ayahnya dan justru dirinya lah yang bukan anak ayahnya.


Megan terhenyak dengan wajah pucat pasi. Apa yang baru saja diungkapkan ibunya cukup menohok hati dan jiwanya. Satu persatu bayangan kekejaman dirinya, ibunya, Morgan, juga ayahnya berkelebat di benaknya. Betapa mereka jahat dan kejam. Mereka merampas segala yang bukan haknya dari seorang gadis tak berdosa. Mereka bukan hanya merebut kasih sayang ayahnya tapi juga merebut harta benda yang memang seharusnya milik Hanindita sebab semua itu awalnya milik ibu Hanindita.


Megan menghembuskan nafas kasar. Lalu segera berdiri sambil mencengkram rambutnya karena kepalanya yang tiba-tiba berdenyut. Tak terbayangkan betapa menderita Hanindita selama ini akibat ulah mereka. Bukan hitungan bulan atau hari mereka menyiksa batin dan fisik Hanindita, tapi bertahun-tahun. Ia mengalami kekejaman dan kekerasan itu selama bertahun-tahun. Mungkinkah Hanindita dapat memaafkan segala yang telah mereka lakukan pada Hanindita? Rasanya tak mungkin, itu yang ada di pikiran Megan sekarang.


'Apakah sudah terlambat bagiku untuk meminta maaf?' gumam Megan sambil berjalan gontai kembali ke ruangannya.


"Megan, Megan, Nak, apa kau marah pada ibu?" teriak Lidya yang makin tergugu saat diacuhkan oleh Megan, putri kandungnya.


Rasa bersalah kian menggunung saat ia merasa kalau Megan tengah menanggung kekecewaan pada dirinya. Entah kecewa karena dirinya bukan anak kandung Handoko, atau kecewa karena hal lain. Lidya tak tahu. Karena jam berkunjung habis, Lidya pun keluar dari ruangan itu. Namun ia ingat, sudah lama ia tidak mengunjungi Morgan jadi ia pun meminta waktu untuk menemui Morgan.

__ADS_1


Sama seperti Megan, kini penampilan Morgan sangat jauh berbeda. Ia tampak kusut, rambutnya panjang tak terurus, lingkar matanya hitam, dia benar-benar terlihat kuyu.


"Morgan, nak, apa kabarmu?" tanya Lidya lirih.


Morgan menghela nafas panjang, "Seperti yang ibu lihat. Bagaimana kabar ibu dan lainnya?" tanya Morgan yang memang belum tahu perihal masalah yang akhir-akhir ini menimpa keluarganya.


Lidya kembali terisak, membuat Morgan mengerutkan keningnya.


Lalu Lidya pun menceritakan segalanya tanpa ada yang ditutupi apalagi diberi bumbu tambahan. Semuanya ia ceritakan sejujur-jujurnya.


Morgan hanya bisa menghela nafas panjang sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Seperti kata ibunya, mungkin ini merupakan hukuman dari yang di atas atas segala perbuatan buruk mereka selama ini pada Lidya juga ibunya. Semua bermuara dari sang ibu, tapi bukankah seharusnya sebagai anak ia tidak ikut-ikutan atau minimal menasihati atau melindungi gadis rapuh seperti Hanindita, tapi ia tidak melakukan itu. Ia justru ikut-ikutan bahkan sering berupaya melakukan pelecehan. Sungguh besar dosa dan salah dirinya pada Hanindita.


Setelah mempirnke penjara, Lidya pun kembali. Hari sudah cukup larut saat ia kembali. Perjalanan dari kota ke desa memakan waktu cukup panjang jadi wajar saja ia sampai saat langit sudah menggelap.


"Dari mana saja kau pergi seharian, hah? Habis mencari mangsa baru?" bentak Handoko saat ia telah berjalan melewati ruang tamu.


Sontak saja suara menggelegar Handoko membuat Lidya tersentak.

__ADS_1


"Aku ... aku ... Aaargh ... "


Lidya menjerit saat tangannya diseret Handoko menuju kamar belakang. Lebih tepatnya kamar Hanindita dahulu. Beberapa hari ini Handoko memilih merenung di kamar itu. Kamar yang dahulunya digunakan untuk kamar pelayan justru mereka berikan kepada anak kandungnya sendiri. Sungguh kejam dan bodoh. Anak orang lain ia manja-manjakan, sedangkan anak sendiri ia perbudak.


Hampir setiap malam Handoko menangis di kamar itu, menyesali perbuatannya di masa lalu. Ia memang tidak mencintai ibu Hanindita, tapi ia sudah berusaha menerima dan memperlakukan ibu Hanindita dengan baik. Tapi semenjak peristiwa dimana ia memergoki sang sopir pribadi istrinya sedang berada di kamar mereka dan dalam posisi d atas tubuh sang istri, ia jadi begitu membenci ibu Hanindita. Padahal seharusnya ia berpikir, bisa saja itu fitnah sebab saat itu mata istrinya sedang terpejam seakan sedang pingsan. Tapi ia yang dikuasai ego justru percaya saja saat pria breng-sek itu mengatakan kalau mereka sebenarnya telah menjalin hubungan sangat lama dan Hanindita adalah anaknya.


Bagaikan disambar petir, kenyataan yang diucapkan bajing-an itu langsung saja membuatnya kalap lalu tanpa berpikir apalagi membuktikan kebenarannya, ia justru menghina dan merendahkan istrinya. Ia juga mengabaikannya dan menikah lagi dengan Lidya tanpa memikirkan perasaan istrinya itu hingga tepat di saat malam pertama dirinya dan Lidya, ibu Hanindita menghembuskan nafas terakhirnya.


Kekecewaan, sakit hati, dan putus asa membelenggu jiwa ibu Hanindita hingga memilih mengakhiri hidup. Membiarkan rahasia itu ikut terpendam bersama gundukan tanah yang menjadi saksi bisu ketidakberdayaan seorang istri mempertahankan rumah tangganya. Sekaligus menjadi saksi bisu, betapa kejamnya sebuah fitnah dapat meluluhlantakkan sebuah kepercayaan antara suami istri.


Brakkk ...


Handoko menghempaskan tangan Lidya hingga ia jatuh terjerembab di lantai ubin yang dingin.


"Jangan coba-coba keluar dari sini!" desis Handoko lalu ia segera meninggalkan Lidya yang tergugu sambil memeluk dirinya sendiri yang mulai kedinginan.


...***...

__ADS_1


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2