
Untuk membuktikan perkataan laki-laki yang kemarin menemuinya, Megan pun melancarkan aksinya untuk mencari tahu dimana Hanindita tinggal. Dengan bermodalkan google maps, Megan menelusuri jalanan yang hampir semua sisinya trlah berdiri bangunan besar dan rumah-rumah yang begitu megah. Kawasan itu memang dihuni oleh kaum kelas atas, mulai dari para pejabat tinggi, pengusaha kelas kakap, artis-artis dan penyanyi ternama. Hingga sampailah mobilnya di depan sebuah pagar tinggi bercat kuning keemasan. Diperhatikannya lagi alamat yang diberikan laki-laki kemarin dan benar itulah rumahnya. Karena tak dapat melihat kebagian dalam rumah, Megan pun turun dari dalam mobilnya untuk mengintip ke bagian dalam melalui celah pagar.
Matanya melotot tak percaya, saat melihat rumah yang begitu besar seperti sebuah istana terpampang di hadapannya.
"A-apakah aku nggak salah lihat? Jangan-jangan aku salah alamat," ujarnya tergagap sendiri.
Lalu ia pun kembali mengintip untuk memastikan dan sangat kebetulan sekali saat itu pula Hanindita keluar dari balik pintu sambil mencangklong tas selempannya di bahu kiri, sedangkan tangan kanannya digunakan untuk memeluk buku yang cukup tebal.
Megan makin membelalakkan matanya saat melihat Hanindita yang dilayani dengan baik. Bahkan saat hendak masuk ke dalam mobil, sang sopir membukakan pintu untuknya.
"Sial! Di sini dia hidup dengan enak dan nyaman, sedangkan aku dan keluargaku harus menderita karenanya," umpatnya kesal dengan tangan terkepal. Megan belum juga sadar diri, padahal apa yang ia alami merupakan buah dari perbuatannya sendiri.
Tak mau ketahuan, Megan pun bergegas kembali ke dalam mobil dan melajukannya untuk mengikuti tujuan Hanindita yang ia yakini pasti menuju kampusnya.
Dan benar saja, alamat yang laki-laki kemarin berikan semuanya benar. Tapi siapa dia? Megan sendiri pun bingung dan apa tujuanmu melakukan itu? Apakah ia juga seseorang yang tidak menyukai Hanindita.
Saat Hanindita turun dari dalam mobil, Megan pun menyusul dan mengejarnya sambil berteriak. Hanindita yang merasa namanya dipanggil pun lantas menoleh dan ia membulatkan matanya saat melihat siapa yang tadi memanggilnya. Tampak seorang gadis cantik yang kini tengah ditahan oleh dua orang bertubuh kekar yang entah siapa sehingga ia tidak bisa mendekat sama sekali.
"Dita ... Hanindita ... " teriak seseorang. Hanindita yang merasa namanya dipanggil pun lantas menoleh.
__ADS_1
"Megan?" ucapnya mencoba meyakinkan diri bahwa apa yang ia lihat itu benar-benar Megan, bukannya sekedar halusinasi.
"Lepas! Kalian siapa sih? Aku cuma mau ngomong sama saudaraku sendiri, kenapa kalian menghalangi?" pekik Megan mencoba berontak tapi ia tak kunjung dilepaskan.
"Anda tidak boleh mendekati nyonya muda walaupun dalam jarak 10 meter, ingat itu!" tegas salah seorang pengawal rahasia Hanindita. Bahkan sampai sekarang Hanindita belum mengetahui perihal dirinya yang sebenarnya dikawal secara rahasia.
Hanindita lantas mengernyitkan dahinya dengan mulut menganga lebar. Bukannya mengapa, sebab aneh saja saat tiba-tiba Megan menyebutnya saudara sendiri? Apa ia sedang mengalami gangguan pendengaran? Sejak kapan dirinya dianggap saudara oleh Megan? Bahkan memperlakukan sebagai manusia yang pantas dihargai saja ia tak pernah apalagi menganggapnya sebagai seorang saudara.
Hanindita berdecak pelan lalu ia melirik jam di pergelangan tangannya, kelasnya akan segera dimulai, ia pun pergi begitu saja mengabaikan Megan yang terus meneriakkan namanya.
"Dita ... tolongin gue, please! Dita, ini gue Megan. Nggak mungkin kan loe lupa sama saudara loe sendiri," teriak Megan dengan nafas terengah-engah. Tapi Hanindita pura-pura tak mendengar. Lebih baik ia menulikan telinganya daripada akhirnya harus menelan pil pahit karena sikap sandiwaranya.
"Bagaimana perempuan itu bisa tahu dimana Anin berkuliah?" gumam Berryl setelah melihat foto-foto itu. Beruntung bisa mempekerjakan pengawal rahasia yang bisa melaporkan apa saja yang terjadi maupun dilakukan Hanindita. Jadi ia bisa tetap bekerja dengan tenang.
Namun, belum juga pikirannya benar-benar tenang, datanglah sosok yang entah mengapa sejak dulu sangat gemar mengusik hidupnya.
Brakkk ...
Pintu terdorong dengan kasar lalu muncullah Karl dari baliknya. Sekretaris Berryl menunduk dengan wajah pucatnya karena gagal menghalangi pria itu masuk sesukanya ke kantor Berryl.
__ADS_1
"Maaf, tuan! Pria ini memaksa masuk," ucapnya terbata.
Berryl hanya mengibaskan tangannya sebagai jawaban agar segera pergi dari sana.
"Halo sepupu! Apa kabarmu?" sapa Karl cengengesan membuat Berryl muak.
"Untuk apa kau datang kemari, hah? Aku sama sekali tidak berminat bertemu denganmu." Ucap Berryl acuh seraya menatap layar komputernya.
"Ah, kau ini, masih saja dingin seperti dulu! Seharusnya kau itu beramah-tamah denganku, bukankah aku saudara sepupumu satu-satunya." Ucapnya sambil menghempaskan bokongnya di sofa single di ruangan itu lalu ia mengangkat kaki kanannya ke atas kaki kiri. Karl terlihat seperti orang yang begitu sombong membuat Berryl kian jengah.
Berryl tersenyum sinis, "Sepupu? Hah! Bullshitttt! Aku tak pernah lagi menganggapmu sepupu setelah apa yang ingin kau lakukan dulu. Aku heran, apa motivasimu sebenarnya? Mengapa kau sepertinya sangat ingin melihatku hancur dan menderita?" tanya Berryl penasaran.
"Kenapa? Kau masih tanya kenapa? Jangan pura-pura bodoh kau Berryl Van Houten!" pekik Karl saat mendengar Berryl menanyakan alasan kenapa ia tidak menyukainya.
"Jangan bertele-tele! Aku memang benar-benar tak tahu." sahut Berryl acuh.
Karl tertawa sini, "Baiklah kalau kau ingin tahu. Alasannya karena kau selalu jadi yang paling unggul, paling pintar, selalu berhasil, bahkan Daddy dan grandpa sangat mengagumi dan menyukaimu. Kenapa? Bahkan tanpa perlu menjejaki karir dari bawah, kau langsung diserahkan perusahaan ini, sangat berbeda dengan aku. Bahkan aku harus memulai segalanya dari 0, titik terendah. Setelah aku bersusah-payah meraih segalanya, lagi-lagi kita dibandingkan dengan namamu, merupakan keturunan Van Houten terbaik. Cukup, aku muak mendengarnya. Dan satu lagi ... " perkataan Karl terjeda. Ia menghela nafas panjang. "Itu karena Arlene."
...***...
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰...