
Mobil yang membawa Hanindita menuju kediaman Berryl telah mulai bergerak sejak satu jam yang lalu. Lama perjalanan dari desa menuju kediaman Berryl memakan waktu hampir 4 jam di saat lalu lintas lengang dan bisa lebih bila jalanan lebih padat atau macet.
Sepanjang perjalanan, mata Hanindita tak berlari dari sisi jendela. Sepertinya ia begitu menikmati perjalanan ini seakan ia tengah pergi berlibur. Memperhatikan jalanan dan bangunan-bangunan yang silih berganti mengikut pergerakan mobil membuat Hanindita menyunggingkan senyum.
"Suka?" tanya Berryl saat melihat Hanindita tersenyum.
Hanindita pun mengangguk dengan wajah polosnya membuat Berryl gemas dan mencubit ujung hidungnya yang sedikit mancung.
"Memangnya kamu nggak pernah pergi keluar sampai liat jalanan aja kayaknya seneng banget?" tanya Berryl penasaran. Vano yang sedang menyetir di samping Vino pun ikut mendengarkan percakapan kedua pengantin baru tersebut.
"Nggak pernah. Aku cuma taunya pasar desa doang. Aku cuma bisa liat jalanan kayak gini cuma di tv itupun kalau ibu lagi nonton." jawab Hanindita jujur membuat Berryl, Vano, dan Vino membulatkan matanya.
Mungkin inilah yang disebut the real burung dalam sangkar. Selama ini, Hanindita benar-benar terkurung di dalam kediaman Handoko tanpa boleh mengenal dunia luar.
"Anin, pak Handoko itu beneran majikan kamu?" tanya Vino membuat Hanindita menunduk.
"Kalau kamu belum siap cerita, nggak papa. Tapi aku harap, suatu hari nanti kamu mau menceritakan segalanya padaku. Ingat, aku sekarang suamimu jadi sudah sewajarnya aku mengetahui segala hal tentang kamu." tukas Berryl memberi pengertian sekaligus peringatan.
"Oh iya tuan, apa kita sekarang beneran udah nikah?" tanya Hanindita polos. Bukan tanpa alasan ia bertanya. Ia merasa ini semua bagaikan mimpi. Tiba-tiba saja dilamar. Tiba-tiba saja juga dinikahi lalu dibawa pergi dari rumah tempat ia tinggal selama bertahun-tahun.
"Nggak. Itu cuma mimpi." ketus Berryl membuat Hanindita ber'oh ria. Vano dan Vino pun tergelak melihat Hanindita yang sepertinya percaya begitu saja dengan perkataan Berryl.
"Tapi kok kayak nyata ya?" gumamnya membuat Vano dan Vino makin tergelak melihat ekspresinya.
__ADS_1
"Kenapa tuan ketawa? Emang apa yang lucu? Oh iya, kalau ini mimpi, kenapa aku masih ada di dalam mobil ini? Tuan ngerjain aku ya?" tuding Hanindita dengan jari telunjuk mengacung ke arah Berryl. Lalu dengan gemas Berryl menggigit jari telunjuk itu membuat Hanindita menjerit kesakitan.
"Ih, kenapa digigit sih? Sakit tau." ketus Hanindita.
"Biar kamu sadar, ini nggak mimpi. Kamu itu udah sah jadi istri aku. Istri dari Berryl Van Houten. Tuan muda keluarga Van Houten." gemas Berryl.
"Terus tuan yang ada di depan itu anak buah tuan ya?"
"Kalau kami anak buah, berarti Berryl bapak buah dan kamu Hanindita ibu buahnya." seloroh Vano.
"Keluarga buah-buahan dong." timpal Vino yang merasa lucu melihat tingkah polos Hanindita.
Melihat Vano dan Vino asik tertawa justru membuat Hanindita tertunduk malu. Ia merasa seperti orang yang begitu bodoh. Kurangnya pergaulan dan sosialisasi membuatnya jadi sosok yang sulit berekspresi dan memahami sesuatu. Tetapi bukan berarti ia bodoh. Ia hanya butuh bimbingan dan pendampingan. Apalagi selama ini juga ia selalu membatasi diri berinteraksi dengan orang lain. Semua itu dilakukan semata-mata karena larangan dari Lidya dan Megan. Karena itu, melihat Vano dan Vino tertawa justru membuatnya merasa seperti orang bodoh.
"Kamu kenapa?" tanya Berryl saat melihat Hanindita menunduk dalam.
"Kamu kenapa?" tanya Berryl lagi.
"Apa aku sangat bodoh?" tanya Hanindita membuat Berryl mengerutkan keningnya.
"Mengapa kau tanya begitu?"
"Itu dua orang di depan kenapa dari tadi ngetawain aku?" ujar Hanindita dengan bibir mengerucut membuat Berryl tersenyum.
__ADS_1
"Kamu itu bukan bodoh tapi lucu. Gemesin. Juga menyenangkan karena itu mereka ketawa. Kamu seharusnya bangga memiliki sifat seperti ini sebab zaman sekarang orang-orang seperti kamu itu langka." jelas Berryl membuat Hanindita mengangguk.
"Terus tuan kenapa makin mepet gini?"
"Kan saya suami kamu, emang nggak boleh?"
"Ah, oh i-iya, maaf tuan."
"Tuan? Dari tadi kamu nyebut saya tuan. Aku itu suami kamu, bukan majikanmu jadi jangan panggil saya tuan lagi, oke!"
"Jadi panggil apa? Panggil Berryl juga? Kayaknya nggak sopan kan aku lebih muda."
"Tau dari mana kamu lebih muda?" goda Berryl.
"Ngerasa aja." jawab Hanindita sambil menguap.
"Ngantuk?" tanya Berryl. Hanindita pun mengangguk. Lalu Berryl pun menarik kepala Hanindita dan merebahkannya di pundaknya sambil mengusap puncak kepala Hanindita hingga perlahan-lahan ia pun tertidur di dalam dekapan Berryl.
...***...
Berryl dan rombongan tiba di kediaman Van Houten hampir tengah malam. Tak ingin membangunkan sang istri yang masih tampak terlelap, Berryl pun menggendong Hanindita menuju kamarnya dan membaringkannya dengan perlahan. Karena gerah, Berryl pun segera membersihkan diri dan berganti pakaian. Tak lama kemudian, ia pun menyusul berbaring di samping Hanindita. Berryl tersenyum tipis memandangi wajah cantik nan polos Hanindita yang telah membuatnya tertarik sejak pertama kali melihatnya. Sebenarnya bukan hanya Hanindita saja yang masih tak menyangka mereka telah menikah, tetapi Berryl pun sama. Ia benar-benar tak menyangka akhirnya ia telah menikah. Ia pikir, seumur hidup ia takkan pernah memiliki ketertarikan dengan seorang gadis tapi nyatanya ia kini telah menikah dengan seorang gadis yang membuat dirinya tertarik sejak awal jumpa. Benar-benar hari yang luar biasa. Akhirnya, ranjangnya tak lagi dingin. Akhirnya ia memiliki pendamping. Akhirnya, ia telah memiliki seorang wanita yang berstatus sebagai istrinya.
"Terima kasih, Anin karena telah hadir dan memberikan warna di kehidupanku yang monoton ini." lirih Berryl sebelum ikut menyusul masuk ke alam mimpi.
__ADS_1
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...