Terjerat Pesona Gadis Desa

Terjerat Pesona Gadis Desa
Ch.26


__ADS_3

Hari terus bergulir, tak terasa hari ini tepat seminggu Hanindita menyandang status sebagai seorang istri.


Hanindita tampak sedang mempelajari buku-bukunya. Beberapa hari ini, ia mulai mengikuti sekolah penyetaraan. Hanindita yang memang memiliki otak cerdas, tentu tidak sulit untuk memahami beberapa mata pelajaran pokok dan menjawab soal-soal serta memberikan analisisnya.


Sebagai seorang ibu mertua, biarpun kerap bersikap dingin, Ivanka tetap memeriksa pekerjaan Hanindita secara rutin. Ia cukup takjub dengan kemampuan Hanindita yang menurutnya di atas rata-rata. Ia menyadari satu hal, mungkin keluarganya tak ingin menyekolahkan Hanindita karena tau kalau gadis itu memiliki otak yang cemerlang. Mereka sengaja melakukan itu untuk menutupi satu fakta yang cukup mencengangkan. Ternyata baik rumah maupun perkebunan yang dikelola Handoko merupakan milik ibu Hanindita dan semua itu telah diwariskan kepada Hanindita.


Tapi dengan serakah, keluarga itu menguasai semuanya tanpa mau membagi sedikit pun. Bahkan mereka tak mau menjelaskan perihal fakta itu. Mereka justru memperlakukan Hanindita bak budak tanpa memberikan imbalan apapun.


Berryl dan keluarganya juga baru mengetahui fakta kalau Handoko merupakan ayah dari Hanindita dan Lidya merupakan ibu tirinya. Yang masih jadi pertanyaan mereka, mengapa mereka sampai begitu tega dengan Hanindita. Dan ... mengapa Handoko sebagai seorang ayah, justru ikut menindas Hanindita? Tidakkah ada perasaan kasih sayang di hatinya untuk anak kandungnya sendiri? Serta mengapa mereka menutupi identitas Hanindita yang sebenarnya di depan mereka. Sungguh keluarga yang kacau dan tidak memiliki perasaan.


"Mom ... " cicit Hanindita ragu-ragu.


"Ya, ada yang kau butuhkan?" tanya Ivanka seraya meletakkan tablet yang ada di tangannya ke atas meja.


"Bolehkah Anin memasak untuk makan malam?" tanya Hanindita pelan.


"Kau menyukai memasak?"


Hanindita mengangguk mantap. Ia memang sangat menyukai kegiatan memasak. Selama tinggal di rumah besar bak istana itu, ia tidak diizinkan mengerjakan sebuah pekerjaan pun. Ia hanya diwajibkan belajar dan mengurus Berryl. Ia justru dilayani bak seorang putri di sana. Sungguh takkan ada yang menyangka, Upik abu seperti dirinya, yang biasanya diperlukan layaknya seorang budak di rumahnya sendiri, justru diperlukan seperti seorang putri di kediaman suaminya. Ia pikir, keluarga kaya itu pasti sombong, takkan menerima dirinya yang hanya gadis rendahan, tapi ternyata sebaliknya. Di sana, ia begitu di hargai. Bahkan ia dilayani oleh para maid di rumah yang sering mereka sebut mansion itu. Walaupun ia telah seminggu berada di sana, tapi Hanindita belum terbiasa dengan segala kemewahan dan pelayanan yang luar biasa itu. Karena itu, ia meminta izin Ivanka terlebih dahulu untuk bisa menggunakan dapur dan melakukan kegiatan yang disukainya itu.


"Silahkan! Tapi ... kau harus dalam pengawasan Bu Lara. Dan ... hati-hati. Aku tidak ingin nanti Berryl protes padaku kalau kau terluka seperti tempo hari, " ujar Ivanka mengingatkan. Ya, hari itu Hanindita begitu ingin memakan apel yang berada di dalam kulkas. Warnanya begitu cerah dan cantik, membuat Hanindita tergiur ingin memakannya.


Sebelum mengambilnya, ia meminta izin Bu Lara terlebih dahulu. Tentu saja bu Lara tersenyum geli, padahal Hanindita sekarang merupakan majikannya tapi ia justru meminta izin dengannya. Setelah diperbolehkan, Hanindita pun mengambil apel itu dan mengupasnya. Bu Lara sudah mencegahnya dan berniat mengupaskannya, tapi Hanindita menolak dan memilih mengupas sendiri. Entah karena tidak hati-hati, tangannya teriris pisau dan berdarah. Berryl yang pada malam harinya melihat jari Hanindita terbalut plester pun marah pada para maid termasuk ibunya. Hanindita sudah menjelaskan itu kesalahannya sendiri, tapi Berryl tak terima. Berryl merupakan manifestasi seorang suami yang sangat posesif.


Hanindita pun tersenyum riang. Akhirnya ia bisa melakukan sesuatu yang sudah dirindukannya selama satu Minggu ini.


Berryl pulang agak larut malam itu, menjelang malam malam ia baru sampai di rumah. Dengan senyum merekah bak kuncup bunga mawar yang baru mengembang, Hanindita menyambut kepulangan Berryl. Berryl yang awalnya berwajah datar pun langsung mengembangkan senyum dan merentangkan tangan. Paham maksudnya, Hanindita pun segera masuk ke dalam pelukan sang suami. Berryl memberikan kecupan ke seluruh wajah Hanindita membuatnya tersipu malu karena jadi bahan perhatian para maid di rumah itu termasuk sopir. Meskipun mereka menundukkan kepala saat Berryl menciuminya, tapi tetap saja dia malu.


"Hubby ... malu." cicit Hanindita membuat Berryl yang mendengarnya jadi gemas.


"Istriku makin hari makin cantik dan menggemaskan. Jadi nggak sabar ingin memakannya." bisiknya sensual di telinga Hanindita membuat darah Hanindita seketika berdesir.

__ADS_1


"Ayo hubby, cepat bersihkan diri lalu makan malam. Mommy dan Daddy pasti sudah menunggu." Berryl pun segera merangkul Hanindita agar mengikutinya ke kamar. Berryl pun segera mandi, sedangkan Hanindita menyiapkan pakaian ganti. Berryl yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit pinggang pun membuat Hanindita menunduk malu. Tubuh Berryl sangat seksi dengan warna kulit kecoklatan dan kokoh membuatnya begitu menggiurkan. Hanindita sampai menelan ludahnya karena begitu terpesona.


Berryl yang paham kalau istrinya itu malu pun berniat menggoda dengan mendekati Hanindita yang menundukkan wajahnya.


Berryl mengangkat dagu Hanindita agar Hanindita menatapnya tanpa ragu. Ia ingin Hanindita melihat jelas dirinya tanpa malu sebab ia telah menjadi miliknya.


"Kenapa? Malu?" bisik Berryl sensual.


"Ce-cepat berpakaian, nanti masakannya dingin." cicit Hanindita.


"Tak perlu khawatir. Kita bisa minta masakkin lagi yang baru pada koki rumah ini."


Mendengar hal itu, Hanindita sontak memberengut membuat Berryl bingung.


"Kenapa?"


"Apa hubby nggak mau makan masakanku?" tanya Hanindita dengan wajah murung.


Hanindita mengangguk dengan binar yang meredup.


Tak ingin Hanindita bersedih, Berryl pun langsung memeluk Hanindita dan mengusap punggungnya.


"Maaf, aku nggak tau. Kalau begitu, ayo kita turun. Aku akan dengan senang hati memakan semua masakan istri cantikku ini." ucapnya sambil tersenyum lebar


Melihat Berryl yang tampak antusias, Hanindita kembali tersenyum cerah. Ia tidak memiliki apa-apa untuk diberikan pada keluarga yang begitu baik dan menyayanginya ini. Ia hanya memiliki kemampuan memasak jadi ia ingin membalas segala kebaikan keluarga ini melalui olahan tangannya.


Mata Berryl berbinar saat melihat aneka masakan di atas meja. Itu merupakan masakan asli Indonesia. Di rumah itu, koki sering memaksakan mereka masakan ala western. Tentu saja, hal itu membuat semua yang ada di meja makan tergiur dan penasaran akan rasanya.


Baik Berryl, Ivanka, maupun Abelano memuji rasa masakan Hanindita. Mereka makin kagum dengan diri Hanindita yang bukan hanya cantik, tapi juga cerdas dan berbakat.


"Masakanmu sungguh delicious. Istriku memang hebat." Puji Berryl pada masakan Hanindita.

__ADS_1


"Kamu benar Ryl, Daddy pun benar-benar menikmati makan malam kali ini. Masakanmu sungguh nikmat, nak." Abelano pun ikut memujinya membuat Hanindita tersipu.


Berryl pun mengingat kejadian di vila saat Megan membawakan mereka makanan. Ia yakin, itu pun hasil masakan dari Hanindita yang diakui oleh Megan sebagai masakannya. Berryl tersenyum sinis akan kepicikan dari saudara tiri Hanindita tersebut.


...***...


"Bagaimana Do, kau sudah mencari tau siapa gadis yang bersama Berryl tempo hari?" tanya Karl pada orang kepercayaannya.


.


"Sudah Karl. Dia ternyata istri Berryl yang ditemuinya saat sedang berlibur di vila sebuah desa." tukas Raldo.


Terang saja, Karl terkejut. Ia sampai menegakkan punggungnya karena terlalu terkejut.


"Istri? Gila ... Tapi mengapa tidak ada yang tau?" serunya tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Mereka belum lama menikah, baru 1 Minggu yang lalu. Mungkin karena pernikahan ini baru, jadi mereka belum sempat mengumumkannya."


"Cari tau lebih lengkap mengenai gadis itu lalu segera serahkan padaku!"


"Untuk apa?" tanya Raldo heran.


"Tentu saja untuk mengenalnya lebih dekat."


"Hah! Dia itu istri sepupumu, Karl."


"So what? Kau tau, gadis itu terlihat berbeda dari gadis-gadis yang pernah ku kenal. Mungkin hal itu yang membuat Berryl tertarik. Begitu pula aku. Jadi lakukan saja perintahku, Do. Jangan banyak membantah."


"Cck ... kau selalu saja menyebalkan dan seenaknya. Aneh aku masih mau saja berteman dengan orang sepertimu." omel Raldo kesal. Karl hanya tersenyum lebar sambil membayangkan senyum Hanindita. Tapi sayang, senyum itu bukan untuknya, melainkan untuk Berryl. Hal itu membuat Karl mengumpat kesal. Ia bertambah kesal, mengapa nasib Berryl selalu lebih beruntung darinya. Berryl juga selalu mendapatkan apa yang ia inginkan, tidak seperti dirinya. Lalu kini, lagi-lagi Berryl begitu beruntung memiliki seorang istri yang sangat cantik.


...***...

__ADS_1


__ADS_2