
Tanpa menunda waktu, Berryl, Vano, dan Vino bergegas masuk ke dalam lift eksekutif. Butuh beberapa waktu untuk sampai di lobi sedangkan kantornya saja ada di lantai 25 gedung itu. Berryl sampai tak henti-hentinya mengumpat dan menendang pintu lift berkali-kali untuk meluapkan emosi dan segala kemarahannya. Bagaimana tidak, ia merasa terkecoh dengan umpan yang dilemparkan pihak lawan. Ia yakin, tujuan mereka adalah Hanindita.
"Sabar, Ryl! Marah-marah di dalam sini juga nggak ada gunanya. Loe mau, tiba-tiba liftnya ngambek terus nggak bisa terbuka?" seloroh Vano membuat Berryl menatapnya tajam.
Dan benar saja, setibanya di taman, ia tidak menemukan keberadaan Hanindita. Berryl sampai berlarian kesana-kemari mencari keberadaan istrinya itu.
"Kamu, kemari cepat!" teriak Berryl pada salah seorang yang bertugas merawat taman itu.
"A-ada apa tuan?" tanya pria itu takut-takut.
"Apa tadi kau melihat istriku ke sini?" tanya Berryl membuat alis pria paruh baya itu berkerut.
"Cck ... jangan nanya kayak gitu, Ryl! Mana hp loe? Kasi liat foto istri loe biar bapak ini nggak bingung." tukas Vano memberi saran. Sedangkan Vino sedang mengotak-atik laptop miliknya. Lalu tanpa izin dia mencoba masuk ke sistem kemanan VH Corporations untuk mengakses CCTV di area taman itu.
Berryl pun segera mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah foto pada tukang kebun perusahaannya itu.
"Ah, gadis cantik ini! I-iya, tadi saya sempat lihat Tuan. Tadi saat ia sedang asik mengambil gambar bunga-bunga di sini, tiba-tiba ada seorang gadis berpakaian cleaning servis yang menghampirinya terus mereka terlibat pertengkaran. Karena saya kebelet, jadi saya tinggal ke belakang, tapi pas saya balik lagi, mereka sudah tidak ada," ujar pria itu membuat Berryl membelalakkan matanya. Lalu ia menoleh ke arah Vano yang sepertinya sepemikiran dengannya. "Oh iya tuan, saya barusan menemukan ponsel ini. Sepertinya ini ... "
"Ponsel Anin! Sial, pasti dia telah melakukan sesuatu pada Anin. Awas saja kalau terjadi sesuatu pada istriku, akan aku pastikan hidupnya akan menderita," geram Berryl dengan tangan terkepal dan mata memerah menahan emosi membuat pria tadi terdiam dengan kepala tertunduk takut. Seandainya ia tahu kalau gadis itu merupakan istri bosnya, tentu ia takkan meninggalkan Hanindita seorang diri.
__ADS_1
"Ryl, dugaan kita benar. Wanita ular itu yang menculik istri loe. Dia membius istri loe lalu memasukkannya ke dalam mobil. Karena di depan sedang heboh jadi nggak ada yang menyadari mobil wanita ular itu keluar membawa Hanin."Ungkap Vino membuat Berryl dan Vani segera melihat rekaman CCTV beberapa saat yang lalu.
"Van, mobil loe mana! Buruan kita kejar wanita ular itu sebelum dia melakukan hal buruk pada Anin. Gue nggak akan pernah maafin dia kalau Anin sampai kenapa-napa." Murka Berryl.
Vano pun mengangguk dan lekas berlari menuju area mobil khusus mobil mereka dan Berryl. Tanpa menunda waktu, Vano segera melajukan mobilnya secepat mungkin saat Berryl dan Vino telah masuk ke dalam mobil.
Di kursi belakang, Vino masih sibuk dengan layar laptopnya. Kini ia sedang meretas CCTV di jalan-jalan untuk melacak kemana Megan membawa Hanindita. Dari belakang, ia menginstruksikan jalan mana saja yang harus Vano lewati untuk mempercepat menyusul mobil Megan. Dan sesuai analisisnya, mereka pun akhirnya berhasil menemukan mobil Megan yang sedang melaju dengan kecepatan cukup tinggi.
"Woy, berhenti loe ja*lang!" teriak Berryl saat mobil mereka sudah hampir menyusul mobil Megan. "Berhenti sekarang kalau loe masih mau hidup!" teriak Berryl lagi membuat Megan menoleh saat mendengar suara seseorang yang berteriak.
Sontak saja, Megan membelalakkan matanya saat melihat sebuah mobil menyusulnya dan yang paling mengejutkan adalah keberadaan Berryl di dalamnya. Megan sampai menelan ludahnya sendiri merasa terancam. Bagaimana bisa ia mendapatkan Berryl sedangkan ia saja sudah tertangkap basah menculik Hanindita yang notabene adalah istrinya.
"Mau lari kemana loe ja*lang? Loe pikir loe bisa lari dari kami, hm!" desis Vino yang terus memantau keberadaan mobil Megan.
Kini terjadi aksi kejar-kejaran di jalanan ibu kota. Sontak saja apa yang terjadi di jalan itu menjadi tontonan gratis bagi yang melihatnya.
Berryl memukul dashboard mobil saat mereka terjebak lampu merah. Ia memang sedang memburu waktu namun bukan berarti ia harus mengabaikan peraturan sebab peraturan lalu lintas juga dipergunakan untuk keselamatan pengguna jalan yang lain. Bila ia tetap mencoba menerobos, dikhawatirkan dapat mengacaukan lalu lintas sehingga memicu kecelakaan massal.
Setelah lampu merah telah berganti hijau, Vano kembali melanjutkan mobilnya tapi dengan kecepatan yang lebih tinggi dari sebelumnya. Dengan bantuan petunjuk dari Vino, tak butuh waktu lama mereka pun berhasil menyusul Megan yang masuk ke sebuah kawasan yang cukup sepi. Entah tempat apa itu, yang ada dalam pikiran ketiga pria itu hanyalah menyusul Megan secepat mungkin untuk mencegahnya melakukan hal yang buruk pada Hanin
__ADS_1
Sadar dirinya telah kembali disusul, Megan segera membanting stir sehingga mobil itu berputar 180° sehingga menimbulkan bunyi decitan yang cukup tajam dan memekakkan. Vano sampai menganga tak percaya, ternyata Megan memiliki kemampuan menjadi seorang pembalap F1 pikirnya berseloroh lalu terkekeh sendiri membuat Berryl mendepak kepalanya geram sebab masih sempat-sempatnya terkekeh di saat genting seperti ini.
Vano pun ikut membanting stirnya mengikuti mobil Megan yang kini belok ke sebuah bangunan tua kemudian berhenti tiba-tiba.
Cittttt ....
Tak lama kemudian, Megan keluar dari dalam mobil dengan seringaian di bibirnya. Sungguh ini bukanlah rencananya, tapi bila sudah sampai di sini, mau menghindar pun percuma. Ibarat sudah terlanjur basah ya sekalian nyemplung aja.
Rencananya ia akan membawa Hanindita ke alamat yang sudah seseorang berikan. Entah untuk apa, yang ia yakini pria itu juga memiliki masalah entah dengan Hanindita ataupun Berryl ia tak peduli. Yang pasti ia ingin memberikan pelajaran pada Hanindita karena selalu berhasil memiliki apa yang ia inginkan.
"Mau apa kau sebenarnya ja*lang? Mana Anin?" dengan langkah panjang Berryl melangkah. Ia sudah tak sabar ingin menyelamatkan Hanindita dari tangan ular betina itu.
"Maju selangkah, dia akan mati?" ancam Megan menyeringai membuat Berryl, Vano, dan Vino membelalakkan matanya saat sebuah pisau telah Megan arahkan tepat di depan perut Hanindita yang masih sempoyongan karena belum sadar sepenuhnya dari pengaruh obat bius.
"Me-Megan," cicit Hanindita dengan penglihatan yang masih tampak buram.
...***...
Mohon maaf ya kak beberapa hari ini jarang update, soalnya banyak kesibukan di RL yang nggak bisa dihindari. Terima kasih yang udah masih setia stay di sini! 🙏🙏🙏
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰...