
Sepulangnya dari pasar, Hanindita pun bergegas ke dapur untuk membuatkan sarapan sesuai permintaan Megan. Ia diminta membuatkan nasi uduk ayam bakar. Sungguh, sebenarnya itu agak merepotkan apalagi dengan waktu yang terbatas dan hanya dikerjakan seorang diri. Tapi mau bagaimana lagi, ia malas berdebat ataupun ribut yang ujung-ujungnya dirinyalah yang jadi sasaran amukan keluarga toxicnya. Ya, Hanindita menganggap keluarganya merupakan keluarga toxic karena sikap mereka yang begitu keterlaluan padanya. Mereka bukan hanya menyiksa batinnya, tapi juga fisik. Padahal ia telah berusaha menjadi anak dan saudara yang baik, tapi tetap saja apa yang dirinya lakukan selalu saja dinilai SALAH. Pantas kan kalau ia menyebut keluarganya itu merupakan keluarga toxic.
Selagi nasi uduk dikukus, Hanindita pun bergegas membersihkan ayam dan membalurinya dengan bumbu instan yang dibelinya. Ia tidak memiliki banyak waktu untuk meracik sendiri bumbunya jadi ia pun memilih membeli bumbu instan. Setelah bumbunya merata, ia masukkan ayam itu ke dalam panci dan diberi air sedikit barulah ia masak dengan api yang kecil. Sembari menunggu ayam matang, ia juga menyiapkan tambahan lauk lainnya seperti sambal teri tempe, kerupuk, bihun tumis, dan dadar telur, tak lupa lalapan mentimun.
Setelah berkutat hampir 1 jam lamanya, masakan Hanindita pun selesai dengan menu yang terakhir matang adalah ayam panggang. Aroma harum yang semerbak di dalam rumah sontak saja memanggil setiap penghuninya untuk segera berkumpul di meja makan, pun dengan Megan. Ia telah tampil rapi dengan dress selutut berwarna hijau daun. Dengan antusias, Megan meminta Hanindita mewadahi makanan itu dengan apik. Lalu tanpa tahu malu, Megan membawanya ke vila tempat Berryl menginap.
"Mau kemana anak itu?" tanya Handoko pada Lidya yang tengah asik menyantap nasi uduk di piringnya.
"Lagi mau ke vila di sana. Katanya ada bule cakep menginap di sana jadi dia mau coba dekati. Siapa tau kita bisa punya mantu bule, mas. Menurut Megan, orangnya cakep banget. Kaya juga. Teman-temannya aja ada yang pengusaha cafe, pasti yang didekati Megan pun orang kaya juga. Duh, aku udah nggak sabar nikahin Megan sama bule kaya itu." ujar Lidya antusias.
Mendengar hal itu, Handoko pun mengangguk antusias. Ia pun ikut berharap demikian. Usaha perkebunan teh sudah di tangan. Rumah paling mewah di desa mereka, sudah dalam genggamannya. Ia pun jadi orang yang sangat berpengaruh dan disegani di desanya. Bila Megan bisa menikah dengan pria kaya, bule pula, tentu kehidupannya akan makin sejahtera dan bergelimang harta. Bisa saja usahanya bisa merambah ke kota atau ke luar negeri. Angannya sudah terlebih dahulu berkelana sebelum ada kepastian.
"Hai, pagi." sapa Megan saat melihat Berryl, Vano, dan Vino sedang merenggangkan tubuhnya di beranda vila. Dari pakaiannya, dapat Megan tebak mereka baru saja selesai berolahraga atau jogging.
'Yah, sayang banget aku nggak tau mereka olahraga pagi ini. Kelewatan satu langkah dong.' gumamnya dalam hati. Namun senyumnya tetap tersungging di bibir.
"Eh, hai juga. Pagi." sahut Vano dan Vino. Sedangkan Berryl, masih seperti biasanya, mode acuh tak acuh, datar, cuek, masa bodoh, peduli amat.
"Hai, Ryl! Loe kok diam aja? Eh, aku bawain kalian sarapan nih. Aku masak nasi uduk ayam bakar, kalian mau kan?" tawar Megan dengan wajah ceria.
Vano dan Vino saling melirik, sedangkan Berryl diam, tak peduli.
__ADS_1
"Nasi uduk? Duh, kayaknya enak nih! Tapi ... "
"Tapi kenapa?" tanya Megan penasaran saat melihat Vano menghentikan kalimatnya.
"Kami terbiasa sarapan dengan yang ringan, kayak oat atau sandwich." ucap Vano jujur. Semenggoda apapun makanan itu mereka tak terbiasa. Mereka sangat menjaga pola makannya. Apalagi mereka sangat menjaga berat dan bentuk badannya. Selain itu untuk kesehatan juga.
"Ah, benarkah? Tapi kan sesekali boleh lah. Kan kalian juga nggak selamanya di sini. Siapa tau pas kalian balik, kalian jadi kangen terus pingin ke sini lagi." tukas Megan yang masih keras kepala membujuk ketiga lelaki itu sarapan dengan nasi uduk yang di bawanya. Tentu ia tak mau kehilangan satu kesempatan saja untuk menarik simpati Berryl dan teman-temannya.
"Loe itu orang kampung, mana paham gaya hidup orang kota. Kami nggak biasa makan sembarangan. Kami sangat menjaga pola hidup sehat, nggak kayak loe yang rumput dimasak aja dimakan." ketus Tessa saat keluar dari dalam. Ia menatap sinis Megan yang sepertinya sudah tidak punya urat malu lagi mengejar-ngejar lelaki yang tidak tertarik sedikit lun dengannya.
"Heh, loe! Gini-gini gue juga tau kalo kebiasaan itu. Gue juga kuliah di kota. Jangan mentang-mentang gue tinggal di kampung jadi loe bisa nilai gue beneran orang kampungan. Gue juga punya temen-temen di kota, temen sekampus gue, tapi nggak songong kayak loe pada." balas Megan sambil menyunggingkan senyum sinis.
"Hah, kalau kuliah di kota aja mah setiap yang punya duit juga pasti mampu. Tapi apa mampu bertahan dalam persaingan dunia kerja. Palingan loe kuliah cuma biar punya title di belakang nama loe doang. Mau sekedar gaya-gaya'an." sahut Citra tak kalah sinis. Ia sudah teramat sangat jengah melihat Megan yang tak ada kapoknya datang ke vila untuk mendekati Berryl.
"Udah, udah. Gini aja, berhubung kita semua udah sarapan, gimana kalau ini makanan kita simpan aja buat makan siang. Kasihan tuh yang udah susah payah masakkin. Kita juga harus menghargai baik makanan maupun yang masakkin." tukas Vino bijak. Ia pun jengah melihat perdebatan itu.
Tanpa Vino sadari, Megan justru memberengut saat mendengar perkataan Vino. Bukan masalah kapan mau dimakannya, tapi kata-kata 'Kita harus menghargai baik makanan maupun yang masakkin.' Artinya dia yang udah minta masakkin terus bawain ke sini nggak perlu dihargai dong. Ingin rasanya Megan protes tapi tak mungkin. Bisa ketahuan dong kalau sebenarnya ia telah berbohong memasak semua makanan itu.
"Saran Vino bagus juga daripada kita bertengkar kayak gini. Unfaedah banget. Dijauhin rejeki tau marah-marah pagi-pagi." timpal Vano lalu ketiga perempuan itu pun menyetujuinya. Sedangkan Berryl, tanpa mereka sadari ia telah masuk ke dalam kamarnya sejak tadi.
Megan hanya bisa menghela nafas kecewa saat menyadari ternyata pujaan hatinya telah tidak berada di tempat.
__ADS_1
Sedangkan di kamarnya, Berryl tengah menelpon sang mama. Sesuatu yang tak pernah terjadi selama ini. Sebab Berryl merupakan sosok yang dingin, bahkan dengan keluarganya sekalipun. Ia hanya sedikit dekat dengan adik perempuannya saja. Tapi adiknya kini tengah menempuh pendidikan di Harvard. Ia nyaris tak pernah menghubungi orang lain termasuk keluarganya. Karena itu, saat ponsel Ivanka berbunyi nyaring, Ivanka nyaris melompat dari meja makan saat melihat di layar nama sang putra lah yang terpampang di sana.
"Ada apa sih, mom? Kok kaget gitu?" tanya Abelano saat melihat raut keterkejutan di wajah Ivanka.
"I-ini, da, Be-Berryl, dia telepon mommy." cicit Ivanka dengan wajahnya memucat. Setahunya Berryl tengah liburan dengan teman-temannya. Lalu kenapa tiba-tiba ia menghubunginya. Pikiran buruk mulai menguasai akal sehatnya.
Abelano pun ikut terkejut. Matanya membola dengan alis terangkat tinggi. Khawatir terjadi sesuatu pada putranya, Abelano pun meminta istrinya segera mengangkat panggilan itu.
"Ha-halo." ucap Ivanka terbata. Berryl yang di seberang sana mendengar suara terbata sang ibu pun mengerutkan keningnya.
"Mom, apa yang terjadi? Kenapa bicara mom kayak gitu?" tanya Berryl.
"Berryl, kamu nggak papa, nak? Nggak terjadi sesuatu yang buruk kan sama kamu?" cetus Ivanka saat mendengar suara putranya tampak baik-baik saja.
"Mom, kok malah balik tanya? I'm fine, mom. Don't worry!" tukas Berryl membuat Ivanka bernafas lega. Pun Abelano. Ia pun ikut mendengar pembicaraan itu sebab Ivanka telah terlebih dahulu menyalakan pengeras suaranya.
"Huh, you make me scared, son!" ketus Ivanka. "Ada apa? Nggak biasanya kamu telepon mommy?" tanya Ivanka akhirnya yang sudah sangat penasaran.
"Mom, aku ingin menikah."
"Hah!"
__ADS_1
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...