Terjerat Pesona Gadis Desa

Terjerat Pesona Gadis Desa
Ch.20


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Hanindita telah bangun dari tidurnya. Mungkin karena sudah terbiasa bangun lebih awal membuatnya tidak bisa kembali tidur. Saat matanya baru saja terjaga, ia merasakan sesuatu yang cukup berat menimpa bagian perutnya. Hanindita lantas menoleh dan cukup terkejut karena melihat wajah Berryl yang berada tepat di sampingnya. Begitu dekat, sangatlah dekat, bahkan nafasnya pun dapat tercium jelas di indra penciumannya.


Seumur hidup, ini merupakan pengalaman pertamanya berdekatan dengan seorang pria. Ini terlalu intim. Jantung Hanindita bahkan sampai ingin melompat dari tempatnya karena terlalu kencang memompa. Hanindita sampai khawatir, bagaimana bila Berryl terbangun karena suara degup jantungnya yang begitu berisik.


Dipandanginya wajah Berryl yang memang sangat-sangat tampan. Alisnya tebal, hidungnya sangat mancung, bibirnya tidak tebal, tidak juga tipis, tapi terlihat seksi. Bulu matanya, tebal dan lentik. Hanindita sampai berdecak, mengapa ada pria sesempurna ini. Wajar saja Megan sampai tergila-gila padanya karena memang suaminya ini sangat-sangat tampan.


Ingin sekali Hanindita menyentuh rahang tegas, hidung mancung, alis tebal, dan bulu mata lentik itu. Tapi ia khawatir membangunkan Berryl jadi ia hanya bisa memandanginya dalam diam.


"Sudah puas memandangi suamimu ini, hm?" tiba-tiba mata Berryl terbuka lebar membuat Hanindita salah tingkah. Ia pun langsung menarik selimutnya untuk menutupi wajahnya, tapi tangannya lebih dahulu ditangkap Berryl membuatnya tak bisa menyembunyikan diri.


"Mengapa? Kau malu? Bukankah sekarang aku suamimu jadi kau bebas ingin menikmati ketampanan suamimu ini." tukas Berryl membuat wajah Hanindita memerah.


"Apa-apa tuan juga bersikap seperti ini pada gadis lainnya?" tanya Hanindita ragu-ragu.

__ADS_1


"Tidak." jawab Berryl tegas. "Aku tidak pernah bersikap seperti ini dengan gadis lain. Baru kau saja." ucapnya membuat Hanindita mengerutkan keningnya tak percaya.


Lalu tangan Berryl terulur mengusap kerutan di dahi Hanindita hingga menghilang.


"Aku serius. Aku bukanlah tipe lelaki yang suka bermanis-manis apalagi romantis kepada gadis lain. Apalagi aku belum pernah memiliki ketertarikan dengan gadis lain. Kau percaya atau tidak, kaulah yang pertama kali aku perlakuan seperti ini. Kau juga gadis pertama yang membuatku tertarik."


"Apa tuan menyukaiku?"


"Suka ya? Hmmm ... entahlah, sepertinya iya."


"Aku tak tahu. Karena aku belum pernah merasakan apa itu cinta."


"Tapi kenapa tuan bilang tuan tertarik padaku?"

__ADS_1


"Aku juga tak mengerti. Saat melihat kau pergi setelah pertemuan pertama kita, aku langsung tertarik padamu dan ingin mengenalmu lebih dekat." ucap Berryl. "Apa kau menyukaiku?" tanya Berryl membuat alis Hanindita bertaut.


"Nggak tau. Sama seperti tuan, aku belum pernah menyukai seseorang sebelumnya."


"Benarkah?" tanya Berryl memastikan.


Hanindita mengangguk mantap.


"Baguslah. Artinya kita sama-sama belum pernah merasakan ketertarikan dengan orang lain. Karena kau orang pertama yang membuatku tertarik, jadi kau pun hanya boleh tertarik padaku."


"Kok gitu? Gimana kalau aku tertarik pada lelaki lain?"


"Maka aku akan menghancurkannya."

__ADS_1


"Hah! Kok maksa sih?" Hanindita tak habis pikir dengan perkataan Berryl. Bagaimana bila ia benar-benar menyukai lelaki lain, bukankah itu terlalu kejam bila menghancurkannya.


"Terserah karena apa yang telah jadi milikku selamanya akan tetap jadi milikku. Termasuk dirimu. Kau ... kau hanya milikku seorang. Tidak ada yang bisa mengambil apalagi menyingkirkanmu dari sisiku. You're mine." lirih Berryl seraya menatap lekat setiap bagian wajah Hanindita. Kemudian jemarinya terukur mengusap pipi Hanindita yang begitu lembut. Lalu dengan perlahan, Berryl mendekatkan wajahnya pada Hanindita dan cup ... Berryl mengecup sekilas bibir Hanindita membuat wajah Hanindita terasa panas dan memerah.


__ADS_2