Terjerat Pesona Gadis Desa

Terjerat Pesona Gadis Desa
Ch.21


__ADS_3

Hanindita baru saja selesai mandi dan berganti pakaian. Dengan langkah malu-malu, ia mendekat ke arah Berryl yang sedang duduk di sofa kamarnya.


Melihat Hanindita yang melangkah malu-malu, Berryl pun segera memanggil Hanindita agar duduk di sampingnya.


"Kenapa, hm?" tanya Berryl.


Hanindita merasa bingung. Ia sebenarnya merasa tidak percaya diri saat ini apalagi melihat penampilannya. Ia tidak memiliki satupun baju yang bagus. Ia merasa sangat buruk. Bahkan penampilannya lebih buruk dari pembantu di rumah itu. Tadi saat berdiri di balkon, ia sempat melihat asisten rumah tangga keluarga itu sedang menyirami bunga di kebun, bahkan pakaian mereka saja jauh lebih bagus walaupun warnanya senada. Sepertinya mereka mengenakan seragam khusus, itu yang ada di pikirannya.


"Aku ... "


"Kenapa? Katakan saja, jangan ragu apalagi malu! Ingat, sekarang kau itu menantu keluarga Van Houten. Kau itu istri dari Berryl Van Houten jadi kau harus memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Aku tidak mau kalau kau sampai direndahkan orang lain karena sikapmu penakutmu ini." tegas Berryl seraya mengangkat dagu Hanindita.


"Itu ... aku ... malu. Kau lihat, pakaianku bahkan lebih jelek dari pekerja di rumahmu." cicit Hanindita seraya mengerucutkan bibirnya.


Berryl terkekeh geli mendengarnya.


"Oh, kau benar juga." ucap Berryl seraya memperhatikan pakaian Hanindita. "Siang nanti kita jalan-jalan oke! Kita akan beli semua kebutuhanmu tapi sebelum itu ... " Berryl memandangi wajah polos Hanindita yang menatapnya bingung menunggu kata-kata Berryl yang belum selesai.

__ADS_1


"Morning kiss dulu."


"Hah!"


"Morning kiss, sweetie. Mulai sekarang, kau harus membiasakan dirimu memberiku ciuman selamat pagi. Come on!" ucap Berryl seraya menunjuk bibirnya sendiri.


"Tapi ... tapi aku ... "


"Kenapa? Malu?" tanya Berryl dan Hanindita mengangguk dengan wajah tertunduk.


"Kenapa harus malu, sweetie? Bukankah aku sekarang suamimu? So, lakukan sekarang! Jangan buat aku menunggu lama! Kau tau, aku paling benci yang namanya menunggu." ucap Berryl membuat Hanindita pelan-pelan mendekatkan wajahnya ke arah Berryl. Namun, jantungnya berdegup terlalu kencang. Ia gugup bukan kepalang. Tangannya terasa dingin seakan ingin membeku. Ia sampai menelan ludahnya berkali-kali karena rasa gugupnya yang tak bisa ia kendalikan.


Berryl yang juga masih amatir juga tak jauh berbeda. Hanya saja, ia lebih mampu mengolah nalurinya sebagai laki-laki. Perlahan ia mengecupi bibir atas dan bawah Hanindita bergantian untuk mengenali rasa yang ada di bibir merah istrinya. Lembut dan manis pikirnya membuatnya jadi ketagihan hingga memejamkan matanya. Menikmati rasa yang benar-benar baru baginya. Beruntung, ia merupakan orang yang pertama memiliki bibir ini membuatnya makin yakin kalau Hanindita hanya miliknya, hanya untuk dirinya, dan takkan boleh ada yang mengambilnya dari sisinya.


"Manis." ucap Berryl sembari menyeka sisa-sisa Saliva yang menempel di bibir Hanindita.


Wajah Hanindita sudah seperti kepiting rebus, merah, sangat-sangat merah hingga ke telinga membuat Berryl gemas sendiri.

__ADS_1


"Ayo kita turun!" ajaknya seraya mengulurkan tangannya pada Berryl. Dengan ragu-ragu, Hanindita mengulurkan tangannya menyambut uluran tangan itu. Berryl pun menuntun Hanindita masuk ke dalam lift yang akan mengantarkan mereka ke ruang makan.


Hanindita hanya bisa melongo memperhatikan koridor yang dilewatinya menuju lift. Bahkan saat di dalam lift, ia sampai memeluk erat lengan Berryl karena ini merupakan pertama kalinya dirinya masuk ke dalam lift. Ia sampai berpikir, benarkah ini rumah? Mengapa sudah seperti hotel saja.


Setibanya di lantai yang dituju, pintu lift langsung terbuka. Dengan tangan masih memeluk lengan Berryl, Hanindita mengikuti kemana Berryl menuntunnya. Hingga tibalah mereka di meja makan. Di sana, sudah duduk Ivanka dan Abelano membuat Hanindita makin menyusutkan badannya bersembunyi di balik tubuh Berryl.


"Tak perlu takut. Ada aku di sini." ucap Berryl menenangkan Hanindita.


Para pelayan di rumah itu tampak mengerutkan keningnya saat melihat untuk pertama kalinya tuan muda mereka menggandeng seorang wanita. Karena mereka semalam tiba saat hari sudah begitu larut, hanya beberapa pelayan saja yang sudah mengetahui kalau Berryl mengajak seorang gadis itupun dalam keadaan tertidur jadi tak ada yang melihatnya secara langsung.


Yang membuat mereka makin mengerutkan keningnya, bukan hanya karena ini pertama kalinya tuan muda mereka menggandeng seorang wanita, tapi karena penampilan Hanindita yang bagi mereka sangat-sangat kampungan. Bahkan baju yang ia kenakan begitu lusuh. Tidak seperti gadis-gadis yang pernah dibawa nyonya mereka untuk diperkenalkan dengan Berryl. Hal ini membuat mereka makin bertanya-tanya, siapa gadis yang digandeng tuan mudanya tersebut?


Tentu saja, Berryl menyadari rasa penasaran para pekerja di rumah itu. Jadi tanpa basa-basi lagi, ia pun segera memperkenalkan Hanindita sebagai istrinya di hadapan semua pekerja.


"Bu Lara, perkenalkan, dia Hanindita, istriku." ucap Berryl lugas membuat Bu Lara yang merupakan kepala pelayan di rumah itu beserta bawahannya terkejut setengah mati. "Mulai sekarang, dia nyonya muda kalian. Aku harap kalian dapat membantu dan melayaninya sebaik mungkin. Kalian mengerti!" tegas Berryl.


"Mengerti, tuan." ucap Bu Lara dan para bawahannya sambil menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Lalu Berryl pun membimbing Hanindita untuk duduk di sampingnya. Abelano tampak tersenyum sumringah ke arah menantunya. Ia bukanlah tipe orang yang menilai seseorang dari kekayaan dan kedudukan. Melihat putranya begitu bahagia dan menemukan gadis yang mampu menggerakkan hatinya saja sudah cukup membuatnya bahagia. Tapi tidak dengan Ivanka, ia masih abu-abu dan Abelano menyadari itu. Tapi Abelano diam saja. Selagi hal tersebut tidak menggangu menantunya, ia tidak masalah. Mungkin istrinya masih butuh waktu untuk berdamai dengan pilihan Berryl yang sebenarnya cukup mengejutkannya. Bagaimana tidak, Ivanka telah sering mencarikan calon pendamping untuk Berryl tapi tak ada satupun yang berhasil membuatnya tertarik. Lalu kini tiba-tiba saja Berryl menyatakan tertarik dengan seorang gadis, namun kualifikasi gadis itu sungguh jauh dari ekspektasi. Bukan hanya latar belakang keluarga, tapi juga latar belakang pendidikan dan asal usulnya yang masih belum jelas. Namun dibalik itu semua, Abelano meyakini, Hanindita adalah sosok gadis yang baik dan jujur. Ia yakin dengan pilihan putranya. Berryl takkan mungkin tertarik bila Hanindita hanya gadis sembarangan. Ia harap, Hanindita memang yang terbaik untuk putranya. Semoga.


...***...


__ADS_2