Terjerat Pesona Gadis Desa

Terjerat Pesona Gadis Desa
Ch.48


__ADS_3

Satu Minggu telah berlalu semenjak peristiwa penculikan Hanindita yang dilakukan Megan. Selama satu Minggu pula Berryl menghabiskan waktunya di rumah sakit untuk menjaga istrinya. Ia rela tak bekerja pun pulang ke rumah demi menjadi suami siap siaga untuk Hanindita. Selama satu Minggu ini benar-benar Berryl dedikasikan untuk menjaga istri tercintanya. Kesehatan, keamanan, dan keselamatan Hanindita merupakan prioritas utama baginya.


Beruntung ia memiliki sahabat seperti si kembar, Vano dan Vino yang selalu siap siaga membantu dirinya. Bahkan kini urusan kantor ia serahkan kepada kedua orang itu. Padahal mereka berdua pun memiliki pekerjaan lain, tapi sebagai solidaritas pertemanan, mereka pun bersedia membantu. toh sebenarnya mereka sering melakukan itu. Mereka pun memiliki saham di VH Corporations. Mereka juga merupakan tangan kanan Berryl, tapi tidak seperti karyawan lainnya yang harus bekerja dari Senin sampai hari Jum'at di kantor, mereka justru memiliki jadwal yang fleksibel. Mereka bekerja hanya saat dibutuhkan, karena itu gaji mereka pun tergantung tingkat kepuasan Berryl. Toh mereka tidak begitu mengharapkan gaji sebab mereka pun memiliki sumber keuangan lain. Belum lagi bagi hasil perusahaan sesuai jumlah saham yang mereka miliki.


Hari ini Hanindita telah diperbolehkan pulang ke rumahnya. Dengan sigap Berryl membantu Hanindita menuju mobil yang telah terparkir di halaman rumah sakit. Bersamaan itu, terdengar derap langkah yang cukup nyaring diiringi teriakan memohon dilepaskan membuat mereka menoleh ke sumber suara.


"Lepas, lepaskan aku, aku tidak bersalah. Aku dijebak. Aku mohon, lepaskan aku! Jangan bawa aku, aku mohon lepaskan aku!" Megan tak henti-hentinya berteriak saat dua orang pria tak berseragam menyeretnya keluar dari rumah sakit. Mereka mengenakan pakaian ala preman pasar dengan jaket kulit hitam menutupi baju kaos hitam yang dikenakannya. Tak lupa, celana jeans belel yang memiliki sobekan besar di lutut. membuat Hanindita bergidik ngeri.


"Hubby, bukankah itu Megan?" tanya Hanindita terkejut saat melihat Megan diseret kasar oleh dua orang yang dikira Hanindita preman itu.


"Hmmm ... " sahut Berryl dengan gumaman.


"Tapi ... kenapa mereka diseret preman itu? Apa Megan membuat kesalahan pada mereka?" tanya Hanindita bingung.


"Mereka bukan preman, sweetie, tapi polisi. Mereka sengaja mengenakan pakaian seperti itu agar tidak memancing perhatian orang lain." Jelas Berryl sembari merangkul pundak Hanindita.


"Polisi? Kenapa Megan ditangkap polisi?" tanya Hanindita yang belum tahu kalau Berryl, melalui Vano, Vino, dan Karl telah membuat laporan mengenai percobaan pembunuhan yang dilakukan Megan padanya. "Lagipula, percuma nggak pakai seragam, mereka nyeret Megan aja kayak gitu, otomatis semua orang pada perhatiin kan!" tandas Hanindita seraya terkekeh.


"Tapi kan seenggaknya, mereka yang melihat nggak terlalu banyak berasumsi. Wajah mereka juga nggak begitu dikenali publik. Beda kalau mereka pakai seragam, pasti orang-orang sibuk memperhatikan mereka, bahkan mungkin setiap yang melihat langsung heboh menduga-duga. Apalagi dalam posisi saat ini, orang-orang akan sibuk merekam dan menyebarkan berita hasil mereka menduga-duga." Tukas Berryl lagi.

__ADS_1


Merasa banyak yang memperhatikan dirinya, Megan menatap nyalang orang-orang di sekelilingnya. Hingga matanya bersirobok dengan mata Hanindita membuatnya geram seketika.


"Apa kalian lihat-lihat?" Desis Megan dengan mata melotot.


"Cih, sok cantik!" ejek orang-orang yang diteriaki Megan.


Saat mata Megan sibuk memindai orang-orang dengan tatapan nyalangnya, tiba-tiba ia melihat keberadaan Berryl dan Hanindita.


"Lepas, aku tidak bersalah! Dialah yang bersalah!" teriak Megan seraya menunjuk ke arah Hanindita membuat Berryl menatapnya jengah. Berryl lantas meminta Hanindita segera pergi dari sana. Hanindita pun menurut, merasa diacuhkan, Megan memberontak lebih keras sambil meneriaki Hanindita.


"Hei perempuan sialan! Gue tahu, pasti loe kan yang ngelaporin gue. Dasar anak nggak tahu diri. Sudah dibesarkan keluarga gue, tapi ini balasan loe! Dasar ja*lang! Ibunya ja*lang, anaknya pasti nggak jauh beda." Hardik Megan membuat Hanindita menghentikan langkahnya dan membalik tubuhnya menghadap Megan. "Dan loe Berryl, loe bodoh banget jadi orang. Apa bagusnya dia daripada gue? Apalagi dia itu hanya seorang anak ja*lang. Ingat, buah jatuh nggak jauh dari pohonnya, dia pasti bakal seperti ibunya juga. Nikah sama siapa hamil anak siapa. Dasar anak pela*cur!"


Siapapun yang menyayangi ibunya pasti takkan terima bila ibunya dihina apalagi direndahkan. Begitu pula Hanindita. Apalagi kini ibunya telah tenang di alam sana, jadi mengapa nama sang ibu masih dibawa-bawa lalu dihina? Tidak cukupkah ibunya menderita karena kehadiran mereka dalam keluarga kecil mereka? Seakan tak pernah puas, mereka terus saja ingin menghancurkan dirinya. Sudah cukup, Hanindita takkan membiarkan hal itu terjadi lagi. Mereka semua harus mendapatkan pembalasan atas segala perbuatan mereka. Ia takkan mengalah lagi kali ini.


"Mau kemana?" Berryl menahan tangan Hanindita saat istrinya itu hendak mendekati Megan.


Hanindita menoleh seraya tersenyum manis.


"Mau memberikan pelajaran pada si mulut kotor yang tidak tahu diri," tukas Hanindita seraya tersenyum manis.

__ADS_1


"Biar aku saja," tawar Berryl tapi Hanindita menggeleng. Ini adalah saat untuk dirinya. Mungkin ini akan menjadi pelajaran untuk pertama dan terakhir kalinya pada seorang Megan.


Akhirnya, Berryl hanya bisa mengangguk pasrah . Lalu Hanindita menghampiri Megan yang hendak didorong masuk ke dalam sebuah mobil dan meminta izin bicara empat mata dengan Megan. Polisi itu pun mengizinkan dengan tetap berjaga di sisi kanan dan kiri Megan untuk mencegahnya kabur.


Bukannya berbicara yang baik-baik, Megan lagi-lagi menguji kesabaran Hanindita dengan menghina dirinya dan ibunya, hingga sebuah tamparan melayang ke pipi Megan.


Plaaaakkkkk ....


"Aaarghhh ... "


"Tutup mulut kotormu karena ibuku tidak seperti itu!" desis Hanindita emosi. Seumur hidupnya, baru kali ini Hanindita menumpahkan emosinya. Bahkan Megan pun sampai tercengang seiring rasa panas yang merambat di pipinya. "Kau tahu, justru kaulah anak ja*lang itu. Kau tahu, kau bukanlah anak ayahku melainkan anak hasil perselingkuhan ibumu dengan mantan sopir ibuku. Kau tidak tahu, bukan! Jadi jangan sembarang bicara kalau kau tidak tahu faktanya. Sudah cukup selama ini kau menghinaku dan ibuku, mulai kali ini, detik ini, aku takkan pernah diam lagi. Sudah cukup kalian memperlakukan ku seenaknya dan mengambil segala yang seharusnya menjadi milikku. Ingat, anjing yang jinak pun bisa menggigit bila tuannya keterlaluan, apalagi aku, seorang manusia yang telah kalian siksa sesuka hati. Kau pikir, aku akan diam selamanya, hah?" desis Hanindita membuat Megan benar-benar membungkam dengan tubuh yang bergetar. "Membusuklah kau di dalam penjara. Bukti-bukti kekerasan kalian pun akan segera menyusul. Selamat bersenang-senang di dalam penjara. Semoga dengan begitu, otakmu bisa kembali waras agar tidak berbuat semaumu lagi." imbuhnya lagi membuat Megan mendadak lemas tak berdaya.


Setelah mengucapkan kata-kata itu, Hanindita pun segera mendekati Berryl. Berryl pun memeluk istrinya dengan erat. Ia tahu, tidak mudah bagi Hanindita untuk mengeluarkan semua beban dalam benaknya. Bahkan saat ini, tubuh Hanindita telah lemas dengan air mata yang menggantung di sudut mata.


"Kau berhasil, sweetie. Semuanya telah berakhir. Kau hebat. Mereka akan segera mendapatkan pembalasan atas segala perbuatan mereka. Aku janji itu," ucap Berryl seraya mempererat pelukannya dan mengecup puncak kepala istrinya dengan sayang.


...***...


...Happy reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2