Terjerat Pesona Gadis Desa

Terjerat Pesona Gadis Desa
Ch.16


__ADS_3

Kini Hanindita telah dibawa ke penginapan tempat Berryl dan keluarganya menginap. Hanindita telah Berryl rebahkan di kamarnya. Di bawah pencahayaan yang begitu terang, akhirnya Berryl dapat melihat jelas luka hingga memar di wajah, tangan, dan kaki. Berryl mengepalkan tangannya erat, baji*ngan mana yang begitu teganya menyakiti gadis seperti Hanindita.


Karena melewati semak tanpa alas kaki, kaki Hanindita bukan hanya kotor tapi juga dipenuhi luka. Berryl pun bergegas mengambil handuk dan baskom berisi air yang telah dicampur dengan sedikit antiseptik untuk mencegah infeksi. Setelah itu, dengan lembut, Berryl membersihkan kaki Hanindita tanpa ada perasaan jijik sedikitpun.


Semua itu tak luput dari tatapan Vano dan Vino. Karena hari sudah cukup larut, kedua orang tua Berryl telah tidur jadi mereka tidak memberitahukan perihal ini kepada Abelano dan Ivanka.


Tak lama kemudian, datanglah seorang dokter dengan kacamata yang bertengger di atas hidungnya. Dengan telaten, dokter itu memeriksa keadaan Hanindita yang menurutnya sangat menyedihkan.


"Bagaimana keadaannya, dok?" tanya Berryl dengan penuh kecemasan.


Dokter itu membenarkan letak kacamatanya, lalu memaparkan kondisi Hanindita yang sungguh membuat dada Berryl terasa nyeri.


"Kondisinya tidak baik-baik saja. Gadis itu sepertinya dalam keadaan tertekan. Tubuhnya juga mengalami malnutrisi atau kekurangan nutrisi juga kelelahan akut. Selain itu ... " dokter itu tampak menghela nafas berat. "Setelah saya melakukan pemeriksaan, di tubuhnya banyak sekali bekas luka lama maupun baru. Itu pun hanya sebagian yang terlihat, tidak menampik masih banyak luka lainnya di sekujur tubuhnya. Sepertinya, dia kerap mengalami penganiayaan. Kalau boleh tau, siapa dia?" tanya dokter itu setelah menjelaskan kondisi Hanindita.


"Dia calon istri saya." jawab Berryl tegas. "Kondisi fisiknya sudah seperti ini saat kami menemukannya di jalan tadi. Jadi kami belum sempat menanyakan apa yang terjadi padanya karena ia telah pingsan terlebih dahulu." jelas Berryl pelan sambil melirik Hanindita yang telah dipasangi jarum infus.


"Sebaiknya kalian segera melakukan visum. Ini sudah termasuk penganiayaan. Dilihat dari lukanya, saya yakin, pelakunya masih orang terdekat gadis itu. Perbuatan ini juga sepertinya telah berlangsung sejak lama dan terus-menerus." tukas dokter itu memberitahukan analisanya.


Berryl terdiam. Orang terdekat? Tapi siapa pikirnya. Mungkinkah keluarganya sendiri? Tapi menurut Handoko dan keluarganya, mereka lah yang merawat dan membesarkan Hanindita. Mungkinkah orang terdekat yang dimaksud adalah mereka? Berryl mengepalkan tangannya erat. Bila benar, maka ia harus memberitakan mereka semua pelajaran.


"Ryl, jangan-jangan pelakunya keluarga Megan itu? Bukannya mereka tadi tampak begitu kesal saat tau kalau kau justru melamar gadis itu. Bisa jadi, mereka melampiaskan kemarahannya pada gadismu itu." ujar Vino memberikan pendapatnya. Siapa lagi coba selain mereka? Sebab 2 jam lalu keadaan Hanindita masih tampak baik-baik saja walaupun hanya nampaknya saja.

__ADS_1


"Loe bener, Vin. Siapa lagi coba kalo nggak mereka. Tapi gila ya, jahat banget mereka. Tapi kita juga nggak bisa langsung nuduh mereka gitu aja. Mesti ada bukti minimal keterangan dari dia." timpal Vano seraya menunjuk Hanindita dengan dagunya.


Setelah sedikit berbincang, Vano dan Vino pun undur diri kembali ke kamar mereka masing-masing. Sedangkan Berryl, tetap berada di dalam kamarnya menemani Hanindita.


Berryl membaringkan tubuhnya telat di samping Hanindita sambil menatap wajah pucat itu. Perlahan, tangan Berryl terulur menyingkirkan anak rambut yang tampak berantakan dan mengusap pelan kepalanya dengan lembut.


"Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Siapa yang melakukan ini? Apa salahmu sampai mereka tega menyakitimu seperti ini?" gumam Berryl seraya menatap lekat wajah Hanindita yang masih betah terpejam. Diselipkannya jemari tangan kirinya di sela-sela jemari tangan Hanindita lalu digenggamnya tangan itu dengan erat. Harapnya genggaman tangan itu mampu memberikan kehangatan dan perlindungan bagi Hanindita. Tak lama kemudian, perlahan mata Berryl pun terpejam tanpa melepaskan genggaman tangan itu.


...***...


Langit masih tampak gelap, tapi karena ini di pedesaan, kokok ayam telah berbunyi nyaring bersahut-sahutan. Hanindita yang sudah terbiasa bangun begitu awal, mulai mengerjapkan matanya. Cahaya lampu yang temaram membuatnya belum menyadari dimana kini ia berada. Namun, ada sesuatu yang beda pikirnya. Ini tidak seperti kamarnya. Dan ... tangannya mengapa terasa begitu berat dan hangat. Seperti genggaman sang ibu. Tapi bedanya, tangan itu begitu besar. Hanindita mengerutkan keningnya, tidak mungkin ada yang menggenggam tangannya. Mungkinkah ini perasaannya saja? Tapi saat ia mencoba mengangkat tangannya, genggaman itu jadi kian erat. Hanindita pun lantas menoleh ke arah tangannya. Ia membelalak saat melihat tangannya berada di dalam genggaman tangan seseorang.


"Di ... dia ... "


"Kau sudah bangun?" tiba-tiba orang yang berbaring di sebelah Hanindita mengeluarkan suaranya. Lalu perlahan, ia pun ikut mengangkat kelopak matanya hingga mereka saling bertatapan.


"Mengapa ... aku ada di sini?" tanya Hanindita bingung.


"Kau pingsan di tengah jalan. Beruntung Kamilah yang menemukanmu. Terlambat sedikit saja, mungkin hewan buas telah memakanmu." tukas Berryl yang masih betah menatap wajah cantik nan pucat Hanindita.


"Di desa kami nggak ada hewan buas." sahutnya cepat.

__ADS_1


"Oh ya? Lalu kenapa tubuhmu penuh dengan luka-luka? Apa ada seseorang yang menganiaya mu?" tanya Berryl membuat mulut Hanindita bungkam. Bagaimana pun, ini masalah keluarganya. Terlepas mereka yang membenci Hanindita, ia tak bisa sembarangan berbicara tentang keluarganya. "Apa kau tak mau menceritakannya?" tanya Berryl dengan tangan terulur ingin membelai kepala Hanindita.


"Aaargh ... " Hanindita meringis saat jarum infusnya sedikit tertarik saat tangannya hendak menepis tangan Berryl.


Berryl tersenyum tipis dengan tetap melanjutkan membelai puncak kepala Hanindita membuat gadis itu terpana.


"Hati-hati!" desisnya lirih. "Jadi, apa kau tidak mau cerita sebenarnya apa yang terjadi padamu?" Berryl kembali bertanya tapi Hanindita tetap bungkam. Anggap saja dia bodoh karena tak mau jujur mengenai perbuatan keluarganya. Tapi jangan dia pikir, Berryl akan tetap diam. Kalau Hanindita tidak mau jujur, maka dirinyalah yang kelak akan bertindak. Walaupun tidak sekarang. Slow but sure aja. "Apa kau tidak percaya padaku?" lanjutnya dengan wajah sedikit menunduk agar dapat melihat jelas wajah Hanindita.


Hanindita tertunduk. Ia memang tak biasa bicara pada orang lain. Bahkan dulu saat ia masih sekolah, ia tak berani mengobrol dengan teman-temannya. Megan dan Morgan selalu mengancam dirinya juga teman-temannya sehingga tidak ada yang berani berteman dengannya. Percaya pada orang lain? Mungkinkah hal itu bisa ia lakukan sebab ia tak pernah dekat dengan orang lain apalagi mempercayai mereka.


"Anin." panggil Berryl membuat Hanindita sontak mendongakkan wajahnya menatap Berryl dengan mata membulat.


Anin ... itu adalah nama panggilan kesayangan dari neneknya. Neneknya pernah bercerita kalau saat bayi, ibunya kerap memanggilnya dengan nama panggilan itu. Mata Hanindita sontak berkaca-kaca. Bagaimana bisa lelaki yang baru dikenalnya ini memanggilnya seperti itu?


'Mungkinkah dia malaikat penjaga dan pelindung kiriman dari ibu untukku?' lirih Hanindita dalam hati.


Melihat mata Hanindita yang mulai dibanjiri air mata sontak saja membuat Berryl panik. Berryl adalah seorang lelaki yang sangat kaku. Wajar saja ia bingung harus berbuat apa saat melihat gadis yang ia klaim sebagai calon istrinya itu terisak di depannya. Reflek, Berryl mendekatkan tubuhnya dan mendekap tubuh mungil Hanindita sambil mengusap punggungnya dengan penuh kelembutan seolah tubuh gadis yang ada di dalam pelukannya begitu rapuh. Apalagi ia belum tau sebanyak apa luka di tubuh Hanindita. Ia khawatir, ternyata di balik baju itu terdapat banyak luka basah yang butuh penanganan. Salah sedikit saja, bisa berakibat fatal.


"Jangan menangis lagi! Selama ada aku, takkan ada lagi yang dapat menyakitimu." ucap Berryl penuh keyakinan membuat Hanindita makin tersedu dalam pelukan Berryl.


...***...

__ADS_1


__ADS_2