
"Tuan, ada yang berusaha membobol sistem keamanan perusahaan kita." lapor Herdan, asisten pribadi Berryl.
Berryl berdecak, siapa yang berani bermain-main dengannya sebenarnya.
"Tingkatkan lapisan pertahanan keamanan! Minta tim IT mengerahkan kemampuan mereka, jangan sampai data perusahaan dibobol orang itu!" tegas Berryl sambil membuka website miliknya untuk melacak posisi hacker yang mencoba membobol data perusahaannya.
Setelah beberapa saat, Berryl mengambil ponselnya dan menghubungi Vano. Vano sebenarnya bukanlah orang sembarangan. Ia juga merupakan ahli peretas tapi ia tak pernah menunjukkan kemampuannya pada orang lain. Ia selalu muncul dengan nama samaran tanpa menunjukkan wajah aslinya di dunia peretasan.
"Halo, Van! Ada peretas yang mencoba bermain-main sama perusahaan gue. Entah apa tujuannya. Tapi sepertinya dia cukup lihai. Tadi gue udah coba melacak keberadaannya, tapi ia bisa mengubah-ubah posisi IP nya secepat kilat. Sepertinya ia tidak sungguh-sungguh mencuri data perusahaan, melainkan hanya ingin mengacaukan sistem keamanan perusahaanku." tukas Berryl dengan jari tetap sibuk di atas papan keyboard. Ponselnya ia hubungkan dengan earphone sehingga ia masih bisa tetap bekerja meskipun sedang menghubungi Vano.
"Oke, gue cek secepatnya! Tapi loe nggak lupa kan bayarannya!" ucap Vano santai sambil menyeringai.
"Ck ... soal itu gampang! Temukan dulu posisinya terus hancurkan sampai nggak bersisa! Jangan pikir dia bisa main-main dengan kita."
"Of course! Give me five minutes."
Vano pun segera beraksi dengan layar laptop yang memang tak pernah jauh dari dirinya.
__ADS_1
"I got you!" serunya saat ia berhasil mendapatkan IP address sang hacker yang mencoba mengacaukan perusahaannya. Lalu tanpa ampun, ia mengirimkan virus buatannya ke laptop sang hancker. Virus jenis baru yang bisa merusak komputer dalam hitungan detik dan meledakkannya.
Boom ...
Vano tergelak setelah berhasil melancarkan misinya.
"Good job, Van!" puji Berryl saat sistem keamanan perusahaannya telah stabil.
"Tapi Ryl, loe liat lokasi hacker itu, bukannya itu gudang tua Amigos. Tempat kita pernah menyekap sepupu loe yang nyebelin itu " ujar Vano mengingatkan.
"Benarkah!"
"I don't know. Bisa jadi itu orang lain. Tempatnya saja yang kebetulan sama. Lagipula kejadian itu sudah berlalu belasan tahun yang lalu. Masa' iya dia mau balas dendam. Kan itu akibat kesalahan dia sendiri." ujar Berryl mengingat kenangan masa putih biru nya dulu.
"Semoga aja, Ryl. Gue cuma khawatir aja. Loe tau kan gimana liciknya dia. Rasa iri membuatnya jadi membenci loe yang notabene sepupunya sendiri."
"Thanks udah ngingetin gue." ujar Berryl seraya menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kebesarannya. "Oh ya Van, Vino udah bergerak belum?"
__ADS_1
"Dia masih sibuk sama pembukaan cabang cafenya. Tapi tenang aja, kalo dia udah selesai, dia pasti langsung bergerak. Gue juga penasaran apa hubungan bini loe sama keluarga Megan itu. Beneran majikan sama bawahan atau ada yang lain."
"Loe yang bukan siapa-siapa aja penasaran, apalagi gue. Sayangnya Anin belum bisa terbuka sama gue jadi gue nggak bisa menanyakan lebih lanjut."
"Pelan-pelan aja, bro! Gue yakin, bila saatnya tiba dia bakal terbuka sama loe. Sama kayak pas loe mau buka segel, pelan-pelan aja." goda Vano membuat wajah Berryl memerah. Seketika ia membayangkan hal yang tidak-tidak akibat ucapan Vano. Beruntung tidak ada seorang pun yang memergokinya. "By the way, udah coba buka segelnya belum nih? Cerita dong! Penasaran gimana rasanya!" imbuhnya lagi.
"Gila aja gue mau cerita sama loe! Kalau loe mau tau rasanya, coba aja sendiri. Loe punya banyak stok cewek kan!"
"Ck ... kayak loe nggak tau gue aja, pantang bagi gue ngelakuin itu sebelum halal. Gila aja nyaranin hal gituan."
"Ya kali aja loe udah ngebet pingin ngerasain." ujar Berryl sambil terkekeh.
"Bangsul loe! Udah ah, gue yang mau godain loe, malah gue yang dikerjain." omel Vano lalu segera menutup panggilan teleponnya.
Sementara Berryl sedang sibuk dengan pekerjaannya, di kediaman Van Houten, Hanindita sedang sibuk mempelajari buku besar keuangan keluarga itu. Dengan cermat, ia mempelajari angka demi angka lalu menghitung setiap rincian pengeluaran dan mengkalkulasikannya. Tak butuh waktu lama, ia telah memahami dan berhasil menyelesaikan tugas pertama dari ibu mertuanya itu. Hanindita memang gadis yang cerdas, hanya nasibnya saja yang kurang beruntung sehingga tidak diperbolehkan melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.
Ivanka menatap puas dengan hasil pekerjaan Hanindita. Metode akuntansi tidak lantas mudah dipelajari secara otodidak apalagi untuk seseorang yang pendidikan terakhirnya SMP. Tapi nyatanya, Hanindita mampu menyelesaikan tugasnya tidak sampai 24 jam. Ivanka mengakui, Hanindita memiliki tingkat kecerdasan yang cukup tinggi. Artinya tidak sulit bila ia meminta Hanindita untuk melanjutkan pendidikannya dengan mengikuti program penyetaraan. Dengan begitu, Hanindita bisa memperbaiki latar pendidikannya agar lebih layak untuk menjadi seorang nyonya muda Van Houten.
__ADS_1
...***...