Terjerat Pesona Gadis Desa

Terjerat Pesona Gadis Desa
Ch.29


__ADS_3

Hari sudah cukup larut, namun Hanindita masih saja setia memejamkan matanya. Ia tidur begitu pulas membuat Berryl tak kuasa untuk membangunkannya untuk makan malam. Mungkin akibat jetlag yang dialaminya membuat Hanindita jadi tidur begitu pulas.


Berryl berbaring dengan posisi menyamping menatap lekat wajah istrinya yang belum bisa ia sentuh sepenuhnya. Ia tak bisa egois, ia ingin memberikan rasa nyaman terlebih dahulu pada Hanindita sebab mereka pun belum lama saling mengenal.


Tiba-tiba tubuh Hanindita menggeliat, sepertinya tak lama lagi ia akan bangun. Hanindita mengerjapkan matanya menatap sekitar kemudian menepuk dahinya sendiri, baru ingat kalau mereka tengah berada di sebuah kamar hotel yang entah berada di negara mana.


Hanindita pun menoleh ke samping, wajahnya sontak bersemu merah saat matanya bertemu dengan sorot mata sang suami. Berryl tersenyum seraya mengusap surai hitam milik Hanindita.


"Selamat malam, istriku," ucap Berryl seraya tersenyum manis.


Hanindita pun memberanikan diri meringsek masuk ke pelukan Berryl dan menempelkan kepalanya di dada Berryl. Sebelah alis Berryl terangkat, tak percaya atas tindakan sang istri yang mulai berani. Mungkin Hanindita mulai menemukan kenyamanan pada diri Berryl karena itu ia mau memberanikan diri bersandar di dada bidang Berryl.


Hanindita memang tidak menjawab ucapan Berryl, tapi ia justru memberikan respon nyata menggunakan tubuhnya. Seandainya ia sudah makan mungkin Berryl akan langsung mengajak istrinya itu bergumul di atas ranjang, menuntaskan sesuatu yang belum pernah ia rasakan.


"Kita makan malam dulu ya!" ajak Berryl seraya mengulurkan tangan membantu istrinya itu duduk. Berryl pun segera menghubungi layanan kamar untuk menyiapkan makan malam mereka, sementara itu Hanindita pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka.


Tak butuh waktu lama, aneka menu baik khas Jepang maupun masakan western telah terhidang di atas meja. Hanindita menatap takjub dengan plating menu-menu itu. Tapi ia justru bingung bagaimana cara menyantap aneka menu yang bentuknya menurutnya aneh. Apalagi saat ada menu khas Jepang yang merupakan olahan ikan mentah. Hanindita merasa geli sendiri untuk menyantapnya. Selain itu, ia memang tidak menyukai olahan laut yang kurang matang karena itu ia menolak saat Berryl menawarkannya makanan itu. Akhirnya Hanindita lebih memilih memakan steak dan salad.


Setelah makan, mereka duduk-duduk sebentar di balkon kamar hotel untuk menikmati malam di Jepang yang terlihat sangat indah dari atas sana.

__ADS_1


"Jadi kita sekarang berada di Jepang?" tanya Hanindita mencoba memastikan pendengarannya.


Berryl tersenyum lalu beranjak memeluk Hanindita dari belakang tubuhnya membuat darah Hanindita seketika berdesir.


"Hmmm ... kita di Jepang. Nggak lama lagi masuk musim semi, kita bisa melihat bunga sakura bermekaran, pasti sangat indah. Bagaimana? Kamu mau, sweetie?" bisik Berryl seraya menumpukan dagunya di atas pundak Hanindita.


Hanindita pun tersenyum lebar. Kapan lagi coba bisa menikmati berlibur di negeri Sakura dan menikmati keindahan bunga yang jadi ikon negara tersebut. Bunga yang hanya bermekaran di musim semi pasti sangatlah indah karena itu sampai dijadikan ikon.


"Mau ... Aku mau, hubby," lirih Hanindita dengan perasaan bahagia yang membuncah. Ia bahagia, sangat bahagia.


Hanindita pikir ia akan selamanya terkurung di dalam neraka bernama rumah yang ada di desanya, tapi ternyata akhirnya ia bisa merasakan kebahagiaan yang tak terhingga ini.


Berryl pun langsung membalik tubuh Hanindita sehingga kini mereka saling berhadapan.


"Tak perlu berterima kasih, sweetie. Karena kehadiranmu di sisiku pun sungguh berharga. Aku nggak pernah merasakan kebahagiaan seperti ini sebelumnya. Aku tak pernah merasakan bagaimana indahnya cinta. Tapi berkat hadirmu, aku bisa tahu kalau cinta itu sangatlah manis. I love you, sweetie. itoshi teru, aishiteru."


Ucap Berryl sebelum ia menyatukan bibir mereka. Menyalurkan perasaan yang membuncah melalui sebuah pagutan mesra. Makin lama pagutan itu kian menuntut hingga berakhir dengan luma*tan yang menggairahkan. Berryl melingkarkan kedua kaki Hanindita di pinggangnya lalu merengkuhnya ke dalam pelukan mesra sambil menggendongnya masuk ke dalam kamar. Di dalam kamar, Berryl pun membaringkan tubuh Hanindita dengan lembut kemudian kembali memagutnya mesra tapi menuntut.


"Aaahhh ... "

__ADS_1


Tanpa sadar bibir mungil Hanindita melenguh membuat gejolak di dalam diri Berryl kian menggelegak. Bahkan golok saktinya pun telah mengacung tegak, sesuatu yang baru ia rasakan hanya saat bersama Hanindita.


Aneh, pikirnya. Selama ini, bukan sedikit wanita yang rela merangkak ke atas ranjangnya agar bisa memuaskannya tapi apalah daya, golok saktinya itu tak pernah mau bangun walau semenit. Ia seakan sedang hibernasi dan menunggu pasangan sejatinya datang menghampiri.


Tak sabar menyalurkan hasrat yang kian memburu, Berryl pun mulai membuka satu persatu kain yang menempel di tubuh Hanindita. Ia sengaja membukanya secara pelan agar Hanindita tidak merasa ketakutan. Bukankah yang ingin diberikannya adalah rasa nyaman? Jadi ia akan melakukan segalanya secara perlahan agar ia tidak pernah menyakiti istrinya yang terlihat tegar tapi rapuh ini.


Namun, hasrat yang tadi berkobar seketika berubah menjadi api amarah. Berryl membelalakkan matanya saat melihat satu persatu luka yang memenuhi tubuh Hanindita. Matanya bahkan kini telah memerah seakan ikut merasakan sakit yang Hanindita rasakan selama ini.


Diulurkannya jemarinya untuk menyusuri setiap goresan yang terdapat di tubuh putih Hanindita. Tubuh yang seharusnya sangat indah itu terlihat begitu menyedihkan dengan banyaknya bekas-bekas luka membuat hatinya menjerit marah atas perlakuan yang entah siapa yang melakukannya.


Sadar kemana arah tatapan Berryl berlabuh, Hanindita pun segera mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya. Ia malu, sangat malu. Ia pikir, Berryl pasti merasa jijik melihat luka-luka yang memenuhi tubuhnya. Berryl pasti tak berniat menyentuhnya lagi setelah melihat luka-luka itu. Mata Hanindita memerah, ia terluka.


Sebelum Hanindita berhasil menutupi tubuhnya, Berryl telah mencegahnya terlebih dahulu. Ia memastikan malam ini harus menemukan segala jawaban yang berseliweran di benaknya. Ia ingin membalas setiap perbuatan yang dilakukan orang itu pada Hanindita. Ia takkan melepaskan orang yang menyakiti istrinya begitu saja. Ia yakin, selama ini Hanindita pasti sangat tersiksa juga terluka tapi siapa pelakunya, Berryl belum tau dan malam inilah waktunya untuk mengorek segala informasi yang masih abu-abu ini.


"Siapa? Siapa yang begitu tega melakukan ini padamu, sweetie? Siapa? Katakan?" Ujar Berryl dengan mata memerah. Bahkan kini ia telah berkaca-kaca saat melihat punggung Hanindita yang bukan hanya ada luka seperti sebuah pecutan tapi juga ada luka bakar bekas setrika.


'Bajing-an! Siapa yang berani-beraninya menyakiti Hanindita sebegitu teganya? Takkan aku biarkan. Akan aku balas perbuatan orang-orang itu. Aku bersumpah.' desis Berryl dalam hati dengan api amarah yang kian menggelegak di dalam dadanya.


...***...

__ADS_1


...Happy reading 🥰🙏🥰...


__ADS_2