
Sementara keluarga kecil Hanindita dan Berryl tengah dilimpahi kebahagiaan luar biasa dengan kelahiran baby boy twins mereka, yaitu Alfaro dan Alfero, maka berbeda dengan Handoko yang kini tinggal sendirian di rumah kecilnya di desa.
Semenjak kepergian Lidya satu bulan yang lalu, kondisi Handoko makin mengenaskan. Tubuh tuanya jadi makin kurus tak terawat, rambut yang biasa tersisir rapi terlihat berantakan, lebih panjang dengan warna putih mendominasi. Rahang yang biasanya tegas terlihat kuyu dan ditumbuhi bulu membuat wajahnya jadi terlihat lebih tua.
Bukan hanya penampilan Handoko yang terlihat memprihatinkan, tapi juga kediamannya. Rumahnya terlihat berantakan, debu bertebaran, abu rokok dimana-mana, piring dan cangkir kotor tergeletak sembarangan, sampah menumpuk hingga menimbulkan bau tak sedap, juga pakaian yang entah bersih atau kotor yang tergeletak sembarangan. Sungguh sangat mengenaskan.
Semua ini telah berlangsung sejak 1 bulan yang lalu, tepatnya setelah kepergian Lidya untuk selamanya. Ya, Lidya telah meninggal satu bulan yang lalu, seperginya dari rumah sakit.
Flashback on
Lidya yang terus didera rasa bersalah dan penyesalan bertubi membuatnya berjalan tak tentu arah. Disusurinya jalanan tanpa tahu harus ke mana dan bagaimana. Pikirannya hanyalah dipenuhi penyesalan tak bertepi. Dadanya kian sesak saat mengingat satu persatu orang-orang terdekatnya telah pergi meninggalkannya. Handoko membenci dirinya, Megan dan Morgan dipenjara yang penyebabnya juga dirinya. Mungkin inilah harga yang harus ia terima setelah segala perbuatan buruknya selama ini
Tak sanggup menahan rasa sesak yang kian mencekik, Lidya pun berlari ke tengah jalanan yang sedang padat merayap bertepatan dengan sebuah mobil yang melaju kencang ke arahnya hingga tubuhnya terpental jauh karena tertabrak mobil itu dengan kondisi yang mengenaskan. Darah segar mengalir dari kepala dan beberapa bagian tubuhnya. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, ingin Lidya mengucapkan sesuatu, tapi lidahnya justru tak mampu bergerak, seakan ada sebongkah batu yang menyumpal tenggorokannya. Entah apa yang ingin ia ucapkan, tapi dalam benaknya hanya satu kalimat yang terus terucap, maafkan ibu Dita, maafkan ibu.
Belum sempat orang-orang memberikan pertolongan, Lidya pun menghembuskan nafas terakhirnya di tengah jalanan tersebut.
Handoko yang mendapatkan berita kematian Lidya dari pihak kepolisian pun terkejut. Ia tak menyangka Lidya akan berakhir seperti itu. Ia memang marah dan membenci Lidya karena telah menciptakan fitnah hingga ia salah paham dan menyakiti istri juga anak kandungnya sendiri, tapi ia tak pernah berharap Lidya mengakhiri hidupnya seperti itu. Tapi beberapa saat kemudian ia mulai berpikir, mungkin inilah hukuman yang harus mereka terima atas perbuatan buruknya dengan Hanindita dan ibunya.
Flashback off
Handoko banyak menghabiskan hari-harinya dengan termenung Tak ada yang bisa ia kerjakan selain melamun Ia juga tidak memiliki pekerjaan. Ia hanya memanfaatkan sisa uang hasil penjualan pabrik teh kemasan untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Tapi akhir-akhir ini ia seakan kehilangan semangat hidupnya. Bahkan ia sampai jarang makan karena telah terlalu lelah dengan hidupnya yang kian hampa dan menyedihkan.
Handoko terbayang masa dimana ia masih berkumpul dengan Hanindita dan ibunya. Saat itu, walaupun ia masih belum mencintai mendiang istrinya itu, tapi mereka sungguh bahagia hingga kemudian badai memporak-porandakan kebahagiaan keluarga kecil mereka. Ingin ia kembali ke masa itu, tapi semuanya sudah tak mungkin lagi. Bahkan untuk mengharapkan satu kata maaf saja sudah tak mungkin, akankah ia berakhir tanpa mendapatkan kata maaf sama sekali?
...***...
__ADS_1
"Sweetie," panggil Berryl pada Hanindita yang tengah menyusui buah hati mereka.
Hanindita yang baru selesai menyusui pun, gegas merapikan pakaiannya dan menatap lekat pada Berryl yang terlihat sedikit resah.
"Ada apa hubby? Apa telah terjadi sesuatu?" tanya Hanindita penasaran.
Berryl menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan, kemudian ia pun mulai menceritakan sesuatu yang cukup membuat Hanindita terkejut.
"Begini sweetie, tetangga ayahmu menemukan ayahmu dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Ia terbaring dengan kondisi tubuh yang sudah sangat lemah. Awalnya mereka penasaran karena sudah lama tidak melihat keberadaan ayahmu hingga akhirnya mereka memberanikan diri untuk memeriksa rumah ayahmu dan menemukannya sudah dalam keadaan memprihatinkan. Sweetie, aku tahu kau merasa sangat kecewa pada ayahmu, tapi menurut saranku, ada baiknya dirimu menemuinya yang mungkin ini untuk terakhir kalinya. Aku hanya tidak kelak kau menyesali keputusanmu menyimpan kekecewaan apalagi dendam sehingga memilih tidak menemuinya di detik-detik terakhir hidupnya. Temuilah ayahmu sweetie, dia sedang sekarat sekarang. Aku tahu, sebenarnya kau masih sangat menyayangi ayahmu, jadi bagaimana? Kamu maukan?"
"Bagaimana sebenarnya kondisi ayahku?" tanya Hanindita dengan suara bergetar.
"Warga menemukannya sedang terbaring di tempat tidur. Tubuhnya sangat kurus. Sepertinya ia sudah berhari-hari tidak makan. Tubuhnya juga sudah sangat lemah. Dan dia juga selalu meracaukan namamu. Sepertinya ayahmu menang sudah benar-benar menyesali perbuatannya," tukas Berryl menjelaskan.
"Hubby, aku mohon, antarkan aku kesana?" mohon Hanindita dengan wajah yang sudah basah dengan lelehan air mata.
...***...
Sesuai permintaan Hanindita, Berryl pun mengantarkan Hanindita ke desa untuk mempertemukan dirinya dengan ayahnya. Setibanya Hanindita di hadapan ayahnya, tangisnya pecah. Sekuat tenaga ia mencoba mengontrol air matanya agar tak tumpah ternyata tetap tak bisa. Apalagi saat melihat kondisi ayahnya yang begitu menyedihkan.
Hanindita yang tak kuasa menahan kesedihannya lantas segera bersimpuh di lantai dengan posisi menghadap ke arah ayahnya yang sedang memejamkan mata. Tampak beberapa tetangga yang membantu merawat sang ayah. Paham Hanindita membutuhkan waktu berdua dengan ayahnya, mereka pun keluar meninggalkan Hanindita, Handoko, dan Berryl.
Perlahan Hanindita mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan sang ayah. Tangisnya kian menjadi. Akhirnya untuk pertama kali setelah belasan tahun berlalu, ia bisa menggenggam tangan ayahnya. Sesuatu yang begitu ia impikan itu akhirnya bisa ia lakukan. Ia begitu merindukan hangatnya genggaman tangan itu. Hanindita tergugu sambil menempelkan punggung tangan itu hingga air matanya membasahi genggaman tangan itu.
Merasa tangannya digenggam seseorang hingga basah, Handoko pun mengerjapkan matanya. Bias sinar membuat matanya harus mengerjap beberapa kali hingga akhirnya ia bisa melihat sosok yang sangat ia rindukan beberapa waktu ini. Ia sampai mengira dirinya sedang berada di dunia mimpi karena merasa tak percaya bisa bertemu dengan anak kandung satu-satunya itu.
__ADS_1
"A-Anin," panggil Handoko.
Tangisan Hanindita kian pecah bahkan terdengar memilukan. Akhirnya ayahnya menggunakan panggilan itu lagi untuk menyebut namanya setelah sekian lamanya.
"A-apakah aku sedang bermimpi?"
Hanindita menggeleng lalu mengangkat genggaman tangan itu dan mengecupnya.
"Ini bukan mimpi, Yah. Ini Anin, ini benar-benar Anin. Anin datang, Yah. Anin sudah datang. Ayah kenapa jadi seperti ini? Ayah ... hiks ... hiks ... "
"Kau ... benar-benar Anin? Ayah tidak sedang berhalusinasi kan?" tanyanya tak percaya.
"Ini benar-benar Anin, Yah. Anak ayah. Putri ayah." ucap Anin serak karena terlalu sering menangis.
"Anin ... maafkan ayah. Ayah salah. Ayah banyak bersalah padamu. Maafkan ayah, nak. Maafkan ... "
Tangis Handoko pecah. Ayah dan anak itu larut dalam tangisan memilukan. Handoko mencoba mengangkat tubuhnya untuk memeluk Hanindita tapi tak berdaya. Tubuhnya sangatlah lemas bahkan perlahan rasa sakit menjalari sekujur tubuhnya hingga ia tak mampu mendekatkan diri sedikit pun. Paham ayahnya kesulitan untuk memeluknya, Hanindita pun segera memeluk sang ayah dan menumpahkan tangisnya di sana.
"A-Anin, ma-af ..."
Hanindita menggeleng memotong perkataan ayahnya yang kian terbata. Bahkan nafasnya mulai putus-putus saat ini. Sekuat tenaga ia ingin mengungkapkan penyesalan dan permohonan maafnya tapi lidahnya makin kelu, tenggorokannya makin tercekat, dadanya kian sesak, bahkan untuk mengeluarkan satu kata pun terasa sangat sulit.
"Tidak yah, berhenti. Ayah harus sembuh dulu baru Anin maafin ayah."
"A-Anin ma-af-kan a-yah ... "
__ADS_1
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...