
"Nin, kamu lagi apa sayang?" tanya Berryl seraya menghempaskan bokongnya tepat di samping Hanindita.
Hanindita menoleh lalu tersenyum malu-malu membuat Berryl gemas dan mencium pipinya. Hanindita pun makin tersipu.
"Lagi siapin materi buat bimbingan besok," sahut Hanindita dengan wajah menunduk.
"Emang kapan ujian penyetaraannya?" tanya Berryl seraya memainkan ujung rambut Hanindita dan menciuminya. Aromanya begitu harum membuat Berryl tak henti ingin terus menghidu aromanya.
"Satu bulan dari sekarang."
"Sayang ... " panggil Berryl lirih di samping cuping telinga Hanindita membuat darah gadis itu berdesir. Jantungnya bertalu-talu. Hanindita sampai menelan ludahnya karena sensasi menggelitik yang dirasakannya saat ini.
"Hmmm ... " sahut Hanindita yang hanya berupa gumaman.
"Aku pingin ... "
"Pingin apa?" lirih Hanindita dengan nafas mulai tersengal.
"Makan kamu."
"Hah!" Hanindita berseru kaget. Ia sampai reflek menoleh dengan dahi yang berkerut-kerut bingung. Memakannya? Apa suaminya ini seorang kanibal?
"Kenapa? Takut?" bisik Berryl dengan jemari yang telah bergerak merangkum telapak tangan Hanindita.
"Ma-maksud hubby apa? Makan apa? Aku-aku nggak salah dengar kan hubby mau makan aku? Hubby kanibal?" cerca Hanindita. Ia memang gadis polos. Sangat polos. Yang ia tau cuma pekerjaan rumah.
__ADS_1
Berryl terkekeh lalu mengecup bibir Hanindita sekilas lalu mencubit cuping hidungnya pelan.
"Kalau iya kenapa?" tanya Berryl usil.
Hanindita sontak saja menunjukkan ekspresi takut. Siapa tak takut coba kalau tiba-tiba ada yang mengatakan ingin memakannya, siapapun pasti akan takut, begitu pula Hanindita.
"Sweetie, kamu tuh ya ampun, gemesin banget tau nggak! Aku nggak pernah ngerasa sebahagia ini dekat sama seseorang apalagi seorang perempuan, selain kamu. Kamu itu ibarat mentari yang menerangi hari-hariku. Bodohnya aku yang baru menemukan kamu," ujarnya sambil mengusap pelan pipi Hanindita. Ia sudah seperti suami bucin. Tapi bucin dengan istri sendiri, nggak masalah kan. "Maksud aku makan kamu itu, bukan secara harfiah, sweetie, tapi ... langsung praktek aja deh!" serunya seraya tersenyum jahil dan mengedipkan sebelah matanya.
Hanindita lagi-lagi menelan ludahnya sendiri saat Berryl justru mengambil buku di tangannya dan meletakkannya di atas meja kemudian dengan sekali gerakan, Hanindita telah masuk ke dalam gendongan Berryl.
"Hub-hubby, kita ... mau ngapain?" tanya Hanindita gugup.
"Aku mau membuatmu melayang supaya istriku tercinta ini segera jatuh cinta juga kepada suami bucinnya ini."
"Memangnya hubby udah jatuh cinta sama aku?" tanya Hanindita penasaran.
"Seorang wanita itu kadang bukan hanya butuh pembuktian, tapi ungkapan untuk memastikan."
Lalu Berryl pun merebahkan tubuh Hanindita di atas kasur kingsize milik mereka dengan hati-hati. Kemudian Berryl pun ikut naik dengan posisi mengungkung sang istri.
Berryl mengangkat tangannya dan mengusap puncak kepala Hanindita dengan lembut. Lalu jemari itu turun ke pipi dan semakin turun menyentuh apa saja yang ingin disentuhnya. Berryl menatap lekat mata Hanindita.
"Sweetie, dengarkan aku, aku memang bukanlah pria yang romantis yang pandai berkata-kata, apalagi mengungkapkan perasaanku dengan kata-kata manis. Aku hanya bisa membuktikannya dengan perbuatan. Namun satu yang pasti dan harus selalu kau ingat hingga sampai nanti, sampai nafasku tak berhembus lagi, aku Berryl Van Houten mencintaimu. Sangat mencintaimu, Hanindita," ungkap Berryl dengan sorot mata menatap lekat pada Hanindita yang berada di bawah kungkungannya.
Mata Hanindita membola. Apakah ini nyata? Benarkah Berryl mencintainya? Apa mungkin lelaki sesempurna Berryl benar-benar mencintainya? Apa yang membuat laki-laki ini mencintai dirinya? Bolehkah ia mempercayai kata-kata lelaki yang ada di hadapannya ini? Ia takut, segala keindahan yang ia alami ini hanyalah mimpi. Bayang-bayang semua.
__ADS_1
"Hhhmmmph ... "
Melihat Hanindita yang justru mematung seakan tidak mempercayainya, Berryl pun langsung membungkam bibir merah muda Hanindita dengan bibirnya. Dikecupnya bibir itu dengan lembut dan penuh perasaan, atas-bawah, bergantian membuat Hanindita sedikit mende*sah sehingga menimbulkan celah diantara kedua bibirnya. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, Berryl menelusupkan lidahnya diantara celah itu dan menggerakkannya, menyentuh setiap inci dan sisi di dalam mulut itu. Mengeksplor rongga di dalamnya dengan nafas yang mulai memburu. Dihisapnya lidah Hanindita hingga ia pun melenguh.
"Bernafas, sweetie." bisik Berryl tepat di depan bibir Hanindita saat tau istrinya itu menahan nafasnya dengan mata terpejam. Hanindita pun membuka matanya dan menghembuskan nafas lega saat ciuman telah terlepas hingga memunculkan semburat di pipinya yang mulai berisi.
Berryl senang, dalam waktu satu Minggu perubahan istrinya itu begitu kentara. Bukan hanya lebih berisi, tapi juga lebih cerah, cantik, dan anggun. Apalagi Ivanka beberapa hari ini suka mengajaknya ke tempat-tempat perawatan tubuh yang sering disambanginya. Dibalik sikap dingin Ivanka, ia justru memiliki andil besar terhadap istrinya itu. Ia tahu, ibunya itu sangat baik dan hangat. Mungkin sikap dingin ini sengaja ia tunjukkan untuk membentuk karakter Hanindita agar jadi perempuan yang kuat. Berryl tak mempermasalahkan itu asalkan apa yang dilakukan ibunya itu tidak membahayakan Hanindita.
Merasa malu, Hanindita menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia benar-benar merasa malu saat ini. Apa yang Berryl lakukan membuatnya melayang. Hanindita memang belum bisa membalasnya karena ia belum terbiasa dengan kegiatan intim itu. Tapi ia membiarkan saja apapun yang akan dilakukan Berryl padanya sebab ia yakin, Berryl takkan menyakitinya. Dan kini ia pun sudah yakin, kalau kata-kata Berryl tadi memang merupakan isi hati yang sebenarnya. Berryl mencintainya. Ia bahagia, sangat bahagia. Ia harap, ia bisa segera membalas cinta suaminya itu. Apalagi yang dapat ia berikan sebagai balasan atas segala kebaikan, keindahan, kebahagiaan, perhatian, kepedulian, kehangatan, cinta, dan kasih sayang, selain sebuah cinta yang besar dan utuh untuk suaminya itu.
"Masih ragu dengan cintaku?" tanya Berryl lirih masih di depan bibir Hanindita.
Hanindita menggeleng cepat.
"Terima kasih, terima kasih banyak, hubby. Terima kasih atas segalanya. Terima kasih," lirih Hanindita dengan mata berkaca-kaca. Ia tak percaya ia bisa mendapatkan cinta dari laki-laki sesempurna Berryl. Berryl terlalu sempurna untuknya yang tidak memiliki kelebihan apa-apa ini. Terlalu sempurna sampai-sampai ia merasa ini semua bagaikan mimpi. Tapi lagi-lagi Berryl membuktikan kalau semua ini bukanlah mimpi. Ini nyata. Laki-laki itu nyata dan laki-laki itu memang benar-benar mencintainya.
Lalu Berryl membaringkan tubuhnya di samping Hanindita dan menariknya ke pelukannya dengan lengan kiri sebagai bantalan. Di kecupnya puncak kepala Hanindita dengan sayang.
"Besok siang kita pergi honeymoon, oke!"
"Apa?" Hanindita membulatkan matanya tak percaya kalau ia akan diajak Berryl pergi honeymoon.
"Kamu mau kan, sweetie? Aku ingin menghabiskan waktu berdua denganmu. Aku ingin memilikimu seutuhnya, sweetie. Aku harap kamu siap." bisiknya setelah itu Berryl mengecup bibir Hanindita lagi namun hanya sekilas.
...***...
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰...