Terjerat Pesona Gadis Desa

Terjerat Pesona Gadis Desa
Ch. 44


__ADS_3

"Jangan berbuat macam-macam kau wanita ja*Lang! Berani kau melukai Hanindita, kau pun akan mengalami hal yang sama!" seru Berryl dengan sorot mata tajam dan kelam. Dalam hati, ia begitu mengkhawatirkan keadaan Hanindita. Ia takut Megan sampai nekat menyakiti istrinya.


"Masa bodoh dengan ancamanmu. Kau pikir aku takut, hah? Kalau aku tidak bisa mendapatkan dirimu, maka dia juga tidak boleh mendapatkanmu," ujarnya dengan smirk devil membuat Berryl menggeram marah.


"Jadi apa yang kau inginkan? Katakan aku harus apa asalkan kau lepaskan Hanindita sekarang juga." Berryl mencoba bernegosiasi sambil mendekati mereka perlahan.


"Megan, apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!" desis Hanindita yang mulai mengerjapkan matanya. Ia mulai menyadari situasinya saat ini. Ia makin membelalakkan matanya saat melihat sebuah pisau yang terlihat sangat tajam tengah Megan arahkan ke perutnya.


"Lepaskan? Jangan mimpi!" desis Megan seraya terkekeh. "Kecuali Berryl mau memenuhi satu permintaanku. Anggap saja kita barter, nyawa mu selamat dan aku mendapatkan apa yang ku inginkan." Tukas Megan dengan tangan kiri melingkari lehernya erat sedangkan tangan kanan memegang pisau di depan perut Hanindita.


"Katakan! Katakanlah apa maumu? Uang? Kekayaan? Atau ada sesuatu yang kau inginkan?" cecar Berryl yang makin panik.


"Seperti kataku tadi, permintaan ku hanya satu, tinggalkan Dita dan menikahlah denganku." Megan pun langsung mengutarakan keinginannya membuat semua orang yang ada di sana membelalakkan matanya. Mereka tak menyangka pikiran Megan selicik itu. Apa ia pikir dengan Berryl meninggalkan Hanindita lantas ia bisa menikahi Berryl? Mimpi!


"Gila! Kau pikir aku mau menuruti permintaan gilamu itu!" ketus Berryl yang rasanya sudah tak bisa bersabar lebih lama lagi. Ia pikir ia mau meninggalkan Hanindita tapi ia juga khawatir bila perempuan gila itu nekat melukai istrinya.


"Ya sudah, itu artinya kau harus merelakan istrimu ini pergi untuk selamanya." Ucap Megan dengan tangan bersiap menusukkan pisau itu ke perut Hanindita.


Hanindita pun kembali berupaya memberontak, sedangkan Berryl segera bergerak untuk menyelamatkan Hanindita.


"Aniiiiin .... "


"Aaakh ... "

__ADS_1


Dorrr ...


...***...


Sementara itu, merasa misinya pasti akan berhasil, Karl pun segera mendatangi kediaman Arlene. Saat itu ia sengaja tidak menggunakan mobilnya, tapi lebih memilih menggunakan taksi. Sebenarnya ia hanya berencana menculik Hanindita dan memaksanya agar segera bercerai. Sesuai rencana, ia akan memanfaatkan Megan untuk menculiknya dan membawa ke alamat yang sudah ia siapkan. Misi di lokasi sudah selesai, tapi Megan belum juga datang ke lokasi. Ia pikir, rencana itu akan benar-benar sukses jadi ia segera bergerak ke rumah Arlene untuk mengabarkan gadis pujaan hatinya tersebut.


Namun, baru saja ia berdiri di depan pintu kamar Arlene, ia mendengarkan percakapan dua orang yang sangat ia kenali, siapa lagi kalau bukan Arlene dan ayahnya.


Tangannya mengepal erat saat mendengarkan percakapan antara kedua orang itu. Padahal ia begitu mencintai dan mempercayai Arlene sampai-sampai ia tega mengkhianati sepupunya sendiri, tapi ternyata selama ini Arlene telah menipunya hanya demi obsesi memiliki Berryl, sedangkan ayahnya terobsesi menjadi anggota keluarga Berryl yang bukan hanya kaya tapi juga terpandang.


'Sialan.' batinnya menggeram marah.


Brakkk ...


Karl mendorong kasar pintu kamar Arlene hingga terbuka lebar. Sontak saja Arlene dan ayahnya membelalakkan mata mereka saat melihat laki-laki yang telah mereka peralatan demi kepentingan mereka selama ini.


"Mari sini, nak!" ayah Arlene pun membantu Arlene kembali duduk di kursi roda membuat Karl terkekeh melihatnya.


"Berhentilah menipuku perempuan sialan! Aku sudah melihat dan mendengar semuanya. Kalian ... tega-teganya kalian menipu dan memanfaatkanku mentah-mentah selama ini, hah?" bentak Karl. "Tega-teganya kalian memanfaatkan perasaanku yang tulus padamu? Apakah tidak.ada sedikit pun perasaanmu untukku? Kenapa Arlene? Kenapa? Kenapa kau begitu terobsesi dengan Berryl padahal sudah jelas-jelas Berryl menolakmu, kenapa?" Raung Karl membuat tubuh Arlene bergetar.


"Jangan bertanya tentang hal itu! Tentu saja putriku lebih memilih Berry. Dia lebih segalanya darimu, kau sadar itu bukan!" timpal ayah Arlene yang tak terima putrinya disudutkan.


"Oke kalau begitu! Dari pada kalian berpura-pura cacat, bukankah lebih baik benar-benar cacat! Itu doamu bukan, maka aku akan mengabulkannya." tukas Karl membuat Arlene dan ayahnya terkejut.

__ADS_1


"Jangan gila, Karl!" teriak Arlene ketakutan saat melihat Karl mengeluarkan sebuah pistol dari balik punggungnya.


"Karl, kita bisa bicarakan ini baik-baik! Jangan bertindak gegabah!" bujuk ayah Arlene mencoba menghentikan kenekatan Karl.


"Sudah terlambat!" desisnya.


Dor ...


Dor ...


Dor ...


Dor ...


"Aaaargh .... " teriak ayah dan anak itu bersamaan saat Karl menembaki kedua kaki mereka tanpa ampun.


"Itulah akibatnya telah bermain-main denganku!" desis Karl yang sudah mulai mati rasa. Bagaimana ia tak mati rasa, bertahun-tahun ia memendam rasa cinta sehingga dengan suka rela dimanfaatkan Arlene dan ayahnya untuk mendekatkannya pada Berryl, justru pengkhianatan lah uang ia terima. Ia ditipu mentah-mentah. Ternyata Arlene tidak cacat. Lalu dengan bodohnya ia menuruti segala permintaan Arlene dan ayahnya. Bahkan ia sampai memusuhi sepupunya sendiri demi membantu Arlene mendapatkan Berryl. Tapi ternyata, kebaikannya pada mereka hanya dianggap sebuah lelucon oleh kedua orang itu. Karl sangat membenci pengkhianatan. Karl sangat membenci kebohongan. Dan inilah balasan untuk orang-orang licik yang hanya ingin memanfaatkannya saja.


"Bereskan mereka berdua!" titahnya pada anak buahnya yang telah berdiri di belakangnya.


"Karl, aku mohon maafkan aku! Tolong aku, Karl! Bukankah katamu kau mencintaiku? Beri aku kesempatan untuk membuka hatiku untukmu! Maafkan aku, Karl. Tolong selamatkan aku!" lirih Arlene seraya menahan sakit saat Karl sedang menuju ambang pintu.


"Sudah terlambat. Cintaku telah mati seiring dengan kebohongan dan pengkhianatan yang kau dan ayahmu lakukan!" pungkas Karl sebelum pergi dari ruangan itu.

__ADS_1


...***...


...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...


__ADS_2