
Hari merupakan hari pertama Megan bekerja sebagai cleaning servis di VH Corporations tapi ia sudah datang terlambat. Alhasil atasannya pun memarahinya di hadapan semua cleaning servis yang ada. Megan ingin sekali marah, tapi ini adalah hari pertama dirinya berada di sana. Tak mungkin ia membuat masalah. Bisa-bisa ia dipecat sebelum bertemu dengan Berryl.
"Kau ... " tunjuk Meti tepat di depan wajah Megan. "Baru hari pertama sudah datang terlambat. Apa kau tidak berniat untuk bekerja, hah? Semua rekan-rekanmu sudah memulai tugas mereka, lalu kau baru datang? Kau tahu bukan peraturan di sini. Terlambat sampai 3 kali berturut-turut, potong gaji 5%. Terlambat 7 kali pecat. Jadi jangan sampai hal ini terulang kembali, kau dengar!" bentak Meti membuat Megan menggeram kesal. Tapi ia menyembunyikan kekesalannya itu dengan menundukkan wajahnya. Jangan sampai ia dipecat hanya karena melawan Meri! Mungkin ia takkan memiliki kesempatan masuk ke perusahaan ini lagi bila sampai ia dipecat.
"Baik, Bu," sahut Megan dengan wajah tertunduk.
"Baiklah, sebagai hukuman, kau sapu dan pel semua lantai di lantai 1. Saya harap, sebelum makan siang, semua lantai telah bersih. Jangan sampai buat kesalahan kalau tidak, hukumanmu akan ditambah!" tegas Meti membuat Megan rasanya ingin mengumpat dan berteriak sambil melemparkan air bekas pel ke wajahnya Meti. Seandainya ia tidak membutuhkan pekerjaan ini untuk mendekati Berryl, tentu ia takkan sudi menginjakkan kakinya di perusahaan itu sebagai cleaning servis. Di rumahnya saja, ia tidak pernah sama sekali membantu mengerjakan pekerjaan rumah, tapi di sini ia harus menyapu dan mengepel, sungguh sangat menyebalkan, umpatannya dalam hati.
Megan pun membawa perlengkapan bersih-bersih ke lantai satu. Lantai di perusahaan itu sangatlah luas, Megan sampai menelan ludahnya memikirkan bagaimana caranya membersihkan lantai ruangan yang begitu luas itu. Ia pun mulai mengayunkan sapunya, tapi karena ia tak pernah sama sekali menyapu, lantai yang disapu bukannya bersih, debu ya justru bertebaran kemana-mana membuat orang-orang di sana memarahinya.
"Loe itu bisa nyapu nggak sih?" bentak salah seorang karyawan sambil menutup hidungnya karena debu yang berterbangan.
Hatchi ... hatchi ... hatchi ...
"Heh, kamu itu bisa kerja nggak sih! Nyapu aja nggak bisa, bodoh banget sih!" bentak yang lainnya.
"Kalian itu cerewet banget sih! Diam aja kenapa, berisik!" sahut Megan ketus.
"Hah, cleaning servis aja belagu! Berani banget dia jawab omongan kami. Gue laporin Meti baru tau rasa loe." geram karyawan itu.
Megan berdecak kesal lalu meninggalkan debu-debu yang berhamburan tak tentu arah.
Sepanjang hari, Megan tak henti-hentinya menggerutu kesal karena Omelan demi omelan yang ia dapatkan saat melakukan kesalahan.
__ADS_1
"Cck ... Berryl mana sih? Kok nggak kelihatan ya!" gumam Megan sambil memperhatikan pintu masuk lobi.
"Cih, cleaning servis aja belagu, nggak tahu diri juga. Emang loe pikir CEO sekelas tuan Berryl mau sama perempuan belagu kayak loe? Tampang pas-pasan, cleaning servis juga, nggak ada pantes-pantesnya."
"Nggak ada sopan santun juga, dengar nggak loe tadi, dia panggil CEO kita namanya. Sungguh keterlaluan. Dasar cleaning servis nggak tahu diri!"
Cibir karyawan VH Corporations saat mendengar gumaman Megan.
"Kalian karyawan biasa aja belagu. Awas ya, kalau gue berhasil jadi pendamping Berryl, loe-loe, sama semua yang tadi udah gangguin gue, gue pecat semua!" bentak Megan dengan kepala yang rasanya telah mendidih.
"Hahahaha ... " beberapa karyawan yang mendengar itu, sontak terbahak. Sungguh cleaning servis nggak tahu diri, pikir mereka. Mimpinya ketinggian.
"Jangan mimpi ketinggian mbak cleaning, entar jatuh, sakit lho!" ejek yang lainnya.
"Benar-benar gila nih cewek. Kenapa nggak loe pacarin aja, Van?" tanya Vino.
"Ih, ogah sama siluman ular derik kayak gitu, entar gue dipatok, jadi ikutan gila kayak dia," tolak Vano sambil tergelak. Ia memang playboy, tapi ia pun tak mau berdekatan dengan perempuan sejenis Megan.
...***...
Hari-hari telah berlalu begitu cepat, tanpa terasa hari ini adalah hari pelaksanaan ujian penyetaraan yang diikuti Hanindita. Dengan kemampuannya, ia berhasil menjawab semua soal dengan baik. Ia sudah tidak sabar memperoleh ijazah SMA-nya walaupun mesti harus mengikuti program kejar paket C.
"Hai sweetie, bagaimana ujiannya? Lancar?" tanya Berryl saat melihat Hanindita baru saja keluar dari ruangan ujian.
__ADS_1
Hanindita mengangguk mantap dengan senyum lebarnya.
"Semua lancar, terima kasih, hubby," ucapnya dengan mata berkaca-kaca karena merasa terharu akhirnya ia bisa melanjutkan pendidikannya.
Melihat istrinya begitu bahagia bercampur haru, Berryl pun segera memeluk erat Hanindita. Tak peduli dimana posisinya sekarang, ia hanya ingin menumpahkan rasa sayang yang berlimpah untuk istrinya itu. Siapa lagi yang akan mencintai dan menyayangi istrinya sepenuh hati kalau bukan dirinya. Sedangkan keluarganya saja bukan hanya tak peduli, tapi juga kerap menyakiti, tak ada yang bisa diharapkan dari keluarga toxic-nya itu.
Berpasang mata yang sejak tadi menatap kagum pada Berryl sontak membelalakkan matanya saat tahu ternyata Berryl telah memiliki pasangan. Walaupun dalam benak mereka merasa bingung bagaimana bisa laki-laki sesempurna Berryl mau dengan gadis yang bahkan ujian SMA saja tidak lulus sehingga harus mengikuti ujian penyetaraan, tapi mereka tidak mencemooh pasangan itu. Hal itu membuktikan bahwa cinta tulus itu benar adanya. Seperti Berryl yang mau mencintai dan menerima Hanindita apa adanya.
"Ayo kita pulang! Mommy sudah menyiapkan makan siang istimewa untukmu." Ungkap Berryl membuat Hanindita membelalakkan matanya.
"Benarkah?" tanyanya tak percaya.
"Hmmm ... tentu saja benar. Sebab hari ini adalah hari yang spesial untukmu. Selain itu, hari ini juga ada tamu spesial yang ingin sekali bertemu denganmu. Ia sudah tidak sabar menunggu kepulangan kita, jadi ayo!" Berryl pun merangkul pinggang Hanindita posesif. Melihat kedatangan tuannya, sopir pun segera membukakan pintu untuk keduanya.
Tak butuh waktu lama, akhirnya mobil yang membawa Berryl dan Hanindita telah tiba di mansion keluarga Van Houten. Baru juga Hanindita dan Berryl menginjakkan kakinya di selasar rumah besar itu, tiba-tiba pintu terbuka dengan kencang dan terdengar sebuah seruan dari dalamnya.
"Hello, my sister in law! Ah, akhirnya kita bisa bertemu! Salam kenal, i'm Berliana. You can call me, Ana," serunya riang seraya memeluk tubuh mungil Hanindita membuat Berryl yang awalnya merangkul pundak Hanindita jadi terlepas karena dorongan dari Berliana.
"Ana, kau bisa membuat Anin jatuh!" sergah Berryl membuat Berliana tersenyum kecut.
"Ya ya ya, my brother, i know. Sorry kakak ipar. Mungkin ini karena aku terlalu senang. Pertama karena akhirnya kakakku memiliki pasangan dan kedua aku senang karena akhirnya aku memiliki saudara perempuan. Senang bertemu dengan kakak ipar. Ayo, masuk, mommy sudah menyiapkan makanan spesial untuk kita." serunya lagi sambil merangkul pinggang Hanindita membuat Berryl yang berjalan di belakangnya menggelengkan kepala dengan tingkah sang adik.
...***...
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰...