
Perjalanan mereka sudah menempuh waktu beberapa hari. Malam itu mereka beristirahat di Kota Andromeda, bukan di tengah-tengah kotanya, melainkan di dekat kumpulan rumah-rumah penduduk yang sedikit jauh dari daerah pemukiman utama.
Mereka tidak mendirikan tenda. Hanya berbaring di bawah pohon dengan alas seadanya serta api unggun kecil sudah cukup untuk mereka. Layaknya anak kecil, Alpha-Ursa tidak bisa segera mengistirahatkan tubuh mereka, rasa antusias terhadap perjalanan pertama mereka membuat mereka tetap terjaga hingga tengah malam.
Ursa menggunakannya untuk melatih tubuhnya. Sedangkan Alpha, ia masih sibuk dengan keinginannya menguasai teknik mimikri. Kudanya yang tertidur lelap ia jadikan sebagai objek penelitian. Ia mengamati detail-detail tubuh binatang itu dengan penuh ketelitian.
Ia sudah mampu meniru bentuk kuda itu, namun baru sebatas itu saja. Aspek-aspek yang dimiliki oleh tubuh kudanya masih belum ia kuasai, semisal pergerakan, kecepatan, atau ketahanan tubuh dari kuda tersebut. Jika hanya meniru maka tidak akan sesulit itu, tetapi teknik mimikri tidak hanya sebatas hal tersebut, jika berhasil melakukannya maka itu merupakan sebuah pencapaian besar.
Cara kerja kekuatan cahaya adalah dengan mempelajari bentuk suatu benda lalu menirunya. Terdengar mudah, tetapi tak semudah yang diperkirakan. Butuh konsentrasi tinggi untuk dapat melakukannya. Karena jika tidak maka kekuatan cahaya yang dikeluarkan tidak akan seefektif dan seefisien senjata asli.
Misalnya adalah meniru bentuk pedang. Pertama-tama harus mempelajari sifat-sifat dari material pedang tersebut dengan cara menyelimuti pedang asli menggunakan kekuatan cahaya si pengguna. Kekuatan cahaya yang menutupi seluruh permukaan pedang akan merambat pada setiap molekulnya, mempelajari dan memahaminya, lalu baru bisa menirunya. Bisa dikatakan berhasil apabila kekuatan cahaya itu memiliki tidak hanya bentuk yang sama namun juga kemiripan paling akurat dengan benda asli yang dijadikan modelnya.
Dengan kata lain tidak hanya penampilan yang identik melainkan juga kepadatan, ketajaman, kekuatan, ketahanan, serta lain sebagainya sama persis seperti model aslinya. Hal tersebut pun berlaku untuk benda bergerak. Kemudahan itu menjadikan seseorang dengan kekuatan cahaya selalu memiliki senjata.
Sedangkan penggunaan kekuatan cahaya yang diaplikasikan pada senjata asli akan memperkuat senjata asli tersebut, tidak hanya kekuatan atau ketahanannya saja, melainkan fungsi dari kehebatan senjata tersebut. Seperti teknik Diphda yang bernama Fire Claw, dia hanya membawa satu pedang, tetapi kekuatan cahaya mampu membuat bilah pedang itu bertambah sehingga meningkatkan kehebatannya.
Tidak hanya sampai di sana, bila seseorang dengan kekuatan cahaya sudah cukup hebat maka mereka bisa menggabungkan beberapa sifat benda yang berbeda ke dalam satu teknik mereka. Contohnya adalah Joa, ia menggabungkan sifat-sifat tembok dan cairan lengket lalu menjadikannya teknik unik bernama Sticky Wall.
Teknik-teknik meniru semacam itu pada dasarnya sudah hebat. Namun sayangnya cara-cara itu hanya bisa digunakan terhadap benda mati. Untuk meniru makhluk hidup maka dibutuhkan kemampuan yang jauh di atas itu, karena unsur-unsur yang menyusun makhluk hidup tidaklah sesederhana benda mati. Itulah mengapa menjadikan teknik mimikri yang Alpha pelajari saat ini sebagai sebuah teknik sulit yang hebat.
‘Teknik Fire Dragon milik Ms. Diphda lumayan keren. Itu bukan teknik mimikri, hanya teknik meniru biasa yang dipadukan dengan imajinasinya, tetapi seperti itu saja sudah hebat. Apabila aku bisa menguasai teknik mimikri ini pada kuda itu maka aku akan punya teknik baru yang mengagumkan. Bahkan tanpa kuda sekalipun aku bisa membuat kuda kapan saja aku mau. Itu akan sangat berguna.’
Alpha membatin dengan antusias. Ia tak sabar untuk dapat menguasai teknik baru yang direncanakannya. Alpha menepuk-nepuk kudanya dengan lembut, lalu dengan bisikkan halus ia mengucapkan puji-pujian untuk kuda tersebut.
“Oi.” Okul memanggilnya dengan dingin. “Tidurlah. Besok kita harus meneruskan perjalanan. Biar aku yang ganti jaga.”
“O-oh, ya... baiklah,” jawabnya dengan kaget. Alpha mendekat ke api unggun. Ia sempat melirik mencari Ursa, ternyata pemuda itu sudah tidur lebih dulu di dekat Algol. Alpha berbaring dengan menghadap atas. Langit tanpa awan bertaburan bintang dan bulan sabit menggantung cerah. “Indahnya...” gumam Alpha lalu perlahan mulai jatuh tertidur.
__ADS_1
...***...
Pagi itu udara begitu dingin. Embun-embun yang menempel di rumput membuat Alpha menggeliat tak nyaman. Demi menambahkan kehangatan ke dalam tubuhnya ia rela menggosok-gosokkan tangannya ke lutut yang ditekuk. Upaya itu tidak menghasilkan banyak manfaat, malahan membuatnya semakin terjaga, ditambah lagi dengan suara-suara berisik yang ada di dekatnya.
‘Suara berisik?!’
Alpha tersentak bangun. Ia langsung berdiri sigap. Matanya mengitari tempat mereka berada. Betapa kagetnya ia melihat sekumpulan ramplite mengarah pada mereka.
Baru saja ia memasang kuda-kudanya ketika sebuah ayunan melingkar melintas di atas kepalanya, ayunan tersebut meninggalkan jejak lingkaran tipis yang sedetik kemudian meledak. Ledakan itu membunuh para ramplite yang setinggi dua meter lebih sekaligus.
“Ledakan...” Alpha menoleh ke belakangnya dengan gesit. Okul berdiri seraya menurunkan tangan kanannya yang mengacung ke atas. “Wakil Kapten Okul...” gumamnya. Alpha lalu bergegas mendekat dengan mata berbinar. “Tadi itu teknik yang hebat! Baru kali ini aku melihatnya. Kau tidak pernah menunjukkannya saat bertarung melawan kami.”
“Karena itu bukan teknik yang sesuai untuk pertarungan satu lawan satu.”
“Ah, begitu, aku paham. Aku ingin teknik itu. Tolong ajari aku.”
“Wow. Mayat ramplite di mana-mana. Aku bangun karena kaget dengan suara ledakan tadi. Kutebak pasti ulah Wakil Kapten Okul,” ucap Ursa yang masih duduk di tempatnya tidur semula. “Ah, selamat pagi, Wakil Kapten, Alpha.”
“Alpha. Ursa. Bangunkan Diphda dan Kraz. Lalu bantu mereka membereskan kekacauan ini. Aku mau pergi ke sungai sebentar,” titahnya.
“Siap!”
Dengan segera mereka melaksanakan perintah Okul. Setelah Diphda dan Kraz terbangun mereka menyebarkan bubuk penyegar ke mayat-mayat ramplite. Bubuk penyegar adalah semacam pupuk yang terbuat dari mineral alam serta tumbuh-tumbuhan yang memiliki kandungan kekuatan cahaya yang diserap dari alam. Mineral dan tumbuhan itu diproses menggunakan kekuatan cahaya, diolah sedemikian rupa sampai berbentuk bubuk layaknya pupuk.
Mayat para ramplite merupakan polusi utama di daratan Earthland. Mayat-mayat dari makhluk tidak sempurna itu akan membusuk kurang dari sehari sejak kematiannya. Alasan kenapa pembusukannya begitu cepat adalah karena asal muasal dari ramplite sendiri adalah mayat-mayat manusia, hewan, serta tumbuhan yang pernah mati.
Apabila mayat-mayat ramplite yang membusuk tidak segera ditangani maka akan merusak alam sekitarnya. Tanah-tanah menjadi tandus, hewan dan tumbuhan akan mati, dan yang lebih aneh adalah mayat-mayat itu akan berubah menjadi pohon mati. Yaitu pohon yang tumbuh tanpa daun dan buah, hanya berupa batang serta ranting-ranting hitam yang berbau tak sedap.
__ADS_1
Oleh karena itulah bubuk penyegar dibuat. Bubuk itu diciptakan dengan tujuan mencegah kerusakan alam akibat mayat-mayat para ramplite.
Penggunaannya sangat mudah. Hanya dengan menaburkan bubuk tersebut secara merata ke mayat-mayat ramplite, dengan begitu tanah akan tetap subur dan tidak akan kehilangan kehidupan di dalamnya. Mayat ramplite yang terurai pun akan berbalik menjadi pupuk untuk tanah. Harga bubuk penyegar cukup mahal. Barang itu juga merupakan logistik wajib anggota militer jika mereka bertarung di wilayah Padgontry.
Alpha mengamat-amati mayat ramplite yang tergeletak di tanah. Ramplite yang baru saja dikalahkan Okul adalah ramplite golongan ketiga tingkat rendah. Yang mana ramplite tersebut tidak memiliki kecerdasan, bertarung hanya berdasarkan insting, tidak begitu kuat atau cepat, tetapi bergerombol dalam kawanan besar.
‘Mereka bukan makhluk yang kuat. Pantas saja Mr. Okul dapat mengalahkannya dengan mudah, tetapi tetap saja teknik yang tadi itu sangat keren. Kalau saja aku bisa mempelajari teknik itu—ah, tidak, tidak, tidak! Saat ini aku harus fokus dengan teknik mimikriku dulu. Jangan pikirkan hal lain, Alpha! Fokuslah pada satu tujuan!’
Ursa yang diam-diam mengamati teman dekatnya itu hanya bisa mendengus geli. Alpha mempunyai wajah lucu saat ia sibuk berdebat dengan dirinya sendiri. Ursa bertaruh bahwa pemuda dengan warna mata unik itu tidak sadar kalau dirinya menunjukkan ekspresi yang sangat jelas dibaca.
“Bukankah dia itu bodoh sekali? Kalau wajahnya seperti itu maka musuh bisa dengan mudah menebak apa yang dia pikirkan.”
“Kau benar, Ms. Diphda.”
Selesai dengan pekerjaan mereka membereskan mayat-mayat ramplite regu itu memiliki sarapan berupa ikan-ikan segar yang Okul tangkap di sungai. Ia juga membawa air untuk diminum rekan-rekannya dan untuk membersihkan diri. Algol menjadi yang terakhir bangun. Bangun telat adalah kebiasaan buruknya, tapi tidak ada yang menegurnya karena dia adalah kapten.
Lalu setelah matahari cukup meninggi mereka kembali melanjutkan perjalanan. Perjalanan itu sangat lancar. Hanya ada kecelakaan kecil dari Alpha yang tidak juga menyerah mencoba menguasai teknik mimikri pada kudanya. Cukup damai. Bahkan gangguan tadi pagi tidak dianggap sebagai kejadian besar oleh siapapun kecuali Alpha yang secara diam-diam ternyata menginginkan pertarungan melawan ramplite.
Setelah beberapa hari berkendara mereka akhirnya keluar dari Kota Andromeda dan masuk ke kota tetangganya, Kota Large Magellanic Cloud. Sama seperti sebelumnya, mereka juga tidak menggunakan jalan utama kota tersebut demi mempercepat perjalanan ke Small Magellanic Cloud.
Hari itu adalah saat di mana mereka telah menempuh setengah lebih waktu perjalanan, Alpha masih sering terjatuh dari kudanya berkali-kali sampai-sampai Algol melarangnya mempelajari teknik itu supaya tidak memperlambat perjalanan. Mereka juga telah masuk ke wilayah Desa Small Magellanic Cloud, namun tiba-tiba saja Algol menghentikan regunya saat ia menyadari sesuatu yang bersembunyi di balik bayangan pohon di depan mereka tengah mengawasi dengan sangat hati-hati.
“Kapten, ada apa?” tanya Ursa dari belakang Algol.
“Waspadalah.”
...***...
__ADS_1