Terminator Warrior

Terminator Warrior
Keadaan Di Kota Bode


__ADS_3

“Bagaimana kondisimu?” tanya Ursa mendekati Alpha yang duduk di salah satu bangku di lorong rumah sakit.


“Sudah jauh lebih baik. Setelah istirahat yang cukup kekuatanku telah kembali,” balas pemuda dengan mata beda warna tersebut. Alpha tiba-tiba teringat dengan kekalahannya dari Enceladus waktu itu. “Ursa.”


“Ya?”


“Aku benar-benar merasa kalau aku tidak berkembang. Aku kalah dengan mudah oleh Enceladus bahkan sebelum aku mulai mengerahkan segala kemampuanku. Aku ini benar-benar payah!” sesal Alpha muram.


Ursa bisa memahami perasaan Alpha. Apalagi ia mengenal baik sifat sahabatnya itu. Alpha mudah tertekan dengan kekalahannya. Dia benar-benar memiliki kepribadian bocah jika itu menyangkut penampilan fisiknya, kekuatan, keberhasilan, serta kekalahan. Maka dengan senyum yang lembut Ursa menawarkan uluran tangannya.


“Mau berlatih denganku?”


Alpha menatapnya. Ia pun mengajukan syarat. “Aturannya adalah tidak menahan diri.”


“Diterima.”


Alpha menyambut uluran tangan Ursa, tapi secepat itu juga Ursa menarik Alpha berdiri lalu menendangnya keras ke halaman rumah sakit. Alpha yang tak menyangka dengan serangan langsung yang super cepat itu tergeletak di tanah sambil memegangi perutnya kesakitan.


“Ka-kau...”


“Aturannya adalah tidak menahan diri.” Ursa mengulang kalimat Alpha dengan sama persis.


Alpha bangkit berdiri. Ursa menunggu pemuda itu siap baru kemudian maju menyerang.


Mereka benar-benar tidak menahan diri. Keduanya sama-sama melakukan yang mereka bisa untuk mengungguli satu sama lain. Seperti yang pernah dikatakan Ursa waktu mereka berada di Desa Mayall, ia bisa menang dari Alpha. Namun, karena tujuan mereka adalah melampaui kemampuan mereka sebelumnya mereka tidak berhenti meski sudah babak belur.


Mumpung rumah sakit ada di dekat mereka maka tidak masalah jika tubuh mereka remuk, keduanya sepakat dengan hal tersebut.


Tidak ada yang tahu, tetapi ada yang mengamati mereka dengan wajah tak suka. Seorang laki-laki seumuran mereka dengan tampang rupawan, rambut pendek lurus sewarna ferrari, serta warna mata merah burgundy, memandangi Alpha dan Ursa dengan wajah yang jengkel.


“Gara-gara mereka...”


Langkah kaki dari dua orang mendekati pemuda itu. Mereka-mereka memiliki aura orang kuat, juga sombong, karena mereka adalah manusia bintang.


“Arcturus. Apa yang kau perhatikan?” tanya salah satu perempuan di antara mereka.


“Orang-orang yang mengacaukan misi kita.”


Dua orang tadi ikut memandangi Alpha dan Ursa. Wajah mereka tidak menunjukkan banyak perubahan. Tidak tertarik sama sekali.


“Keperluan kita di sini sudah selesai. Ayo pergi,” ujar lelaki lainnya.


Mereka pun meninggalkan tempat tersebut. Beberapa prajurit yang berpapasan jalan dengan mereka langsung menyingkir dan memberi jalan untuk tiga orang tersebut. Dilihat dari perilaku itu tampak jelas kalau mereka begitu dihormati.


Diphda, Kraz, serta Okul yang ternyata berada tak jauh dari sana memperhatikan ketiganya dengan air muka yang kurang menyenangkan. Terutama Kraz dan Diphda, mereka bersungut-sungut saat melihat perlakuan yang diterima oleh ketiga orang tadi.


“Belagu!” dengus Kraz.


“Mereka dihormati karena mereka memang kuat. Aku percaya kekuatan dari tiga orang itu berada di atas kita,” kata Okul.


“Tapi bukan berarti mereka bisa seenaknya terhadap kita. Ingat dengan yang mereka katakan pada kita tadi, mereka bilang kita merusak misi mereka, padahal jika mereka memang sudah mengincar Anser sejak lama harusnya mereka bisa bergerak lebih cepat.” Diphda memprotes.


“Sudahlah. Mereka hanya kesal karena tidak mendapatkan informasi dari Anser, tapi kita malah mendapatkannya,” tutur Okul. “Mereka mungkin tidak senang, tapi info yang kita dapatkan sama bergunanya untuk mereka, jadi tidak ada masalah lagi di antara kita.”


Kraz mengacak rambutnya sendiri. “Tapinya, ya... mereka itu hebat. Mereka masih muda, kuat, dan terlebih lagi mereka adalah orang-orang terpilih yang tergabung dalam—”


Duaar!


Mereka bertiga menoleh ke halaman rumah sakit. Debu dan asap ledakan mengepul di udara. Dari sana terlihat dua bayangan laki-laki yang saling berhadapan, kedua tangan mereka siap untuk menyerang satu sama lain, tapi mereka ambruk. Meskipun begitu keduanya tetap bangkit lagi.


Okul menghela nafas melihat Alpha dan Ursa.


“Kalian berdua, tolong hentikan mereka. Kemudian larang mereka untuk berlatih lagi. Jika mereka juga melukai diri mereka kita bisa semakin lama di sini,” katanya.


“Ya, ya... baiklah. Serahkan tugas merawat mereka pada kami,” balas Kraz merasa dongkol. Walaupun begitu ia tetap melaksanakan titah rekannya tersebut.


...***...


Karena tidak memiliki banyak urusan kecuali menunggu pulihnya keadaan Algol, sisa anggota regunya memiliki banyak waktu luang. Alpha dan Ursa menghabiskannya dengan berkeliling Kota Bode, tentu saja dengan didampingi oleh Diphda dan Kraz. Sedangkan Okul, ia cukup banyak membantu penduduk yang mengungsi, rasa tanggung jawabnya yang besar tak membiarkannya mengabaikan mereka.


Dalam tur kecil mereka Alpha dan Ursa memulai dari jalan utama kota. Hari masihlah siang, akan tetapi jalan utama tidak ramai, hampir tidak ada bedanya dengan ketika Ursa melewatinya malam itu. Hal itu membuat Ursa bertanya-tanya.

__ADS_1


“Padahal ini jalan utama, kenapa begitu sepi?”


“Kalian tidak tahu?”


“Aku tidak akan bertanya bila aku mengetahuinya, Mr. Kraz,” kata Ursa. “Ingatlah kalau kami ini selalu terperangkap dalam satu tempat selama tujuh belas tahun hidup kami,” sambungnya sengit.


“Ingat dengan pemukiman yang kita selamatkan?” tanya Diphda. Alpha dan Ursa mengangguk. “Ingat juga bahwa mereka adalah orang-orang yang dibuang dari kota ini, kan?”


“Ya. Gara-gara mereka adalah manusia campuran,” jawab Alpha.


“Nah, itu karena mereka adalah golongan manusia yang tidak diterima di kota ini. Sedang dua golongan lainnya, manusia biasa dan manusia bintang, mereka tinggal di kota tetapi dalam wilayah yang terpisah,” ungkap Diphda.


“Di sisi kanan kita adalah wilayah pemukiman manusia bintang. Yang kiri merupakan wilayah milik manusia biasa. Mereka tidak saling mencampuri wilayah dan jalan utama ini adalah batas pemisahnya, jadi mereka tidak akan menyeberangi jalan ini. Itulah kenapa jalan ini sepi.” Kraz menambahkan.


“Konyolnya!” Alpha berseru. “Padahal mereka hidup bersama-sama di tempat yang sama, tapi malah bersikap seperti musuh.”


“Lalu, bagaimana dengan keamanan di kota ini? Markas militer yang kita kunjungi, semua anggotanya adalah manusia bintang seingatku. Terus bagaimana dengan keamanan di pemukiman manusia biasa?” Ursa bertanya.


“Aku tidak pernah masuk ke pemukiman manusia biasa, aku juga tidak tahu banyak mengenai mereka, tapi kudengar kalau mereka juga memiliki markas militer mereka sendiri,” jawab Diphda.


“Dengan semua anggotanya hanya manusia biasa?” Ganti Alpha yang bertanya.


“Mungkin begitu,” jawab Kraz singkat.


“Aku tertarik dengan pemukiman manusia biasa. Aku ingin masuk ke sana.”


“Aku juga.”


“Hei—”


“Tidak apa-apa, kan? Lagian kita di sini sebagai pengunjung.” Ursa bersikeras. Ia tidak ingin niatnya masuk ke pemukiman itu gagal.


“Tapi tidak mengubah fakta kalau kita adalah prajurit dan manusia bintang. Mereka tinggal terpisah karena mereka saling membenci. Tentu kita tidak akan mendapatkan sambutan baik di sana,” tegas Kraz.


Ursa tersenyum miring. “Aku bukan manusia bintang.”


“Aku adalah manusia campuran. Dan jika mereka tidak suka padaku, aku tidak peduli,” kata Alpha. “Kalau kalian tidak mau ikut, aku sih tidak masalah. Namun, jika mendadak kami mempunyai niat untuk melarikan diri kalian yang akan dalam masalah.”


“Baik—”


Kata-kata Kraz terpotong akibat sebuah apel yang dilempar tepat di wajahnya. Ia sangat kaget hingga ternganga. Ursa yang melihat apel merah yang melayang itu tak membiarkannya begitu saja. Ia menangkapnya dengan gesit, lalu menoleh pada seorang lelaki muda yang melemparkan apel tadi.


“Hei, Tuan! Tidak baik buang-buang makanan! Apalagi jika untuk dilemparkan pada orang lain!” sentaknya.


Orang itu gugup dan salah tingkah. Dengan tergagap ia membalas Ursa, “Ma-maafkan aku, Tuan-tuan! Su-sungguh... aku tidak berniat seperti itu. A-aku tidak sengaja! Mohon ampuni aku!” katanya panik.


“Prajurit!”


Sebuah suara yang lebih rendah dan lembut terdengar menyahut. Ternyata seruan itu berasal dari seorang perempuan yang menjual bunga di seberang jalan. Ia berwajah cemas.


“Maafkanlah dia! Dia tidak salah! Akulah yang salah, jadi jangan hukum dia!” katanya memohon.


Mereka berempat saling pandang.


Perempuan itu adalah seorang manusia biasa, meskipun begitu ia sangat membela si lelaki manusia bintang yang harusnya dibencinya mengingat perbedaan golongan mereka. Setelah sekian detik mencerna mereka berempat berwajah cerah mengetahui alasan dibalik pembelaan perempuan tersebut.


Perempuan dan laki-laki tersebut saling mencintai.


“Kenapa ini adalah salahmu, Nona?” tanya Diphda.


“Itu karena...”


“Dia tidak bersalah! Akulah yang salah! Aku!” sahut si lelaki. “Dia hanya ingin mencicipi apelku, tapi aku tidak berani memberikannya ke sana, jadi aku melemparkannya.”


“Tidak, Ferdinand! Kalau saja aku tak memaksa untuk mencoba apelmu maka kau tidak akan menimbulkan masalah untuk mereka, jadi ini adalah salahku. Jika ingin menghukum, hukumlah aku!” ujar sang perempuan.


“Margaret...”


Alpha menggulirkan bola matanya melihat drama sepasang kekasih itu. Ia mendengus geli. “Tuan dan Nona!” serunya. “Tenanglah. Kami tidak akan menghukum kalian. Kami bukanlah prajurit dari kota ini. Kami hanya pengunjung, kumohon, hentikanlah kekhawatiran yang berlebihan itu.”


Keduanya tersipu malu. Lalu dengan suara lirih mereka meminta maaf.

__ADS_1


Ursa berjalan mendekati perempuan yang bernama Margaret itu. “Ini, Nona Margaret. Apel dari kekasihmu, Ferdinand. Aku yakin rasanya akan sangat manis karena mengandung perasaan cintanya,” kata Ursa penuh godaan.


Margaret menerimanya dengan malu-malu. “Terima kasih. Tetapi, Ferdinand dan aku bukanlah kekasih.”


Ursa melongo dengan jawaban itu. “Eh... tapi aku sangat yakin kalian berdua memiliki perasaan satu sama lain.”


“Itu hanya perasaan semu. Bagaimanapun juga kami tidak akan bisa bersama, sebesar apa pun cinta kami, perbedaan di antara kami akan selalu jadi penghalang yang tak mungkin disingkirkan.”


Ferdinand yang mendengar ungkapan hati Margaret menunduk pilu. Yang dikatakan gadis itu benar adanya. Ferdinand tak bisa menyangkalnya sama sekali.


“Omong kosong!”


Akan tetapi tidak dengan Alpha. Ia dengan lantang menyuarakan penolakan terhadap anggapan Margaret.


“Apa yang kalian takuti? Perbedaan golongan manusia? Jangan bercanda! Itu hanya alasan konyol. Jika kalian saling mencintai sudah sewajarnya kalian mengusahakan agar kalian tetap bersama, kan? Hei, jangan menyerah hanya gara-gara hal itu,” lanjut Alpha.


“Kau yang tidak berasal dari kota ini tidak akan mengerti. Perbedaan golongan manusia bukanlah penghalang kecil bagi kami. Itu adalah takdir yang menghalangi kami,” ujar Ferdinand lesu.


Alpha mendengus kasar mendengarnya.


“Tuan Ferdinand, apakah kau melihat diriku dengan benar sebelum mengatakan itu?”


“Apa maksudmu?”


“Aku adalah manusia campuran, yang artinya ayah dan ibuku berasal dari golongan yang berbeda, tapi kami hidup bahagia, tidak peduli golongan manusia apakah kami. Hal yang sederhana seperti itu tidak membuat hidup kami menderita sama sekali.”


“Kau beruntung,” ucap Ferdinand, “dari manakah kau berasal?”


“Desa Mayall!” jawab Alpha bangga.


“Ma-mayall? Desanya para pengkhianat itu?!”


Alpha tidak terkejut dengan reaksi begitu. Ia pun tak merasa terganggu. Ia malah cuek.


“Terserah kalian mau menganggap kami seperti apa. Tapi di desa kami tidak ada perbedaan antar golongan manusia. Kami semua hidup berdampingan dengan tenteram juga bahagia.” Alpha menegaskan.


“Be-benarkah?” tanya Margaret masih tidak yakin.


“Benar, Nona.” Ursa menjawabnya dengan sebuah senyum hangat yang lembut. “Mungkin setiap orang yang meninggalkan desa atau kota mereka dan memilih hidup di desa kami kalian sebut sebagai pengkhianat, tetapi mereka justru hidup bahagia bersama kami di Desa Mayall. Segala masalah yang mereka hadapi, termasuk juga pandangan sosial terhadap golongan manusia apa mereka, semuanya tak berarti bagi kami.”


“Terdengar menarik dan menjanjikan. Tetapi, desa kalian sudah hancur, kan? Desa Mayall sudah tidak ada lagi.”


“Itu tidak benar!” sergah Alpha. “Meskipun desa kami hancur, bukan berarti kami telah kalah. Sampai saat ini kami masih berjuang. Kami akan mengumpulkan kembali penduduk desa dan membangun desa kami lagi. Aku yakin, dalam proses itu akan ada tambahan orang-orang yang ingin bergabung dengan kami, jika kalian ingin kalian bisa menjadi bagian dari kami.”


“Dengan begitu kalian tidak akan perlu mengkhawatirkan perbedaan di antara kalian berdua. Kalian bisa hidup bahagia sesuka kalian,” tambah Ursa.


Akan tetapi hal-hal bagus yang Alpha dan Ursa sampaikan tak membuat mereka mengubah wajah murung mereka.


“Tetap saja manusia biasa dan manusia bintang akan sulit bersama,” ucap Margaret sedih.


Alpha yang paham akan maksud dari perempuan itu mendekatinya. “Apakah maksudmu tentang keturunan mereka?”


Margaret mengangguk. “Anak yang lahir dari kami mungkin saja cacat atau tewas.”


“Tidak perlu khawatir. Di desa kami kemungkinan bayi dari manusia bintang dan manusia biasa bisa lahir selamat adalah tujuh puluh persen. Dan kemungkinan mereka sehat tanpa kecacatan adalah delapan puluh tiga persen,” ungkap Ursa.


“Be-benarkah?!” Margaret kegirangan mendengar berita tersebut.


“Ya. Tapi dengan syarat harus rutin meminum obat untuk menunjang keberhasilan tersebut. Dokter-dokter desa kami telah melakukan penelitian dan mereka berhasil. Tidak seratus persen memang, tapi angka itu sudah jauh lebih baik dibandingkan dengan angka pada umumnya yang mana hanya 50 : 50 dengan masih menanggung risiko kecacatan,” jelas Ursa.


“Itu merupakan kepedulian dari desa kami yang mana ingin menyejahterakan penduduknya. Sekarang kalian berdua tahu kalau desa kami tidaklah seburuk rumor yang kalian dengar. Kami menawarkan kalian untuk bergabung dengan desa kami, tapi keputusannya berada di tangan kalian,” cakap Alpha.


“Kami tidak memaksa kalian. Pikirkanlah baik-baik!” seru Ursa.


Mereka berempat kemudian pergi dari sana.


Margaret dan Ferdinand saling pandang. Mereka masih ragu-ragu dan tampak tidak yakin, tetapi di mata mereka kini ada sebuah harapan untuk bisa bersama.


...***...


Author Notes :

__ADS_1


Bab kali ini lumayan panjang dan kumasukkan sebuah drama kacangan, semoga gak terlalu membosankan. Maaf kalau misalkan iya. Nantikan bab selanjutnya dan terima kasih atas dukungannya ^_^


__ADS_2