
“Ke arah sini.”
Kirimi menginstruksi mereka. Ia membawa teman-temannya berlari mengarungi pohon-pohon di kegelapan malam. Tempat yang ditujunya ternyata adalah sebuah gua bawah tanah. Gua itu berada di belakang bebatuan besar sehingga cukup tersembunyi. Bila tidak jeli maka sulit menemukannya.
“Masuk ke sini,” ucap Kirimi.
“Apakah aman?” Alpha kelihatan ragu-ragu. Ia melongok ke dalam gua yang gelap gulita tersebut.
“Tempat ini tidak bahaya. Sebelumnya aku telah menggunakannya untuk menyembunyikan penduduk yang tersasar ke wilayah ini. Di dalam sana jauh lebih baik karena bau dari wilayah Darkotry tidak sampai masuk ke sana. Percayalah.”
“Baiklah, kalau begitu.”
Karena mulut gua tidak besar, mereka hanya mampu masuk secara bergantian. Batu-batu di dalam mulut gua tajam dan licin, salah langkah sedikit saja maka akan terpeleset. Namun, begitu mereka melangkah lebih jauh ke dalam ruangannya semakin luas dan landai. Lantai batunya lumayan rata, tidak licin, maupun berbatu tajam.
Joa membentuk bola cahaya untuk menerangi mereka. Tidak ada yang mengatakan apa pun setelah itu. Mereka semua duduk selonjoran sambil menenangkan diri. Malam sudah kelewat larut, badan mereka telah lelah, dan mereka sudah terlalu mengantuk untuk sekadar mengobrol ringan. Hanya lewat tatap mata mereka membuat persetujuan bahwa apa pun yang harus mereka jelaskan bisa dilakukan besok pagi, hal yang paling utama harus dilakukan saat itu juga adalah tidur dan mengumpulkan kembali energi mereka.
Karena gua itu adalah gua bawah tanah maka hanya sedikit suara yang sampai ke sana. Suasana sangat tenang. Mereka pun bisa mengistirahatkan tubuh dengan damai. Tidur mereka lelap. Walau tidak bisa dibilang mereka memiliki mimpi indah, tetapi ini pertama kalinya mereka tidur tanpa merasa khawatir setelah sekian lama.
Pagi menjelang dan mereka masih belum terjaga. Matahari perlahan semakin meninggi, sinarnya yang tak sampai masuk gua membuat pemuda-pemudi di dalamnya tak segera membuka mata. Bahkan suara tapak-tapak kaki yang mendekat masuk ke gua pun tidak terdengar oleh mereka saking pulasnya tertidur. Kelimanya dipandangi dengan jengkel.
“Oi! Bangun kalian semua!”
Teriakan itu keras dan menggema. Dan tentu saja suara itu berhasil membangunkan mereka dalam sekejap. Mereka langsung berdiri dengan kuda-kuda siap, tapi saat melihat siapa yang telah mengusik mereka malah semringah.
“Youis!”
“Sega!”
Youis tersenyum sangat lebar. “Yo! Lama tidak jumpa!”
“Bagaimana kabar kalian?” tanya Sega.
“Kami habis bertarung semalam,” jawab Gage.
“Kami tahu. Saat kami masuk ke wilayah ini kami melihat para prajurit yang tengah sibuk, kami mencuri dengar pembicaraan mereka dan tahu kalau kalian berada di wilayah ini,” papar Sega. Pemuda itu lantas melirik kepada Alpha dan Ursa. Ia lega keduanya tampak sehat dari luar. “Ada yang ingin kutanyakan pada kalian.”
“Eh?”
“Benar juga! Aku selalu kepikiran tentang satu hal,” sahut Gage.
“Ah, pasti mengenai itu...” Kirimi bergumam.
“Hm?” Joa memiringkan kepala tanda tak paham.
Youis berseru kasar, “Hoi, kalian berdua, kalian kan yang—”
Brukh! Sraaak!
Suara keras dari mulut gua membuat mereka semua tersentak. Serempak mereka menatap ke tempat yang sama. Entah kenapa nafas mereka terhenti sedetik tadi.
“Apa kita sudah ketahuan?” Alpha cemas.
“Mari kita lihat. Kedengaran dari suaranya sepertinya hanya ada satu orang. Kita bisa menang kalau melawannya,” tutur Joa.
Mereka mengendap-endap dengan hati-hati. Bola cahaya yang Joa buat semalam masih menyala, tapi redup, bola cahaya itu memberikan penerangan minimal untuk mereka. Joa tidak ingin menambah keterangannya supaya cahaya itu tidak menarik entah siapa yang berada di mulut gua.
Slash!
Sebuah tebasan cahaya putih menyerang mereka. Syukurlah mereka sempat berjongkok sehingga kepala mereka masih menempel pada badan. Nafas mereka memburu seketika.
“Woah! Hampir saja!”
“Yang tadi itu sangat mengejutkan!
“Benar-benar tak terduga...”
“Eh?” Kaget si penyerangan mereka. “Suara-suara itu...” Ia membuat bola cahaya terang untuk memperjelas keadaan di dalam gua. Si pelaku yang ternyata adalah pemuda berambut putih keperakan terperangah lega. “Kalian!”
__ADS_1
“Arta! Ternyata itu kau!” seru Youis lega. “Kau mengejutkan kami.”
“Dan barusan kau benar-benar hampir membunuh kami,” tukas Joa sengit.
Arta mengangkat sebelah tangannya ke dada, menandakan kalau ia tidak sengaja dan menyesal. Matanya lalu teralih pada satu-satunya pemuda dengan penampilan nyentriknya, adalah Alpha. Arta tiba-tiba menyerbu Alpha dan menarik baju pemuda itu.
“Alpha! Kau kan yang membocorkan tentang kita?! Aku melihat poster wajah kita di kota-kota!” geramnya marah.
“Itu—”
“Hal itu jugalah yang ingin kutanyakan,” potong Sega.
“Aku juga ingin tahu,” ucap Kirimi.
Youis pun mengangguk. “Kalau benar itu kau akan kupukul wajahmu.”
Joa terbelalak tak percaya. Ia menatap Alpha berang. “Kukira kau masih loyal kepada desa!” Ia tidak tahu menahu soal poster. Selama ini ia berada di hutan atau tidak di wilayah Darkotry.
“Ya, tentu saja masih!” sergah Alpha cepat dengan berteriak.
“Lalu... kenapa?” tanya Arta tajam.
Ursa mencengkeram tangan Arta. “Lepaskan dia dulu, Arta. Kami memiliki alasan.”
Dengan kesal Arta menarik tangannya. Ia melangkah mundur mengambil jarak. Alpha merapikan kembali bajunya.
Ursa berdehem. “Kami—lebih tepatnya aku, tidak mempunyai pilihan lain kecuali memberitahu ciri-ciri kalian. Mereka mencuri dengar pembicaraan kami tentang kalian. Tentu aku tidak rela mengatakannya, tapi Alpha jadi taruhan waktu itu.”
Alpha memperlihatkan tanda segel yang melingkari lehernya. “Ini adalah segel. Hanya dengan memikirkannya saja kaptenku bisa mengaktifkannya dan berbuat sesukanya dengan ini. Dia mengaktifkannya saat menginterogasi kami. Ursa terpaksa memberi tahu tentang kalian agar aku tidak kesakitan.”
“Apakah sakit?” Kirimi berwajah cemas menanyakannya.
“Sakit sekali. Tidak hanya seperti dicekik, rasanya juga seperti terbakar, seolah-olah diolesi racun mematikan, di dalam leherku terasa seperti ditusuk oleh jarum-jarum.”
“Ouh!” Youis memegangi lehernya dengan ekspresi iba.
“Tapi segel itu hanya berlaku dalam jarak seratus meter, kan? Harusnya tidak jadi masalah. Kau bisa kabur kapan saja,” ucap Joa.
“Jadi, siapa lagi Sir Puppis ini?” tanya Youis.
“Komandan militer tertinggi di Negeri Earth,” jawab Joa. “Kalian berurusan dengannya? Sial sekali.”
“Memang,” Alpha mengangguk, “dialah yang membawahi langsung perburuan orang-orang Mayall.”
“Begitulah... kami tidak punya pilihan lain kecuali membocorkan tentang kalian,” pungkas Ursa.
“Apa saja yang mereka tahu selain tentang kita?” Kekesalan Arta telah hilang sepenuhnya, ia bertanya tanpa amarah.
“Baru tentang terowongan rahasia di desa, Guardian, Luxco, dan juga Enceladus,” jawab Alpha.
“Luxco?” Sega mengulanginya. “Bagaimana bisa mereka tahu mengenai Luxco?”
“Saat kami pergi ke desa kami tidak sengaja bertemu dengan Luxco.” Ganti Ursa yang menjawab.
“Untung kalau hanya segitu. Kalian benar-benar bisa menyembunyikan informasi, huh?”
Menanggapi perkataan Joa, Ursa dan Alpha serta merta menggeleng. Keduanya menjelaskan bahwa bukan gara-gara kepandaian mereka, melainkan gara-gara mereka tidak bisa mengingat dengan jelas kejadian penyerangan di hari itu. Mereka juga memberitahu perihal kegelapan serta cahaya putih menyilaukan yang dilihat keduanya. Selain itu, Ursa juga memberitahu bahwa pada hari itu ia diselamatkan oleh seorang ramplite.
“Tapi Joa mengatakan tidak ada kejadian semacam itu. Itu membuatku bingung. Bahkan setelah kami pergi ke desa pun tidak ada banyak hal yang bisa kami ingat. Dan lagi, mengenai ramplite yang menyelamatkanku, aku masih tidak bisa ingat jelas tentang itu.” Ursa mengatakannya dengan setengah frustrasi.
“Waktu itu kami meninggalkan kalian karena Ursa bersikeras menolong Alpha yang terpeleset di jurang. Dalam perjalanan kita bertemu Nona Vela, kan? Nona Vela bilang ingin menemuimu,” ungkap Youis memberitahu.
“Ibuku menemui kami?”
“Ya. Aku cemas dan khawatir, makanya aku kembali lagi ke sana, saat itu aku melihat kalian berdua dan Nona Vela bertarung melawan ramplite. Kalian baik-baik saja, jadi aku memutuskan untuk kembali ke desa. Apakah pemandangan putih dan hitam yang kalian lihat terjadi setelah itu?”
Baik Alpha maupun Ursa tidak menjawabnya. Mereka sibuk menggali ingatan mereka, hingga yang paling dalam. Alpha bahkan sampai memukul-mukul kepalanya saking gemasnya. Raut wajah mereka tampak jengkel.
__ADS_1
“Ayolah! Ingat sesuatu!”
“Apa ya? Hm... aku sepertinya hampir ingat sesuatu...”
Joa mendengus. “Mereka tahu yang kita tidak tahu, tapi mereka justru melupakannya, benar-benar tidak bisa diandalkan.”
“Dan lagi mereka malah jadi tawanan! Padahal mereka seorang Guardian! Lucu sekali!”
“Jangan begitu, Youis. Itu bukan posisi yang mereka inginkan,” tegur Kirimi.
“Ah!”
“Oh! Aku ingat sekarang!” seru Alpha berwajah cemerlang. “Waktu itu ibu mengulurkan tangannya padaku untuk keluar dari jurang. Setelah itu aku menarik Ursa. Tiba-tiba ramplite menyerang—”
“Dan kami bertiga bertarung bersama,” sambung Ursa. “Itu adalah pertama kalinya aku melihat Nona Vela bertarung menggunakan kekuatan cahayanya. Ternyata dia sangat kuat.”
“Ya. Ketika aku melihatnya Nona Vela memang tampak kuat ketika bertarung, seperti seseorang yang berpengalaman.”
“Tentu saja! Dia adalah ibuku!” ucap Alpha bangga. Ia sampai menepuk dadanya, padahal bukan dia yang mendapat pujian. “Pertarungan itu selesai dengan cepat kan, ya?”
Ursa mengangguk membenarkan.
“Setelah itu ibu bicara dengan kita, kan, Ursa. Meskipun aku tidak ingat apa yang dikatakannya.”
“Aku juga tidak mengingatnya. Setelah itu ingatanku terpotong—”
“Begitu juga denganku.” Alpha menyahut padahal Ursa belum selesai bicara. Ia meminta maaf pada sahabatnya yang memelototinya jengkel. “Maaf. Silakan dilanjutkan.”
“Entah bagaimana kami melupakan apa pun sampai di sana. Yang kuingat selanjutnya adalah kami pingsan dan terbangun gara-gara suara pertarungan. Di sana seorang ramplite yang telah mencapai kesempurnaan melawan ramplite-ramplite lainnya. Kami tidak paham dan tidak ambil pusing karena kami harus bertarung juga.”
“Pada saat itu lawan kami adalah belasan ramplite golongan dua tingkat satu. Mereka sangat kuat. Kami terpojok. Aku ingat kami harus berusaha keras melawan mereka, dan saat itu kami sedang tidak membawa senjata, aku mending karena bisa menggunakan kekuatan cahaya, tetapi Ursa kesulitan.”
“Tidak hanya kesulitan, aku terpojok dan hampir dikalahkan. Saat kukira aku akan mati ramplite yang tadi tiba-tiba menyelamatkanku. Ia terus melawan seluruh ramplite yang menyerangku. Namun, ia kecolongan, dua ramplite berhasil menyudutkanku lagi. Karena tidak sempat menolongku ramplite itu mendorongku ke jurang, Alpha yang berusaha menarikku agar tidak jatuh ikut terperosok ke dalam jurang. Kami memanjat jurang setelah sadar dan saat itulah kami ditemukan oleh prajurit yang berpatroli.”
“Jadi...” gumam Arta, “bisa disimpulkan kalau pemandangan hitam dan putih yang kalian lihat itu adalah saat di mana ingatan kalian terpotong.”
“Benar, Arta. Setelah Youis memberitahu tentang ibu barusan, aku bisa ingat, tetapi saat mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di mana ingatanku terpotong aku hanya bisa ingat warna putih terang menyilaukan,” jawab Alpha.
“Kau juga begitu, Ursa? Hanya saja dalam kasusmu merupakan kegelapan pekat yang kau saksikan.”
Ursa mengangguk terhadap Sega.
“Ini aneh,” gumam pemuda berkaca mata itu. “Mungkin saja itu bisa jadi petunjuk penting untuk mengetahui penyerangan terhadap desa kita.”
“Mau bagaimana lagi... kita hanya bisa menunggu mereka untuk mengingatnya. Lagi pula, dengan begitu pihak militer juga belum tahu apa-apa mengenai hal itu, jadi skor masih seimbang,” tutur Kirimi.
Joa mengerutkan keningnya. Ia baru saja memikirkan sesuatu. “Mungkin Nona Vela tahu sesuatu.”
“Oh! Benar juga!”
“Kalau begitu kita hanya harus bertanya kepada ibuku!” sergah Alpha.
“Itu tugas kalian, karena kalian yang mengalaminya,” sindir Arta. “Kami sudah repot dengan menyelamatkan penduduk.”
“Juga dikejar-kejar oleh prajurit sebab wajah kami sudah terpampang di mana-mana,” tambah Youis.
“Iya... iya... aku mengerti! Aku dan Ursa yang akan mencari tahu misteri pemandangan itu sendiri,” balas Alpha dongkol.
Kirimi menatap Alpha dan Ursa. “Kalau begitu... Alpha... Ursa. Kalian mau kan kabur dari mereka dan membantu menemukan penduduk desa kita,” pintanya lembut.
“Apa yang kau katakan, Kirimi!? Tentu saja kami mau.”
“Kami juga adalah Guardian. Kami akan melakukan tugas kami.” Ursa mengimbuhi. “Jadi, beri tahu kami, apa yang musuh incar dari desa kita?”
Mereka menggeleng.
“Bahkan kalian juga masih belum tahu?!” sentak Alpha.
__ADS_1
“Aku mungkin saja tahu,” ucap Gage tiba-tiba. Hal itu membuat mereka menoleh kepada pemuda dari golongan manusia biasa tersebut. Gage lalu mengeluarkan kalung kristal ajaibnya. “Kemungkinan yang mereka inginkan adalah kristal ini.”
...***...