Terminator Warrior

Terminator Warrior
Yang Diincar Ramplite


__ADS_3

“Kristal ajaib... ada apa dengan itu?” Sega bertanya bingung.


“Aku tidak tahu apakah yang ingin mereka dapatkan dengan kristal ajaib ini, tapi yang jelas bukan sekadar untuk melacak orang-orang kita saja, melainkan sesuatu yang lebih dari itu. Di wilayah Darkotry ini, para ramplite telah mengumpulkan banyak kristal ajaib. Aku telah menyelidikinya selama dua minggu terakhir, tapi tidak mendapatkan apa-apa,” jawab Gage.


“Di tengah-tengah itu aku bergabung dengan Gage sambil membawa penduduk yang harus kubimbing. Kami memilih lewat Darkotry karena beberapa alasan. Kami sering diserang, tapi tujuannya bukan untuk membunuh kami, melainkan untuk merebut kalung-kalung kristal tersebut. Jadi, aku dan Gage menebak bahwa kristal ajaib adalah sesuatu yang dicari-cari oleh mereka. Mungkin tujuan penyerangan desa adalah sumber dari kristal ajaib juga, sayangnya mereka tidak mendapatkannya di desa kita, karena itulah seluruh penduduk diburu oleh ramplite.” Kirimi ikut menambahkan.


“Ah, mungkin gara-gara itu. Kalungku berkedip-kedip saat aku lewat dekat sini, makanya aku memutuskan untuk masuk ke Darkotry, kupikir ada penduduk yang sembunyi di sini,” kata Arta.


“Kami juga,” ucap Sega mewakili dirinya dan Youis.


Ursa tertegun. Opini yang pernah dibahasnya sewaktu di markas militer ternyata terbukti benar. “Apa mungkin sumber dari kristal ajaib adalah sesuatu yang disebut sebagai benda langit menakjubkan oleh orang-orang?”


“Benda langit menakjubkan?” beo hampir mereka semua, kecuali Arta dan Alpha.


“Itulah yang ingin kutanyakan pada kalian berdua,” ucap Arta sambil bergantian memandangi Alpha dan Ursa. “Apa yang dimaksud dengan itu?”


“Benda langit adalah sesuatu yang melahirkan manusia bintang, itu juga yang membuat ramplite muncul di dunia kita. Pada umumnya benda langit hanya memiliki satu kekuatan cahaya, akan tetapi benda langit menakjubkan memiliki lebih dari satu, belasan, atau malah puluhan. Bayangkan jika benda langit itu ternyata melahirkan seorang manusia bintang, pasti kekuatannya tak terkira.”


Mereka tercengang terhadap paparan Ursa. Hal itu bisa dibayangkan. Bila ada seseorang yang seperti itu dan ternyata bukan orang yang baik maka sudah dipastikan kengerian apa yang akan terjadi di Earthland.


“Benda langit menakjubkan itu tidak hanya satu, melainkan beberapa. Dan kemungkinan besar salah satunya terjatuh di Desa Mayall. Namun, itu tidak melahirkan manusia bintang, tapi mungkin saja...”


“Sumber dari kristal ajaib,” sambung Joa.


“Ya, itu sangat mungkin,” tutur Ursa. “Hal itu bukan dugaan tak berdasar semata. Desa kita terpencil, tetapi memiliki kekayaan alam yang berlimpah, apalagi tambang batu cahaya yang kualitasnya terbaik dari yang terbaik. Aku rasa itu disebabkan oleh sumber dari kristal ajaib tersebut.”


Tidak ada yang menyangkal. Semua orang setuju. Segalanya menjadi koheren dengan mengapa desa mereka memilih untuk mengasingkan diri dari kerajaan Negeri Earth, sebab jika hal itu diketahui maka sumber kristal ajaib akan diambil dari desa mereka. Tapi tak disangka, sumber kristal ajaib yang melimpahkan berkah kehidupan untuk desa mereka berefek bumerang dan malah menghancurkan desa.


“Tapi kenapa para ramplite menginginkan sumber kristal ajaib? Apa keuntungan jika mereka mendapatkannya?” tanya Alpha bingung.


“Itulah yang ingin kuselidiki di sini,” jawab Gage. “Karena itu, mumpung kalian semua di sini, aku mau meminta bantuan kalian.”


“Apa yang harus kami lakukan?” tanya Joa yang artinya mereka menyetujui entah apa yang telah direncanakan Gage.


“Tugas mudah, tapi tidak gampang. Kita harus menemukan di mana kristal-kristal ajaib itu disembunyikan, lalu mencari tahu apa yang ingin para ramplite rencanakan dengan itu. Di sini ada ramplite golongan satu tingkat tinggi, dengan mengetahui itu aku yakin mereka pasti akan berbuat sesuatu yang besar.” Gage menjelaskan.


“Aku telah membantu Gage selama aku di sini, sambil menyelamatkan penduduk dari ramplite tentunya, tetapi kami tidak menemukan di mana kristal-kristal ajaib itu disimpan. Karena kristal ajaib ini bisa beresonansi saat berdekatan maka aku menduga kalau mereka menggunakan manfaat tersebut untuk menjauhkan kita darinya,” kata Kirimi.


“Kalian kan juga memilikinya, kenapa mereka tidak mengincar kalian dan malah menjauhi kalian?” Sega merasa hal itu bertolak belakang, makanya ia ingin tahu jawabannya.


Gage berkata, “Awalnya mereka mengincar kalung kami juga, akan tetapi sejak ada pasukan prajurit yang datang ke dekat wilayah ini mereka tidak melakukannya. Aku kira mereka menganggap para prajurit itu sebagai ancaman lebih besar dari kami, tapi bukan begitu, mereka menyerang prajurit hanya untuk meminum darah manusia bintang demi meningkatkan golongan mereka.”


Alpha dan Ursa saling pandang. Itu pasti prajurit yang dipimpin Mr. Zibal, pikir mereka.


“Tempat ini sekarang sudah jadi tempat yang sangat berbahaya. Awalnya hanya sedikit ramplite golongan satu yang berada di sini, tapi setelah mereka membantai prajurit jumlah mereka meningkat pesat,” sambung Gage. “Ini tidak akan menjadi pertarungan yang mudah.”

__ADS_1


Mereka-mereka memasang wajah kaku. Keberadaan mereka adalah di wilayah musuh, ditambah lagi lawan yang harus dihadapi bukan hanya ramplite saja, melainkan juga regu Algol, apalagi ramplite yang akan mereka lawan banyak yang golongan satu.


“Yosh! Misalkan tujuan kita gagal, tidak apa-apa! Asalkan kita tidak boleh gagal keluar hidup-hidup dari sini!” seru Youis. “Benar, kan?”


Sega mengangguk. “Ya.”


“Baiklah! Saatnya keluar gua teman-teman! Ayo!”


“Oh! Ternyata kau di sini! Syukurlah... kukira kau sudah mati,” kata seseorang yang tiba-tiba muncul di mulut gua, menghentikan Youis yang baru saja memimpin langkah.


“Jangan khawatir. Dia bukan orang jahat,” ujar Arta menenangkan kawan-kawannya yang menegang. “Kenalanku, Sir Pyxis,” katanya memperkenalkan Pyxis yang mendekati mereka. “Sir, mereka teman-temanku.”


“Ah, begitu. Mereka semua masih muda.” Pyxis cukup lama ketika menatap Alpha dibandingkan dengan yang lain. “Penampilanmu tidak biasa, bukan dalam artian buruk. Aku suka warna rambut dan matamu,” akunya ketika melihat reaksi tidak nyaman Alpha.


“Terima kasih.” Alpha menanggapinya dengan ketus.


“Ada yang ingin kuberitahukan padamu, Arta.” Pyxis berkata. “Aku melihat beberapa orang diserang oleh ramplite. Kelihatannya mereka terdesak.”


“Mereka adalah prajurit yang mengejar-ngejar kami. Tidak perlu menolong mereka,” tukas Gage.


“Tak apa-apakah begitu? Mereka bisa saja tewas.”


“Mereka akan mati terhormat. Gugur dalam tugas. Sebagai seorang pejuang itu bukan hal yang harus ditakuti,” ucap Youis. “Kami punya urusan kami sendiri. Kami tidak memiliki banyak waktu untuk membantu mereka.”


“Kalian tampaknya buru-buru,” nilai Pyxis, “ada apa?”


“Ya!”


Arta menjadi yang terakhir keluar gua. Ia bicara sejenak pada Pyxis. “Kau juga punya tujuanmu sendiri dengan mengembara kan, Sir? Jadi, kau tidak perlu mengikutiku terus,” katanya lalu menyusul pergi.


“Mana mungkin aku membiarkanmu, karena kau mungkin jadi pengantarku untuk menemukan apa yang kucari. Aku tidak akan melepaskanmu, Arta,” katanya setelah pemuda itu benar-benar hilang dari pandangan. “Tapi sebelum itu aku harus menyelamatkan orang-orang itu dulu.”


Pyxis menuju arah berbeda dengan yang ditempuh Arta dan kawan-kawannya. Ia kembali ke tempat di mana ia melihat Algol dan regunya tengah bertarung. Lawan mereka adalah ramplite golongan satu. Situasi mereka belum berubah cukup banyak, masih dalam keadaan terdesak, tidak terlalu kelihatan memang, tapi jika pertarungan mereka terus berlanjut maka para prajurit itulah yang kalah.


BAAM!


Sebuah tongkat cahaya sepanjang 1,8 meter berdiameter ujung 2 senti mendarat dengan suara keras di tengah-tengah pertarungan para prajurit dan ramplite. Meski bukan sebuah tongkat yang besar, tetapi toya tersebut memberikan dampak yang tidak kecil. Tanah yang dihantamnya retak-retak, angin dari saat senjata itu mendarat juga kencang.


Di atas toya, berdiri Pyxis dengan santai. Jubah hijaunya sedikit berkibar karena posisinya yang tinggi. Kehadiran Pyxis menghentikan pertarungan secara paksa. Hal itu digunakan oleh para prajurit untuk mundur dari lawan masing-masing. Pyxis ditatap tajam dan penuh kecurigaan oleh kedua belah pihak.


Pyxis mengamat-amati mereka. Para prajurit terlihat jelas merasa lega karna mereka bisa mengambil jeda pertarungan, meskipun kewaspadaan mereka semakin meningkat. Sedang untuk para ramplite, wajah-wajah mereka terlihat semakin beringas.


Ramplite-ramplite itu golongan satu, yang mana hampir mencapai kesempurnaan. Tubuh mereka persis seperti manusia pada umumnya, dengan warna mata dan rambut yang sama beragamnya dengan manusia bintang, mereka juga memiliki kekuatan cahaya berkat dari memangsa manusia bintang. Bedanya adalah mereka tetap memiliki kemampuan dari tubuh ramplite mereka sebelumnya. Untuk penampilan, hanya kulit yang kelewat putih pucat menyerupai susu saja yang membedakannya dengan manusia bintang maupun biasa.


“Siapa kau?!” seru salah seorang ramplite.

__ADS_1


“Aku? Aku hanya seorang pengembara yang terpisah dengan rekan perjalananku.” Pyxis menjawab ringan.


“Kenapa kau muncul di tengah-tengah pertarungan kami?”


“Aku bisa melihat ujung dari pertarungan kalian. Yang akan jadi pemenang nanti adalah para ramplite.”


Algol dan yang lainnya tercengang. Awalnya mereka merasa berang, tapi mereka berpikir itu adalah anggapan logis.


“Karena aku tahu itu aku tidak bisa membiarkannya,” lanjut Pyxis.


“Kau tidak memiliki hubungan dengan ini!” seru seorang ramplite.


“Kau benar. Aku memang tidak berhak ikut campur dengan pertarungan kalian. Sayangnya aku bukan orang yang tegaan. Bisa kuasumsikan kalau ramplite adalah pihak yang jahat di sini, bukan? Nah, aku tidak akan membiarkan kejahatan berlaku di depanku.”


“Omong kosong! Lawan kami kalau begitu!”


“Baik. Tidak masalah.”


Pyxis melompat salto ke atas, ia lalu meraih toya miliknya, lalu dengan ringan memukulkan tongkat panjang itu kepada kepala seorang ramplite yang mencoba menyerangnya. Padahal bukan serangan mematikan, tapi pukulan itu mampu membuat kepala ramplite itu mengucurkan darah.


“Argh! Sakit!”


“Maaf. Aku mungkin menyakiti kalian, tetapi tenang saja, aku tidak akan membunuh satu pun dari kalian,” tutur Pyxis dengan nada bermain-main.


“Jangan meremehkan kami, brengsek! Kami akan membunuhmu!”


Pyxis menatap para ramplite itu tajam. Ia mengangkat tongkatnya ke atas. Lalu, ia mengentakkan tongkatnya dengan keras ke tanah. Ketika Pyxis melakukannya, tindakan tersebut sampai mengembuskan angin kencang. Panorama itu membuat semua orang membatin takjub.


‘Dia sangat kuat!’


‘Auranya berbahaya.’


‘Siapa dia? Tidak mungkin hanya seorang pengembara biasa.’


Beberapa ramplite merasa takut. Kaki mereka membawa mereka mundur beberapa langkah ke belakang. Namun, ada dua ramplite paling berani yang tidak gentar sama sekali.


“Heh-he...! Kau akan jadi lawan menarik untuk kami!” ucap satu dari mereka yang berbadan kekar besar.


“Aku tidak akan menahan diri melawanmu. Benar kan, Megaclite.”


“Tentu saja, Taygete. Kita akan habis-habisan.”


Syuuut!


Pyxis mengacungkan tongkat pada kedua ramplite tersebut. “Aku tidak ingin sombong, tapi kalian jangan terlalu percaya diri ingin mengalahkanku atau kalian akan mengecewakan diri sendiri,” kata Pyxis menerima tantangan itu.

__ADS_1


...***...


__ADS_2