
Salah satu dari tiga orang tersebut adalah Arcturus, sedang dua lainnya adalah rekannya sesama anggota Spring Triangle, Regulus dan Spica.
“Prajurit. Kami akan ambil alih mulai dari sini. Bebaskanlah rekan-rekanmu dan pergilah ke arah dari mana kami datang. Barusan kami mengalahkan banyak ramplite, segarkanlah tempat itu menggunakan bubuk cahaya.” Arcturus tegas memerintahkan.
“Baik!” jawab sang kapten lantang. “Anu, orang itu adalah seorang penduduk Desa Mayall.”
“Kami tahu. Kami juga tahu bahwa dia sangat kuat, makanya... serahkan dia pada kami dan segeralah pergi dari sini. Kalian hanya akan menghalangi kami,” ucap si gadis prajurit yang bernama Spica.
“Ba-baik!”
Kedua prajurit tadi bergegas membangunkan teman-temannya yang pingsan. Mereka membebaskan mereka yang terperangkap jaring laba-laba cahaya buatan Arta. Jaring itu tidak lagi selengket sebelumnya. Segera setelahnya mereka berlari pergi.
Arta menghilangkan seluruh armor-nya. Ia punya firasat bahwa dirinya tidak akan dibiarkan pergi begitu saja, dan bila pertarungan benar-benar terjadi maka itu akan jadi pertarungan yang memakan banyak energinya, makanya ia harus menghemat kekuatan cahayanya sebisa mungkin.
“Aku sudah dengar tentangmu. Seorang pemuda dengan kekuatan cahaya putih yang katanya sangat kuat, tidak kuduga aku akan bertemu denganmu di tempat ini. Sepertinya ini adalah hari keberuntunganku.”
“Dan hari sial untukku.” Arta menyahuti Arcturus.
Tap.
Seseorang mendarat di samping Arta setelah melompat santai dari atas pohon. Kehadirannya menyita perhatian semua orang. Ia cuek dengan hal itu.
“Sir Pyxis.”
“Arta. Sebenarnya siapa kau, atau ada apa denganmu, huh? Sejak aku bersamamu kau selalu terlibat dalam masalah.”
“Aku sudah jatuh ke dalam masalah lama sebelum bertemu denganmu, Sir.”
Pyxis memandangi tiga orang yang jadi lawan Arta. Ia melirik ke samping, Arta telah memasang kuda-kudanya siap bertarung. “Mereka bukan lawan mudah.”
“Aku tahu.”
“Mau bantuanku?”
“Kau orang yang bijak, Sir Pyxis, tanpa kuminta pun aku yakin kau akan menyelamatkanku apabila itu diperlukan.”
Dengan itu Pyxis kembali lompat ke pohon. Pria itu duduk manis menyaksikan suguhan pertarungan tidak seimbang yang akan segera terjadi. Pyxis memetik selembar daun dan menjatuhkannya. Tepat saat daun itu menyentuh tanah Arta dan Arcturus saling melesat cepat ke arah masing-masing.
Kecepatan mereka tak main-main, sangat gesit, dalam sekali kedipan keduanya telah bertukar tempat. Dalam kecepatan yang sepersekian detik itu pula mereka sama-sama mengayunkan serangan. Arta menggunakan belati berlapis kekuatan cahaya, sedang Arcturus menggunakan pedang cahaya merahnya.
Drip.
Arcturus melirik pipinya yang tergores. Darah menetes dari sana. Ia mendengus. Dialah yang telah kalah.
Sementara itu Arta telah diserang dari dua sisi oleh Regulus dan Spica. Pertarungan jarak dekat dengan kecepatan abnormal terjadi. Bunyi desingan yang terdengar oleh senjata yang masing-masing terbuat dan terlapisi cahaya memenuhi telinga, menambah ketegangan pada setiap gerakan lawan yang mesti sangat diwaspadai.
Pedang cahaya sepanjang enam puluh senti milik Spica dihunuskan untuk mengincar leher Arta. Pemuda itu memundurkan kepalanya sejauh sejengkal tangan, menghindarkan lehernya dari maut. Belum sempat mengambil nafas Arta harus mundur cepat dua langkah, kakinya diincar pedang panjang Regulus.
Drip.
Darah menetes dari betisnya yang teriris ujung pedang Regulus. Hal itu tidak terasa sakit olehnya akibat ia terlalu termakan ketegangan. Melawan tiga orang sekelas mereka membuat Alpha kerepotan. Gerakan lawan-lawannya yang terlalu cepat dan lihai membuat Arta tak sempat melancarkan serangan balasan.
Arta melompat mundur sejauh delapan meter. Ia harus mengambil jarak dari mereka atau dirinyalah yang akan terdesak. Tiga lawan satu bukan pertarungan yang adil, tapi siapa yang peduli, di sini Arta adalah mangsa yang mesti ditangkap.
“Satu-satu,” ujar Arta merujuk pada luka yang didapat oleh kedua belah pihak.
“Akan selalu satu untuk kami,” kata Arcturus pongah. Ia membentuk meriam tangan merah, sesuai warna cahayanya. Dibidiknya Arta, lalu boom! Peluru meriam dilontarkan. “Alpha Bootis : Hand Cannon.”
Arta melompat untuk mengelak. Namun, lagi dan lagi, bola-bola merah padat yang meledak dahsyat itu terus diarahkan padanya. Bahkan, tameng yang ia bentuk saat tidak mampu menghindar pun langsung hancur dalam sekali hantaman.
“Alpha Leonis : Leo Strike.”
__ADS_1
Seekor singa dari cahaya biru terang terbentuk dari kekuatan Regulus. Singa itu berlari menerkam Arta. Pemuda itu gesit menghindar. Akan tetapi, bukan hanya itu saja yang dihadapinya.
“Alpha Virginis : Laser Shooting!”
Tembakan laser dari Spica juga diarahkan untuk Arta. Sekarang, kecuali menghindari terkaman singa buatan yang mengejarnya Arta harus berjibaku pula dengan laser Spica. Tak mau membuat lawannya merasa mudah, Arcturus terus menembakkan meriam cahayanya kepada Arta.
Pemuda bermata abu-abu muda itu benar-benar tidak diberi jeda. Setiap kali ia menghindar dari serangan berbentuk singa milik Regulus ia harus menahan laser Spica sesudahnya, lalu... belum selesai dengan itu bola merah meriam Arcturus akan diledakkan padanya. Arta dipaksa untuk bertahan.
Hop. Hop. Hop.
Arta melompat dan bersalto. Tidak hanya kakinya yang gesit, tangannya juga harus bekerja keras menapaki tanah supaya tidak terpeleset jatuh dan termakan tiga serangan sekaligus. Suuara-suara berisik pertarungan meningkatkan adrenalinnya untuk terus bertahan sekaligus memaksanya berpikir untuk melakukan serangan balasan.
Wuuush!
Dengan ledakan energi dari kekuatan cahayanya Arta melompat tinggi ke atas. Ia membuat pijakan yang menahannya tetap berada di udara. “Aku tidak akan selamanya bertahan!” serunya.
Arta menautkan jari-jari kedua tangannya. Ia membukanya perlahan. Dari sana muncul cahaya putih miliknya yang berbentuk bulat transparan, menyerupai sebuah gelembung sabun, gelembung itu semakin besar dan terus membesar.
“Terpecahlah.” Arta memeri instruksi dan ya, gelembung besar itu berubah menjadi ratusan gelembung cahaya kecil. “Sekarang, menyebarlah.”
Gelembung itu menyebar rata di atas ketiga anggota Spring Triangle. Mereka yang sudah bersiap untuk melindungi diri terkejut karena ternyata gelembung-gelembung itu tidak memberikan reaksi apa pun. Melihat kebingungan mereka Arta berniat memberikan penjelasan.
“Gelembung-gelembung itu digunakan untuk permainanku,” ujarnya seraya melompat turun. Pijakannya di udara lenyap. Gelembung-gelembung itu menyingkir saat Arta melewatinya. “Tapi, pertama-tama kita singkirkan dulu binatangnya, karena ini adalah permainan antar manusia.”
Arta menunjuk singa Regulus. Seketika itu gelembung yang sangat banyak menyelimuti tubuh singa buatan tersebut, Arta kemudian menjentikkan jarinya, dan... DUUAR! Ledakan dengan suara menggelegar melenyapkan singa cahaya tadi.
Spica memandangi gelembung-gelembung yang mengapung di atas mereka. “Jangan bilang kalau semua ini akan meledak.”
“Tidak juga. Reaksinya tergantung bagaimana aku memerintahkannya. Jika aku ingin itu meledak, maka itu akan meledak. Kalau menyebar, maka menyebar. Atau jika aku ingin mengubah bentuknya, maka berubahlah itu,” papar Arta. “Dan, tidak hanya itu... dalam mengambil langkah kalian harus berhati-hati karena aku telah meletakkan jebakan.”
“Huh?” Arcturus menyatukan alis bingung.
“Lebih mudah menjelaskannya dengan tindakan,” kata Arta. Ia memejamkan matanya. “Wahai Sang Bintang Alpha Aurigae, perkenankanlah aku yang mewarisi kekuatan cahayamu untuk menggunakan anugerah tersebut.”
“Mantra serangan. Dengan merapalkannya maka penggunanya mampu menggunakan bermacam-macam serangan tanpa henti. Itu teknik serangan tingkat tinggi yang memakan banyak energi penggunanya.”
“Padahal masih semuda itu... dan dia sudah bisa menggunakannya. Seperti yang dirumorkan, dia memang hebat.”
Mereka bertiga terkejut bersamaan dengan apa yang dilakukan Arta.
Arta tiba-tiba berseru, “Dua belas. Kepung. Meledak.”
Dua belas gelembung mendekat dan mengitari mereka bertiga dan langsung meledak. Ketiganya berhasil menghindar. Namun sayang, ledakan juga terjadi di bawah kaki-kaki mereka. Ledakan di bawah tidak bisa mereka hindari sehingga membuat mereka cedera.
“Tiga. Satu-satu. Jerat.”
Tak membiarkan mereka, Arta kembali memerintah. Masing-masing gelembung dari tiga yang diperintahkannya berubah menjadi tali-temali yang memerangkap tubuh mereka.
“Tiga. Satu-satu. Pukulan,” ucap Arta lagi. Kemudian, sebuah gelembung mendekati mereka, gelembung itu berubah menjadi kepalan tangan yang kemudian memberikan sekali pukulan di perut. “Inilah permainan yang kumaksud. Permainan gelembung sabun.”
Arcturus, Regulus dan Spica terduduk merintih dengan perut kesakitan. Mereka paham dengan cara kerja teknik tersebut. Sangat sederhana. Tapi, ledakan yang ada di tanah sangat mengejutkan mereka.
Regulus menajamkan matanya ketika menyadari kilatan-kilatan cahaya di tanah yang tersebar acak. “Ranjau?”
“Semacam itu.” Arta menyahut.
“Sejak kapan?”
“Semenjak kalian mengerangku dengan tiga serangan sekaligus. Aku menghindari semuanya selagi menyiapkan ranjau-ranjau itu,” jawab Arta ringan.
Arcturus menatap Arta tajam. ‘Dia berbeda dengan orang yang kulawan di Kota Andromeda. Tidak hanya kuat, dia juga cerdas.’
__ADS_1
“Enam puluh. Hujan. Jarum.”
Ziiing!
Puluan gelembung berubah menjadi jarum-jarum tajam. Jarum-jarum itu melesat cepat ke bawah. Ketiganya menggunakan perisai untuk berlindung.
Arta tak berpangku tangan. “Enam. Tali. Tarik.”
Slash!
Arcturus memutus tali-tali yang dimaksud menjerat mereka tanpa berpindah tempat. Melangkah asal-asalan akan sangat berbahaya karena bisa mencelakai mereka. Lalu secepat kilat ia menarik Arta ke tanah penuh ranjau menggunakan lengan cahaya yang dapat memanjang.
Duaar!
Arta menginjak ranjaunya sendiri. Ia terbatuk-batuk. Untunglah ia sempat menerapkan full armor sehingga tidak terluka.
“Kalau ini permainan maka kau harus turut serta,” cibir Arcturus.
“Tidak keberatan,” balas Arta. Ia membentuk sebuah tongkat pemukul yang bergigi tajam. “Sembilan. Bersamaan. Ledakan cahaya.”
Duaar! Cliiing! Duaar!
Cliiing! Duaar! Cliiing!
Setelah bunyi ledakan dan cahaya putihnya menyebar, Arta bergerak cepat ke arah mereka bertiga, satu persatu. Ia memukul dengan kuat. Meski tidak menimbulkan efek karena tubuh lawannya terlindungi armor bukan berarti yang dilakukan Arta tak membuahkan hasil, sebab tujuannya adalah membuat mereka berpindah tempat dan menginjak ranjau.
Namun, ketiganya gigih bertahan di tempat. Arta berdecak kesal. “Dua puluh tujuh. Memadat. Terjatuh.”
Ledakan beruntun terjadi dengan keras karena gelembung yang memadat jatuh dan mengenai ranjau. Akan tetapi itu tidak melukai siapa pun. Semuanya memasang kubah pelindung, termasuk Arta. Melihat mereka tidak segera menghancurkan kubahnya membuat Arta terpikirkan ide serangan lain.
“Tujuh puluh dua. Menempel. Cairan asam.”
Gelembung cahaya yang menempel pada kubah-kubah mereka bertiga perlahan-lahan melelehkan pertahanan tersebut. Selagi kubah pelindung mulai berlubang Arta melancarkan serangan lain. Berpuluh-puluh gelembung ia ubah menjadi jarum dan dihunjamkan pada mereka yang masih terperangkap di dalam pelindung yang terselimuti cairan asamnya.
Karena ruang gerak yang sempit dan bahaya yang akan mereka dapatkan jika sampai terkena cairan asam, membuat mereka mau tidak mau menerima tusukan-tusukan jarum. Armor mereka memang membantu, tetapi sebagian jarum bisa menembusnya. Ketiganya mengalami luka gores yang tidak sedikit.
“Sembilan puluh. Kepung. Meledak.”
Lagi, ledakan hebat memekakkan telinga. Arta kurang beruntung kali ini. Ketiga lawannya berhasil meloncat kabur dari dalam kubah pelindung sesaat sebelum ledakan mengenainya. Mereka mendarat di tanah dan tidak ada ranjau yang meledak.
“Sepertinya masa aktif ranjaunya telah habis,” ujar Regulus.
“Bagus. Sekarang kesempatan untuk bergerak bebas dan menghabisinya,” imbuh Spica.
Arcturus menyeringai. “Bersiaplah. Kami akan menangkapmu dan menjadikanmu tawanan seperti mereka.”
Arta tidak terlalu mendengarkan kata-kata mereka. Ia merasa tubuhnya berat secara tiba-tiba. Nafasnya mulai terengah. Dan mendadak ia merasa lemas.
Brukh!
Pemuda itu tumbang.
...***...
Author Notes :
Hai, hai, hai...! Author kembali menyapa pembaca nih 😁
Minta pendapat kalian tentang cerita ini, dong. Sampaikan lewat kolom komentar, yah... Karena dengan mengetahui pendapat kalian, baik itu komentar, kritik, maupun saran akan sangat membantu author dalam mengembangkan cerita ini ke depannya.
Jangan lupa juga tolong berikan dukungan kalian berupa like, komentar, atau juga vote-nya. Hal itu sangat berharga karena bisa jadi penyemangat author. Setidaknya dengan itu author bisa tahu apakah cerita ini disukai atau tidak.
__ADS_1
Sekian, dan terima kasih selalu untuk kalian yang selalu mampir dan meninggalkan jejak. Semoga kalian-kalian juga sukses ^_^
Bye-bye... sampai jumpa di AN selanjutnya!