
Sraak.
Alpha melompat mundur. Ia menatap tajam lawannya. Pedangnya masih terhunus dengan cahaya biru keputihan yang melapisinya.
Baru tiga detik ia mundur lawannya sudah menghamburnya. Ia memukul dan menendang. Alpha berusaha menangkis semuanya. Namun setiap pedangnya tertangkap oleh tangan lawannya yang memiliki gigi tajam seperti tanaman venus flytrap cahaya yang melapisinya akan terserap. Dan saat masih dalam keadaan terkunci itu Alpha akan ditendang sangat keras hingga menabrak bangunan.
“Akh!” rintih Alpha saat dirinya lagi-lagi kembali tertendang keras.
“Kau, Alpha, sebenarnya tidak mengalami perkembangan sejak kita ditahan di markas militer. Semua latihan yang kau lakukan selama ini tidak membuatmu lebih kuat, melainkan hanya mengembalikan kondisi seperti semula.”
Ingatan dari perkataan Ursa beberapa waktu yang lalu kembali masuk dalam kepala Alpha. Ia meringis mengingat itu lagi, tapi ia kesal. “Yang dikatakan Ursa memang benar. Aku tidak berkembang. Bahkan menghadapinya saja aku kesulitan.”
Alpha mencoba bangkit berdiri. Namun sebelum ia berhasil ramplite tadi sudah ada di depannya secara tiba-tiba, lalu dengan kekuatan cahaya yang didapatkannya dari prajurit yang telah dimangsanya ia membuat tombak cahaya. Ia berniat menusuk Alpha dengan itu. Tetapi Alpha bergerak cepat dengan membuat kubah sebagai pelindung.
Tak mau tinggal diam, ramplite itu membentuk venus flytrap raksasa degan kekuatan cahayanya. Tanaman dengan gigi-gigi runcing nan tajam itu menggigiti kubah Alpha. Mula-mula Alpha merasa tenang karena tidak ada efek dari serangan tersebut, namun ketika ia melihat mulai ada keretakan di kubahnya ia terpaksa memikirkan cara lain untuk bertahan.
“Aku akan langsung dilahap begitu kubah ini hancur,” gumam Alpha.
“Khukhukhu...! Kau terlihat sok saat melawan rekan-rekanku tadi, tapi lihatlah kau sekarang, kau tidak sebanding dengan kekuatanku yang sekarang!”
Alpha berkedut kesal dengan cemoohan tersebut. Saat terdesak ia sangat mudah tersinggung. “Kau...! Siapa yang tidak seimbang melawan siapa, hah?! Rasakan ini! Delta Velorum : Driller!”
Terjadi retakan-retakan di tanah sekitar mereka, lalu dari sana muncul semacam mesin bor yang berputar sangat cepat. Teknik Alpha yang satu itu meliuk-liuk untuk mengincar lawannya, bergerak cepat dan lincah layaknya cacing kepanasan.
“Tidak hanya segitu!” teriak Alpha lagi.
Setelah itu muncul hal serupa dari sekeliling si ramplite. Teknik yang digunakan Alpha kali ini tidak sebesar ketika ia melawan Algol dulu, tetapi jumlahnya lebih banyak. Mereka menyerbu satu orang dengan putaran yang tajam.
Selagi ramplite tersebut menghindari mesin-mesin bor Alpha yang meliuk-liuk, pemuda itu keluar dari kubahnya secara diam-diam. Alpha mengambil jarak dari sana, ia merentangkan tangannya ke depan, bersiap dengan teknik lainnya.
“Delta Velorum : Alpha Beam.”
Tembakan-tembakan cahaya ditujukan pada ramplite yang masih menghadapi mesin-mesin bor Alpha. Walaupun ramplite itu telah menggunakan armor di seluruh tubuhnya, namun dia tetap tak bisa menghindari luka yang disebabkan oleh tembakan beruntun dari Alpha. Alhasil serangan itu berhasil mengakhiri nyawanya.
“Sekarang kau tahu kalau kaulah yang tidak seimbang melawanku,” ucap Alpha sombong.
Algol datang menghampiri. “Akhirnya kau selesai.”
Tak menanggapinya, Alpha justru mengintip musuh yang dilawan Algol. Ramplite itu telah dikalahkan. Algol sendiri tidak mengalami banyak luka, tidak seperti dirinya. Kesenangannya karena menang berubah jadi perasaan kalah setelah membandingkan dirinya dengan kaptennya.
“Jangan murung begitu. Kau juga sudah bertarung dengan bagus. Ayo cari lawan lagi dan segera selesaikan pertempuran di sini.”
“Yaaa!”
Namun sebuah suara langkah kaki membuat keduanya mengurungkan niat tersebut. Mereka sama-sama menoleh ke belakang. Seseorang berjalan ke arah mereka.
“Hm? Manusia biasa. Mungkinkah dia seorang penduduk, Kapten?”
“Sepertinya bukan. Pemukiman ini hanya ditinggali oleh manusia campuran saja,” balas Algol. “Siapa kau?”
__ADS_1
Orang itu menatap dengan sorot mata yang dingin. Ia tak menjawab pertanyaan Algol. Sebaliknya, malah mengajukan permintaan. “Beri tahu aku di mana Anser Vulpecula berada,” katanya.
“Ada perlu apa kau dengan pria itu?”
“Bukan urusanmu.”
“Tentu urusanku,” sergah Algol. “Dia harus ikut kami. Karena kami di sini lebih dulu maka dia milik kami. Ini demi kepentingan militer.”
“Maksudmu kalau aku ingin berurusan dengannya aku harus merebutnya dari kalian, begitu?”
“Hanya kalau kau bisa melakukannya.”
“Heh.” Ia mendengus geli. “Sebaiknya kalian tidak menantangku, karena kalian tidak akan bisa menang melawanku.”
“Sombongnya!” cecar Alpha. “Kita tidak tahu sebelum mencoba, kan?”
“Coba saja dan kalian akan mati.”
...***...
Blar! Blar! Blar!
Luxco melompat dan berguling menghindari serangan yang dilancarkan Anser dari atas. Serangan tersebut berupa tembakan cahaya yang menyerupai petir. Tanah yang terkena sambaran serangan tersebut meledak.
“Khukhukhu...! Dengan ketinggian ini kau tidak akan bisa mengalahkanku!”
Luxco berlari gesit menghindari sambaran serangan Anser. Ia mengarahkan tangan kanannya ke atas. Di tangan tersebut muncul sebuah meriam kecil yang terbuat dari kekuatan cahayanya. Sambil terus berlari Luxco mengarahkannya kepada Anser.
“Alpha Centauri : Hand Cannon!”
Booom! Duarr! Booom! Duarr!
Suara bergema yang diikuti ledakan memenuhi pertarungan mereka. Anser terbang berkelok-kelok menghindari tembakan meriam Luxco yang bertubi-tubi.
Namun lagi-lagi Luxco berakal cerdik, ia tak menyia-nyiakan cercahan cahaya ledakan yang diciptakannya. Ia kembali membentuk serpihan itu menjadi jarum-jarum panjang besar nan lancip yang terbang mengelilingi Anser. Jarum-jarum itu diarahkannya untuk menyerang Anser.
Anser yang masih harus menghindari tembakan meriam Luxco tak punya banyak waktu untuk menghalau jarum-jarum tersebut. Alhasil ia menutupi tubuhnya dengan sayapnya. Menakjubkannya jarum-jarum itu terpental ketika menabrak sayap Anser.
“Oi... oi... seberapa keras sayap itu? Yang benar saja!”
“Sudah kubilang, kan, kekuatanku berada di level yang berbeda darimu. Sebaiknya kau menyerah saja. Mohon ampunlah dan aku akan membunuhmu tanpa menyiksamu lebih jauh. Tapi kalau kau tetap melawan maka—”
Luxco tak menghiraukan kata-kata Anser. Ia hanya memfokuskan meriamnya kepada Anser. Suara menggema setelah isi meriam itu ditembakkan berdengung di telinga Luxco. Anser lagi-lagi menutup sayapnya untuk menghindari ledakan.
Saat momen itu Luxco dengan cepat menembakkan meriamnya lagi, namun kali ini bukan bola ledak yang keluar, melainkan panah besar dengan tali yang terbuat dari cahaya. Tepat ketika Anser membuka sayapnya panah itu menembusnya. Panah tersebut dikendalikan Luxco agar mengikat leher Anser. Setelah itu Luxco menariknya dengan keras hingga membuat Anser terjatuh keras ke tanah.
“Si-sialan kau!”
“Ya, ya, aku memang si sialan. Akhirnya, penangkapan seekor kelelawar berhasil,” kata Luxco angkuh. Luxco menarik tali yang melilit leher Anser, memaksanya setengah berdiri. “Sekarang, kau akan menjawab semua pertanyaanku.”
__ADS_1
Di luar dugaan Anser malah menyeringai. “Kalau kau pikir sudah merasa menang, maka rasakanlah ini!”
Tanduk yang ada di kepala Anser memanjang dengan sangat pesat. Menjadi cukup panjang sampai bisa menusuk bahu kiri Luxco dan menembusnya. Luxco melenguh kesakitan, kontrol kekuatannya pada tali yang mengikat Anser mengendur. Kesempatan itu digunakan pria yang tak lagi menyerupai manusia tersebut untuk melepaskan diri.
Anser kembali terbang di udara. Ia mematahkan tanduknya yang memanjang dan dengan sekuat tenaga dilemparkan pada Luxco. Tanduk itu juga diselimuti cahaya merah yang berpusar secara spiral. Luxco harusnya berhasil menghindarinya, namun di saat tanduk berlapis cahaya itu berada dekat dengannya Anser membuat cahaya yang menyelimutinya melebar sehingga menggores bahu kiri Luxco. Darah mengucur dari dua luka yang disebabkan oleh Anser.
“Aku sudah muak bertarung denganmu. Akan kuhancurkan kau bersama dengan penduduk itu juga.”
Keluar cahaya merah terang dari kedua tangan Anser. Cahaya itu terpusat di depan tangannya, pancarannya semakin banyak, namun cahaya tersebut tidak menyebar melainkan terpusat di satu titik hingga memadat. Cahaya merah itu berubah menjadi bola merah raksasa, begitu merah pekat. Bola cahaya tersebut terbungkus oleh cahaya merah transparan berbentuk kerucut.
Luxco membelalakkan matanya. Ini pertama kalinya ia melihat teknik serangan sebesar itu. Tidak hanya mencolok, serangan dengan skala besar itu bisa menghancurkan pemukiman di belakangnya.
Anser mengarahkannya tepat kepada Luxco. “Matilah kau dalam ledakan ini!”
‘Aku harus menahannya!’ Luxco membatin.
Dari ujung kerucut itu melesat bola cahaya merah padat yang ada di dalamnya dengan sangat cepat. Tembakan dahsyat itu langsung mengenai Luxco yang telah mengamankan dirinya di dalam kubah bentukannya.
Ledakan besar tak terelakkan. Suara menggelegarnya tak kalah hebat dari letusan gunung berapi. Cahaya merah menyilaukan dari ledakan itu menghempaskan segala yang dikenainya, termasuk pohon dan rumah-rumah penduduk. Semua yang terkena efek ledakan hancur tak berbentuk.
“Kh-uuukh!”
Luxco berusaha keras menahan ledakannya. Bahkan meski kubah yang ia ciptakan memiliki kekuatan setara baja tujuh lapis tetap saja ia terdorong ke belakang secara perlahan-lahan, dan sedikit demi sedikit mengalami keretakan. Luxco terus mengalirkan kekuatannya ke kubahnya agar tidak hancur atau ia akan tewas seketika akibat ledakan super kuat tersebut.
“Sialan... aku hanya bisa melindungi diriku sendiri... kuharap yang lain akan baik-baik saja...”
Kubah Luxco tidaklah berbentuk setengah lingkaran seperti kubah kebanyakan, akan tetapi bersudut-sudut seperti sarang lebah sehingga hal itu mampu memantulkan efek ledakan. Tetapi tetap saja, karena ledakannya yang kelewat dahsyat Luxco hanya mampu menghalau sedikit dari dampak ledakan.
Setelah cukup lama berlangsung akhirnya ledakan itu berhenti. Kubah Luxco hancur seketika karena mencapai batasnya. Tangan laki-laki itu gemetar dan nafasnya terengah. Ia benar-benar mengeluarkan banyak kekuatan cahaya untuk menahan serangan barusan.
Betapa kagetnya Luxco mendapati kalau pemukiman sebelumnya telah rata dengan tanah tatkala ia menoleh ke belakang. Rumah-rumah penduduk telah hancur sepenuhnya, termasuk pula hutan di sekitaran pemukiman kecil tersebut. Tidak ada satu orang pun yang berdiri di atas tanah yang luluh lantak itu. Hanya kekosongan. Seketika itu diri Luxco langsung dipenuhi kemarahan.
“Aku terkejut kau masih bisa bertahan. Tapi kenapa dengan wajahmu itu? Kau marah? Apa kau marah padaku?”
“Kubunuh kau!” seru Luxco mengancam.
Luxco membidik Anser. Ia melontarkan panah-panah cahaya yang mengejar pria tersebut. Tidak peduli selincah maupun setinggi apa pun Anser terbang panah-panah Luxco terus mengikutinya. Kemudian dengan meriam cahaya di tangannya Luxco menembakkan bola cahaya, tapi ledakan itu hanya berupa ledakan cahaya menyilaukan saja. Dan saat itu pula Luxco melemparkan rantainya hingga menjerat salah satu kaki Anser. Ia lalu menariknya, membuat Anser jatuh ke tanah.
“Sialan! Aku tidak akan tertangkap untuk kedua kalinya!”
Namun Luxco tidak seceroboh yang tadi. Ia melesat cepat mendekati Anser dan langsung menebas tanduknya menggunakan pedang cahaya. Ia lalu mengikat kedua sayap Anser menggunakan rantai besi. Tak tanggung-tanggung, Luxco bertindak jauh sampai mematahkan kedua tangan serta kaki pria tersebut.
“AAAARKKH!”
Masih belum puas, Luxco membuat dua pasak besar dari kekuatan cahayanya. Ia juga mengikat tubuh Anser secara terlentang di antara kedua pasak tersebut. Lalu dengan pedang terhunus ke leher pria itu Luxco menyeringai lebar.
“Ini kemenanganku.” Luxco menegaskan. “Kau tidak akan seimbang melawanku sekalipun kau berubah menjadi monster. Camkan itu!”
...***...
__ADS_1