
Sekembalinya dari kantor wali kota, Okul dan Mab membawa delapan ekor kuda bersama mereka. Kuda-kuda itu tak berbadan kosong, melainkan membawa logistik yang dibutuhkan. Okul memintanya dari pengurus kantor wali kota setelah menunjukkan surat sakti dari Wali Kota. Benar saja, apa-apa langsung dituruti.
“Wah, hebat, Wakil Kapten! Kau benar-benar bisa diandalkan saat Kapten tidak ada!”
Plak.
Kraz menampar kepala Alpha dengan tangan kosong. “Bodoh. Itulah kenapa dia menjadi wakil kapten.”
“Iya, iya, aku tahu! Aku hanya mengungkapkan yang dipikirkan otakku!” Alpha bersungut-sungut.
Okul tak memedulikan pertikaian kecil tersebut. Ia memperhatikan orang-orang yang telah dikumpulkan oleh rekan-rekannya. Hampir semuanya laki-laki, kaum perempuannya bisa dihitung tak sampai habis jari tangan.
“Sebanyak ini yang bisa dikumpulkan?” tanya Okul.
“Ya. Mereka adalah orang-orang yang cakap. Kami meninggalkan mereka yang tua, sakit, atau cedera. Anak-anak dan remaja tidak termasuk, tapi ada cukup pemuda. Dan para perempuan, mereka bersikeras menggantikan anggota keluarganya yang tak bisa ikut serta. Sebagian ingin membantu dengan memasakkan kita makanan, karena tidak mungkin bekerja dengan perut kosong.” Diphda menjelaskan.
“Baik. Aku mengerti.” Okul mengangguk. “Dengar! Kita hanya meminjam kuda-kuda ini, pastikan kuda-kudanya tidak sakit atau terluka. Itu syaratnya!”
“Baik!”
Kraz mendekati Okul. “Kenapa hanya delapan? Dengan jumlah orang kita, itu tidak akan cukup membawa semua orang ke hutan itu.”
“Kuda-kuda ini tidak akan digunakan untuk transportasi utama, hanya untuk membantu pekerjaan agar lebih cepat,” jawab Okul. “Lagi pula, aku tidak yakin banyak dari mereka yang bisa menunggangi kuda. Kita akan ke sana dengan jalan kaki.”
“Ah, Mr. Okul! Apa kau lupa tentangku? Kalau hanya masalah kuda, aku bisa menciptakannya! Dan kau tidak perlu khawatir apakah mereka bisa mengendarainya atau tidak, sebab akulah yang akan memegang kendali atas pergerakan kuda-kudaku,” ujar Alpha bangga.
Kraz tersenyum senang. Ia menepuk-nepuk kepala Alpha keras, tapi dengan bangga. “Hahaha! Akhirnya kau bisa diandalkan, Alpha!”
“Tentu saja!”
Diphda menyangsikannya. “Memangnya kau bisa membuat lebih dari satu kuda dan mengendalikan semuanya secara bersamaan, Alpha? Tidak, kan?”
“Justru karena aku belum pernah maka ini akan jadi latihan yang berharga untukku!”
Ursa tersenyum simpul mendengar kepercayaan diri Alpha.
Tak berlama-lama, mereka bergegas mempersiapkan peralatan dan kebutuhan. Tiga kuda membawa gerobak berisi logistik dengan masing-masing satu joki. Lima yang lain untuk ditunggangi, setiap kuda dua orang. Alpha sendiri mampu membuat empat kuda dari kekuatan cahayanya. Ia membawa mereka yang tak bisa menunggangi kuda.
Orang-orang bersiap menyaksikan mereka untuk pergi. Namun, sebelum Okul memberangkatkan rombongan tersebut ia meninggalkan pesan untuk penduduk yang tinggal di pengungsian.
“Kalian tidak ikut bukan berarti kalian tidak bisa membantu. Dengan cara kalian sendiri, berbuatlah sesuatu yang bisa membantu kami. Lakukan dengan cara kalian sebisa kalian!” pesan Okul.
“Yaaa!”
“Kalau begitu kami berangkat!” seru Mab.
“Selamat jalan!”
“Berhati-hatilah!”
“Daaah!”
Derap langkah kaki-kaki kuda menderu, meninggalkan tempat pengungsian tersebut dengan diiringi kepulan debu tipis. Namun, perhatian orang-orang tertuju hanya pada kuda-kuda cahaya Alpha semata. Mereka mengagumi bentukan yang elok tersebut. Tak henti-hentinya mereka berdecak kagum.
Melihat reaksi orang-orang membuat Alpha besar kepala. Hal itu juga membuat kesadarannya untuk tidak boleh gagal dalam mempertahankan dan mengendalikan tekniknya meningkat. Alhasil, latihan yang belum pernah dilakukannya berhasil dalam sekali percobaan hanya gara-gara ia tak mau terlihat memalukan kalau sampai tekniknya tersebut gagal.
Hanya sebentar saja mereka berkuda dan mereka telah sampai di hutan yang dituju. Hutannya luas, tapi tidak begitu lebat. Setelah memberi instruksi dan berbagi tugas mereka mulai mengerjakan apa yang harus dilakukan untuk membuka lahan.
Pertama-tama menebangi pohon. Tidak asal tebang, karena kayu dari pohon-pohon itu nantinya akan digunakan sebagai bahan bangunan. Tapi, tugas ini bisa diselesaikan dengan cepat berkat Alpha, Kraz, Diphda serta Okul menggunakan kekuatan cahaya mereka.
Setelah pohon-pohon itu berjatuhan orang-orang yang lain memotong dahannya dan membersihkan dedaunannya. Gelondongan kayu dikumpulkan dalam satu tempat. Dahan-dahan yang lebih kecil dipotong-potong dan dikeringkan untuk kayu bakar. Dedauan dikubur dalam lubang besar sebagai persiapan untuk dibuat pupuk.
Hari itu, pekerjaan mereka sampai di sana. Mereka memutuskan pulang sebelum matahari terbenam. Sekembalinya ke pengungsian mereka langsung makan banyak untuk mengisi ulang energi dari badan yang telah dipekerjakan ekstra hari tersebut.
__ADS_1
“Hari ini sangat melelahkan. Tapi syukurlah para prajurit itu membantu kita dengan kekuatan cahaya sehingga waktu yang dibutuhkan untuk menebang pepohonan bisa dipangkas jadi sangat cepat.”
“Ya. Mereka itu menakjubkan.”
“Mereka menggunakan jurus-jurus hebat untuk merobohkan pohon dengan sekali tebas. Sangat keren.”
“Hei, jangan berlebihan atau kami akan besar kepala!” seru Alpha. “Seperti kalian tidak bisa menggunakannya saja.”
“Kami memang tidak bisa menggunakan kekuatan cahaya,” jawab salah seorang.
“Eh?” Alpha terheran.
“Kalian kan manusia campuran, harusnya kalian juga memiliki kekuatan cahaya. Toh, kalian sehat-sehat begini,” ujar Ursa.
“Kekuatan cahaya yang ada di dalam diri kami sangat sedikit. Kami hanya biasa menggunakannya untuk membantu kegiatan sehari-hari, seperti membuat penerangan atau hal-hal kecil lainnya.”
“Eeh...! Itu sangat disayangkan. Padahal kalian bisa menambah dan menggunakan kekuatan cahaya kalian jika kalian berlatih,” kata Alpha.
“Sayangnya tidak ada yang bisa membantu kami berlatih. Daripada menambah kekuatan, kami lebih memilih hidup apa adanya dengan damai,” jawab seseorang.
Alis Alpha bertautan tidak suka. “Itu tidak bisa dibiarkan jika kalian ingin hidup terpisah yang mana tanpa pengamanan prajurit. Benar kan, Mr. Okul?”
“Ya.”
“Kenapa?”
“Karena kalian harus melindungi diri kalian sendiri. Jika kalian bisa melakukannya maka setidaknya peluang untuk keamanan kalian akan meningkat tanpa bergantung pada prajurit,” jelas Okul.
Orang-orang itu mendesah kecewa.
“Sayangnya kami tidak bisa.”
“Kalau kalian tidak bisa maka kalian hanya perlu mempelajarinya! Aku akan mengajari kalian cara menggunakan kekuatan cahaya!” ujar Alpha berteriak.
“Tidak, tidak, tidak! Kau tidak bisa melakukannya. Kau harus membantu kami membuka lahan,” protes Kraz.
“Jangan berdalih, Alpha. Kau hanya ingin berlatih untuk dirimu sendiri, kan? Kami tidak bisa membiarkan itu. Kau harus membantu di hutan.”
“Tapi—”
“Tidak ada tapi-tapian.” Diphda memotongnya. “Kalau hanya mengajari mereka cara menggunakan kekuatan cahaya maka Okul bisa melakukannya.”
“Ck! Dasar pelit!” gerutu Alpha.
...***...
Pagi itu Okul dan yang lainnya hendak berangkat kembali ke hutan untuk melanjutkan membuka lahan. Namun, tepat sebelum mereka pergi seorang prajurit datang tergesa-gesa ke tempat pengungsian. Ia memberi kabar bahwa Algol telah siuman.
Okul memerintahkan agar Mab dan orang-orangnya pergi lebih dulu, sedangkan mereka akan menyusul nanti setelah mengecek keadaan Algol. Setelahnya mereka pergi ke rumah sakit dengan bergegas.
“Kapten!”
Menjadi yang pertama kali sampai, Alpha langsung membuka pintu dengan kasar dan berteriak kencang. Algol mengangkat tangan kanannya rendah sebagai tanda kalau ia dengar, sekaligus pemberitahuan kalau ia tidak dalam kondisi buruk.
“Syukurlah kau sudah sadar,” ucap Diphda.
“Bagaimana keadaanmu sekarang, Kapten?” Alpha bertanya, tak sabar.
“Aku bisa merasakan tubuhku remuk. Menggerakkannya pun susah. Aku pikir aku akan mati pada saat itu,” jawab Algol dengan suara yang serak dan lirih.
“Tidak salah. Kau memang hampir mati kalau saja Sir Puppis tak menyelamatkanmu,” sergah Alpha.
Algol tampak kaget, tapi ia tak berkata apa-apa. Ia pasti berpikir kalau Puppis adalah orang hebat yang bisa melakukan banyak hal. Bagaimanapun belum ada orang yang tahu seluruh kemampuan dari sosok pria tersebut. Wajah Algol berubah keruh memikirkan hal lain.
__ADS_1
“Bagaimana dengan pemukiman itu?” tanyanya resah.
“Rata dengan tanah,” jawab Okul. “Anser yang melakukannya. Namun, ia dikalahkan oleh Luxco, sayang Anser telah dibunuh oleh Enceladus, dan Luxco pergi dari kita.”
“Enceladus?”
“Orang yang melawan kita, Kapten,” beri tahu Alpha, “dan untuk motivasi balas dendammu padanya, kuberi tahu kau bahwa Enceladus juga adalah pemimpin dari pasukan yang menyerang desaku. Begitulah yang diberitahukan Luxco.”
Algol mengangguk paham. “Bagaimana dengan penduduk?”
“Saat ini mereka mengungsi di bagian luar kota ini. Tapi, saat ini kami tengah membantu mereka mendirikan pemukiman baru,” Kapoor Okul.
“Baguslah. Kau bekerja cepat, Okul,” kata Algol dengan senyuman puas.
“Sudah tugasku sebagai wakil kapten.”
“Aku masih belum bisa bergerak, tubuh bagian salamku benar-benar terasa sakit, dan entah sampai kapan aku bisa sembuh. Untuk sementara aku tidak bisa diandalkan, jadi kuserahkan semuanya pada kalian,” ujar Algol. “Maaf.”
“Tidak perlu meminta maaf, Kapten! Kau istirahatlah dengan benar. Saat kau sembuh nanti semua sudah beres dan kita tinggal meninggalkan kota ini,” ucap Alpha mantap.
Algol tersenyum simpul. “Ya,” gumamnya.
...***...
Tidak sampai siang hari Okul beserta rekan-rekannya telah menyusul ke hutan. Orang-orang telah menggali akar-akar pohon. Mereka kesulitan gara-gara akar dari pohon-pohon yang besar itu menancap dalam dan kuat di tanah. Bahkan dengan dibantu kuda pun mereka masih kesusahan.
Mengatasi itu Alpha mencoba menggunakan teknik Drill untuk membantu. Dengan teknik bor tersebut ia menggali sampai ke bawah akar, menggemburkan tanahnya, dan dengan begitu memudahkan akar pohon untuk ditarik. Mereka pun menggunakan metode tersebut untuk akar-akar lainnya.
Diphda dan Kraz ikut membantu Alpha dengan cara mereka sendiri. Sementara Ursa dan Okul bergotong royong memindahkan gelondongan kayu.
Semakin hari mereka mendapatkan lebih banyak tenaga kerja. Pembangunan rumah-rumah penduduk juga sudah dimulai. Semua orang bekerja sama. Para manusia campuran pun mulai pindah sepenuhnya dari tempat pengungsian di bagian luar kota utama dan memilih tinggal di lahan baru pemukiman mereka.
Mereka agak khawatir dengan keamanan, tetapi karena Okul menjanjikan rekan-rekan seregunya akan berada di sana untuk berjaga-jaga mereka jadi merasa aman. Okul pun berhenti membantu dengan pembangunan, ia lebih memilih mengajari beberapa orang yang tertarik untuk mengembangkan kekuatan cahaya. Kebanyakan dari mereka adalah pemuda. Karena kepandaian Okul dalam mengajar mereka bisa menguasai hal-hal dasar dengan cepat.
Malam itu, selepas makan malam, Mab menghampiri Okul yang tengah berkumpul bersama teman-temannya. Ia mendekati mereka dengan sungkan.
“Terima kasih banyak. Berkat kalian kami bisa sampai sejauh ini. Tanpa kalian kami pasti akan berakhir menyedihkan.”
“Itu semua juga berkatmu, Mab. Kalau kau tidak menjadi pemimpin mereka dan tidak menggerakkan mereka maka semua ini hanya angan-angan saja,” balas Okul.
Mab malu-malu mendengar pujian yang menurutnya berlebihan itu. Ia pun mengganti topik pembicaraan. “Bagaimana dengan kondisi kapten kalian?” tanyanya.
“Masih belum pulih, tapi dia jauh membaik. Kapten juga sudah bisa berjalan lagi, meski tertatih-tatih. Yang jelas luka luarnya sudah hampir sembuh. Itu sudah sangat melegakan kami,” jawab Alpha.
“Syukurlah,” ucap Mab. “Aku ingin sekali menemuinya dan mengucapkan terima kasih padanya.”
“Tidak masalah. Kami akan membawanya ke sini sebelum kami pergi dari kota ini,” ucap Ursa.
“Jangan repot-repot! Itu tidak pantas! Sebaiknya aku yang datang menemuinya!”
“Tidak apa-apa, Mab. Sebenarnya kami juga ingin memperlihatkan hasil kerja keras kami pada Kapten,” tukas Kraz diiringi senyum lebar.
“Oh. Begitu.”
“Ya. Kami ingin pamer bahwa kami ini adalah rekan-rekannya yang bisa diandalkan. Sebab Kapten sudah mempercayakan tugas ini pada kami,” sahut Diphda.
“Aah. Aku mengerti.”
...***...
Author Notes :
Yeaaay! Akhirnya up lagi!
__ADS_1
Semoga cerita ini gak membosankan. Terus dukung author dengan memberikan jejak berupa like, komen, vote, kritik dan saran, maupun lain sebagainya.
Terima kasih banyak atas dukungannya selama ini ^_^