Terminator Warrior

Terminator Warrior
Misi Baru


__ADS_3

Alpha menepuk-nepuk kepala kuda yang akan ditungganginya. Kuda itu kuda yang bagus. Ia lega mengetahui itu karena tidak hanya dirinya, kudanya juga akan mengangkut barang yang tidak sedikit.


“Kita akan pergi dalam misi mempertahankan daerah perbatasan, kan, apa memang perlu membawa banyak barang seperti ini?”


“Tentu saja!” Diphda menyahut dengan cepat. “Mempertahankan perbatasan antara Padgontry dan Darkotry itu tidak mudah, asal kau tahu. Pertempuran mungkin akan terjadi selama berhari-hari. Belum lagi kita masih harus menyegarkan daerah pertempuran dari mayat ramplite agar tempat tersebut tidak berubah menjadi wilayah Darkotry.”


“Berkumpul!” teriak Algol memberi instruksi. Mereka mengerumuni sang kapten. “Perjalanan ke tempat yang kita tuju tidak jauh, hanya sekitar dua hari kurang. Selama itu kita tidak boleh menghentikan perjalanan kecuali istirahat malam karena kedatangan kita sangat ditunggu. Mengerti?”


“Ya!”


Algol menatap tajam Alpha dan Ursa. “Terutama untuk kalian berdua. Aku tidak ingin kalian menghentikan perjalanan gara-gara ingin membantu entah siapa yang sedang kesulitan di tengah jalan nantinya.”


“Baik!” jawab mereka serempak.


“Unit prajurit yang dikirimkan untuk misi itu sebanyak seratus orang, pertempuran baru berjalan sebentar dan mereka sudah meminta untuk mengirimkan bantuan, aku punya firasat kalau ini akan jadi pertempuran yang besar.”


“Apakah musuh-musuh yang berada di daerah perbatasan biasanya kuat-kuat?” tanya Ursa.


“Tidak juga. Tergantung daerahnya.”


Pemuda dari golongan manusia biasa itu memandangi peta yang digelar Algol di atas kotak kayu. “Pertempuran kali ini di sini, kan? Di wilayah Darkotry yang berbatasan dengan tiga kota sekaligus—Milky Way, Andromeda, dan Hoag.”


“Itu wilayah yang kuat. Sudah sejak dahulu kala wilayah tersebut tidak pernah runtuh. Musuh-musuh di sana sangat gigih,” kata Okul.


“Ho... itu malah membuatku menantikannya,” gumam Alpha dengan rasa percaya diri yang membuncah.


...***...


Suara binatang malam menemani dua orang laki-laki yang bertengger di atas dahan pohon tertinggi di hutan renggang yang tidak terlalu indah maupun tenang. Bagaimana tidak, di bawah mereka banyak mayat bergelimpangan, sedang para ramplite tengah kebingungan mencari mangsa mereka yang rupa-rupanya mengistirahatkan diri di atas pohon setelah seharian penuh bertarung.


Seorang pria dengan leher terbebat perban menguap lebar. Matanya telah mengantuk berat, rasa-rasanya ia bisa tidur kapan saja bila terpejam lebih dari tiga detik. Pria bernama Zibal Eridanus tersebut lantas menggelengkan kepalanya keras-keras, berharap dengan itu kantuknya akan lenyap.


Masalahnya, tidur dalam keadaan yang genting seperti saat itu sangatlah berbahaya. Ramplite bisa menyerang kapan saja jika ia lengah. Beruntung mereka bersembunyi di dahan pohon lebat yang menutupi tubuh mereka.


Zibal memutuskan untuk memulai pembicaraan dengan lelaki yang usianya separuh lebih muda darinya, seorang laki-laki bertubuh atletik yang memiliki rambut merah menyala. “Kau tidak mengantuk?”


“Tidak juga.”


“Hebatnya...” puji Zibal cenderung basa-basi. “Bagaimana kondisimu, apa kau baik-baik saja atau sudah pasrah dengan pertempuran ini? Ini adalah pertama kalinya bagimu, kan.”


“Ini tidak seberapa. Lagian, tidak ada bedanya apakah ini yang pertama kali untukku dalam misi resmi atau bukan. Melawan mereka terlalu mudah untukku,” jawab laki-laki itu besar kepala.


“Aku sudah dengar kalau kau ini hebat, tapi sebaiknya jangan sombong begitu. Aku paling benci dengan orang yang terlalu percaya diri dengan kemampuannya. Orang seperti itu ujung-ujungnya—” Zibal berhenti bicara karena melihat lelaki muda itu berdiri. “Oi, kau mau ke mana?”


“Menghabisi makhluk-makhluk tidak sempurna itu.”


“Sekarang?”


“Mereka baru saja tahu keberadaan kita. Kalau menunggu nanti-nanti merekalah yang akan datang menyergap kita,” jawabnya dingin.


Zibal menghela nafas lelah. Ia mengayunkan tangannya acuh. “Lakukan sesukamu. Aku mau tidur saja. Ah, saat kau di bawah sana, pastikan tidak ada ramplite yang naik ke sini.”


Zibal mendengar pemuda itu melompat turun. Tidak lama berselang suara tebasan pedang diiringi jerit kesakitan yang menyayat telinga turut menghiasi malam bulan purnama. Ketika pria itu sedikit melirik ke bawah ia menyaksikan kilatan cahaya merah-oranye melesat cepat dari satu tempat ke tempat lain.


“Hm... siapa lagi namanya—ah, ya, Pollux. Aku tidak benci padanya secara personal, hanya sifat tidak pedulinya pada orang lain saja yang tidak kusukai. Malahan, sebenarnya dia anak yang begitu hebat,” gumam Zibal.


Zibal lalu menghitung menggunakan jari-jari tangannya. Ia menyeringai kecil, dan lalu mendengus. Sekali lagi mulutnya menguap lebar hingga ujung matanya menitikkan air.


“Pollux sudah mengatasi masalah di bawah sana. Tidak lama lagi bala bantuan juga akan datang. Pilihan paling baik untuk saat ini memang tidur.”


...***...


Slash! Slash!

__ADS_1


Zraaash!


Jleb!


Suara-suara pertarungan mengiringi lari kuda-kuda regu milik Algol. Mereka belum sempat bertemu dengan seorang pun anggota dari unit prajurit yang mesti mereka bantu akan tetapi para ramplite telah menyerang dengan tiba-tiba. Tidak ada pilihan bagi mereka kecuali menyerang balik.


Meninggalkan kuda-kuda mereka terlalu bahaya, karena bukan tidak mungkin tunggangan mereka akan dibunuh, pada akhirnya mereka memilih bertarung di atas kuda. Walaupun bukan keahlian mereka sebab bukan prajurit kavaleri, mereka tetap bertarung dengan baik dikarenakan kemampuan mereka memang mumpuni.


Sekalinya tidak segesit jika mereka bertarung dengan dua kaki menapak di tanah, setidaknya mereka tidak lambat. Kuda-kuda perang tunggangan mereka tidak bisa dinilai remeh. Hewan-hewan itu sangat bisa diandalkan untuk membantu serangan, entah dengan mendepak ramplite ataupun menerjang mereka.


“Heeeyah!” Alpha menebas kepala ramplite yang melompat ke arahnya dengan sekali ayunan pedang. “Mati kau!”


Ramplite yang menghadang mereka kali ini sangatlah banyak, hampir ratusan. Syukurlah mereka hanya golongan tiga tingkat rendah yang mana mudah dibunuh. Ramplite-ramplite itu tidak memiliki wujud fisik yang jelas. Mereka merupakan gabungan antara menjijikkan dan menyeramkan.


Lihat saja, kulit coklat-kehijauan mereka bergelambir dengan benjolan-benjolan bulat kecil menyerupai kutil di seluruh permukaannya kecuali wajah, mata mereka melotot seperti akan meloncat keluar, tanpa ada kelopak mata, bulu mata maupun alis, kepalanya tanpa rambut, mulut mereka mengeluarkan semacam lendir, tangan dan kaki mereka berselaput. Suara mereka menggeram tidak jelas, tidak bisa dikatakan kalau mereka bisa berbicara.


Jleb!


Okul menusukkan pedangnya ke jantung makhluk itu lalu menariknya cepat. Setelah terlepas ia gunakan lagi pedangnya untuk menyabet dada ramplite yang mengeroyoknya. Beberapa masih bisa berdiri dan mencoba menyerang. Okul lalu menendangnya keras.


“Mereka sepertinya tercipta dari kodok, manusia, dan sedikit kekuatan cahaya, makanya penampilan mereka seburuk ini,” gumamnya. Ia memandangi lendir yang menetes-netes dari mulut ramplite. “Joroknya. Kuduga lendir itu membuat tanah jadi licin. Untunglah kami bertarung di atas kuda.”


Slash! Zraaash!


“Jangan melamun, Wakil Kapten Okul! Musuh masih banyak!” Ursa menegur setelah menyelamatkan Okul dari ramplite yang melompat ke arahnya.


“Terima kasih.”


Mereka pun kembali melanjutkan bertarung. Setiap dari mereka bertarung di jarak yang terpencar. Tumpukan mayat-mayat ramplite bergelimpangan di sekitar, membuat pergerakan kuda menjadi sulit, tapi hal itu menandakan bahwa mereka telah menghabisi banyak musuh.


Tidak ada dari mereka yang menggunakan kekuatan cahaya. Semua bertarung hanya dengan mengandalkan pedang atau juga kemampuan bela diri. Mereka berpikir kalau tidak perlu menghabisi musuh rendahan dengan kekuatan cahaya, hal itu hanya akan buang-buang kekuatan cahaya mereka saja.


Slaaaaash!


“Selesai sudah!” serunya setelah mendapati tidak ada lagi ramplite yang berdiri di sekelilingnya. Ia mengecek rekan-rekannya dan mereka pun juga tengah menyelesaikan serangan akhir mereka. “Kemenangan regu Algol telah dipastikan!” teriaknya lantang.


Alpha balas meneriakinya dari tempatnya berada. Ia yang berniat mendekati rekan seregunya diinterupsi oleh perintah Algol. Kapten mereka memerintahkan agar mereka semua menyegarkan daerah di sekitar mereka dengan bubuk cahaya yang mereka bawa.


Sekian saat setelah tugas pasca pertempuran tersebut usai dilaksanakan baru mereka menepi ke tempat yang lebih lapang. Mereka turun dari kuda-kuda dan memutuskan beristirahat sebelum kembali lanjut perjalanan.


“Omong-omong, Kapten, harusnya ini adalah titik temu kita dengan prajurit yang ada di sini, tapi mereka tidak ada,” ucap Diphda.


“Ini bukan hal baru jika kita tidak bertemu mereka di tempat yang seharusnya. Kemungkinan, mereka telah didesak supaya mundur dari tempat ini,” balas Algol.


“Sampai seberapa jauh?” tanya Ursa.


Algol mengamati ke arah jam delapan. Matanya memicing memperkirakan. Air mukanya tampak tidak suka dengan apa pun itu yang tengah dipikirkan kepalanya. “Paling jauh, aku menduga, mereka mundur hingga mencapai wilayah Kota Hoag.”


“Sejauh itu?!”


“Hanya kemungkinan.” Algol menegaskan kembali. “Dan itu didasari oleh dua hal. Antara mereka benar-benar terdesak atau mereka merencanakannya karena itu termasuk ke dalam strategi mereka.”


“Apa pun itu kuharap adalah pilihan yang kedua. Karena jika alasan mereka sampai pindah tempat sejauh itu karena alasan pertama, maka artinya kita harus melawan musuh yang kuat,” ujar Kraz.


“Tidak apa-apa, Mr. Kraz. Itu bisa jadi pengalaman yang bagus,” tukas Alpha. “Benar begitu, kan, Kapten?”


Algol tertawa renyah mendengar antusiasme yang dimiliki Alpha. Setengah geli sebenarnya, karena pemuda itu terlalu naif dan menganggap semua pertarungan sebagai panggung unjuk giginya tanpa mencemaskan hal buruk yang mungkin saja terjadi. Padahal, mereka telah mengalaminya sendiri sewaktu melawan Enceladus.


“Tidak juga. Pertempuran di daerah perbatasan itu selalu tidak bisa diduga-duga. Kita tidak tahu apa yang akan dihadapi. Dibandingkan dengan melawan seorang super kuat yang sudah pasti, melawan musuh yang belum diketahui jauh lebih menegangkan dan merepotkan,” jawab Algol.


Alpha tidak merespons apa-apa terhadap jawaban itu.


Algol berdiri sambil meregangkan tangannya ke atas. “Baiklah! Kembali naik kuda-kuda kalian! Kita akan lanjutkan perjalanan!”

__ADS_1


“Yaaa!”


Dari tempat mereka butuh setidaknya beberapa jam untuk mencapai perbatasan Kota Hoag. Mereka berkuda cepat. Algol yang memerintahkan. Pria itu cukup khawatir dengan keadaan sekarang. Ia cemas kalau keadaan mereka telah lama ditunggu-tunggu, jadi mereka harus bergegas.


Petang hari, mereka telah mendekati wilayah dekat perbatasan Kota Hoag. Namun, sialnya mereka justru mendapatkan sebuah gangguan. Seorang ramplite, dilihat dari penampilannya dan tantangannya untuk bertarung melawan mereka, makhluk itu telah mencapai golongan dua tingkat atas.


“Biar aku saja,” kata Algol yang bersiap turun dari kudanya, sayangnya ia mengurungkan niat itu sedetik kemudian saat seseorang melesat cepat dari dalam hutan dan menebas ramplite tadi menjadi dua bagian. Seorang pemuda berdiri gagah. “Siapa kau?”


Pemuda itu menoleh cepat. Ia mengamati mereka berenam dengan sangat teliti. Seolah-olah dia tengah mengukur kelayakan mereka berada di tempat tersebut.


Tap.


Seseorang yang lain mendarat dari atas dahan pohon. Ia belum sadar akan kehadiran Algol dan regunya, karena daripada menyapa mereka pria itu malah mengacak-acak rambut si pemuda sambil memujinya.


“Hahaha! Bagus, bagus! Seperti yang diharapkan dari Pollux. Kau bisa mengalahkannya dalam sekali serang.”


Algol turun dari kuda dan mendekat. “Sore, Sir.”


Pria itu menoleh. Matanya terbelalak kaget, dalam artian tidak senang. “Apa-apaan ini? Apa kalian bala bantuan yang dikirim? Hanya enam orang?! Markas militer pasti bercanda!”


“Maafkan aku jika kedatanganku dan reguku tidak sesuai dengan harapanmu, Sir. Tapi ini adalah perintah dari Sir Puppis.”


Zibal mendesah kecewa. “Baiklah. Katakan siapa namamu.”


“Algol Perseus. Ketua dari regu kecil khusus ini.”


“Oh?! Apakah artinya kalian anggota Hunter Warrior?”


“Bukan. Hanya prajurit biasa dengan tugas yang sangat biasa.”


Zibal mendesah kecewa lagi. “Ya sudahlah kalau begitu. Aku kaptennya, Zibal Eridanus. Dan ini,” Zibal menarik Pollux mendekat, “anggota dari unitku, Pollux. Ah, namamu Pollux Gemini, kan?”


“Namaku hanya Pollux,” ucap Pollux sambil menepis tangan Zibal yang bertengger di bahunya.


“Pollux kan juga bagian dari keluarga Gemini.”


“Tapi aku bukan. Aku tidak memiliki seorang pun keluarga. Dan namaku hanya Pollux.” Pemuda itu menegaskan dengan nada final.


“Baiklah kalau begitu...” ucap Zibal. “Aku punya permintaan. Jangan panggil aku Sir, kesannya tua dan berkelas, aku bukanlah orang seperti itu.”


“Kalau itu maumu, Si—Mr. Zibal,” jawab Algol. “Omong-omong di manakah kau membangun markas untuk anggota unitmu? Hari semakin petang, sebaiknya kita segera ke markasmu.”


“Kami tidak punya markas.”


“Eh? Lalu... bagaimana dengan anggota unitmu?”


“Ah, soal mereka...” Zibal tersenyum kecut, “mereka semua sudah mati. Hanya tersisa aku dan Pollux selama empat hari ini.”


Mereka yang mendengar itu langsung kaget bukan main.


“Dari seratus orang hanya tinggal kalian berdua?!” Alpha berseru tak percaya.


“Ya. Selain satu orang yang kukirim untuk meminta bantuan, prajurit lainnya tewas di hari kedua pertempuran,” jawab Zibal.


Alpha masih terbelalak kaget. “Memangnya pertempuran seperti apa yang ada di sini sampai situasinya berubah secepat itu?”


“Harusnya ini adalah pertempuran biasa, tapi sepertinya alurnya menjadi besar secara tiba-tiba.”


...***...


Author Notes :


Hai, para pembaca 🤗 semoga kalian cukup puas dengan cerita Terminator Warrior sejauh ini. Apabila ada keluhan, kritik, saran, tolong disampaikan lewat kolom komentar ya...

__ADS_1


Terima kasih atas dukungannya selama ini dan sampai jumpa.


__ADS_2