
Berbeda dengan ramplite golongan tiga maupun dua, ramplite golongan satu biasanya menamai diri mereka sebagai identitas. Hal tersebut menandakan bahwa kecerdasan mereka sudah setara dengan manusia pada umumnya. Mereka mampu berpikir cerdas, bukan hanya soal pertarungan semata—layaknya ramplite golongan dua yang kecerdasannya masih sangat sederhana dan hanya digunakan dalam bertarung—golongan satu bisa menggunakan otaknya lebih dari itu untuk bermacam hal.
Misalnya sekarang ini, daripada repot-repot menggunakan kemampuan tubuh ramplite mereka, Megaclite dan Taygete lebih mengandalkan kekuatan cahaya yang telah mereka dapatkan. Dengan begitu mereka tidak harus bertarung langsung dalam jarak dekat. Dan lagi, keduanya adalah tim yang hebat jika dikombinasikan. Megaclite yang bertubuh kekar besar dengan kekuatan fisik yang jelas di atas rata-rata menjadi penyerang utama, sedang rekannya Taygete memberikan sokongan dengan melindunginya.
Tang! Tang! Tang!
Pyxis menghalau seluruh panah crossbow yang ditembakkan Megaclite hanya dengan menggunakan ujung toyanya. Bahkan, pria itu belum selangkah pun bergerak dari tempatnya berdiri. Pyxis hanya beberapa kali memutar badan untuk menghindari tembakan yang datang dari samping atau belakang. Tangannya bergerak luwes dan cekatan dalam menangani serbuan panah cahaya Megaclite yang jumlahnya sangat banyak.
“Sudah, hentikan serangan jarak jauhmu, itu tidak berguna sama sekali. Kalian dan aku cocok dalam pertarungan jarak dekat dan menengah daripada jarak jauh,” kata Pyxis.
Megaclite menghilangkan crossbow cahaya di tangannya, sebagai ganti ia membuat senjata baru, yaitu gada bergigi tajam. Ia membuat dua, di tangan kanan dan kirinya. Taygete membuat sebuah kapak besar dengan dua bilah, mata pisaunya melengkung, di antara kedua bilahnya terdapat tonjolan agak panjang dengan ujung runcing yang berfungsi untuk menusuk lawannya.
Melihat senjata-senjata yang akan dilawannya tidak membuat Pyxis mengubah senjata yang ia gunakan. Pria itu bersikukuh memakai tongkat toya. “Maju,” tantangnya.
BAAM!
Megaclite menghantamkan kedua gadanya ke tanah. Hantamannya begitu kuat sampai-sampai tanah bergetar karenanya, dan tempat di mana gada-gada itu mendarat remuk. Megaclite lalu berlari menerjang dengan cepat. Gada besar nan berat tak memperlambatnya untuk sampai ke hadapan Pyxis dalam hitungan detik.
Gada dan tongkat beradu.
Senjata Pyxis yang tidak seimbang bila dibandingkan gada Megaclite tidak kewalahan ketika menahan hantaman gada tersebut. Toya yang terbuat dari kekuatan cahaya Pyxis yang biru kehijauan tidak mengalami kerusakan. Malah, karena bentuknya yang kecil ujung toya mampu menahan di antara gigi-gigi gada. Pyxis mendorong mundur Megaclite dengan dorongan kecil di gadanya.
Bukannya kesal, ramplite yang memiliki jenggot dan jambang itu malah menyeringai senang. “Lumayan.”
“Aku bisa lebih dari ini,” tukas Pyxis.
“Taygete. Kita serang dia bersama-sama.”
“Dimengerti!”
Kedua ramplite itu maju bersamaan. Megaclite dari kiri, Taygete dari kanan. Mereka menyerang membabi buta tanpa sedikit pun memberikan kemudahan pada Pyxis. Namun, pria itu tidak kesulitan sama sekali. Tongkat panjangnya bisa seimbang melawan senjata kedua lawannya.
Pyxis memukul jatuh gada Megaclite. Lalu, dengan ujung tongkat yang lain ia menyodok pergelangan tangan Taygete yang berniat membacoknya dengan kapak hingga keseimbangan pria ramplite itu goyah. Pyxis melintangkan tongkatnya dan mendorong mereka berdua mundur sampai tersungkur ke tanah.
Pertarungan itu terjadi sangat cepat. Tahu-tahu mereka menyerang dan tahu-tahu mereka didorong mundur.
“Aku tidak mau melawan orang bertangan kosong sedangkan aku memakai senjata.” Pyxis melemparkan gada Megaclite dengan mencungkilnya menggunakan ujung toya cahayanya. “Terima itu.”
“Tongkatmu itu bukan senjata. Akan kuhancurkan itu!”
“Kau benar. Ini bukan senjata, melainkan hanya alat bantu. Meskipun begitu, kau tidak akan bisa menghancurkannya.”
Megaclite dan Taygete kembali menerjang dengan kecepatan tinggi. Dalam kedipan mata mereka telah berhasil sampai ke hadapan Pyxis. Lagi-lagi Megaclite menghantamnya dengan pukulan bertubi. Taygete ikut membantu dengan ayunan kuat kapaknya. Serangan beruntun itu membuat Pyxis kesulitan memberikan balasan karena hanya memiliki ruang gerak sempit. Pyxis terus-terusan menghindari serangan mereka dengan gerakan tubuhnya yang lihai dan lincah.
Pyxis lompat ke atas untuk menghindari tebasan di kaki. Tangannya bertumpu pada tongkat panjangnya untuk mempertahankan tubuhnya di udara dalam posisi melawan gravitasi. Masih dengan mengandalkan tongkatnya sebagai tumpuan tangan, Pyxis menendang mereka berdua tepat di dada dengan gerakan memutar. Keduanya terseret mundur beberapa meter.
Pyxis memberikan sodokan bertubi-tubi di tubuh bagian depan Taygete. Pria itu terhuyung-huyung. Pyxis memberikan serangan akhir dengan melompat tinggi menggunakan tongkatnya sebagai galah, ia lalu menghantam tubuh Taygete dengan kedua kakinya. Taygete terpental hingga menabrak pohon. Batang pohonnya sampai hancur, Taygete pun jatuh tergeletak.
Setelah itu Pyxis berjibaku dengan serangan gada Megaclite. Mereka saling bertarung senjata dengan sangat piawai. Keduanya sama-sama menyerang dengan intens dan menghindar secara gesit. Tapi dari deru nafas Megaclite yang memburu menandakan dengan jelas bahwa dialah yang lebih berusaha untuk mengalahkan Pyxis yang masih dalam kondisi tubuh normal, bahkan keringatnya belum keluar, yang berarti pertarungan itu masih bukan apa-apa untuk Pyxis.
Algol dan yang lainnya ternganga menyaksikan pertarungan antara mereka bertiga. Cepat. Itulah kesan pertama yang mereka tangkap. Bukan hebat atau menakjubkan, karena ketiganya masih belum menggunakan kekuatan mereka secara serius.
__ADS_1
‘Dia lebih kuat dari kami dalam pertarungan jarak dekat. Kalau seperti ini, kami yang akan kalah.’ Pikir Megaclite. Ia pun melompat mundur. Megaclite memandangi anak buahnya dengan garang. “Apa yang kalian lakukan, bodoh?! Jangan diam saja! Kalian bisa menyerang yang lain!”
“Ba-baik!”
Ketiga ramplite yang lain—yang sedari tadi hanya menonton pertarungan antara Pyxis dan kedua pemimpin mereka—kembali bergerak menyerang regu Algol dan tim Zibal. Dengan senjata-senjata yang terbuat dari kekuatan cahaya mereka saling menyerang. Tanpa campur tangan Megaclite dan Taygete pertarungan mereka kini lebih seimbang. Dua lawan satu memang bukan pertarungan yang adil, tapi tidak ada yang peduli, sebab yang kalah akan mati.
“Taygete, cepat berdiri!”
“Sudah,” jawab Taygete. Ia menempatkan diri bersisian dengan Megaclite. “Sepertinya dekat-dekat dengannya malah membahayakan kita.”
“Itu berarti kita harus memanfaatkan segala yang kita miliki,” balas Megaclite.
“Aku tidak sungkan berubah ke wujudku sebelumnya demi menang.”
“Begitu pula denganku.”
Tubuh Megaclite dan Taygete mengalami perubahan. Megaclite menumbuhkan telinga lebar, gading lengkung panjang dengan ujung runcing, dan sebuah belalai besar. Kulit putih susunya berubah menjadi cokelat tebal. Meski masih memiliki tangan dan kaki, tetapi tubuhnya saat ini adalah representasi seekor gajah, yang adalah wujud ramplitenya sebelum menjadi golongan satu. Sementara itu, Taygete menumbuhkan sayap hitam pekat pada punggungnya, sayap seekor gagak.
Pyxis terbelalak menyaksikan perubahan wujud keduanya. Bukan karena takjub, takut, ataupun jijik, melainkan lebih seperti pandangan ketika melihat sesuatu yang aneh. Pyxis tidak bereaksi berlebihan setelah itu, masih tetap tenang dan siaga. Bahkan ketika Taygete melesat tinggi ke udara dengan sebuah halberd besar di tangan.
Pyxis menilai dengan teliti senjata dari pria ramplite tersebut. Halberd atau lebih mudahnya adalah tombak kapak adalah senjata menyerupai tombak panjang yang mencapai hampir dua meter dengan ujungnya berupa kapak. Tombak kapak dari kekuatan cahaya Taygete berwarna kuning dengan sedikit campuran warna hitam. Warna hitam itu didapatkan karena kekuatan cahayanya bercampur dengan energi buruk dalam tubuh ramplitenya.
Senjata itu bisa digunakan dengan baik dalam pertarungan jarak menengah. Dan lagi, dengan keuntungan Taygete yang dapat terbang di udara menjadikan halberd sebagai senjata sempurna untuk gaya bertarungnya saat ini.
Taygete menukik dengan senjata teracung. Ia mengincar kepala Pyxis. Namun, Pyxis selalu berhasil menghindari sabetan-sabetan tersebut. Pergerakan Taygete di udara jauh lebih cepat dan gesit. Adu senjata mereka terjadi begitu cepat. Percikan-percikan cahaya yang jadi bukti bahwa senjata mereka terkikis menunjukkan betapa intensnya pertarungan mereka.
Bam! Bam! Bam!
Set!
Pyxis menadahi darahnya yang menetes dengan sigap. Ia memandangi darah di telapak tangannya. Sorot matanya begitu datar. Tidak bisa memperkirakan apa yang tengah dirasakan oleh pria itu setelah sebelumnya selalu selamat dari serangan apa pun yang dilancarkan lawan-lawannya. Pyxis pun mengusap darah di pipinya. Darahnya di telapak tangan tambah banyak. Tanpa ragu-ragu, Pyxis menjilatinya hingga bersih.
“Tidak akan kubiarkan darahku menetes ke tanah ini jika bukan demi tujuanku. Aku tidak akan menyia-nyiakan kekuatan dan kemampuanku hanya untuk menghadapi kalian yang tidak memiliki hubungan apa pun denganku atau tujuanku. Karena itu, aku akan selesaikan ini dengan cepat.”
Pyxis berkata dengan dingin, tapi kental akan kewibawaan. Ia melirik pada para prajurit yang juga tengah bertarung melawan ramplite-ramplite lain. Para prajurit tampak kelelahan dan terluka, kecuali satu orang, yaitu Pollux. Dibandingkan rekan-rekannya yang lain, pemuda itu hanya mengalami sedikit luka gores. Nafasnya juga belum terburu seperti orang yang telah berusaha keras, tetapi musuhnya sudah hampir kalah, itu menunjukkan bahwa Pollux lebih unggul.
Pyxis menganggap pertarungan tinggal sedikit lagi dimenangkan oleh pihak prajurit, tapi ia tidak akan menunggu, ia akan mengalahkan mereka semua sekaligus. Pyxis berencana melakukan serangan besar. Ia memusatkan konsentrasinya dengan dua tangannya saling terkatup. Mulai keluar berkas-berkas cahaya dari tangannya. Pyxis pun membuka mata hendak menyerang, akan tetapi kedatangan seseorang di tengah-tengah tempat itu membuatnya berhenti.
Yang datang adalah seorang laki-laki, masih muda, dia membelakangi Pyxis. “Megaclite! Taygete! Apa yang kalian lakukan di sini?! Jangan bermain-main dan cepat kembali pada tugas kalian!” teriaknya.
Megaclite dan Taygete tersentak kaget, jelas tidak menduga kedatangan seseorang ini di tengah-tengah pertarungan. Taygete segera turun dari udara dan berada di sisi Megaclite. Mereka mengubah wujud mereka menjadi seperti manusia lagi.
“Maafkan kami. Tapi mereka adalah orang-orang yang menghalangi. Kami ingin menghabisi mereka,” ucap Megaclite dengan nada merendah.
“Kalau begitu lakukan dengan cepat! Apa yang membuat kalian lama, hah?!”
“Kami benar-benar minta maaf. Kalau hanya para prajurit, kami bisa mengalahkannya sejak tadi, tapi seseorang datang dan mengganggu. Dia lumayan kuat,” jawab Taygete.
“Jika tahu dia akan menghambat kalian harusnya kalian mengabaikannya! Dasar bodoh! Gara-gara ulah kalian ada yang mengganggu rencana kita!” teriak pemuda itu geram.
“Maafkan kami!” kata mereka lantang.
__ADS_1
Pemuda misterius itu menghela nafas panjang. Ia mengibaskan tangannya. “Sudahlah. Aku tak suka memarahi orang yang tidak becus. Lupakan kesalahan kalian.”
“Terima kasih banyak!”
“Sekarang pergi dari sini. Aku punya tugas untuk kalian berdua.”
“Kau ingin kami melakukan apa?” Megaclite bertanya.
“Ada delapan bocah Desa Mayall yang mencari-cari kristal ajaib itu. Temukan dan habisi mereka.”
“Baik!” jawab keduanya kompak dan tegas. “Oi, kalian! Kita mundur! Cari delapan bocah penyusup itu!” titah Megaclite.
Seperti yang diperintahkan, mereka semua langsung mundur dan menjauhi tempat itu. Termasuk pula Megaclite dan Taygete. Tidak ada seorang pun yang berusaha mengejar. Sejak kedatangan pemuda misterius itu perhatian mereka telah tersedot kepadanya.
“Siapa kau?!” Pyxis menanyai dengan kasar.
Pemuda itu setengah menoleh. Hanya wajah samping kanannya yang tampak oleh mereka, itu pun secara samar-samar karena angin menerbangkan rambutnya yang kusut masai dan menutupi siluet wajahnya. “Bukan siapa-siapa,” jawabnya acuh, kemudian ia menghilang secepat kilat.
‘Arta dan teman-temannya...’ batin Pyxis. Ia pun pergi dari sana dengan segera.
“Dia bilang Desa Mayall! Yang dimaksud pasti Alpha dan teman-temannya.” Kraz berkata seketika.
“Dia juga mengatakan bahwa mereka berdelapan, yang artinya...”
“Mereka bertemu teman mereka di dalam sini.” Algol menyambung kalimat Diphda. “Kita juga akan pergi mencari mereka!”
“Baik, Kapten!”
Okul membatin, ‘Makin banyak orang yang terlibat, tapi entah kenapa aku merasa ini tidak akan baik.’
Algol menoleh kepada Zibal. “Mister, aku akan butuh bantuanmu juga.”
“Aku tidak keberatan. Benar kan, Pollux?”
Pertanyaan itu tidak mendapatkan tanggapan apa pun. Orang yang ditanyai malah diam mematung dengan air muka keras. Mata Pollux melotot ngeri ke kedalaman hutan mati. Tubuhnya berdiri kaku. Ketika Zibal menepuk pundaknya pun ia hanya bergeming. Pollux seperti lupa sekitar dan pikirannya hanya ada dalam kepalanya saja.
“Pollux!” Zibal memanggilnya dengan keras tepat di telinga. Pemuda itu tersentak kaget. Ia lalu sadar sedang dipandangi dengan aneh. “Kita akan pergi mengejar tawanan itu. Apa yang kau lamunkan, huh?”
“Tidak ada,” jawabnya cepat.
“Kalau begitu, ayo pergi!” perintah Algol.
Pollux masih belum sadar sepenuhnya. Ia merasa aneh pada dirinya sendiri. Ketika pemuda tadi tiba-tiba muncul di tengah-tengah pertempuran ia menjadi sangat sadar akan kehadirannya. Perhatiannya tersedot penuh pada sosok itu. Lalu, waktu pemuda itu menoleh dan mata mereka sempat bertemu, ia merasa seluruh tubuh dan hatinya bergejolak tidak nyaman.
‘Yang tadi itu perasaan macam apa? Siapa dia?’ batin Pollux dengan gundah.
...***...
Author Notes :
Pengumuman jadwal up baru! Karena kesibukan author, maka hari Minggu dan Senin libur dulu up-nya. Dan, terima kasih seperti biasa atas dukungan para pembaca sekalian atas karya ini. Saya akan berusaha sebisa mungkin untuk terus melanjutkan cerita ini dan semoga saja Terminator Warrior tidak akan menjadi karya yang hiatus.
__ADS_1
Sekali lagi terima kasih atas dukungannya, mohon selalu berikan support untuk cerita ini agar saya semakin semangat dalam melanjutkannya. Bye-bye!