
Okul yang mendengar perkataan Luxco kembali mengulanginya. “Lelaki yang membawa ancaman... apa maksudnya itu?”
“Setiap aku mengunjungi tempat yang pernah didatanginya aku mendapati kalau tempat itu pasti mengalami kerusakan, entah besar ataupun kecil, seolah-olah dia selalu bertarung di mana pun ia berada. Karena itulah ia menjadi ancaman untuk siapa saja yang didatanginya,” jelas Luxco.
Sementara mereka membahas mengenai Enceladus, Alpha malah mengedarkan pandangannya dengan wajah pucat. Ia tak mendapati seseorang yang harusnya bersama mereka.
“Hei...! Di mana Ursa? Di mana dia?”
Baru menyadari itu, mereka semua mencari-cari di sisa-sisa pemukiman yang luluh lantak. Semua rumah hampir sama ratanya dengan tanah, kecuali di bagian utara desa yang letaknya paling jauh dari sumber ledakan. Suasana mendadak tegang.
“Tidakkah salah satu dari kalian bersama dengannya? Semua tempat rata dengan tanah... jika Ursa tidak berlindung dengan kekuatan cahaya maka itu artinya dia...” Alpha tak kuasa meneruskan kalimatnya.
Blar!
Terjadi ledakan dari dalam tanah tak jauh dari lokasi mereka berkumpul. Cercah-cercah cahaya lalu muncul. Orang-orang dari pemukiman satu per satu mulai muncul dari dalam persembunyian ruang bawah tanah mereka. Salah satu dari penduduk berlari cepat menuju mereka.
“Ursa!” jerit Diphda penuh kelegaan.
Alpha menoleh. Ia bersyukur. Tadi ia sempat berpikir kalau sahabatnya itu mungkin telah tewas.
“Semuanya! Aku lega kalian selamat!” seru Ursa senang. Lalu setelah melihat sisa ketegangan di wajah mereka, terutama Alpha, ia kembali berujar, “Saat ledakan terjadi aku masuk ke ruang bawah tanah karena kebetulan aku sedang di dekat sana. Ada empat prajurit di pengungsian bawah tanah itu dan dua prajurit yang diselamatkan Ms. Diphda. Para prajurit itu menggunakan kekuatan cahaya mereka supaya tanah di atas tidak longsor akibat ledakan, jadilah kami selamat.”
“Syukurlah,” ungkap Diphda.
Ursa memperhatikan mereka semua, yang meskipun penuh luka tapi tidak serius, kecuali satu orang. “Kapten Algol!”
Layaknya diberikan sebuah peringatan mereka langsung mengerubungi Algol. Pria itu masih sekarat tak berdaya. Darah masih saja merembes keluar dari lukanya yang banyak.
“Alpha, bagaimana Kapten bisa sampai seperti ini?” Kraz bertanya.
“Kami berdua menghadapi Enceladus. Saat aku kembali setelah dihempaskan jauh olehnya Mr. Algol sudah tak sadarkan diri.”
“Enceladus?” beo Ursa.
“Seseorang yang ikut campur dalam pertarungan ini. Dia yang membuat Anser seperti itu,” tunjuk Diphda pada mayat Anser.
Ursa ternganga. Dilihat dari hasil perbuatannya saja ia bisa menilai orang seperti apa Enceladus ini. Ditambah lagi ia bisa mengalahkan Algol hingga sejauh itu.
“Lukanya sangat serius. Jika dia tak mendapatkan pertolongan dia akan mati sebelum matahari terbit,” ucap Luxco setelah memeriksa Algol. Ia melihat hutan di sekitar mereka lalu menggeleng kecewa. “Hutan di dekat sini sepertinya tidak banyak memiliki tanaman obat yang membantu. Kita harus membawanya ke kota untuk mendapatkan pertolongan yang benar.”
“Tidak ada kendaraan maupun tunggangan. Tidak mungkin juga untuk menggendongnya sampai ke kota karena kalian semua terluka. Sedangkan aku, sekalipun aku cepat, aku tidak bisa bertahan berlarian semalam penuh sambil membawa orang yang terluka parah,” ucap Ursa.
“Sial! Seandainya saja ada satu kuda yang selamat dari ledakan itu!” geram Diphda.
Alpha tersentak. Kuda! Benar! Hewan itu cepat dan kuat!
“Aku bisa membuatnya,” kata Alpha.
Yang lain sempat kebingungan, dan lalu Ursa bertanya. “Kau sudah menguasai teknik mimikri kudamu, Alpha? Seingatku kau belum pernah berhasil.”
“Dan kau selalu terjatuh dari kudamu,” tambah Kraz.
__ADS_1
Alpha tak menyangkalnya.
“Waktu Luxco yang menunggangi kudaku dan aku berada di belakang aku menyadari sesuatu,” tutur Alpha. “Ternyata keempat kaki kuda terangkat bersamaan dari tanah dalam lompatan pertamanya saat akan berlari kencang, selama aku mencoba teknik mimikri aku tidak tahu itu dan kukira ia bergerak dengan dua kaki lebih dulu. Aku juga baru-baru ini mengetahui bahwa bagian bawah tapal kuda memiliki bentuk unik yang berfungsi sebagai peredam kejut untuk kakinya. Mungkin karena tidak menerapkan itu sewaktu aku mencoba teknik mimikrilah yang membuatku terus gagal.”
“Itu tak mengubah fakta bahwa kau belum pernah berhasil,” kata Diphda.
“Tapi, jika aku tidak mencobanya dan berhasil maka tidak ada cara lain untuk menyelamatkan Kapten Algol,” ujar Alpha. Ia tersenyum lebar kemudian. “Saat ini aku sedang sangat yakin dengan diriku—”
“Dan saat kau sedang dalam kondisi itu kau bisa melakukan segala hal yang kau pikirkan,” serobot Ursa.
“Tepat.”
Alpha mundur dan mengambil jarak. Pemuda itu menarik nafas dalam-dalam dan dengan konsentrasi penuh ia mengarahkan kedua tangannya ke depan. Sebuah cahaya biru keputihan miliknya merekah, perlahan-lahan bentuknya menyerupai kuda tunggangan Alpha sebelumnya. Alpha masih belum membuka matanya. Dahinya berkerut sangat dalam.
‘Kuda itu memiliki mata bulat besar. Tidak buta warna. Giginya mengambil tempat lebih besar di kepalanya dibandingkan otaknya. Karena jantan, jadi total giginya adalah 40. Jumlah tulangnya adalah 205. Jangan lupakan pula tapalnya yang unik. Dan keempat kakinya terangkat bersamaan ketika ia akan berlari.’
Alpha mengingat dengan serius. Ia lalu membuka matanya. “Delta Velorum : Mimicry!”
Kuda dari cahaya yang Alpha ciptakan meringkik keras dengan dua kaki terangkat ke depan. Meski tercipta dari cahaya biru keputihan milik Alpha, tetapi kuda itu memiliki paduan warna biru yang berbeda, menjadikannya sangat elok. Wajah semua orang berubah semringah. Alpha menyeringai puas.
“Berhasil!” teriaknya.
Ia bergegas menunggangi kuda tersebut. Alpha menepuk-nepuk kepalanya. Ia memuji-muji kuda itu di telinganya seolah berbicara dengan kuda aslinya yang telah tewas.
“Cepat, bawa Kapten kemari.”
“Ini benar-benar kuat membawa dua orang sekaligus?” tanya Okul masih sedikit sangsi. Ia tak segera menaikkan tubuh sekarat Algol ke atas kuda.
Okul menaikkan tubuh Algol ke atas kuda. Ia mengangguk pada pemuda itu. “Kuserahkan Kapten padamu, Alpha.”
“Ya!” jawab Alpha mantap. ‘Empat kaki mengentak bersamaan!’ katanya dalam batin.
Dan dengan satu sentakan keras pada tubuhnya kuda itu berlari kencang meninggalkan mereka semua. Dalam kegelapan yang pekat sebuah cahaya warna biru yang elok melesat pesat menembus hitamnya malam diiringi derap kaki yang menggema tangguh, mengundang decak kagum setiap yang melihatnya. Membuat Alpha bak kesatria hebat negeri dongeng.
“Bagaimana dengan penduduk itu, Mr. Okul?” Ursa bertanya.
“Kita akan bawa mereka ke kota juga, hanya itu satu-satunya pilihan.”
Maka mereka berlima menghampiri para penduduk dan menjelaskan maksud mereka. Terjadi perdebatan dengan penduduk karena mereka tidak ingin kembali ke kota yang telah membuang mereka. Belum lagi mereka tidak akan disambut dengan baik oleh kedua golongan di kota. Mereka merasa dilema.
“Tidak adakah cara lain?” tanya seorang wanita paruh baya dengan putus asa.
“Kalian bisa tinggal di mana pun di wilayah Kota Bode, tapi itu tidak akan membantu kalian sebab kalian membutuhkan pengobatan, pangan dan tempat berteduh. Satu-satunya cara adalah meminta itu pada wakil kerajaan di Kota Bode.”
Wajah-wajah lesu penduduk tampak begitu jelas. Mereka mulai menggumamkan ketidakadilan yang akan mereka alami jika mereka kembali ke kota tersebut. Luxco menghela nafas melihat itu.
“Jangan manja! Toh, sekalinya kalian tidak diterima oleh masyarakat di kota, kalian masih mampu membangun pemukiman di sekitar mereka yang mana lebih aman daripada menjauh di daerah pinggiran yang rawan bahaya.” Luxco berkata dengan tegas.
“Tetapi, Tuan, perlakuan mereka pada kami sangatlah buruk. Kau bisa melihatnya sendiri kan, meski kalian melaporkan bahwa pemukiman ini dalam bahaya akan tetapi hanya sedikit prajurit yang dikirim.”
“Setidaknya mereka memiliki sedikit perhatian pada kalian. Entah bagaimana caranya, jika kalian bersikeras memperjuangkan hak kalian maka yang berkuasa akan melirik kalian, dengan pandangan baik ataupun buruk. Satu hal yang jelas kutahu adalah kalianlah yang akan mendapatkan keuntungan lebih apabila kalian mendekati kota. Dengan catatan kalian tidak akan diam begitu saja diperlakukan tidak adil.”
__ADS_1
“Kau tidak mengerti, Tuan... dibandingkan kota lain kota ini—”
“Aku tidak mengerti? Yang benar saja! Aku mengerti lebih dari siapa pun bagaimana keadaan kota-kota di negeri ini. Asal kalian tahu, aku berasal dari Desa Mayall, hanya dengan menyebut desa itu saja kalian sudah bisa bayangkan perlakuan seperti apa yang kami dapat,” tukas Luxco jengkel.
“Mereka, para prajurit itu sudah melindungi kalian, sudah memikirkan cara kalian untuk tetap bisa bertahan, jangan hanya diam dan mengeluh. Kalau kalian ingin hidup enak bergeraklah sendiri dan jangan terus-terusan mengandalkan orang lain. Aku akan membantu kalian mengawal perjalanan. Yang bersedia ikut denganku silakan mengikuti, yang tidak... aku tidak peduli,” lanjut Luxco dengan cuek.
Para penduduk saling pandang satu sama lain, masih disertai dengan kegundahan.
“Jadi, begitulah... pada dasarnya kami bukan prajurit dari kota ini, hanya sejauh ini yang bisa kami lakukan untuk kalian. Bagaimanapun kami juga harus pergi ke kota. Mau ikut dengan kami atau tidak itu keputusan kalian,” ucap Ursa sedikit lebih lembut.
Meski masih dengan niat setengah matang mereka akhirnya mulai mengikuti Luxco yang berjalan lebih dulu. Satu per satu, beberapa kelompok, baru kemudian mereka semua berduyun-duyun.
“Perjalanan malam hari tidaklah aman. Diam-diam atau terang-terangan... kemungkinan kita diserang oleh ramplite tidak akan berkurang. Maka dari itu, bagi kalian yang bisa menggunakan kekuatan cahaya tolong buatlah penerangan agar pandangan kita jelas!” perintah Kraz.
“Ya.”
“Baik.”
Bulatan-bulatan cahaya dengan beragam warna mengapung di udara layaknya lentera. Cahaya-cahaya itu lebih dari cukup untuk menemani perjalanan mereka.
“Jika ada yang terluka maupun kelelahan hingga kesulitan berjalan segera melapor! Jangan sampai menghambat perjalanan ini!” Dipha mengumumkan titahnya.
“Baik!”
“Kami mengerti.”
Dengan Luxco yang memimpin jalan dan prajurit yang lain mengawal di sisi-sisi pengungsi tersebut mereka melakukan perjalanan dengan berjalan kaki. Rombongan itu tidak bergerak cepat, tapi mereka tak berhenti sekalipun. Karena jika mereka berhenti dan beristirahat maka akan sulit untuk menggerakkan diri kembali berjalan. Tidak apa-apa memaksakan diri semalaman asal mereka akan baik-baik saja nantinya.
“Benarkah penduduk itu tidak akan apa-apa?” Ursa bertanya cemas.
“Mana mungkin mereka baik-baik saja. Setelah mendapatkan musibah dan pemukiman mereka dimusnahkan, mereka masih harus menghadapi tekanan dari masyarakat kota, mereka juga harus memikirkan cara bertahan hidup. Hal itu akan membebani mereka sangat besar. Jika ketenangan mereka kacau dan kepanikan mulai bermunculan maka mereka akan jatuh dalam keputusasaan. Dampak dari peperangan itu tidak hanya luka fisik dan kematian, melainkan jauh lebih besar daripada itu,” kata Kraz.
“Lalu, bagaimana?”
“Kemungkinan kita akan di kota itu cukup lama, sampai kondisi Kapten pulih. Selama itu para penduduk yang mengungsi setidaknya akan mendapatkan perhatian. Setelah itu, itu adalah urusan dalam kota mereka sendiri. Kita tak bisa ikut campur,” kata Okul menjelaskan.
Ursa memandangi para penduduk dengan tatapan nanar. Ia bersimpati pada mereka. Kalau mereka saja begitu, maka penduduk dari desanya pasti mengalami kesulitan yang lebih berat, pikir pemuda manusia biasa itu.
...***...
Author Notes :
Hai, pembaca sekalian...!
Gimana kabarnya nih? Dan, gimana juga pendapat kalian tentang cerita Terminator Warrior sejauh ini? Baguskah? Jelekkah? Tolong berikan tanggapan kalian biar aku bisa meningkatkan kualitas cerita ini ya...
Up episode barunya bisa setiap hari, tapi jamnya yang mungkin agak random, hehe...
Mungkin ada di kisaran jam 8 sampe 9-nan malem, atau mungkin kadang-kadang jam 8 kurang dikit. Jadi, selalu nantikan up terbarunya setiap hari ya...
Sampai jumpa di up selanjutnya ^_^
__ADS_1