Terminator Warrior

Terminator Warrior
Sega dan Youis


__ADS_3

Sreek!


Seorang pemuda tinggi jangkung dengan kaca mata merobek sebuah poster buronan. Pasalnya poster itu bergambar wajahnya. Tidak hanya itu, poster-poster lain bergambar wajah-wajah temannya juga tertempel di papan pengumuman kayu dengan tulisan : Dicari hidup-hidup. Hadiah bagi yang menemukan. Pertanda, Militer.


“Bagaimana bisa?” gumamnya heran. Ia melihat lembaran kertas itu lagi. Yang tidak ada di sana hanya gambar Alpha dan Ursa. “Jangan bilang kalau mereka—tidak, tidak, tidak! Berpikiran kacau apa lagi aku ini.”


Pemuda itu bernama Sega, seorang Guardian. Belum lama ini ia berkesempatan bertemu dengan Joa. Gadis itu memberitahunya bahwa Alpha dan Ursa menjadi tawanan militer. Tapi, Joa menegaskan juga bahwa keduanya masihlah loyal terhadap desa mereka.


Sega merasa bersalah memiliki pikiran bahwa keduanya mungkin membeberkan mengenai identitas mereka. Ia menghela nafas panjang. Dengan lirih ia mengucap maaf pada orang-orang yang tidak berada di sana.


Set.


Sebuah belati ditekankan pada lehernya dari belakang, diikuti dengan sebuah suara serak berat, “Sega, salah satu penduduk Desa Mayall, akhirnya aku menemukanmu. Tetap tenang dan ikuti aku atau aku tak segan-segan membunuhmu di sini, sekarang juga.”


Sega memang membatu kaget. Namun, tangannya tak kalah cepat menggenggam belati yang tersimpan di pinggangnya sejak sensasi dingin menyentuh lehernya. Ia menariknya cepat, dengan gerakan berkelit lihai ia mengayunkannya pada seseorang di belakangnya.


Orang itu menunduk cepat dan melompat ke belakang. Tampak sangat terkejut dengan serangan tiba-tiba tadi. Saking kagetnya ia terengah-engah. Matanya memandang tak percaya pada Sega yang berlari menerjang untuk menyerangnya.


“Tunggu... tunggu... tunggu! Berhenti! Jangan menyerang! Ini aku! Aku!”


Secara mendadak Sega menghentikan langkahnya. “Aku?”


“Ya, aku!” Orang itu membuka kain penutup wajahnya cepat. “Aku Youis!”


Mata Sega melebar dalam keterkejutan. Senyumnya mengembang cemerlang. “Youis!” ulangnya.


“Ya, ini aku! Bagaimana, apa kau sangat merindukanku, huh?”


“Sama sekali tidak. Aku hanya kaget kau muncul tiba-tiba dengan cara seperti itu,” kata Sega datar. Ia telah kembali pada dirinya yang normal, seseorang yang serius. “Kenapa kau ada di sini?”


“Ah, mengenai itu... sebenarnya tadi aku sedang dikejar-kejar—”


“Itu dia!”


“Tangkap dia! Jangan sampai lepas!”


“Kejar dia! Jangan biarkan orang itu kabur!”


Sekelompok prajurit menuju mereka dengan lari cepat. Youis panik.


“Lari, Sega! Mereka mengincar kita!”


Sega mengikuti langkah cepat temannya. Mereka bermain kejar-kejaran dengan prajurit di jalan-jalan kota. Tidak sekali dua kali mereka salah ambil tikungan dan malah terkepung. Namun, sebisa mungkin mereka terus lari tanpa menyerang para prajurit.


Sraak!


Mereka berdua menahan langkah. Dari ujung tikungan tempat mereka berbelok menyerbu enam orang prajurit. Sega dan Youis berbalik, hendak kembali ke jalan mereka tadi, sayangnya prajurit yang mengejar sudah menutup jalan itu.


“Lewat atas!” teriak Youis. Ia lalu melompat, diikuti oleh Sega.


Mereka berlari-lari di atap bangunan. Tombak-tombak cahaya dilemparkan pada mereka. Mereka menghindarinya sambil terus berlari dan melompati atap-atap bangunan.

__ADS_1


“Uwaa!”


Sega menangkap lengan Youis yang terpeleset genting. Untunglah ia sempat. Youis mendesah lega karena ia tidak jadi jatuh dari tempat yang tinggi. Namun, kelegaannya tidak lama karena prajurit tiba-tiba muncul di bawah dan menusuk-nusuknya dengan tombak.


“Angkat aku, Sega! Cepat! Atau mereka akan menangkapku!”


Bukannya menurutinya, Sega malah membawa Youis berlari dalam keadaan bergelantungan. Ia tidak sempat mengangkat pemuda itu.


Karena saat ini mereka berlari di sisi miring atap maka lari mereka tidak stabil. Genting-genting atap bangunan longsor ke bawah, menimpa prajurit yang mengejar, tapi itu tidak menghentikan mereka.


Karena keseimbangan yang buruk dan ditambah membawa beban di salah satu sisi tubuhnya, Sega akhirnya terperosok juga ke bawah. Ia dan Youis saling menimpa. Mereka segera berdiri karena mendengar seruan prajurit yang mengejar.


“Itu mereka!”


“Jangan biarkan kabur!”


“Kepung mereka berdua!”


Youis berseru panik, “Oh, sial!”


“Ke sini!”


Sega mengajaknya kabur lewat jendela yang terbuka. Mereka menyelinap lewat jendela itu. Ternyata yang mereka masuki adalah tempat makan. Orang-orang ricuh dengan kegaduhan yang ditimbulkan Sega dan Youis.


“Maaf!” seru Sega tanpa berhenti berlari.


“Maafkan kami! Kami tidak sengaja melakukannya!” teriak Youis.


Mereka melesat keluar dari kedai makan itu. Keduanya berlari lurus di jalan yang lebarnya empat meter. Ada gang kecil di sebelah kiri, mereka ambil jalan itu. Sayangnya pilihan mereka salah. Seregu prajurit telah menunggu mereka di ujung gang.


“Bagaimana, Sega?”


“Tidak ada pilihan lain. Lari terus ke depan.”


“Di sana ada prajurit yang menghadang.”


“Kalau begitu kita hanya perlu menghindarinya.”


Sega lanjut berlari di gang panjang itu. Sebelum ia mendekati prajurit yang telah menunggu mereka, pemuda itu membuat semacam per di bawah sepatunya menggunakan kekuatan cahayanya. Ia berlari sambil mengambil ancang-ancang untuk melompat.


“Youis, pegang tanganku!” perintahnya.


“Huh?! O-oh, ya!”


Youis meraih tangan Sega yang diulurkan ke belakang. Lalu, dengan satu tolakan yang kuat pemuda itu melompat melewati atas kepala regu prajurit yang menghadang. Lompatannya tidak terlalu tinggi akibat Youis menjadi beban. Mereka hampir-hampir tertusuk oleh tombak-tombak tajam kalau saja Youis tidak mematahkan tombak-tombak itu menggunakan tebasan pedang cahayanya.


Mereka berdua mendarat dengan aman di belakang prajurit yang mengepung. Tanpa mengambil nafas mereka segera berlari lagi di jalan yang ramai oleh lalu lalang orang-orang. Tidak sekalipun mereka menoleh ke belakang untuk mengecek prajurit.


“Lewat sini!”


Sega menarik lengan Youis yang hendak berlari lurus untuk berbelok ke jalan keluar yang diketahuinya. Mereka berlari kencang hingga akhirnya mencapai luar kota dan terus berlari hingga masuk ke dalam hutan.

__ADS_1


Di hutan pun mereka terus berlari, tidak mengambil jalur lurus, melainkan berkelok-kelok agar jejak mereka tidak terlacak. Masalah tersesat urusan belakangan. Tersasar ke daerah asing sudah jadi makanan sehari-hari mereka sejak lima tahun belakangan.


Brukh!


Youis menjatuhkan dirinya di atas rerumputan di bawah pohon. Ia berbaring telentang. Peluh yang mengalir membasahi bajunya. Nafasnya tersengal-sengal seperti orang mau mati. Pemuda itu sampai membuka mulutnya untuk menambah oksigen masuk.


Sedangkan untuk Sega, pemuda itu bersandar pada batang pohon besar tidak jauh dari Youis. Kondisinya tidak jauh berbeda dengan temannya itu. Akan tetapi, Sega lebih mampu mengatur nafasnya lebih dulu.


“Ta-tadi itu... hah... hah... menyenang...kan, bukan?” Youis bertanya masih dengan terengah-engah.


“Apanya?! Melelahkan baru benar!” balas Sega bersungut-sungut. “Lagian, kalau kau tengah dikejar-kejar kenapa malah membuat lelucon padaku dan bukannya memberitahu sejak awal? Kalau kau mengatakannya sejak kita bertemu maka kita bisa pergi diam-diam tanpa keributan,” lanjutnya lagi dengan lebih serius.


Youis meliriknya dengan seringai lebar. Ia menjejakkan kedua kakinya di udara, lalu dengan sebuah dorongan ia bangkit berdiri. Ditepuknya pundak Sega dengan kasar.


“Ayolah, Kawan! Tidak ada salahnya sekali-kali bermain-main. Lagian kita sudah lama tidak berjumpa.”


Sega tidak menanggapi hal tersebut. Pikirannya kembali tertuju pada bagaimana wajah mereka bisa tercetak di poster buronan. Dan, satu-satunya alasan yang terpikirkan tetap hanya pada Alpha dan Ursa.


“Hei, Sega, mengenai poster kita, bagaimana menurutmu?” tanya Youis tiba-tiba.


“Joa memberitahuku kalau Alpha dan Ursa tertangkap dan jadi tawanan di militer.”


Youis tersentak kaget mendengarnya. “Kau mau bilang kalau merekalah yang membocorkan informasi kita?”


“Bukan begitu!” sangkalnya cepat. “Joa sendiri sudah memastikan kalau mereka berdua masih loyal.”


“Kalau begitu... kenapa kau berkata seperti itu tadi?”


“Aku hanya terpikirkan,” katanya lesu.


“Menurutku mereka tidak akan menjual kita, teman-temannya. Tetapi...”


“Tetapi?” Sega membeo.


“Apabila benar mereka yang menyebarkan informasi mengenai kita semua aku yakin itu pasti karena sebuah keadaan di mana mereka tidak bisa menghindar kecuali menjawabnya. Aku juga percaya kalau mereka tidak blak-blakan mengatakan segalanya. Karena bagaimanapun mereka adalah Guardian.”


Sega tersenyum lembut. “Mereka juga adalah teman kita.”


“Ya, benar!” sahut Youis. “Aah...! Tiba-tiba aku jadi penasaran dengan ini dan ingin memastikannya sendiri. Iya, kan, Sega?”


Pemuda itu berwajah bingung. “Maksudmu?”


“Hehehe...! Tentu saja kita akan menemui Alpha dan Ursa, lalu menanyakannya sendiri. Kalau benar mereka yang membocorkan informasi tentang kita, maka aku akan membalas mereka dengan pukulan telak!”


Sega berdiri. Ia membersihkan celananya dari rumput-rumput kering yang menempel. “Memangnya kau tahu di mana keberadaan mereka sekarang ini?” tanyanya.


“Aku tidak yakin, tapi mungkin mereka ada di markas militer pusat, di Milky Way. Aku pernah dengar desas-desus kalau mereka menyimpan tawanan di sana.”


“Ah, begitu ya.”


Youis merentangkan kedua tangannya. Dengan senyum lebar ia berkata, “Ayo temui teman lama kita!”

__ADS_1


“Ya.”


...***...


__ADS_2