
“Terima kasih atas sambutan hangatmu selama kami di sini, Sir Aldebaran. Terutama atas kebaikanmu membiarkanku dirawat dengan perawatan yang terbaik. Mungkin, tanpa kebaikanmu ini aku tidak akan selamat,” ucap Algol merendahkan diri, sebab ia tahu sebenarnya Aldebaran tidak rela.
“Tentu. Kalian sudah membantu penduduk itu bagaimanapun, sudah jadi kewajibanku untuk membalasmu,” katanya.
Aldebaran melirik sekilas pada Alpha. Dan gerik itu tidak lepas dari pengamatan Algol. Algol pun berkata ringan.
“Sir, aku menghargai perhatianmu terhadap tawananku. Agar tidak mengkhawatirkanmu, Sir, aku akan menjaganya baik-baik supaya mereka tidak lepas dari kami.”
Aldebaran tahu maksud sebenarnya Algol adalah menyindirnya yang telah menghasut Alpha. Namun, dia tidak ambil pikir. Dibalasnya perkataan Algol dengan senyum acuh.
“Semoga perjalananmu aman dan menyenangkan, Mr. Algol.”
“Sekali lagi terima kasih, Sir.”
Algol naik ke kudanya. Ia mengangguk kepada Aldebaran dan setelah itu menyentak kekang kudanya yang kemudian berlari kencang. Rekan-rekannya mengikuti di belakang. Hanya Okul yang memberi salam perpisahan selain Algol. Sedangkan Alpha, pemuda itu malah menyeringai yang entah maksudnya apa kepada Aldebaran.
Mereka melintasi jalan utama yang sepi, sehingga tidak perlu menurunkan kecepatan laju kuda. Alpha sempat bertemu pandang dengan Margaret juga Ferdinand, keduanya menatap rombongan kecil itu hingga tak tertangkap mata lagi.
Algol memerintahkan mereka agar melewati jalan-jalan utama demi menghindari serangan sergapan dari ramplite. Perjalanan pulang kali ini diiringi banyak istirahat. Bukannya apa-apa, Okul memutuskan hal tersebut karena memikirkan kondisi tubuh Algol yang belum pulih sepenuhnya. Bahkan, tidak hanya sekali kapten mereka mengalami demam selama perjalanan.
Waktu dua puluh delapan hari yang paling cepat bisa ditempuh bolak-balik dari Kota Milky Way ke Desa Mayall sudah molor hingga mencapai dua bulan gara-gara insiden di Kota Bode serta kejadian yang menyertainya. Sudah selama itu dan mereka masih belum mencapai Milky Way.
“Hari ini kita menginap di perkotaan Kota Andromeda. Segera cari penginapan sebelum hari gelap.” Okul memberi tahu. Perintah itu mendapat tanggapan sigap dari rekan-rekannya.
Algol yang berkuda di sampingnya mendekati Okul, menyejajarkan kudanya agar berlari beriringan dengannya. “Aku mengerti simpatimu, tapi kau tidak harus selalu memedulikanku.”
“Jangan melantur, Kapten. Kau demam lagi hari ini. Jika kita tidak istirahat kondisimu justru akan memburuk.”
“Aku ba—”
“Kumohon jangan mengaku kalau kau baik-baik saja. Terakhir kali kau mengatakan itu kau malah terjatuh dari kudamu akibat panas tinggi. Pokoknya kita akan beristirahat di kota ini sampai kau benar-benar sembuh baru melanjutkan perjalanan lagi.”
Mendengar kalimat-kalimat itu dikatakan dengan tegas membuat Algol urung memprotes. Okul benar. Itulah mengapa ia tak bisa menyanggah perkataan dari wakil kaptennya tersebut. Lagi pula, Okul adalah orang yang keras kepala, dia tidak akan mendengarkan protesnya bila sudah membuat keputusan.
Kawasan mereka berada masihlah bukan kawasan kota utama, melainkan masih di pinggir dari kota besar Andromeda. Namun, meskipun begitu penampakan kotanya tak kalah dengan kota utamanya sendiri. Mewah dan indah.
Di perempatan besar selalu ada menara jam yang dihiasi dengan batu-batu cahaya yang dibentuk menyerupai bunga. Bangku-bangku batu dipahat dengan gaya artistik, tidak lupa pula ditanam batu cahaya warna-warni yang berkilau kala siang dan berpendar cantik di malam hari. Jalanannya rata dan bersih, dengan lubang saluran air bertutup besi dengan gambar bintang beragam warna.
Keramaian dari kota pun tidak perlu dipertanyakan lagi. Kereta-kereta kuda yang mengusung Tuan dan Nyonya Kaya tak henti hilir mudik. Pejalan kaki yang menyusuri jalan-jalan hampir selalu dengan pakaian apik dengan ditemani pelayan dengan setelan pantas yang membawakan barang majikannya.
Kota Andromeda benar-benar meninggalkan kesan mendalam bagi Alpha dan Ursa yang udik. Indah dan mewah tak cukup memuaskan bibir mereka dalam menyebut kecantikan dari kotanya para bangsawan dan orang penting tersebut. Elegan. Agung. Mengagumkan. Semua itu mereka rangkai dengan kata wah setiap menemui objek yang memanjakan mata.
“Hei! Jangan mempermalukan kami dengan bersikap seperti itu!” tegur Kraz dengan suara geli.
“Mr. Kraz, kau boleh mengejek kami, tapi kota ini benar-benar menakjubkan!” seru Alpha tak keberatan dinilai kampungan.
“Aku berani bertaruh kalau kalian akan melongo jika melihat kota utamanya,” ujar Diphda tak kalah gemas. “Asal kalian tahu, kota utamanya sangat-sangat mewah.”
“Kita akan ke sana?” tanya Ursa tertarik.
“Hanya lewat,” sahut Okul singkat. Ia membelokkan kudanya bukan ke jalan utama, yang mana membuat Kraz bertanya karena mereka harus mencari penginapan. “Kita pergi ke istal dulu untuk menitipkan kuda,” jawabnya atas keheranan rekannya.
“Kelihatannya kau sudah tahu sebuah tempat, Okul,” kata Diphda.
__ADS_1
“Ya. Karena aku pernah beberapa kali pergi ke sini untuk suatu urusan. Pemilik istal ini sudah kukenal dengan baik.”
“Memangnya penginapan di sini tidak menyediakan istal sekalian? Padahal mewah begini.”
“Walaupun kota ini tampak mewah, tapi tetaplah masih pinggiran, Alpha. Fasilitasnya tentu saja berbeda dengan kota utamanya,” papar Diphda.
Okul membawa mereka ke sebuah istal yang tidak terlalu besar yang masih di pinggiran kota itu. Kandang kuda yang tak begitu memiliki banyak ruang itu bersekat-sekat kayu yang tampak usang, tapi masih terlihat kokoh. Lantai tanahnya bersih. Di depan istal ada dua ekor kuda tercencang.
Okul turun dari kudanya. Ia berjalan ke arah rumah yang berada tepat di samping istal. Bagian depan rumah terdapat sebuah ruang kayu dengan jendela besar yang terbuka lebar. Ada papan harga yang menunjukkan biaya penitipan kuda di sana. Okul mengetuk dengan keras, membuat pemuda yang tengah berjaga di dalam ruangan itu tersentak bangun.
Pemuda tersebut yang ternyata adalah seorang manusia biasa tersenyum lebar. Dengan canggung ia menyapa Okul terbata-bata. “Se-selamat datang dan selamat sore, Sir,” sapanya dengan senyum profesional yang sayangnya gagal.
“Deimos. Apa Tuanmu ada?”
“Mr. Sinope tengah berada di luar, Sir. Ia mengajak jalan-jalan kuda pelang—ah! Lihat di belakangmu! Dia baru saja kembali,” kata Deimos berseru keras. Ia melambaikan tangannya pada tuannya. “Mister! Sir Okul datang berkunjung!” teriaknya.
“Ya! Aku tahu! Aku bisa lihat sendiri!” sahut pria yang baru turun dari kuda jantan cokelat. Ia menggiring kuda itu masuk ke istal. Tak lama kemudian pria dari golongan manusia biasa itu menghampiri regu Okul dan Deimos. “Lama tak jumpa, Sir. Bagaimana kabarmu?”
“Kabar baik, Mr. Sinope. Aku butuh bantuanmu.”
“Dengan kuda-kuda, kan? Aku mengerti. Apakah semuanya adalah rekan-rekanmu? Dan kau ingin menitipkan mereka semua?”
“Ya.”
“Baguslah! Aku bisa mendapat banyak uang sewa kandang darimu!” ujarnya semringah.
Okul membalasnya dengan senyum simpul. “Maaf, Mr. Sinope, tapi kali ini aku terpaksa meminta kemurahan hatimu.”
“Sebelum itu perkenalkan dulu, ini kaptenku, Mr. Algol Perseus.”
Mr. Sinope menjabat tangan Algol yang diulurkan. “Senang bertemu denganmu, Sir. Kau punya anak buah yang hebat,” katanya merujuk pada Okul. Namun, setelah melepaskan tangan Algol wajah tua Sinope yang berkerut semakin dalam kerutannya.
Melihat reaksi tersebut Okul langsung bicara. “Seperti yang kau rasakan, Mr. Sinope. Kaptenku tengah menderita demam tinggi. Kami butuh penginapan dan juga dokter untuk mengobatinya. Tapi, karena kami sedang kembali dari misi uang kami tidaklah banyak.”
Mr. Sinope mengangguk paham. “Artinya kau meminta diskon?”
Okul mengangguk.
“Aku tidak keberatan. Hanya jika kau memenuhi syaratku.”
“Selama kami bisa memenuhinya, Mister, kami tak keberatan,” ucap Algol.
“Aku sedikit sibuk belakangan ini. Aku tidak bisa membiarkan Deimos mengurus semua kuda-kuda itu seorang diri, apalagi dengan bayaran yang didiskon, jadi aku mau kalian mengganti potongan harga itu dengan bantuan tenaga,” cakap Mr. Sinope.
“Baiklah. Kami tidak keberatan. Berapa orang yang kau butuhkan?”
“Dua orang cukup, Sir Kapten.”
Algol mengangguk setuju. “Alpha. Ursa. Kalian akan membantu di istal selama kita di sini.”
“Ehh?! Kenapa harus kami?!” serunya tak percaya.
“Kenapa, katamu? Tentu saja tidak kenapa-kenapa. Tugas itu cocok untuk kalian. Jangan lupakan posisi kalian,” ujar Kraz jail dengan senyum lebar.
__ADS_1
Alpha cemberut mendengar putusan itu. Ursa hanya kalem. Ia sudah bisa menebak dari awal kalau pasti mereka berdualah yang akan dikorbankan.
“Terima kasih, Mr.Sinope.”
“Tidak perlu berterima kasih, Wakil Kapten. Ini adalah pertukaran yang setara. Dia tidak membantu kita, melainkan hanya menjalankan bisnisnya,” sahut Alpha dongkol.
Melihat sikap tak sopan Alpha membuat Kraz gemas untuk memukul kepala pemuda tujuh belas tahun itu. Dan ya, Kraz melakukannya dengan keras hingga membuat Alpha tersungkur ke depan. Beruntung, Alpha sempat mempertahankan keseimbangannya hingga tak sampai jatuh. Namun, hal tersebut membuat kalung kristal ajaib yang tersembunyi di belakang bajunya terlempar keluar.
Alpha dan Ursa sangat terkejut dengan hal tersebut, mata mereka melebar sebab kalung Alpha ternyata memendarkan cahaya. Ursa diam-diam melihat ke dalam balik pakaiannya. Kalungnya juga bereaksi sama.
‘Kalungnya bercahaya... itu artinya ada penduduk desa kami di dekat sini!’ pekik Ursa dalam hati.
“Oh! Anak muda, kau memiliki kalung yang bagus,” ujar girang Mr. Sinope sambil memegang dan mengamat-amati kalung Alpha. “Ini kalung jimat, kan?”
“Ya...” jawab Alpha lirih. Ia tengah berusaha menyamarkan wajah kagetnya. Ia tak ingin Algol atau siapa pun dari regunya menaruh curiga pada kalung itu.
“Hm, sudah kuduga. Ini sama persis seperti kalung milikmu, Deimos,” lanjut Mr. Sinope. Ia membawa Deimos mendekat dan mengeluarkan kalung serupa dari balik baju pekerjanya tersebut. “Nah, kan. Punyamu juga menyala.”
Ursa, Alpha dan Deimos saling tatap satu sama lain. Mereka sadar akan situasi. Dan sebisa mungkin ketiganya menekan keterkejutan mereka.
“Ah, benar. Ini pasti dibuat dari bahan yang sama,” ujar Deimos setelah mereka terdiam dalam jangka waktu yang janggal.
“Ya, ya! Pasti begitu! Apa kau juga mendapatkannya dari sebuah rombongan dagang yang berasal dari selatan, Deimos? Karena kami mendapatkannya juga dari mereka setelah kami membantu mereka dengan sedikit hal kecil,” sahut Ursa dengan cepat.
“Tidak, kau salah. Deimos mengatakan padaku kalau kalung itu merupakan warisan dari orang tuanya. Karena itulah ia sangat menjaganya. Benar begitu kan, Deimos?”
“Errr... begitulah, Mister,” jawabnya terhadap Mr. Sinope.
Ursa mendelik akibat rencana untuk kerja sama demi mengelabuhi asal-usul kalung kristal ajaib mereka gagal. Ia melirik Alpha. Berharap pemuda itu bisa mendatangkan ide tak terpikirkan yang bisa menyelamatkan mereka. Sayangnya Alpha sudah kelewat panik dan hanya kecemasan yang memenuhi dirinya.
“Aku mencari-cari orang yang menjual kalung itu, tapi aku tidak bisa menemukannya, sedang kalian bisa dengan mudah. Anehnya lagi, kalung itu menyala tiba-tiba, tanpa ada sebuah trik. Sebenarnya kalung jimat seperti apa itu?” tanya Mr. Sinope.
“Ah!” Ursa berseru. Walau dia masih belum terpikirkan ide untuk berkelit, tapi ia merasa perlu melakukan itu agar mereka tidak lebih menaruh kecurigaan pada kalung mereka yang masih menyala tersebut. “Bagaimana menurutmu, Deimos?” tanya Ursa yang gagal memikirkan sebuah cara.
“Itu...”
Deimos pun tak sanggup memberikan alasan. Setelah satu kata yang ia ucapkan tadi ia hanya bergumam tak jelas tanpa kata yang keluar. Ursa, Alpha, dan Deimos merasa atmosfer semakin bertambah berat.
Hal itu justru membuat orang-orang memasang raut penasaran semakin jelas. Pasalnya, kecuali Mr. Sinope, tidak ada dari mereka yang tahu kalau kalung milik Alpha maupun Ursa bercahaya. Ini juga adalah pertama kalinya mereka melihat sebuah kalung yang berbahan kristal dan bukannya batu cahaya bisa menyala begitu saja, bahkan saat berada di tempat yang masih terang.
Ursa menelan ludahnya. ‘Gawat!’ batinnya cemas.
...***...
Fun Fact :
- Ferdinand, Margaret, Mab adalah nama-nama satelit alami dari planet Uranus.
- Deimos merupakan salah satu satelitnya Mars.
- Sinope ialah salah satu nama satelit Jupiter.
- Sedangkan Enceladus adalah salah satu nama satelit di planet Saturnus.
__ADS_1