
Lewat tengah malam mereka baru sampai di Kota Bode. Hanya Algol yang melaporkan kedatangan serta tujuan mereka ke kota itu di markas militer terdekat sementara yang lain berjaga-jaga di dekat pemukiman penduduk. Mereka beristirahat secara bergilir.
Malam berlalu dan tidak ada kejadian apa pun. Algol kembali keesokan harinya. Ia bilang mereka diizinkan membantu menjaga keamanan pemukiman tersebut dan katanya prajurit dari kota itu akan dikirimkan siang nanti.
“Tidak sekarang? Mereka terlalu santai,” komentar Kraz.
“Bukan terlalu santai, tetapi enggan,” ralat Luxco. “Pemukiman penduduk di sini ditinggali oleh orang-orang yang memiliki darah campuran, yang mana mereka tidak begitu disukai oleh penduduk lain. Bahkan di kota utamanya pun pemukiman-pemukiman antar manusia biasa dan manusia bintang terpisah. Jangan berharap lebih, prajurit yang akan datang mungkin hanya sedikit. Makanya mereka rela-rela saja daerah kekuasaannya dicampuri prajurit dari kota lain.”
“Karena itulah kau meminta bantuan kami?” tanya Okul.
“Benar.”
“Ooooii! Kami dapat banyak makanan!” Alpha berseru dari kejauhan. Ia menaruh banyak makanan setelah sampai di bawah pohon rindang tempat mereka berteduh. “Ini semua gratis,” katanya.
“Bagaimana bisa?” tanya Okul.
“Mereka bilang karena aku sama seperti mereka, sama-sama manusia campuran. Lalu saat kujelaskan bahwa kita akan di sini sementara waktu untuk menjaga pemukiman mereka langsung memberiku semua ini. Ternyata orang-orang di sini sangat baik.”
Luxco tertawa keras mendengar itu. “Ternyata benar, membawamu ke sini memang pilihan bijak.”
Okul meliriknya tajam. “Jadi kau sudah merencanakan ini sejak awal?”
“Karena tidak mungkin kita menyelamatkan penduduk tanpa bekerja sama dengan penduduk. Setidaknya dengan membawa Alpha kita sudah mendapatkan simpati mereka,” tutur Luxco ringan. Ia mengambil satu roti dan langsung menggigitnya serta mengunyahnya dengan cepat. “Bagaimana Alpha, bukankah menyenangkan bisa menjadi orang yang berguna hanya dengan penampilanmu saja?”
“Benar sekali. Aku tidak pernah mengeluh dengan penampilanku,” sergahnya.
“Bohong. Kau selalu saja mengeluh karena kau tidak punya wajah menawan seperti ibumu. Kau suka merengek tentang itu.”
“Ursa, diam!”
“Oho? Jadi begitu... kau ini tipe yang suka merajuk pada orang tuamu, huh?” Luxco menggoda.
“Aku tidak seperti itu!” sangkalnya. Ia lalu mengarah pada Ursa dan berniat membalas dengan pukulan tapi bisa dihindari dengan mudah oleh Ursa. Akhirnya mereka saling mencoba mengenai wajah satu sama lain.
Diphda yang memperhatikan pertengkaran kecil itu bergumam, “Mereka terlalu santai. Aku memang tidak menganggap mereka sebagai tawanan karena sudah lama bersama mereka, tetapi melihat mereka bertindak tidak seperti tawanan juga membuatku kesal.”
“Aku tahu! Rasanya seperti keberadaan kita sama sekali tidak membuat mereka tertekan!” sahut Kraz. “Aku senang dianggap sebagai senior mereka. Tapi jika melihat mereka bahkan tak sungkan padaku selaku pengawas mereka itu rasanya...!”
“Ya, ya, aku paham... aku mengerti perasaanmu, Kraz.”
“Apa-apaan yang kalian bicarakan itu? Bagaimanapun sikap mereka tetap tidak akan mengubah kedudukan kita,” tegur Algol. “Daripada cuma berdiam diri di sini lebih baik berkeliling dan cari informasi mengenai si pintar yang bisa membuat doping itu.”
“Baik.”
“Oke.”
“Siap laksanakan perintah, Kapten.”
Okul, Kraz dan Diphda bergantian menjawab. Tiga orang itu lalu berpencar. Algol mengamati Ursa dan Alpha yang masih bertengkar lalu memutuskan untuk mendekat ke sisi Luxco.
“Mereka masih berkelahi, huh.”
“Ini bukan perkelahian lagi, melainkan latih tanding,” jawab Luxco tanpa mengalihkan pandangannya dari Alpha-Ursa. “Kudengar kau adalah kapten dari regu yang mengawasi mereka—”
__ADS_1
“Algol Perseus, namaku.”
“Seorang beta ya,” gumam Luxco. Lalu ia kembali melanjutkan. “Kalau kau mengajakku berkenalan, maka salam kenal. Luxco namaku. Dan hanya itu.”
“Seperti yang selalu kupikirkan, kenapa orang-orang Mayall memiliki nama-nama yang aneh? Bahkan Alpha, walaupun namanya adalah Alpha tetapi kekuatannya delta. Namamu juga tidak menunjukkan asal-usulmu.”
“Asal-usul ya...” beo Luxco. “Di desaku yang mana menerima dan memperlakukan semua golongan manusia dengan sama menganggap kalau memberi nama sesuai dengan asal-usul, baik itu dari keturunan mana kekuatan cahaya mereka atau dari keluarga besar mana mereka, itu dianggap menyombongkan diri dan merendahkan orang lain yang tidak memilikinya. Makanya, kecuali mereka yang pendatang hampir seluruh orang yang berasal dari Desa Mayall memiliki nama-nama yang unik. Itu sudah jadi semacam kekhasan milik kami dan tidak begitu memiliki makna besar, tetapi filosofinya masih dipegang.”
“Ketimbang unik malah terdengar aneh di telingaku.”
“Aku tidak menyalahkanmu, toh artinya sama saja, hanya sudut pandang saja yang membedakannya,” balas Luxco.
“Ho...”
“Omong-omong, Sir Algol, kenapa kau menjadikan mereka tawananmu? Apa yang kau inginkan dari mereka?” tanya Luxco datar.
“Hanya kebenaran mengenai penyerangan desa kalian lima tahun yang lalu.”
“Mereka tidak tahu apa-apa.”
“Kau benar. Tetapi menyimpan mereka sebagai tawanan bukan hal merugikan,” kata Algol. “Bagaimana denganmu? Apa kau tahu sesuatu? Sebagai balasan informasimu aku akan membiarkanmu bertindak sesukamu untuk mendapatkan tujuanmu.”
“Percuma bertanya padaku, Sir. Aku hanya penduduk desa biasa sekalipun aku Guardian. Hanya pendiri desa dan para petinggi yang mengetahui itu,” jawab Luxco.
Ia lalu berdiri dan meregangkan kedua tangannya. “Tapi jika kau ingin membantu maka sebaiknya kau mengincar ramplite-ramplite itu saja, terutama yang kuat dari golongan satu, mereka bisa memberimu informasi. Pada dasarnya musuh kita adalah sama. Jika ingin tahu alasan jelasnya lebih baik bertanya pada si pelaku, kan?”
“Memang.” Algol mendengus. Ia memperhatikan Luxco yang hendak pergi mendekati Alpha dan Ursa lalu menghentikannya. “Kudengar dari Ursa kalau kau adalah orang yang kuat. Bisa mengalahkan seratusan ramplite dalam semalam.”
Mendengar itu Luxco berhenti mendadak.
Luxco kembali melanjutkan langkahnya.
“Itu bukanlah kisah tentang kehebatan, melainkan kegagalan besar,” katanya dengan wajah datar.
Siang itu dua regu kecil prajurit yang diminta Algol datang ke tempat mereka bermarkas. Algol tertegun mengetahui jumlah orang yang dikirim hanya sepuluh orang. Ia geleng-geleng kepala. Pemukiman itu benar-benar didiskriminasi, pikirnya.
Sore hari saat mereka berempat sudah kembali ke rumah yang disewakan oleh penduduk Okul, Kraz serta Diphda telah menunggu dan membawa kabar bahwa sang pintar yang dimaksud Luxco bernama Anser Vulpecula.
Mereka melakukan penyelidikan juga tentangnya melalui orang-orang di pemukiman. Kata mereka Anser bukan orang yang ramah, seseorang yang jarang bersosialisasi, dan sangat menutup diri. Kesan tentang pria itu sangat misterius. Tersebar rumor buruk pula mengenainya. Penduduk bilang Anser hanya seorang pendatang di pemukiman mereka.
Okul melaporkan kalau Anser tidak mau menemui mereka dan malah mengurung dirinya di ruang bawah tanah kediamannya. Ketika mereka memaksa bertemu atas dasar tugas kemiliteran Anser malah memasang barier di sepenjuru rumahnya. Jelas-jelas menolak bekerja sama untuk diinterogasi.
Luxco kesal mendengar itu.
“Biar kuhancurkan penghalang itu sekalian rumah-rumahnya!” geramnya marah.
“Tunggu sebentar!” Algol menahannya. “Akulah yang ditunjuk sebagai komandan dalam operasi kali ini. Aku tidak mengizinkanmu berbuat seenaknya. Dia juga adalah seorang penduduk,” katanya dengan mata memicing.
Luxco menyingkirkan lengan Algol dengan kasar. “Aku tidak peduli. Aku juga sudah menjadi buronan, melakukan satu atau dua hal buruk seperti mengganggu keamanan penduduk tidak ada bedanya,” katanya sarkastik dan tetap melanjutkan langkahnya.
“Okul. Kau ambil alih di sini. Aku akan pergi dengannya untuk mencegahnya melakukan hal-hal berbahaya.”
“Dimengerti,” jawab si Wakil Kapten.
__ADS_1
Algol lalu menoleh pada Alpha dan Ursa. “Meski aku tidak di sini sebaiknya kalian tidak mencoba kabur. Okul dan yang lain mungkin akan mematahkan tulang-tulang kalian jika mau coba-coba.”
“Baik... tidak akan...” Alpha menjawab main-main. “Tenang saja, aku malas bergerak jika aku kekenyangan.”
Algol kemudian mengikuti Luxco yang lebih dulu keluar. Mereka pergi ke rumah yang paling terang karena diselimuti barier cahaya. Luxco memanggil-manggil si pemilik rumah, namun tidak mendapatkan jawaban sama sekali. Ia pun menghancurkan barier rumah itu dengan sedikit usaha lebih karena ternyata barier cahaya yang melindunginya lumayan kuat.
“Jangan merusak yang tidak diperlukan,” peringat Algol.
“Merusak kunci rumah tidak masuk hitungan, kan?”
Algol merasa jengah, namun merasa berkepentingan untuk menjawab. “Dalam kondisi darurat tidak.”
Baru saja Luxco hendak mengarahkan tangannya ke gerendel pintu ketika Alpha datang menginterupsi. Ia terengah dengan wajah panik.
“Gawat, Kapten!” lapornya.
“Ada apa?” tanya Algol yang langsung berubah waspada.
“Para ramplite telah menyerang dari segala penjuru!”
“Apa?! Bagaimana dengan prajurit yang lain?”
“Penduduk melaporkan kalau mereka kewalahan!” jawab Alpha. “Tidak ada waktu untuk mendobrak pintu rumah itu sekarang! Kita harus segera mengamankan penduduk!”
“Baiklah. Aku mengerti,” ucap Algol tegas. Ia melirik Luxco melalui sudut matanya.
“Aku akan turut membantu,” kata Luxco paham. “Alpha, apa kau tahu di mana tempat yang paling banyak diserbu ramplite?”
“Di selatan.”
“Baiklah. Aku ke sana. Kalian cari tempat pertarungan yang lain.” Dengan kecepatan tinggi Luxco segera menghilang dari sana, hanya dalam hitungan detik.
“Wakil Kapten Okul telah memerintahkan semua orang berpencar. Mr. Algol, kau ikutlah denganku.”
“Ya.”
...***...
Author Notes :
Hai pembaca ^_^
Pertama-tama, maaf karena kemaren gak up, author lagi kurang fit kondisi badannya, jadi maaf ya...
Kedua, terima kasih selalu buat pembaca semua yang setia membaca cerita ini, maaf kalau masih ada kurangnya, dan tolong berikan pendapat kalian tentang cerita ini kalau berkenan, biar kalau ada kekurangannya bisa author perbaiki.
Yang terakhir, ditunggu lagi ya kunjungannya di next up, nantikan kelanjutan ceritanya dan nikmati keseruannya (kalau menurut kalian seru, hehe). Bye!
Fun Fact :
- Alpha, beta, gamma, delta, serta lain sebagainya adalah penamaan bintang menggunakan abjad Yunani. Penamaan tersebut menunjukkan urutan terangnya suatu bintang dalam rasi/konstelasi tersebut.
- Nah, di cerita ini jika kekuatan seseorang tingkatannya adalah alpha maka berarti mempunyai jumlah kekuatan cahaya yang besar, di bawahnya ada beta, gamma, dan seterusnya. Namun hal tersebut tidak menentukan seseorang dengan tingkat kekuatan alpha selalu kuat dan tingkat pi atau yang lebih rendah lemah ya... karena kekuatan itu masih bisa dikembangkan dengan berlatih. Buktinya, walaupun Okul memiliki tingkat kekuatan cahaya pi namun dia tetap kuat.
__ADS_1
Jadi penamaan alpha, beta, dsb di cerita ini gak ada hubungannya sama sekali dengan alpha maupun beta dalam dunia omegaverse ya... semoga gak ada yang salah paham ^_^