Terminator Warrior

Terminator Warrior
Pertarungan Pun Dimulai


__ADS_3

Alpha membawa Algol ke arah utara pemukiman. Hanya satu prajurit dari tiga yang berjaga di tempat itu yang tengah menghadapi ramplite. Ia tampak kewalahan karena jumlah lawan yang tidak seimbang.


Melihat kesulitan yang dihadapi prajurit itu Algol langsung menggunakan lengan cahayanya untuk menarik mundur prajurit tersebut. Alpha kemudian bertindak cepat dengan menyerang ramplite tersebut menggunakan Wind Slash miliknya.


“Di mana yang lainnya? Apa mereka mengevakuasi penduduk?” tanya Algol.


“Me... mereka sudah tewas, Sir! Ramplite-ramplite itu meminum darah mereka!” jawabnya.


Alpha dan Algol langsung mengamati. Di antara ramplite golongan dua tingkat rendah itu ada dua ramplite yang berbeda. Mereka telah berubah menjadi golongan satu gara-gara meminum darah manusia bintang. Darah yang mengandung kekuatan cahaya itu membuat tubuh mereka layaknya manusia pada umumnya namun dengan kulit yang lebih pucat. Ramplite yang telah bertransformasi akan memiliki kekuatan cahaya layaknya manusia bintang yang telah dimangsanya namun tanpa kehilangan kemampuan aslinya.


“Pergi dari sini. Bantu evakuasi penduduk. Mereka memiliki ruang bawah tanah rahasia, bantu mereka menuju ke sana, setelah itu tetap jaga mereka!” perintah Algol.


“Siap, Sir!” jawabnya dan lalu pergi.


“Heh. Dia kelihatan senang karena tidak harus melawan lawan yang kuat,” ujar Alpha. “Kalau aku malah sebaliknya.”


Algol tidak menanggapi monolog itu. Ia memperhatikan keadaan sekitar. Ada tujuh ramplite, dua di antaranya sudah bertransformasi menjadi golongan satu. Bukan pertarungan yang berat, pikirnya.


“Alpha, selesaikan ini dengan cepat lalu bantu yang lainnya.”


“Oke.”


Mereka berdua berlari menerjang dengan pedang terhunus. Lawan mereka merupakan ramplite jenis tumbuhan. Tubuh manusia mereka memiliki lengan tumbuhan pemakan serangga—venus flytrap. Besar, bergigi tajam, dan mematikan. Gigitannya bisa dipastikan dapat menembus tulang.


Karena tidak ingin menyia-nyiakan kekuatan cahayanya Alpha dan Algol hanya mengaplikasikan perisai di lengan saja. Mereka dengan lincah menyerang ramplite-ramplite tersebut.


Tetapi mereka adalah golongan dua tingkat rendah, tidak begitu saja mudah dikalahkan. Tebasan demi tebasan dapat mereka hindari tanpa kesulitan berarti. Bahkan serangan-serangan mereka dapat beberapa kali membahayakan Alpha dan Algol.


Lima lawan dua. Kelima dari mereka silih berganti menyerang tanpa jeda, membuat Algol maupun Alpha tak leluasa membalas serangan karena harus melindungi diri juga. Bahkan kepala Alpha hampir tergigit kalau saja Algol tidak menebas lengan tumbuhan pemakan serangga milik sang ramplite hingga putus.


“Terima kasih, Kapten!” ucapnya disela-sela menghindari serangan.


“Jangan lengah!” balas Algol sambil menyelesaikan serangan akhir untuk ramplite yang dilukainya. Ia menusukkan pedangnya ke jantung dan mencabutnya cepat dengan kasar. Darah memuncrat. “Mati juga kau.”


“Ck!” Alpha berdecak kesal karena belum membunuh satu pun. “Delta Velorum : Light Burst!”


Cahaya terang menyilaukan menyelimuti tempat tersebut. Hal yang mengejutkan tersebut mampu membuat keempat ramplite yang tersisa membeku di tempat. Kesempatan itu digunakan sebaik-baiknya oleh Alpha dan Algol.


Dengan pedang berlapis cahaya yang bergerigi Alpha menebas dua ramplite di dekatnya, tepat di titik vital mereka. Jeritan kesakitan terdengar oleh mereka. Tanpa ampun Alpha menambahkan serangan pada mereka hingga membuat keduanya tewas.


Algol bermain dengan cara yang lebih rapi. Kekuatan cahayanya ia bentuk menjadi tombak yang sangat runcing. Dengan ketepatan akurat ia langsung menusukkan tombaknya ke jantung lawannya. Sederhana tapi mematikan. Kedua ramplite itu mati seketika.


Mereka menghadap pada dua ramplite yang telah bertransformasi. Kedua ramplite itu sudah dalam posisi siap bertarung. Mereka saling berhadapan.


“Pertarungan yang sesungguhnya baru dimulai, Alpha.”


“Ya.”


...***...


Ursa menurunkan seorang nenek yang digendongnya dengan hati-hati. “Kau sudah aman, Nek. Masuklah ke ruang bawah tanah dan berlindung bersama penduduk lainnya.”


“Terima kasih banyak, Nak.”


Setelah nenek itu dibantu oleh prajurit yang berjaga berhasil masuk ke ruang bawah tanah Ursa segera meninggalkan tempat itu. Ia masih harus mencari penduduk yang tertinggal. Karena mereka semua adalah manusia campuran maka mereka pasti akan diincar oleh para ramplite, sedangkan tidak semua dari mereka bisa bertarung atau mempertahankan diri.


Ursa berhenti berlari secara mendadak. Di sebuah gang ia melihat dua orang prajurit tengah bertarung melindungi beberapa penduduk desa. Ia datang dan menghampiri.

__ADS_1


“Aku akan mengamankan penduduk! Kalian tetap tahan mereka di sini!”


“Mustahil! Mereka terlalu kuat untuk kami!”


“Panggil bantuan! Kami butuh bantuan untuk melawan mereka!”


Mendengar jeritan dan melihat tubuh bergetar kedua prajurit itu membuat Ursa kesal. Sepertinya semua prajurit yang dikirim ke pemukiman itu hanya orang-orang yang tidak terlalu kuat. Ia bertaruh kalau mereka belum pernah terlibat dalam pertempuran yang sebenarnya.


“Kalian prajurit, kan?! Jangan gentar! Jangan mengharapkan bantuan! Hadapi musuh yang ada di hadapanmu!” teriaknya tegas.


“Mu-musatahil! Kami tidak bisa mengalahkan mereka!” kata prajurit yang bersembunyi di balik kubah cahaya miliknya. Seorang ramplite dengan lengan yang kuat memukul-mukul kubah itu tanpa henti. “Me-mereka terlalu kuat untuk kami!”


“Cepat panggil bantuan atau kami akan mati!” teriak yang lain, yang tengah menahan dua ramplite dalam kurungan. Namun kurungannya perlahan retak karena serangan yang diberikan dari dalam.


Ursa menengok ke belakang, pada penduduk. Mereka hanya empat orang, sepertinya sebuah keluarga. Keempatnya menangis dalam diam dan menggigil ketakutan. Setelah mendengar keputusasaan dari prajurit-prajurit tadi pasti rasa ketakutan mereka semakin besar.


“Aku akan kembali setelah membawa penduduk ke tempat aman. Kalian berdua bertahanlah!” teriak Ursa. Ia menghampiri keluarga kecil itu. “Mari kuantarkan ke tempat aman. Jangan takut, kalian akan selamat,” katanya menenangkan.


“A-apakah benar akan baik-baik sa-saja? Ramplite itu kelihatan sangat kuat.”


“Tenang saja, Nyonya. Aku kuat. Aku akan melindungi kalian. Mari segera pergi dari sini,” kata Ursa. Mereka akhirnya mengangguk setuju. “Apakah kalian semua bisa berlari?”


Anak laki-laki yang paling kecil menggeleng lemah.


“Kaki adikku keseleo,” ungkap kakaknya.


Ursa tersenyum lembut. “Baiklah.” Ia berjongkok. “Naiklah ke punggungku. Aku akan menggendongmu. Cepat.”


Setelah anak tadi berhasil naik ke punggungnya dan berpegangan erat Ursa segera berlari memimpin jalan. Ia mencari jalan-jalan yang aman. Secara kebetulan mereka bertemu dengan seorang wanita yang menggendong bayinya. Ursa mengajaknya pergi bersama.


Sraaak!


“Ba-bagaimana ini?! Kita akan ma-mati?”


“Ayah! Ibu! Aku tidak ingin mati! Aku tidak ingin mati!”


“Te-tenanglah. Kita bersama prajurit. Kita aman.”


“Oeeek! Oeeeek! Oeeeek!”


Ursa menoleh ke belakang dengan senyum lebar yang tulus. “Kalian tetaplah tenang. Aku akan mengalahkannya dan kita akan segera ke tempat aman.” Ursa menurunkan anak yang digendongnya. “Jaga dia.”


“Ba-baik.”


Ursa menatap tajam ramplite jenis tumbuhan yang ada di hadapannya. Ramplite itu memiliki rambut hijau gelap yang menyerupai sulur-sulur tumbuhan. Sulur-sulur itu juga tampak hidup.


“Aku akan menghabisimu dengan cepat,” katanya lalu menerjang maju dengan kecepatan tinggi.


Zruuut! Zruuut!


Sulur-sulur dari ramplite tersebut memanjang. Ia mencoba menghalangi Ursa mendekat sambil menyerangnya. Ursa melompat ke kanan dan kiri beberapa kali. Dengan pedangnya ia memotong sulur-sulur yang mencoba menjeratnya.


Ursa berlari zig-zag, dengan begitu kecepatan dari sulur-sulur yang mengejarnya sedikit terhambat. Tetapi si ramplite tak hilang akal. Ia menyatukan sulur-sulurnya, membentuknya menjadi godam, lalu dengan sekuat tenaga menghantamkannya pada Ursa. Tentu saja Ursa bisa menghindarinya.


“Memikirkan kalau sulur-sulur itu adalah rambutnya membuatku jijik.”


“Apa katamu?! Kau menghinaku! Tak dimaafkan!”

__ADS_1


“Oho? Rupanya kau mudah tersinggung, huh?”


Bam!


Godam tadi dihantamkan pada Ursa dengan cepat. Pemuda itu menghindar ke belakang dengan gesit. Ia mengacungkan pedangnya. Dengan kemampuannya yang mumpuni ia melompat dan membelah godam yang terbuat dari sulur-sulur tadi hanya dengan sekali serang.


Ursa mendarat di atas sulurnya. Tanpa membuang-buang waktu ia berlari cepat menuju ke tubuh si ramplite. Namun ramplite itu tak membiarkannya. Dari satuan sulur yang dijadikan pijakan oleh Ursa tumbuh sulur-sulur kecil yang mencoba menjerat kaki pemuda itu. Tetapi Ursa menyadarinya dengan cepat. Ia mampu menghindarinya dengan mudah. Ursa semakin mendekat ke tubuh si ramplite.


“Sialan...!”


Ramplite tadi melepaskan untaian sulurnya. Pijakan Ursa hilang. Sulur-sulur tadi lalu diubahnya menjadi terpisah-pisah, lalu dengan itu ia membuat kurungan bulat yang memenjarakan Ursa. Karena terlalu cepat dan mengejutkan Ursa terperangkap di dalamnya.


“Hahaha...! Mati...! Matilah!”


Kurungan dari sulur-sulur itu semakin merapat dan mengecil.


“Oh, jadi dengan ini kau akan meremukkanku, ya? Sayang sekali... aku menolaknya!”


Dengan ruang sempit yang tersisa dalam kurungan tersebut Ursa masih mampu menggerakkan pedangnya. Ia menebas berkali-kali ke dinding kurungan. Lalu... crash! Kurungan dari tumbuhan itu hancur terpotong-potong. Ursa meluncur keluar cepat. Dengan tusukan tajam ia menembus jantung lawannya dihiasi seringai kemenangan.


“Kau kalah,” bisiknya tepat di telinga sang ramplite yang menatapnya tak percaya. Ramplite itu tumbang. Ursa kemudian menoleh ke belakang. “Ayo, kita lanjutkan ke tempat aman!”


“Ya!”


“Kau hebat, prajurit!” seru anak yang tadi digendongnya.


“Tentu saja. Karena aku seorang prajurit,” balas Ursa.


...***...


Slaaash!


“Gwaaah!”


“Arrrgh!”


Jleb! Jleb! Jleb!


Luxco tersenyum miring. Ia puas. Dengan ayunan rantainya yang berlapis cahaya ia langsung melukai banyak ramplite sekaligus, lalu ditambah dengan tombak-tombak cahaya yang ia lemparkan ia membunuh mereka semua.


“Kalian benar-benar salah telah melawanku secara keroyokan. Karena aku lebih suka membantai daripada bertarung satu lawan satu dengan kalian semua.”


Mendengar itu para ramplite yang mengelilinginya perlahan-lahan mundur. Mereka meneguk ludah ketakutan. Padahal jumlah mereka puluhan. Dan bukannya mereka lemah. Hanya saja Luxco terlalu kuat untuk mereka.


“Dua puluh dua... akan kubunuh kalian semua sekaligus.”


Luxco mengarahkan kedua tangannya ke depan. Dari sana memancar cahaya kuning yang begitu terang. Pancaran cahaya itu membentuk anak panah raksasa sejumlah dua puluh dua buah. Luxco kemudian mengirimkan anak-anak panah itu kepada musuhnya. Kecepatannya tinggi dan bisa berkelok dengan mudah.


Luxco mengamati ramplite yang mencoba melarikan diri dengan wajah datar. “Percuma saja menghindarinya. Aku sudah menargetkan kalian sebagai tujuan panahku. Begitu panah itu menghantam kalian...”


Duar! Duar! Duar!


“...meledak dan tubuh kalian hancur berkeping-keping.”


Ledakan beruntun sebanyak dua puluh dua kali terdengar silih berganti. Jerit kesakitan dan teriakan pengampuan para ramplite itu tertelan begitu saja oleh suara ledakan yang terlalu keras.


Luxco lalu berbalik ke belakang. Ia menatap tajam pada bayangan sebuah rumah. Ia tahu seseorang bersembunyi di sana sambil mengamati sejak tadi.

__ADS_1


“Keluarlah. Aku tahu kau ada di sana.”


...***...


__ADS_2