Terminator Warrior

Terminator Warrior
Pertarungan Di Darkotry — II


__ADS_3

“Alpha! Ursa!”


“Gage!”


Paham dengan situasi yang tengah berlangsung, keempat anggota regu Algol langsung mengitari pemuda bernama Gage tersebut. Mereka berdiri di keempat sisi Gage dengan sikap siap bertarung. Sebagai balasan pemuda itu pun memasang sikap waspada.


“Apa maksudnya ini? Alpha. Ursa.”


“Ini tidak seperti yang kau bayangkan!” sergah Alpha.


“Lalu?”


“Mereka adalah tawanan kami,” sahut Algol.


“Tawanan? Bagaimana bisa kalian jadi tawanan?” Gage tidak bisa menemukan ide mengapa keduanya bisa ditahan oleh para prajurit itu, setahunya Alpha dan Ursa bukan orang lemah yang akan membiarkan diri mereka tertangkap. “Lupakan soal itu, yang ingin kupastikan adalah—”


“Jangan khawatir! Kalau soal loyalitas kami terhadap desa tidak usah dipertanyakan. Kami sama sekali tidak memihak Negeri Earth,” balas Alpha.


“Kalau begitu kenapa kalian berada di tempat seperti ini?”


“Mengenai itu, Gage,” Ursa berkata, “kami hanya ingin tahu keributan apa yang terjadi di sini. Sama sekali tidak tahu kalau kau ada di sini. Kau sendiri... apa yang kau lakukan di sini?”


Gage hendak menjawab, tapi seketika ia menutup kembali mulutnya waktu sadar siapa saja yang akan mendengarnya. “Tidak bisa kukatakan.”


Ursa paham. Ia pun tidak bertanya-tanya lagi. Namun, di hatinya ia merasa lega melihat kondisi teman yang lama tidak dijumpainya itu baik-baik saja. Ah, tidak begitu baik-baik saja, karena saat ini dia tengah dikepung oleh Algol dan timnya, pikir Ursa kemudian.


“Gage. Jangan sampai kau tertangkap oleh mereka berempat atau mereka akan menjadikanmu sebagai tawanan juga!” peringat Ursa.


“Dan aku harus melawan mereka seorang diri?!” Pemuda itu membalas sengit. “Kalau kau nganggur cepat bantu aku dan kita akan kabur bersama-sama.”


“Tidak ada pilihan lain kalau begitu,” gumam Ursa yang langsung berlari cepat. Ia menuju ke arah Kraz. Tak ingin basa-basi, pemuda itu segera mendaratkan tendangan, yang tentu saja ditangkis Kraz dengan mudah. “Maaf, Mr. Kraz, tapi aku tidak akan membiarkan Gage bernasib sama seperti kami.”


“Heh! Jangan meremehkan kami. Menangkapnya bukan perkara sulit.”


Trang! Trang!


Ursa dan Kraz beradu pedang. Keduanya bergerak cepat menyerang satu sama lain. Sementara itu, Gage yang masih dikepung oleh tiga orang masih diam memikirkan cara bagaimana harus menghadapi mereka sekaligus. Dalam waktu itu sudut matanya tak sengaja melirik Alpha yang masih diam di tempat.


“Oi, Alpha! Kau juga bantu!” teriaknya.


“Ya!”


“Tunggu!” Zibal menghentikan bahu pemuda campuran tersebut. “Aku belum paham benar dengan situasi sekarang ini, tapi kau ini tawanan, kan? Tawanan itu tidak boleh kabur dengan mudah.”


Alpha menatap tajam. “Artinya kau mau menghentikanku, huh?”


“Tentu saj—”


Zibal menyerongkan kepalanya, Alpha mengincarnya dengan tonjokan barusan. Pemuda itu menjauh dari Zibal. Bukannya meladeninya Alpha malah mendekat ke tempat Ursa dan Gage, jika ia bertarung di sana maka peluang Gage untuk kabur lebih besar. Akan tetapi sebelum Alpha sempat mencampuri pertarungan teman-temannya Zibal keburu menghantamnya dengan tonjokan lengan cahaya yang membuat pemuda itu terpental menabrak pohon.


Alpha bangun berdiri sambil merintih kesakitan. Punggungnya ngilu. Walaupun pohon-pohon di sana tampak seperti pohon mati, tapi kayunya sangat keras, benar-benar keras sampai membuat tulang terasa seperti retak jika menghantamnya. Alpha berniat membalas perbuatan Zibal, sayangnya sebelum ia sempat melakukan hal itu Zibal telah lebih dulu membuat kubus cahaya besar yang mengurung mereka berdua di dalam.


“Seorang tawanan sudah sepantasnya berada di dalam penjara. Nah, dengan begini kau tidak akan mengganggu mereka.”


Di luar kubus cahaya tersebut Ursa menghadapi Kraz, ia tidak tampak kesulitan, karena Ursa sering melawan Kraz dalam uji kekuatan mereka dulu-dulu pemuda itu sudah hafal gerakan-gerakan maupun teknik Kraz. Ia pun telah memiliki antisipasi dalam menghadapinya.


Di lain sisi, Gage yang buta akan kemampuan dari ketiga lawannya mesti ekstra berhati-hati. Sejauh ini ia hanya bertahan saat diserang oleh mereka bertiga sekaligus.

__ADS_1


Karena Gage belum mengambil belati miliknya yang terbuang ketika melawan ramplite sebelumnya maka ia menggunakan pedang yang adalah senjata andalan keduanya. Pedangnya tidak berbilah panjang, melainkan katana sepanjang enam puluh senti dengan ketajaman tunggal. Selain itu, di pinggangnya masih bertengger sebuah senjata lagi—wakizashi, pedang pendek yang masih tersarung.


Slash! Slash!


Gage menebas semua bola-bola warna biru keputihan milik Okul yang diarahkan padanya, sayangnya Gage yang tidak tahu bahwa bola cahaya itu tetap akan meledak terpaksa meringkuk menghindari ledakannya. Tidak ingin memanjakan Gage, Diphda lantas mengayunkan pedang berlapis cahaya oranye-kemerahan yang berapi-api miliknya pada Gage.


Bunyi besi yang berbenturan dengan percikan api menghiasi duel mereka. Pedang Diphda memang terlihat lebih besar dan hebat, tapi katana Gage lebih tajam, ayunan pedangnya yang berkali-kali membentur pedang Diphda mampu membuat cahaya yang melapisinya terkoyak. Gage tersenyum. Ia bisa mendesak perempuan itu.


Grab.


Namun, genggaman kuat di kakinya membuatnya tersentak. Gage mendorong pedang Diphda, perempuan itu mundur dua langkah, kesempatan kecil itu digunakan Gage untuk menarik pedangnya dan menebas lengan cahaya milik Algol yang mencengkeramnya. Gage ganti berlari menuju Algol, setiap kali lengan cahaya itu berusaha menangkapnya pemuda itu berhasil menebasnya, pemuda itu terus berlari sambil menghindar, serta berulang kali menebas lengan cahaya Algol yang hampir menangkapnya. Kalau ia tertangkap maka selesai sudah.


“Heyaaah!”


Gage melompat dan berusaha menebas dari depan. Algol membuat perisai cahaya. Gage berusaha kuat menambah tekanan pada pedangnya, ia ingin menembus perisai itu, sayang usahanya sia-sia saja. Di belakang, Okul kembali mengirimkan Blast Ball miliknya, sedangkan Diphda juga menebaskan Big Cross Fire padanya.


“Oh, sial—”


“Jangan mengalihkan pandangan saat lawan tepat berada di depanmu, Bocah.”


Bugh!


“Argh!”


Gage berteriak kesakitan ketika tonjokan berlapis kekuatan cahaya dilayangkan oleh Algol pada pipi kirinya. Darah mengalir kelua dari sudut bibirnya. Namun, tonjokan tadi hanya membuat Gage tergeser, tidak sampai membuatnya terpelanting. Merasa masih memiliki kesempatan yang tersisa, pemuda itu menendang perut Algol dengan sangat keras. Pria itu terpental. Gage menggoyangkan kakinya yang dipakai buat memandang, ia menatap puas pada sepatunya yang sebagian berbahan besi.


“He-he... rasakan itu.”


Gage mengayunkan cepat katananya ke belakang. Kali ini ia tidak menebas bola-bola Okul, melainkan menggunakan permukaan pedangnya untuk melemparkan kembali bola-bola cahaya itu, dengan sangat cepat dan gesit. Bola-bola cahaya itu berbalik dengan cepat, bola-bola biru keputihan itu bertabrakan dengan tebasan Big Cross Fire milik Diphda dan menyebabkan ledakan besar.


Gage menyerbu pada Algol. Ia mengayunkan katananya pada Algol yang melindungi diri dengan perisai secara membatu buta. Setelah belasan kali tebas perisai itu akhirnya retak juga. Gage mengangkat katananya tinggi berniat memberikan serangan akhir, tetapi sebelum katanya itu menyentuh perisai cahaya Algol yang separuh rusak, pria itu menendang pemuda itu menjauh. Gage jatuh terjerembap.


Pemuda itu tidak sempat berdiri dan Diphda telah mengirimkan tebasan-tebasan Fire Slash-nya. Gage hanya mampu berguling-guling di tanah untuk menghindari serangan yang dapat membakar itu hingga akhirnya ia terantuk kubus cahaya Zibal.


Set!


Gage bangkit berdiri tepat sebelum sebuah Fire Slash Diphda mengenainya. Ia lalu melompat ke atas kubus cahaya. Gage tidak bisa menahan keinginan untuk melihat bagaimana pertarungan antara Alpha dan Zibal, jadi ia mencuri pandang ke dalam kotak cahaya transparan tersebut. Alpha berada di pojok kubus, dia mengenakan full armor cahaya.


‘Apa dia tersudut? Tapi ini kan Alpha, bagaimana mungkin? Harusnya ia bisa lebih dari itu.’


“Jangan meleng!”


Mendengar seruan Okul yang diikuti tembakan bola cahaya membuat Gage berguling di atas kubus. Gage hampir jatuh dari atas kubus, tapi ia berhasil menggapai dan bergelantungan dengan kedua tangannya. Melihat hal itu Okul menyerangnya dengan cambuk cahaya biru-keputihan miliknya.


“Uwaa...”


Blar!


Sabetan pertama meleset. Tangan-tangan Gage merambati sudut-sudut kubus dan ia membawa dirinya sembunyi di belakang kubus. Lagi. Okul menyabetkan cambuk yang pada setiap sabetannya itu menimbulkan efek ledakan, yang diincarnya kali ini adalah tangan Gage yang masih menahan tubuhnya bergelantungan. Bila ia bisa menjerat pemuda itu dengan cambuk cahayanya maka tugas menangkap pemuda itu akan selesai.


Blar! Blar!


“Gaaah! Sial!” Gage menjerit sakit. Tangan kirinya terkena sabetan. “Orang itu benar-benar suka ledakan. Setiap serangannya memiliki efek ledak. Tanganku rasanya begitu melepuh.”


Gage tidak bisa dalam posisi kurang menguntungkan tersebut lebih lama lagi. Ia menjejakkan kaki ke dinding kubus, lalu dengan satu dorongan ia mengangkat tubuhnya ke atas kubus. Baru mendaratkan satu kaki di permukaan atas kubus Zibal ia kembali diserang oleh Okul. Gage melompat tangkas.


Crack.

__ADS_1


“Huh?” Pemuda itu melihat ke bawah. Permukaan kubusnya retak. Ia menyeringai kecil. “Pasti karena terkena cambukkan prajurit itu. Baguslah. Kalau aku tetap di sini aku bisa membebaskanmu, Alpha.”


Lagi dan lagi. Mereka berdua berduel dengan cara menyerang dan menghindar. Okul yang tidak tahu rencana Gage dengan mudahnya menyerang pemuda itu, yang mana dihindari dengan cara melompat atau juga kayang, kadang pula ditebas menggunakan katana. Ia tidak memperkirakan kalau serangannya merusak kubus Zibal.


Crack. Crack. Crack.


Retakan pada permukaan atas kubus cahaya itu semakin menjadi. Gage menilai retakan itu sudah cukup. Lalu, dengan menebas silang ia menghancurkan atap dari kubus cahaya biru-keputihan Zibal. Bagian yang ditebasnya ambrol.


“Keluar sekarang, Alpha!” serunya.


Alpha setengah kaget, tetapi ia segera melompat ke atas sebelum Wind Slash yang dilayangkan Zibal mengenai dirinya. Gage meraih tangan Alpha dan menariknya. Gage mengeluarkan tali tambang dengan pencakar di simpulnya, ia lemparkan tambang tersebut melingkari dahan pohon yang tinggi. Kemudian, dengan ancang-ancang yang minum dari atas kubus itu ia merangkul pinggang Alpha dan membawanya melompat.


“Ambil Ursa!” perintah Gage.


Alpha segera membentuk lengan cahaya. Ia mengulurkan lengan itu ke bawah ketika mereka tepat melewati atas pemuda itu. Hal itu tak disangka-sangka menyelamatkan Ursa yang tengah terdesak oleh Kraz. Kekuatan dari tali yang dibebani tiga orang itu berkurang, lompatan tinggi mereka menjadi rendah secara tiba-tiba, tujuan yang semula adalah dahan pohon yang tinggi meleset menjadi batang pohon utama yang besar nan keras. Mereka akan menabrak!


“Lakukan sesuatu dengan kekuatan cahayamu, Alpha!”


“Baik!”


Alpha membentuk lagi lengan cahayanya. Ia mencengkeramkannya ke dahan pohon. Mereka tertarik ke atas, ke dahan yang dituju. “Pegangan erat padaku, aku akan menarik kita bertiga!”


“Tidak semudah itu,” gumam Diphda. “Beta Ceti : Dragon Fire!”


Cahaya berbentuk naga yang berapi-api melesat ke lengan cahaya Alpha yang mencengkeram dahan pohon. Naga cahaya itu melilit erat lengan cahaya Alpha. Alpha mengernyit menahan sakit yang dirasakannya.


Tas!


Tali tambang yang menjadi pegangan mereka terputus. Zibal yang melakukannya. Ia memotongnya menggunakan Wind Slash miliknya.


“Uwaaaa!” jerit mereka. Mereka berayun cepat. Namun, karena lengan cahaya Alpha masih mencengkeram pada dahan pohon mereka tidak jadi jatuh. Ketiganya mendesah lega. “Untunglah...” desah mereka.


Akan tetapi, kelegaan itu hanya berlangsung satu detik sebab Okul telah mengirimkan bola-bola ledaknya ke dekat mereka. Tinggal menunggu perintah saja bola-bola itu akan meledak dan menjatuhkan mereka bertiga.


“Pi Capricorni : Blast Ba—”


“Gamma Virginis : Sticky Wall. Slingshot!”


Tiba-tiba muncul tembok cahaya warna kuning keputihan. Bola-bola ledak Okul terperangkap oleh tembuk lentur yang lengket tersebut. Lalu, dari gaya pegas tembok tersebut bola-bola ledak itu dilemparkan kembali ke arah Okul dan yang lainnya.


“Beta Corvi : Big Dome!” Kraz menyerukan tekniknya. Ia melindungi semua orang yang berada di bawah menggunakan kubah besar.


Duarr! Duarr! Duarr!


Slip.


Lengan cahaya Alpha terlepas dari dahan pohon, berbarengan dengan teknik Dragon Fire Diphda yang telah habis waktu penggunaannya. Mereka bertiga tertarik gaya gravitasi dan jatuh meluncur ke bawah. Alpha, Ursa, dan Gage berteriak histeris.


Syuuut! Zuut!


Sebuah tali tambang kuat yang berbentuk **** dilemparkan pada mereka bertiga. Sekejap setelah tali itu mengikat ketiganya tambang tersebut ditarik sekuat tenaga ke atas dahan sebuah pohon. Mereka didaratkan pada sebuah dahan pohon besar di mana kedua penyelamat mereka berada.


Kraz menghilangkan tekniknya. Ia dan semua orang menatap tajam ke atas pohon tersebut. “Dinding lengket yang bisa membalikkan serangan... aku kenal dengan teknik itu. Ya, kan, Okul.”


“Kau benar, Kraz. Sepertinya hari ini kita kedatangan banyak tamu dari Desa Mayall.”


...***...

__ADS_1


__ADS_2