Terminator Warrior

Terminator Warrior
Hasutan


__ADS_3

Alpha masuk ke ruangan Algol dengan membawa senampan sarapan pagi. Kaptennya itu tengah duduk di sisi ranjang sambil menggerak-gerakkan tangan kirinya yang baru lepas dari gips.


“Yo, Kapten! Bagaimana keadaanmu?” Alpha menyapa.


“Tanganku sudah cukup mampu untuk memukulmu dan kakiku cukup kuat untuk menendangmu.”


Alpha mendengus. “Bukan jawaban yang ingin kudengar, tapi setidaknya kau terdengar bersemangat,” ujar pemuda itu. “Sarapanmu,” katanya sambil menyerahkan nampan.


Algol menerimanya dan langsung mulai memakannya. “Bagaimana dengan perkembangan pembangunan pemukimannya?” tanyanya kemudian.


“Lumayan. Sudah hampir semua keluarga mendapatkan rumah baru mereka. Saat malam pun mereka tetap bekerja. Mr. Kraz dan Ms. Diphda berencana membuka lahan untuk bercocok tanam hari ini. Aku akan ke sana segera setelah ini untuk membantu membajak.”


“Membajak?”


“Ya. Ingat dengan teknik Drill milikku? Itu sangat efektif untuk menggemburkan tanah. Lebih cepat menggunakan kekuatanku daripada mencangkulinya. Setelah itu mereka akan menggunakan kuda untuk menggaru tanah dan setelah itu harus menyingkirkan batu-batu agar tanahnya bisa ditumbuhi dengan baik.”


“Kau tahu banyak rupanya.”


“Gara-gara dulu aku sering membantu ibuku membuat kebun sayur di belakang rumah kami,” jawab Alpha. “Oh, tapi aku pernah sekali membuka lahan dari nol untuk pertanian sebagai hukuman. Jadi begitulah kenapa aku cukup tahu.”


“Hee. Kau bisa diandalkan, ya.”


Alpha menunggu sebentar sampai sang kapten menghabiskan makanannya. Setelah itu ia diminta bantuannya untuk melakukan peregangan otot. Sejak Algol sudah mulai kembali bisa menggerakkan anggota tubuhnya ia selalu minta bantuan rekannya yang menjenguk untuk membantunya pemulihan, karena jika tidak tubuhnya akan kaku.


“Sudah cukup, Alpha.”


Pemuda itu melepaskan tarikan ke belakang pada kedua lengan Algol. Ia sendiri meregangkan tangannya ke atas. Alpha pun mengambil nampan bekas sarapan.


“Kalau begitu, Mr. Algol, aku akan menyusul ke pemukiman baru.”


“Alpha.”


“Ya?”


“Terima kasih.”


Pemuda itu tersenyum simpul, mengisyaratkan agar Algol tak perlu memikirkannya. Alpha pun meninggalkan ruangan Algol. Namun, di lorong tidak jauh dari kamar Algol ia sudah dicegat oleh Aldebaran, komandan dari markas militer manusia bintang.


“Ada keperluan apa denganku, Sir?”


“Kau dan satu orang lagi, adalah sandera, kan?”


Wajah Alpha berubah masam mendengarnya. “Lalu, kenapa?”


“Tidak ada. Hanya saja aku memperhatikan kalau kalian tidak pernah mencoba untuk kabur. Kalian sandera penurut, huh.”


“Kami sudah mencobanya, Sir, berkali-kali,” Alpha mengatakannya sambil mengedikkan bahu, “tapi, selalu digagalkan. Lari dari mereka itu tidak mudah kalau saja kau tahu.”

__ADS_1


“Itu hanya saat mereka mengawasimu dengan penuh. Akan tetapi, di sini, kuperhatikan kau tidak pernah mencobanya. Ataukah kau sudah merasa nyaman menjadi bagian dari regu Algol? Apakah itu perasaanmu yang sebenarnya atau hanya permainanmu? Padahal, jika kau mau, kau bisa kabur dengan mudah bersama temanmu, toh kaptenmu sedang tidak dalam kondisi terbaiknya dan yang lain sibuk.”


Air muka Alpha berubah perlahan. Merasa nyaman? Dia memang tidak sungkan menjadi bagian dari regu Algol. Permainan? Ia tidak menganggapnya begitu. Sudah berkali-kali ia mendapatkan penegasan kalau ia hanya seorang tawanan. Ia tidak sedang bermain-main di sini.


“Kudengar kalau kau ini lumayan kuat. Tapi, karena tidak pernah melihatmu mencoba untuk lepas dari mereka, kurasa kau tidak sekuat yang dibicarakan. Karena kalau iya, maka sangat mudah bagimu untuk lari dari mereka.”


“Aku—aakh!”


Bicara Alpha terputus. Ia merasakan panas yang menyengat dari lehernya. Segel yang melingkar di lehernya menyala ungu kehitaman. Muncul rantai cahaya dari lehernya yang terhubung kepada Algol yang tengah berdiri di ambang pintu kamar rawatnya.


“Dia tidak melakukannya, Sir Aldebaran, sebab ia tidak bisa,” kata Algol. Ia menarik rantai itu hingga mau tak mau membuat Alpha tertarik mundur. “Jadi, Sir, kalau kau hanya ingin memastikan apakah ia akan baik-baik saja tanpa pengawasan langsung dariku maka jawabannya adalah iya.”


Aldebaran melirik Algol dingin. Ia pun berucap datar, “Syukurlah kalau begitu.” Dan ia langsung pergi meninggalkan mereka.


Algol mengamat-amatinya. Ia merasa kalau barusan Aldebaran tengah menghasut Alpha untuk melarikan diri. Ia tidak tahu kenapa pria itu melakukannya. Tapi, jika ia mau berspekulasi, maka itu karena ia tidak suka dengan apa yang telah regunya perbuat di kotanya dan dia ingin membuat mereka dalam masalah dengan skandal kaburnya Alpha.


“Ka-kapten...! Tolong lepaskan! Leherku sa-sakit...!” rintih Alpha.


“Ah! Maaf. Aku lupa.”


Segera setelah rantai yang mengikat lehernya lenyap Alpha langsung terbatuk-batuk sambil memegangi lehernya. Ia selalu kesakitan tiap rantai itu muncul dan mengikatnya.


“Alpha. Jika kau berpikir untuk mencoba kabur, sebaiknya lupakan saja. Jangkauan dari segel ini yang bisa kugunakan mungkin hanya seratus meter, tetapi Sir Puppis bebas menggunakannya tanpa batasan. Itu artinya kau tidak akan bisa lari darinya meskipun sudah kabur dariku.”


“Ya... ya...! Aku tahu! Aku masih belum lupa!” ujarnya kesal.


...***...


“Ah! Oh, ya.”


Alpha pun kembali menarik alat garu yang dipakainya. Namun, baru sejauh empat meter ia kembali berhenti. Wajahnya tampak sedang memikirkan sesuatu. Dan ia membicarakannya dengan Ursa tak lama kemudian.


“Ursa, apakah menurutmu kita terlalu santai?”


“Maksudmu?”


“Karena kita tidak berusaha melarikan diri, padahal situasi kita sebenarnya gawat. Harusnya kita mencari dan menyelamatkan para penduduk. Namun, lihat yang kita lakukan, malah membuat pemukiman untuk penduduk lain.”


Ursa lumayan heran dengan Alpha. Sebelumnya ia baik-baik saja dan tidak mempermasalahkan apa pun, tapi sekarang malah tiba-tiba berkata seperti itu. Ursa menebak kalau seseorang mungkin telah mengatakan sesuatu kepadanya.


“Situasi kita memang sedang terjepit, tapi bukan berarti kita sedang bersantai-santai karena tidak bisa menyelamatkan penduduk desa kita sendiri. Toh, kita ditawan. Selain itu, bukannya aku ingin menyalahkanmu, tapi gara-gara segel yang ada padamu kita tidak bisa kabur dari Sir Puppis.”


“Memang,” balas Alpha lemah, “tapi, kalau kita mengusahakannya mungkin kita bisa kabur untuk sementara waktu, sebelum ditemukan dan tertangkap lagi. Namun, dalam periode itu kita bisa mencari penduduk desa kita dan menyelamatkannya.”


Ursa mengangguk-angguk. “Aku mengerti. Artinya kau ingin kita melarikan diri sekarang ini juga.”


Alpha tercengang. Ia tidak memikirkan itu sebenarnya.

__ADS_1


“Ini juga adalah saat yang tepat, di mana Mr. Algol yang jadi kunci utama untuk mengawasimu sedang tidak ada. Jadi, paling banter kita hanya akan menghadapi tiga orang,” lanjut Ursa.


“Tidak, aku tidak berpikir sejauh itu, hanya saja...”


Alpha sedang penuh keraguan. Ursa mengerti itu. Pemuda itu pun kembali berkata, “Ada apa denganmu, Alpha? Kau plin-plan.”


Dengan wajah murung Alpha menjawab. “Aku tahu aku tidak bisa lepas dari segel ini. Tapi, aku merasa kalau kita terlalu pasrah dengan keadaan, padahal kalau kita mengusahakannya kita bisa kabur. Daripada melakukan itu kita malah bekerja sama dengan Kapten Algol dan yang lainnya melakukan pekerjaan mereka. Kita sudah bukan seperti tawanan lagi, melainkan rekan mereka!” katanya frustrasi.


“Lalu, apa yang salah dari itu?”


“Yang salah...?”


“Ya. Adakah yang salah jika kita layaknya rekan untuk mereka? Aku menanyakan itu, Alpha. Apa jawabanmu?”


“Aku...” ia menjeda lama, menimbang-nimbang apakah jawabannya pantas diungkapkan atau harus mencari jawaban lain, tapi pada akhirnya Alpha memutuskan untuk jujur, “...aku tidak merasa ada yang salah dari yang kita lakukan.”


“Benar! Memang tidak ada!” Ursa menyahut cepat. “Jadi, berhentilah merasa frustrasi dan berdosa!”


Alpha membuka mulut, hendak menyangkal kalau ia tidak seterpuruk itu. Akan tetapi, Ursa menggagalkannya dengan menambah kalimat baru.


“Dengar, Alpha, aku setuju kalau kita sedang dalam keadaan terjepit di mana harusnya kita menyelamatkan penduduk, tapi malah dijadikan tawanan sebagai sumber informasi. Namun, jangan lupakan bahwa penduduk desa kita bukanlah orang-orang yang lemah. Lima tahun bersembunyi tanpa ketahuan adalah buktinya,” ujar Ursa.


Ia maju dua langkah mendekati Alpha. Tanpa berkeras suara ia meyakinkan sahabatnya tersebut.


“Ingat juga bahwa yang melindungi mereka tidak hanya kita, melainkan masih banyak lagi. Teman-teman seangkatan kita, para Guardian, semua prajurit desa, bahkan penduduk yang mampu pun saling melindungi, mereka tidak hanya bergantung kepada kita. Entah bagaimana dengan cara apa, mereka berhasil melakukannya. Kita pun sama, hanya perlu melakukan semaksimal kita dengan cara kita. Berhenti murung. Penyesalanmu terhadap keadaan kita sekarang tidak mengubah apa-apa.”


Alpha mengangguk. Mendapatkan pidato semacam itu dari orang yang seusia dengannya dalam kondisi yang juga sama serasa menampar wajahnya. Sesaat tadi Alpha merasa malu, ia mengutuki dirinya sendiri.


“Kau benar,” gumamnya.


“Biar kutanyakan padamu mengenai satu hal, Alpha,” sambung Ursa masih belum selesai. “Coba tanya pada hatimu, apakah kau merasa yang kita lakukan ini—membantu para manusia campuran membangun pemukiman mereka lagi—adalah sebuah kesalahan? Atau apakah kau menganggap ini bentuk dari bersantai-santai? Apakah tindakan kita disebut berpasrah diri?”


“Tidak. Aku tidak merasa seperti itu sama sekali,” jawabnya diiringi gelengan yakin.


“Nah! Kalau kau merasa begitu jangan pasang wajah merana lagi! Kau bukannya orang paling menderita di dunia gara-gara keadaan yang kita hadapi sekarang ini,” ujar Ursa lagi. “Sekarang, kembali bekerja! Dan benahi pikiranmu!”


“Ya—oi!” Alpha berseru karena garunya disahut paksa oleh Ursa. Di tangannya kini ada keranjang berisi batu-batu.


“Gantian! Aku pegal terus-terusan membungkuk memunguti batu. Sekarang ganti kau yang melakukannya.”


Sebelum Alpha sempat protes, Ursa segera menggerakkan garunya menjauh dari Alpha yang menggerutu sebal. Tapi, tidak lama kemudian Ursa kembali menghampiri Alpha.


“Tapi, Alpha, jika kau merencanakan untuk kabur lain waktu di mana kita tidak sedang memegang tanggung jawab seperti sekarang ini, maka dengan senang hati aku akan mendukung rencanamu,” katanya dengan seringai lebar.


“Ya!”


...***...

__ADS_1


__ADS_2