Terminator Warrior

Terminator Warrior
Pemukiman Untuk Manusia Campuran


__ADS_3

Paginya, setelah sarapan bersama digelar mereka mencegah orang-orang untuk pergi. Kali ini Mab yang menyampaikan rencana, ia berpidato untuk mereka. Awalnya ia tidak percaya diri dan bicaranya gugup, tapi seiring perubahan wajah penduduk yang tergerak dengan perkataannya kepercayaan diri Mab semakin terbentuk.


“Semuanya! Kalian tidak ingin terus di sini, kan?! Kalian ingin hidup sesuai keinginan, kan?! Hidup yang menyenangkan! Hidup yang tidak terikat perbedaan golongan! Tanpa kebencian! Tanpa permusuhan! Kalian menginginkannya, kan?!”


“Yaaa!”


“Kalau begitu, semua, yang menginginkan kehidupan seperti itu ikutlah denganku! Mari kita bangun pemukiman kita sendiri! Kita akan mulai hidup baru yang lebih baik!”


“Yaaa!”


“Aku ikut denganmu, Mab!”


“Aku juga!”


“Begitu pun aku!”


“Ayo bangun pemukiman milik kita sendiri!” Mab kembali berseru.


“Yaaa!”


“Ayo! Ayooo!”


Kraz yang mengamati dari pinggir kerumunan menyeringai senang. “Dia berhasil,” gumamnya.


Okul lalu maju. Ia berdiri di samping Mab. “Semuanya! Mulai hari ini Mr. Mab akan memimpin kalian, adakah yang tidak setuju?”


“Aku setuju!”


“Kami setuju!”


“Dia yang terbaik.”


“Meskipun masih muda, tapi Mab bisa diandalkan. Aku sudah mengenalnya sejak lama. Aku tahu itu.”


“Baiklah, kurasa tidak ada penolakan,” kata Okul. “Mr. Mab, mulai hari ini kau adalah pemimpin mereka. Apa kau siap?”


“Akan kulakukan yang kubisa, Sir!”


“Bagus,” puji Okul. “Pertama-tama, untuk membangun pemukiman dibutuhkan sebuah lahan. Aku tahu tempat yang bagus untuk itu, yaitu di barat daya kota utama. Kita akan membuka lahan di sana dan membangun pemukiman kalian di tempat itu.”


“Sir, apakah kami diizinkan?” tanya seorang pria baruh baya.


“Tuan, kalian bebas tinggal di mana pun asal tidak di kota utama, kan? Maka aku rasa itu bukan sebuah masalah. Akan tetapi aku mengerti kekhawatiranmu. Jangan resah, aku juga sudah memikirkan hal itu. Aku dan Mr. Mab akan pergi ke kota dan meminta izin dari pemerintah untuk menggunakan tempat tersebut. Selama itu kalian bersiaplah dengan peralatan untuk membuka lahan. Mengerti?”


“Ya!”


“Baiklah kalau begitu, kalian bisa bubar!” perintah Okul.


Orang-orang meninggalkan tempat berkumpul tersebut. Mereka pun bersiap-siap. Setelah tempat itu sepi Mab mendekati Okul.


“Sir, tak apa-apakah bila mengajakku masuk ke kota? Manusia campuran sangat tidak disukai di sana.”


“Jika kau bersamaku maka tidak apa-apa,” jawab Okul.


“Jadi, Okul, apa yang bisa kami bantu?” tanya Kraz mewakilkan dirinya dan sisa anggota lainnya.


“Kalian carilah peralatan yang dibutuhkan di kota. Penduduk di sini tidak memiliki alat yang cukup. Dan tolong pilihlah orang-orang yang mampu untuk ikut kita ke hutan di barat daya.”


“Mr. Okul, kau sangat yakin dengan ini, tapi bagaimana jika ternyata mereka tidak mendapatkan izin membuka lahan?”


Pertanyaan dari Ursa mengejutkan Mab. Mimik wajahnya berubah khawatir. Tapi tidak dengan wakil kaptennya, Okul tidak goyah dengan kemungkinan tersebut.

__ADS_1


“Aku punya firasat kalau ini akan berhasil. Sekalipun tidak aku akan memaksakannya agar berhasil.”


“Kau tipe yang keras kepala, huh, Mr. Okul. Tapi, aku tidak keberatan dengan itu.”


...***...


Setelah beberapa saat menunggu akhirnya Okul dan Mab diantarkan ke ruang kerja wali kota. Sesuai aturan, wali kota haruslah seseorang dari golongan manusia biasa. Begitu pun dengan wali kota Kota Bode, dia adalah seorang pria paruh baya yang sudah menunggu mereka di balik meja kerjanya.


Mereka berdua pun dengan segera memberi salam hormat. Lalu setelah itu menyampaikan tujuan mereka dengan jelas dan tegas tanpa bertele-tele. Sang Wali Kota mengangguk-angguk di sela penjelasan mereka, tak terlihat tertarik tetapi paham maksudnya.


“Mr. Okul, bukan?”


“Ya, Sir.”


“Aku sedikit tahu mengenai regumu. Aku sangat berterima kasih kalian telah menyelamatkan orang-orang di pemukiman itu. Dan aku sangat menyayangkan apa yang menimpa kaptenmu, Mr. Algol Perseus. Semoga ia lekas membaik.”


“Terima kasih banyak atas perhatian Anda, Sir.”


Sang Wali Kota kembali berbicara. “Aku merasa bersalah atas ketidakmampuanku dalam mengurusi para manusia campuran tersebut. Tapi aku juga tidak bisa bertindak banyak. Yang membuat mereka pergi dari kota utama bukanlah aku, melainkan para penduduk kota ini. Karena itu, sebagai gantinya aku akan mengizinkan kalian, para manusia campuran, membuka lahan di tempat yang kalian inginkan tersebut.”


Mab langsung semringah.


“Terima kasih banyak, Sir! Sungguh kami sangat berhutang budi pada Anda! Kami tidak akan melupakan kedermawanan ini!” ucap Mab penuh penghargaan.


“Sudah, sudah... jangan memujiku berlebihan begitu. Aku hanya berusaha memenuhi tanggung jawabku yang telah lama kuabaikan. Sebenarnya aku tidak pantas menerima puji-pujian itu.”


“Tidak, Sir, Anda sudah berbaik hati.”


“Yah... baiklah kalau kau bersikeras,” ujar si Wali Kota. “Namun, jika kalian ingin menjanjikan bahwa kalian tidak akan menimbulkan masalah maka aku akan sangat berterima kasih.”


“Tentu saja, Sir! Anda tidak perlu sampai memohon,” kata Mab.


“Betul, Sir.”


“Katakanlah jika kalian membutuhkan sesuatu. Prajurit? Tenaga kerja? Uang? Katakan. Aku akan membantu kalian dengan senang hati.”


“Anda sungguh dermawan, Sir. Akan tetapi aku tidak membutuhkan hal itu. Aku juga ingin sekalian mengajari para manusia campuran tersebut kesulitan dan kerja keras.”


“Hahaha! Bagus, bagus! Kau bijaksana.”


“Dengan hormat kuterima pujian Anda,” kata Okul merendah. “Namun, jika Anda berkenan, Sir, aku ingin meminjam kuda-kuda demi memudahkan pekerjaan kami membuka lahan. Kami akan menjamin kuda-kuda itu kembali dengan sehat tanpa luka. Membayar sewa pun tidak masalah. Hanya jika Anda mengizinkannya, Sir.”


“Tidak, tidak! Apa yang kau katakan? Jangankan uang sewa atau meminjam, aku akan dengan suka rela memberimu sebanyak yang kau butuhkan. Begini, Sir Puppis telah mengamanatiku untuk memperhatikan kalian dan tentu saja aku tidak bisa mengecewakan keinginannya. Jadi, mintalah segala yang kau perlukan, Mr. Okul.”


Okul tersenyum senang mendengar pernyataan tersebut. “Sungguh, Anda benar-benar orang dengan hati yang besar, Sir. Aku sangat menghargai tawaran Anda. Tapi, tolong izinkanlah aku mengajari para manusia campuran itu agar mampu berjuang hanya dengan apa yang mereka miliki. Aku tetap hanya akan meminjam kuda-kuda saja, Sir. Kumohon, berkenanlah mengabulkan permintaanku ini.”


“Ah... kalau itu maumu, maka baiklah. Aku tidak keberatan. Kau bebas meminjam kuda-kuda sebanyak yang kau suka. Ambil yang menurutmu paling bagus.”


“Terima kasih banyak, Sir! Anda sungguh sangat ringan tangan!” ujar Okul memuji-muji. “Namun, Sir, aku khawatir tidak ada yang percaya denganku apabila Anda telah mengizinkan kami membuka lahan dan meminjam kuda-kuda, maka dari itu berkenankah Anda memberikan kami sebuah bukti yang jelas?”


“Ya, ya... aku mengerti. Tunggulah sebentar.”


Sang Wali Kota berkutat dengan kertas dan penanya. Ia menulis sesuatu di atas kertas tersebut sebanyak dua lembar. Lalu ia membubuhkan cap resmi. Ia meminta Okul mendekat dan menerimanya.


“Ini adalah surat resmi dariku. Isinya tentang izin membuka lahan. Dan yang ini adalah surat perintah. Bila kau menunjukkan surat perintah ini maka permintaanmu pasti akan dituruti,” tutur si Wali Kota.


Okul menerimanya. Senyumannya menyiratkan terima kasih mendalam yang sopan. “Akan kutepati janjiku untuk mengembalikan kuda-kuda itu dalam keadaan bugar tanpa cacat, Sir. Akan kupastikan.”


“Tidaklah perlu kau memaksakan diri, Mr. Okul.”


“Kalau begitu, Sir, dengan segala hormat kami mohon pamit undur diri,” ucap Okul sembari setengah menunduk.

__ADS_1


“Ya. Semoga berhasil dengan yang kau kerjakan.”


Setelah mendapatkan izin tersebut Okul dan Mab keluar ruangan. Okul langsung menyeringai senang begitu pintu di belakangnya ditutup oleh pengawal yang sejak tadi menemani mereka di ruangan tersebut.


Ekspresi senang Okul membuat Mab bertanya-tanya. “Kenapa kau tidak menerima tawaran-tawaran yang menggiurkan tadi, Sir? Itu akan menguntungkan kita.”


“Tidak, Mr. Mab. Kalau kita menerima terlalu banyak bantuan dari mereka kita akan berhutang budi kepada mereka. Hal itu tidaklah bagus.”


“Kenapa?”


“Sebab hutang budi dibawa mati. Jika tak sanggup menanggung beban itu sebaiknya tidak menerimanya. Dan lagi, jika kita menerima banyak sokongan dari mereka hal itu malah bisa digunakan untuk menuntut kita di masa depan.”


“Ah, begitu... aku mengerti sekarang.”


“Mr. Mab—”


“Anu, omong-omong, Sir,” Mab memotong kalimat Okul, “aku tidak nyaman dengan panggilan mister ini, bisakah kau memanggilku langsung dengan nama saja?” pintanya.


“Mab?”


“Nah, begitu lebih enak terdengar!” ujar lelaki itu riang. “Melanjutkan pembicaraan yang tadi, Sir, kau tampak begitu senang dengan hasil diskusi tadi. Kenapa?”


“Karena kita mendapatkan surat-surat sakti ini.”


“Adakah alasan yang lainnya, Sir? Karena menurutku pembicaraan tadi itu tampak terlalu mulus sampai membuatnya terasa janggal. Aku tahu Wali Kota tadi tidak memperhatikanku atau juga tertarik dengan bahasan kita, melainkan dirimu.”


“Kau ternyata cukup peka.” Okul memuji. “Ya, benar. Wali Kota tadi tidak peduli dengan urusan kita, tidak tertarik sama sekali malahan, dia setuju-setuju saja karena dia tidak ingin terlibat masalah rumit jika menolaknya. Lagian tempat yang kita minta adalah daerah yang tidak terlalu memiliki banyak pengaruh untuk kota utama, jadi ia tidak peduli.”


“Begitu rupanya.”


“Tapi... ada satu alasan lagi kenapa semuanya berjalan terlalu halus, yaitu gara-gara Sir Puppis. Aku sempat heran juga kenapa semuanya terlalu lancar, lalu saat Wali Kota menyebut nama Sir Puppis aku paham. Dia hanya ingin namanya baik di mata Sir Puppis jika dia membantu kita.”


“Aku tidak tahu siapakah Sir Puppis yang kau maksudkan, Sir. Orang hebatkah dia?”


Okul segera menatap Mab dengan kaget. “Kau tidak mengenalnya?”


“Kami terlalu sibuk dengan hidup kami di tempat yang jauh itu, Sir. Kami tidak terlalu peduli dengan yang lainnya selama kami hidup damai.”


Okul mendengus geli mendengarnya. Ternyata selain Alpha dan Ursa masih ada saja orang-orang yang belum pernah mendengar kehebatan Puppis, bahkan namanya saja sudah menakuti banyak orang.


“Sir Puppis Argo Navis, beliau adalah komandan tertinggi di militer, komandan dari seluruh komandan. Kami berada langsung di bawah perintah orang tersebut, karena itulah pembicaraan tadi bisa selancar itu,” jawab Okul kemudian.


Mab terlonjak kaget. “Orang menakjubkan ternyata!” serunya refleks. “Kalau begitu, Sir, kau dan rekan-rekanmu juga adalah orang-orang yang hebat.”


“Nah, kami hanya prajurit biasa yang mengurus sandera. Kami tidak hebat sama sekali.”


“Sandera?” Mab mengulang bingung.


“Ya. Alpha dan Ursa, dua anggota termuda kami adalah sandera kami. Mungkin kami tidak terlihat seperti tawanan dengan penawannya, itu karena kami telah lama bersama, tapi memang begitulah kami.”


“Kalau kalian bukan orang hebat, Sir, maka kalian adalah orang-orang baik.”


“Begitukah?”


“Ya.”


“Untuk memenuhi pujianmu kami akan membantumu mendirikan pemukiman itu selagi kami masih di sini menunggu kesembuhan kapten kami.”


“Terima kasih banyak, Sir! Kalian benar-benar penyelamat kami!”


...***...

__ADS_1


__ADS_2