
...***...
Semua orang langsung menghentikan laju kaki-kaki kuda mereka dengan menarik tali kekang secepat mungkin. Kepala kuda-kuda itu tertarik kencang, mereka meringkik selama sesaat.
“Apakah musuh?!”
Di telinga Algol pertanyaan Alpha kedengaran begitu antusias. Seperti menunggu sesuatu yang cukup lama dinantikan. Ia hanya terkekeh mengetahui kalau pemuda itu tak sabar menantikan pertarungannya melawan ramplite.
“Entah. Tapi dia hanya mengawasi kita. Kelihatannya bukan sesuatu yang berbahaya. Kita tidak harus menghadapi—”
Kuda Algol mendadak meringkik nyaring dengan dua kaki depan menyentak-nyentak udara gara-gara seorang anak kecil berlari keluar dari bayangan pohon secara tiba-tiba. Anak kecil itu merentangkan kedua tangannya dengan air mata yang berderai.
“Tolong berhenti...! Jangan pergi...!” teriaknya berusaha menahan tangis. Ia mengusap matanya dengan tangan yang kotor. “Kumohon... tolong aku!” serunya memohon.
Melihat kalau anak itu tidak memiliki tanda-tanda membahayakan mereka Algol segera turun dari kuda. Ia mendekati anak perempuan tersebut. Namun betapa kagetnya dia ketika menyadari bahwa di bawah bayangan pohon tergeletak mayat seorang pria. Algol menatap anak itu penuh kecurigaan.
“Bukan aku yang membunuhnya!” serunya panik menyadari tatapan menusuk yang diarahkan padanya. “Para ramplite yang melakukannya... demi menyelamatkanku, dia terbunuh. Aku sendirian. Dan aku tidak punya kekuatan untuk melindungi diriku. Makanya, aku mohon pada kalian, tolong aku.”
Algol menepuk kepala anak itu sekilas. Ia mendekati si mayat pria. Pakaiannya koyak. Luka-luka memenuhi tubuhnya. Terdapat pula bekas jeratan yang melingkar di leher, kemungkinan itu yang menyebabkan pria tersebut tewas, karena tercekik. Algol meraba-raba badan si mayat, ia menemukan beberapa daun yang tertinggal. Daun itu tidak seperti daun pada umumnya, warna hijaunya terlalu gelap, hampir-hampir hitam dan teksturnya aneh.
“Dilihat dari bekas lukanya tampaknya ia diserang oleh ramplite golongan dua tingkat rendah,” kata Okul dari belakang Algol. Ia menerima daun yang diulurkan oleh kaptennya. “Daun... ramplite jenis tumbuhan, ya. Bekas di lehernya itu pasti akibat lilitan sulur tumbuhan. Tapi ini bukan kawasan hutan lebat di mana merupakan tempat unggul untuk ramplite jenis itu, dia pasti tewas karena dia lemah.”
“Dia tidak lemah sama sekali!” teriak bocah itu lantang. Ia memandang ke mata Okul berapi-api. “Kami datang dari arah selatan, dia berjuang menyelamatkanku dari para ramplite itu seorang diri, dan dia berhasil membawaku ke tempat aman sejauh ini. Dia... dia tidak lemah sama sekali... dia sangat kuat... dia hebat...! Dia adalah pejuang kuat yang mulia!”
“Baiklah. Dia prajurit yang kuat dan mulia.” Okul berkata datar. Ia tidak berminat berdebat dengan anak kecil yang emosinya tengah terguncang. “Katakan pada kami mengapa kalian diserang?”
“Kami adalah sekelompok pedagang yang pergi dari satu tempat ke tempat lain, tujuan kami selanjutnya adalah Kota Large Magellanic Cloud, tetapi di tengah jalan ada yang menarik kakiku ke dalam hutan. Pria ini adalah pengawal kami. Ia meminta agar rombongan kami tetap bergerak karena jika diam di tempat maka hanya akan makan korban banyak. Dia berhasil menyelamatkanku, tapi dia malah meninggal,” katanya dengan murung sambil meremas ujung bajunya.
Ia pun mendongak.
“Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kalian prajurit negeri ini kan, kumohon bantu aku menguburkan jasadnya. Lalu tolong antarkan aku ke Kota Large Magellanic Cloud,” pintanya penuh harap.
Algol mengela nafas. Ia menghadap semua anggotanya. “Aku tak keberatan mengantarkannya ke kota itu, tapi menguburkan mayat di saat sekarang... itu akan cukup memakan waktu.”
Memahami dengan jelas maksud dari kaptennya Diphda menunduk untuk menyejajarkan tingginya dengan gadis cilik itu. “Maafkan kami, kami juga punya tujuan yang harus dituju, kami hanya bisa mengantarmu ke kota, tidak lebih.”
Anak itu menatap tidak percaya. Ia melirik mayat penyelamatnya tidak tega.
“Jangan memelas begitu. Ini adalah dunia yang tidak aman. Kematian bisa terjadi pada siapa saja di mana saja. Kalaupun kami repot-repot meluangkan waktu untuk mengurus satu mayat tetap tidak akan berpengaruh apa pun untuk dunia ini. Bagaimanapun ini dunia yang keras, kuatkan dirimu, jangan cengeng.” Okul menegurnya dengan dingin.
Bocah itu semakin melebarkan matanya tak percaya. Ia menatap jijik orang-orang dewasa yang mengelilinginya. Pandangan matanya makin nanar, senyum kekecewaan merekah di bibir mungilnya yang kering, ia lalu kembali terisak lagi.
Alpha yang menangkap pemandangan menyedihkan di hadapannya langsung merasa iba. Ia tahu perasaan gadis itu. Sendirian dan kehilangan harapan. Ia juga pernah merasakannya ketika mengetahui seluruh penduduk desanya telah menghilang. Namun ia memiliki Ursa yang bersamanya, tetapi gadis kecil itu hanya sendirian saat ini. Alpha tergerak karena hal tersebut.
“Aku akan membantunya. Aku akan menguburkan jasad pria itu.”
“Aku juga.”
“Kalian berdua—”
__ADS_1
“Menguburkannya tidak akan makan banyak waktu, tidak akan menghabiskan sampai satu jam, jika kita juga akan mengantarkan gadis ini ke Kota Large Magellanic Cloud apa salahnya menguburkan mayat ini sebentar? Aku dan Ursa yang akan melakukannya, kalian hanya perlu menunggu.” Alpha bersikeras.
Tanpa menunggu persetujuan Alpha langsung mendekat ke si mayat. Menggunakan kekuatan cahayanya ia membentuk sesuatu yang bisa digunakan untuk menggali dan mulai membuat lubang. Ursa memakai kayu pipih yang ia temukan dan ikut membantu.
Gadis cilik itu tersentuh dengan perbuatan keduanya. Ia menoleh kepada Okul, memberikan tatapan tajam tidak suka, lalu menyusul Alpha dan Ursa untuk ikut menggali. Ia berjongkok di tengah-tengah keduanya. Karena tidak ada alat ia membantu menyingkirkan tanah yang menumpuk.
“Terima kasih banyak. Tidak seperti mereka... kalian sangat baik,” ucapnya penuh penghargaan.
“Nah, jangan dipikirkan. Kami juga bukannya orang yang kejam,” balas Alpha.
Hari semakin gelap. Matahari sudah sepenuhnya terbenam, namun sisa-sisa sinarnya yang kemerahan masih menerangi Alpha dan Ursa menggali kuburan. Setelah dirasa cukup dalam Alpha dan Ursa mengangkat bersama-sama tubuh sang mayat dan menimbunnya.
“Eh?!”
Alpha menoleh kaget akibat suara bocah di belakangnya. “Ada apa? Apa kau melupakan sesuatu?”
“Um, tidak! Tidak ada! Lanjutkan saja menguburnya! Aku mau mencari bunga dulu!” jawabnya kelabakan.
Seketika ia menjauh dan mencabuti bunga-bunga liar yang tumbuh dekat semak-semak tak jauh dari sana. Sesekali matanya melirik Alpha dan Ursa. ‘Tidak mungkin! Aku tidak salah melihatnya, mereka berdua memiliki belati itu, mereka Guardian! Mereka memang Guardian... tapi kenapa mereka bersama prajurit Negeri Earth? Selain itu mereka juga tidak memakai kalung itu... apakah mereka bisa dipercaya?’ batinnya.
“Hei! Kami sudah selesai menguburnya!” seru Alpha memanggil gadis itu supaya mendekat. Gadis cilik itu datang membawa cukup banyak bunga. “Aku akan ikut mendoakannya bersamamu.”
“Terima kasih.”
Mereka bertiga berjongkok di sekitar makam dan mulai mendoakan si mayat. Gadis kecil itu membuka mata pertama kali. Ia memperhatikan kalau Alpha dan Ursa berdoa dengan serius. Ia lalu memejamkan matanya lagi, kali ini sambil mengajak bicara Alpha dan Ursa.
“Kakak-kakak, jangan kaget mendengar apa yang akan kukatakan. Dengarkan dan jawablah seperti kalian sedang berdoa, karena para prajurit itu masih mengawasi kita,” katanya memulai. Alpha dan Ursa mengerutkan kening mendengar permintaan tersebut, namun mereka melakukannya. Mata mereka masih tertutup dengan lengan terkatup. “Kalian berdua ini Guardian, kan?”
“Guardian selalu membawa belati berukir bunga snapdragon bersama mereka. Aku juga adalah penduduk Desa Mayall, makanya aku tahu itu.”
“Kau dari Desa Mayall?” ulang Alpha tak percaya.
“Pria yang tewas ini juga adalah seorang Guardian. Belatinya hilang saat melawan musuh. Sedangkan bukti-bukti yang menunjukkan kalau dia dari Desa Mayall sudah kuhilangkan.”
Ursa tersenyum. “Bagus. Kau bertindak cepat. Rombongan pedagang yang kau bicarakan tadi...”
“Ya. Mereka penduduk Desa Mayall. Kami melakukan apa saja untuk bisa tetap hidup dan menghindari prajurit yang mencari-cari kami, termasuk dengan menyamar. Tapi sebelum aku mengatakan lebih banyak lagi aku ingin memastikan satu hal,” katanya.
Alpha mengerti maksud gadis kecil itu, maka ia pun langsung memberikan jawabannya tanpa ditanyai. “Kami bersama mereka karena sebuah alasan, tapi kami tidak mengkhianati desa, katakanlah ini adalah misi penyamaran kami, sama seperti yang kalian lakukan,” ujar Alpha menjelaskan secara singkat.
“Begitu, ya... syukurlah. Aku lega. Aku kira aku akan sendirian. Terima kasih sudah membantuku,” ucapnya penuh syukur.
“Kita tidak bisa lama-lama berpura-pura berdoa. Jelaskan lebih banyak mengenai yang kau tahu kepada kami nanti, ya,” kata Ursa lembut.
“Ya.”
Mereka segera menghampiri Algol serta yang lain yang telah menunggu di atas kuda-kuda. Alpha mengajukan diri untuk membawa gadis itu di atas kudanya. Permintaan itu tidak dipermasalahkan, langsung diiyakan oleh Algol.
“Kalian berdoa cukup lama di sana,” ucap Kraz yang mengawal di belakang.
“Itu karena kami memintakan maaf untuk kalian atas perilaku kasar kalian sebelumnya,” jawab Alpha ketus.
__ADS_1
“Kau juga mendadak jadi akrab dengan gadis cilik itu, Alpha.”
“Karena dia bilang aku adalah kakak yang baik jika dibandingkan kalian, tentu saja itu membuatku terharu dan jadi menyukainya. Tidak ada yang salah. Kalau kalian tidak bisa akrab dengan gadis ini maka kalianlah yang terlalu berhati dingin,” balas Alpha mengelak.
Kraz tidak bertanya-tanya lagi. Mereka melanjutkan perjalanan yang terlambat dengan ditemani derap kaki kuda yang menggebu keras serta suara-suara binatang malam. Tujuan mereka berubah arah. Tanpa memakan waktu yang lama mereka akhirnya sampai di pintu masuk selatan Kota Large Magellanic Cloud. Prajurit yang berjaga menghadang mereka.
“Selamat malam, Prajurit. Kami adalah regu Algol dari markas Milky Way yang sedang dalam perjalanan misi. Kota ini bukan tujuan kami, tetapi kami menemukan anak tersesat, rombongan pedagangnya masuk ke kota ini, katanya.”
“Ah! Siang tadi serombongan pedagang memang telah memasuki kota.”
“Kalau begitu informasi sudah dipastikan benar. Biarkan kami masuk.”
Melihat lencana warna biru milik Algol membuat mereka tak bertanya-tanya lagi dan segera memberi jalan masuk. Lencana biru berada satu tingkat di atas lencana merah, itu diberikan kepada para prajurit yang memiliki tingkat tinggi. Lencana tidak menunjukkan pangkat mereka, melainkan kekuatan mereka, yang mana juga mengindikasikan misi-misi bahaya apa yang mungkin telah dilakukan oleh prajurit tersebut.
Algol memimpin rombongan kecilnya menuju markas militer kota tersebut. Ia perlu membuat laporan atas kunjungan dadakannya dan menjelaskan maksud kedatangannya karena bagaimanapun ia adalah tamu tak diundang. Ia juga meminta izin menggunakan salah satu ruang di markas untuk beristirahat.
Gadis cilik itu menarik-narik lengan baju Alpha. “Apakah kita tidak akan mencari rombonganku sekarang? Aku cemas jika aku tidak segera kembali pada mereka, mereka akan sangat mengkhawatirkanku, terutama orang tuaku.”
Alpha tidak bisa menjawab. Ia melayangkan pandangan pada Algol untuk mendapatkan jawaban dari kaptennya tersebut.
“Diphda. Kraz. Kalian temani mereka mencari rombongan anak itu.”
“Eeh?! Kenapa kami? Kau membuat kami seolah-olah pengawal pribadi mereka,” protes pria berwajah maskulin dengan rambut kuningnya tersebut tak suka.
“Memangnya salah, Mr. Kraz? Kalian memang pengawal untuk tawanan seperti kami,” ujar Ursa, malah kelihatan membanggakan statusnya.
“Tawanan?” beo si gadis kecil.
“Mungkin tidak kelihatan seperti sungguhan, tetapi kami adalah tawanan mereka gara-gara kami terlibat dalam suatu masalah, jadi kami harus terus diawasi. Tapi bukan berarti kami tidak akan membantumu menemukan rombonganmu, Adik Kecil. Jadi, mari pergi,” kata Ursa penuh sayang.
“Um, ya!”
Okul berbisik ketika Diphda yang merupakan orang terakhir yang keluar melewatinya. “Jangan alihkan pandanganmu dari mereka berdua.”
“Tidak akan.”
...***...
Author Notes :
Halo, pembaca sekalian ^_^
Author akhirnya menyertakan peta Earthland untuk mendukung cerita ini. Jadi gini, maaf ya aku gak menyertakannya kemarin-kemarin karena petanya belum ada. Nah, maaf juga kalau misalkan petanya jelek, soalnya cuma digambar tangan dan ngerjainnya tengah malem, makanya... jadinya gitu deh, ala kadarnya. Mohon dimaklumi ya...
Fun Fact :
- Outline peta di atas tidak orisinil, melainkan terinspirasi dari peta Sundaland, meskipun tidak persis. Tapi kalau isinya author yang buat sendiri kok.
- Karena author gak ahli dalam membuat peta maka keterangan seperti hutan, sungai, danau, dll tidak author sematkan. Eits, tapi tenang... bakal author jelaskan di ceritanya misalkan menyangkut hal itu, jadi gak usah khawatir.
- Nama-nama tempat di cerita ini juga diambil dari pengetahuan astronomi, lho. Yap, betul! Itu adalah nama-nama galaksi.
__ADS_1
Sekian fun fact kali ini. Nantikan bab selanjutnya. Jangan lupa kasih pendapat berupa like, komen, kritik maupun saran ya. Jangan sungkan bertanya kalau ada yang gak dipahami. Salam hangat dari author ^_^