
Tanpa memedulikan rombongannya yang sudah tertinggal Alpha dan Ursa malah semakin menambah kecepatan laju kuda-kuda mereka begitu gerbang desa tampak di jarak pandang mereka. Keduanya tidak sabar. Akhirnya, setelah lima tahun terjebak dalam markas militer mereka akan segera melihat desa mereka kembali.
“Tidak apa-apa dibiarkan seperti itu, Kapten?” Okul yang berkuda di sampingnya memastikan diamnya Algol.
“Tak apa. Toh, mereka tidak akan lari dari kita. Mereka akan berhenti setelah masuk gerbang.”
Benar saja. Alpha dan Ursa langsung menarik tali kekang kudanya sesaat setelah melewati gerbang dari kayu-kayu pohon yang diukir indah. Mereka melompat turun dari kuda-kuda dan mengamati sekitar. Kecuali bangunan-bangunan yang hancur serta tumbuhan liar yang subur tidak ada banyak perubahan di desa itu.
Mereka menelusuri jalanan dengan berjalan kaki, diikuti pula oleh seluruh anggota regu Algol. Tidak banyak yang mereka katakan. Ekspresi wajah yang sering berubahlah yang lebih banyak mengungkapkan perasaan mereka.
“Pondok ini juga hancur...” gumam Ursa ketika memperhatikan sebuah bangunan kayu yang sudah tak berbentuk semestinya lagi. Pintu depannya sudah hilang entah ke mana, sebagian dinding dan atapnya juga remuk. “Sangat disayangkan, tapi inilah yang dihasilkan jika perang terjadi—ah!”
Pemuda itu tersentak tiba-tiba. Ia menoleh pada Alpha dengan segera.
“Alpha. Aku mau masuk ke dalam pondokan ini. Bagian belakang, tempat di mana anak-anak tidur masih belum rusak, ada sesuatu yang ingin kuambil,” katanya.
Alpha mengangguk paham. “Baiklah. Aku juga akan melihat rumahku sebentar,” balasnya. Ia lalu menatap Algol. “Kalian bebas mau mengikuti kami atau melihat-lihat desa ini. Kami tidak akan kabur.”
“Lima belas menit. Itu waktu maksimal kalian,” jawab Algol.
“Lebih dari cukup!” seru Alpha yang langsung melesat pergi ke bagian utara desa.
Sementara Ursa masuk ke dalam pondokan yang rusak tersebut. Bangunan kayu yang memanjang ke belakang itu adalah pondokan yang menampung anak-anak yatim-piatu. Ursa tinggal di sana setelah kematian neneknya, satu-satunya orang yang merawatnya.
Setelah masuk Ursa segera mencari ke arah kamarnya, ia tidak perlu bingung karena ingatannya mengenai denah pondokan tersebut sudah di luar kepala. Ursa membuka salah satu pintu kamar. Tampak ranjang-ranjang bertingkat dengan kasur-kasur rapi yang berdebu menyambut matanya. Pemandangan itu langsung membuatnya bernostalgia.
Ursa naik ke ranjang paling atas di sebelah kanan, di mana tempat tidurnya berada. Ia merogoh ke bawah bantal. Tangannya menemukan sesuatu dan ia segera menariknya dengan cepat. “Ada!” serunya lega sambil mengamati kalung dengan liontin tiga anak rantai.
Dengan senyuman puas ia mengenakan kalung tersebut setelah turun dari ranjangnya. Kalung itu menggantung tepat di atas kalung kristal ajaibnya. “Ini adalah kalung jimatku yang sebenarnya. Dengan ini aku baru merasa lengkap,” gumamnya.
Ursa segera keluar dari pondokan tersebut. Karena ia tak melihat seseorang di sekitar ia memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar. Ursa berkeliling dan berhenti di sebuah kebun apel tak terawat. Rumput-rumput liarnya tinggi. Dahan-dahan pohon menjulur tidak karuan. Buah-buahnya yang kelewat matang jatuh ke tanah dan membusuk.
Ursa mendadak ingat dengan paman pemilik kebun apel tersebut. Dulu... ia, Alpha dan teman-temannya suka diam-diam mencuri apel dan mereka kena marah, tetapi paman itu tidak pernah menghukum mereka. Seorang paman yang baik. Kemudian ia memetik sebuah apel yang bisa dijangkaunya.
“Semoga paman itu dan semua penduduk desa baik-baik saja.”
“Ursaaa!” Alpha berlari menuju padanya. “Aku tahu kau pasti mengunjungi tempat ini. Bagaimanapun juga kau adalah penggemar apel.”
“Kau mendapatkan sesuatu dari rumahmu, Alpha?”
Bukan menjawab, Alpha malah melemparkan sebuah belati kepada Ursa. Pemuda itu menangkapnya lalu mengeceknya dan tahu kalau belati itu ternyata belati khusus untuk Guardian.
“Ini adalah hadiah dari ayahku sewaktu aku terpilih menjadi kandidat Guardian. Hanya bekas, tapi masih bagus dan tajam. Soal kemampuannya untuk mengalahkan musuh jangan ditanya lagi.”
__ADS_1
“Tapi, Alpha, ini adalah hadiah dari ayahmu. Sebaiknya kau simpan untuk dirimu sendiri.”
“Terimalah, Ursa. Anggap kalau ini adalah berkat dari senior kita, bukan dari ayahku. Oke?”
Ursa akhirnya mengangguk. Mereka kembali menyusuri desa dan bertemu dengan Algol di tengah jalan.
“Wajahmu kusut, Kapten. Apa yang kau pikirkan?” tanya Alpha.
“Kalian tahu, misteri bagaimana penduduk bisa melarikan diri tanpa meninggalkan jejak itu sangat membingungkan, bagaimana mereka bisa melakukannya... aku selalu bertanya-tanya, tapi aku tidak menemukan jawaban bahkan setelah berkeliling.”
“Itu sama misteriusnya untuk kami,” ujar Ursa. Dia bingung dan ingin tahu, tapi juga merasa bangga dengan kelihaian desanya.
“Kapten! Aku mendapatkan petunjuk!” Diphda berseru dari balik sebuah bangunan. Mereka segera menghampiri prajurit perempuan itu. “Ada sebuah terowongan di sini. Mungkin inilah yang mereka gunakan untuk melarikan diri,” ungkapnya.
Algol segera mengecek terowongan yang dimaksud. Alpha dan Ursa justru saling pandang. Mereka tidak tahu mengenai terowongan yang ada di desa. Mereka mengamati sekitar. Terowongan itu tidak di tempat tersembunyi, melainkan di depan sebuah kedai makan yang sangat mudah terlihat, dekat dengan pot-pot bunga tak terawat.
Algol memutuskan untuk turun dan menelusuri terowongan tersebut. Hal itu juga diikuti oleh yang lainnya. Jalur terowongan tersebut tidak lebar, kira-kira hanya muat dua orang beriringan, tidak begitu panjang pula, ujungnya adalah sebuah ruangan bawah tanah berbentuk bulat yang cukup luas. Tidak lama setelah mereka sampai di sana Okul dan Kraz muncul dari ujung terowongan lain yang jumlahnya cukup banyak.
“Apa-apaan ini, Alpha?” tanya Okul.
Alpha menggeleng cepat. Pertanda ia tidak mengetahui apa pun.
“Sistem keamanan penduduk apabila terjadi keadaan darurat... keberadaannya sangat dirahasiakan untuk mencegah kebocoran informasi... bisa dikatakan kalau ini adalah jalur kabur yang hanya digunakan sekali saja...” gumam Ursa menyuarakan pikirannya.
Ursa menggali sedikit. Terlihat kalau ada jalur yang sengaja ditutup. Ia lalu menggali di bagian tembok yang lain, ternyata juga ada. Kraz yang datang membantu menemukan dua jalur lagi. Total jalur yang tertutup ada empat.
“Begitu... jadi ini adalah titik kumpul bawah tanah, lalu jalur melarikan dirinya dibagi menjadi empat, dan entah berapa lagi jalur bercabang yang ada di depan sana. Selain itu, sampai manakah terowongan ini mengarah, siapa yang tahu?” ujar Ursa menyimpulkan semua pemikirannya.
“Benar-benar pintar. Bahkan penduduknya sendiri pun baru mengetahuinya di saat-saat terakhir kalau mereka memiliki terowongan,” kata Diphda.
“Tapi aneh... prajurit yang menyelidiki desa ini tidak pernah menemukan terowongannya, tapi tiba-tiba kita bisa menemukannya,” kata Algol.
Kraz mengangkat tangannya dan berdehem. “Sebenarnya aku tidak sengaja menemukan terowongan ini. Aku jatuh tiba-tiba setelah menendang pot bunga besar yang lapuk.”
“Aku menemukan lubang terowongan ini di dalam sebuah bekas toko bunga,” ungkap Okul.
Ursa yang mendengarkan itu berpikir keras. Jalur-jalur itu berasal dari tempat yang dapat dilihat dengan mudah, aneh sekali jika mereka tidak mengetahui keberadaannya selama ini. Pasti ada sebuah trik, pikirnya.
“Pot...? Mr. Kraz, kau bilang tentang pot, kan?” Ursa bertanya tiba-tiba.
“Ya. Sebuah pot kayu besar. Tanamannya sudah mati. Hanya pot dan tanah,” jawabnya.
"Dan Mr. Okul menemukannya di bekas toko bunga... lalu kita masuk lewat—”
__ADS_1
Tanpa menyelesaikan perkataannya Ursa segera berlari ke salah satu terowongan. Ia mengikuti jalur terowongan itu hingga menemukan lubang masuknya. Ia mendorong penutup yang ada di atasnya, cukup berat dan menyusahkan, namun pada akhirnya ia berhasil. Mereka semua keluar dari lubang terowongan itu. Ursa yang sadar di mana mereka berada berwajah cerah.
“Bunga snapdragon, Alpha! Desa kita menanam bunga itu di banyak tempat! Selain bermakna kekuatan dan keanggunan bunga snapdragon juga bermakna penipuan dan anggapan!”
Mata Alpha melebar mendengar hal tersebut. “Ah! Begitu rupanya! Jadi bunga-bunga itu bukan hanya hiasan, melainkan juga adalah penanda kalau di tempat bunga itu berada terdapat terowongan rahasia. Hahaha... benar-benar penipuan,” ujarnya dengan suara keras.
Algol terkekeh. Siapa yang menyangka kalau terowongan rahasia untuk melarikan diri yang mereka cari selama ini justru sudah diberi tanda secara mencolok di seluruh desa, benar-benar tak terduga. Memang tidak sia-sia membawa Alpha dan Ursa ke sana.
“Lalu, bagaimana dengan ingatan kalian? Apa kalian ingat sesuatu tentang pemandangan hitam dan putih yang kalian saksikan itu?” tanya Diphda.
Baik Alpha maupun Ursa sama-sama menggeleng.
“Mungkin kita harus pergi ke sana,” kata Kraz.
Dan begitulah, mereka menuju selatan desa, tempat di mana Alpha dan Ursa ditemukan. Mereka berada cukup lama di sana, namun tidak juga ingatan mengenai kejadian itu melintas di kepala mereka. Bahkan kedua pemuda itu juga turun ke jurang untuk mencobanya tetapi hasilnya tetap nihil.
“Percuma! Aku tidak bisa mengingat apa-apa!” keluh Alpha keras-keras. Ia lalu menjatuhkan diri dan berbaring di rerumputan.
Ursa pun mengikuti hal yang sama. Ia terus berpikir sejak masuk desa. Otaknya lelah. Mungkin beristirahat sambil menikmati angin sore akan membantunya sedikit rileks. Ursa pun memejamkan matanya.
“Awas! Bahaya!”
Ursa tiba-tiba bangkit berdiri dengan kaget. Barusan, sepenggal kejadian tiba-tiba masuk ke kepalanya. Ia menoleh pada Alpha. Merasa ditatap pemuda berdarah campuran itu pun ikut bangkit.
“Ursa? Ada apa?”
“Aku teringat sesuatu, Alpha!”
Mendengar seruan itu membuat seluruh regu Algol mendekati keduanya. Ursa pun bercerita.
“Setelah kita melihat pemandangan hitam-putih itu, Alpha, kita pingsan. Kita bangun kemudian, tetapi para ramplite sudah mengepung kita. Waktu itu anehnya kau tidak bisa banyak bergerak, kemampuan bertarungmu payah sekali, bahkan kontrol kekuatan cahayamu kacau sehingga aku harus bertarung sambil melindungimu. Tapi aku lengah. Aku yakin kita akan diserang, namun tiba-tiba seseorang mendorong kita ke jurang.”
“Untuk membunuh kita?”
“Untuk menyelamatkan kita,” sergah Ursa.
“Dan... siapa seseorang itu?” tanya Okul.
Ursa malah menggeleng. “Tidak, bukan seseorang. Kalau aku mengingatnya lagi, dia bukanlah manusia... melainkan ramplite. Seorang ramplite golongan satu mendorong kita ke jurang untuk menghindarkan kita dari serangan ramplite lainnya.”
Mereka yang mendengar terbelalak tak percaya. Aneh. Itu terlalu aneh. Seorang ramplite menyelamatkan manusia itu tidaklah mungkin! Mereka adalah musuh alami!
...***...
__ADS_1