
Alpha menahan niatnya untuk mengecek kondisi Ursa. Di hadapannya sendiri berdiri dua lawan yang tidak mudah dikalahkan, Kraz dan kapten mereka, Algol.
Sejak awal mereka melakukan pertarungan jarak jauh, yaitu dengan saling serang menggunakan kekuatan cahaya. Alpha lebih sering terpojokkan. Ia mungkin memiliki banyak teknik, namun dibandingkan kapten mereka serta Kraz ia masihlah lebih lemah.
Alpha menggunakan kekuatan cahaya di kakinya, sepatunya jadi berlapis cahaya biru keputihan. Kekuatan cahaya yang ia aplikasikan itu membuatnya mampu berlari sangat cepat.
Ia berlari mengelilingi Kraz dan Algol.
Tapi Alpha tidak berlari asal-asalan. Ujung pedangnya ia gesekkan ke tanah sehingga menciptakan debu tebal. Dengan kecepatan larinya yang super kencang membuat angin berubah menjadi pusaran.
“Dia membuat pandangan kita terbatas.”
“Dengan begini kita tidak tahu di mana dia berada, tetapi dia hanya perlu menyerang ke dalam pusaran ini untuk mengenai kita. Taktik yang lumayan,” puji Algol.
“Ayolah, Kapten, saat ini dia adalah lawan kita, jangan malah kagum dengan apa yang dilakukannya.”
Algol hanya tertawa datar mendengar protes tersebut.
“Di belakangmu, Kapten!”
“Aku tahu!”
Algol menangkis Wind Slash Alpha dengan sigap. Tapi serangan itu tidak hanya satu, muncul tebasan-tebasan lain dari seluruh dinding pusaran debu. Kraz juga sibuk menangkis semua serangan yang mengarah pada mereka.
“Bocah kurang ajar itu...!” geramnya. “Kapten, jika terus begini kitalah yang akan dipojokkan.”
“Kau benar. Pusaran debu ini juga semakin tebal. Kraz, lakukan serangan besar untuk menghancurkan kurungan ini sebelum dia menyerang dengan teknik berbahay—”
“Delta Velorum : Light Burst!”
Terlambat. Perintah Algol terpotong oleh teriakan serangan dari Alpha. Ledakan cahaya memenuhi dalam pusaran. Algol dan Kraz memejamkan mata secara refleks. Di saat yang sama Alpha melancarkan serangan lain.
“Delta Velorum : Spear Thrust!”
Ujung-ujung lancip yang menyerupai mata tombak merangsek menuju Algol dan Kraz dengan jumlah banyak.
Serangan itu berhasil melukai mereka. Algol tertusuk di bagian pundak dan lengan atasnya, sementara Kraz di telapak tangan kirinya serta betis. Tetapi itu tidak cukup menghentikan mereka.
“Sekarang, Kraz!”
“Baik!” jawabnya mantap. Kraz menarik nafas dalam-dalam. “Beta Corvi : Gigantic Blade.”
Dari tangan kosong Kraz bersinar terang cahaya kuning, cahaya itu lalu membentuk pedang raksasa seperti yang ia maksudkan. Kraz mengayunkannya dengan ringan, menebaskannya pada pusaran debu dan menghilangkan pusaran itu dalam sekejap.
__ADS_1
Alpha berhenti mendadak. Ia menyeringai sinis menatap Kraz serta pedang cahaya super besarnya. “Ini dia, teknik-teknik kesukaan Mr. Kraz—senjata raksasa.”
“Coba tahan ini, Alpha!” teriaknya seraya mengayunkan pedangnya pada Alpha.
“Ngggh!”
Alpha menahan serangan itu dengan perisai di tangannya karena ia sadar tidak mampu menghindari serangan skala besar tersebut. Namun Kraz justru menambah tekanan pada pedangnya, menyebabkan Alpha terdesak mundur hingga memaksanya menekuk lutut agar tidak terempas.
“Berita buruk untukmu, Alpha. Aku datang untuk memberimu hadiah.” Algol muncul di dekatnya secara tiba-tiba. “Beta Persei : Punch.”
Lengan besar yang tercipta dari cahaya biru Algol terbentuk sempurna. Lalu digunakannya lengan yang seperti perpanjangan tubuhnya itu untuk memukul Alpha sekeras mungkin. Alpha terpelanting hingga menabrak pohon.
“Gwaah!”
Alpha memuntahkan cairan. Perutnya kesakitan. Baru saja ia mendongak untuk melihat ke depan, pukulan Algol malah menghantamnya sekali lagi. Bukan hanya dirinya, pohon yang ada di belakangnya pun ikut patah dan terlempar menabrak patung prajurit. Patung batu itu hancur, reruntuhannya menimbun Alpha.
Tetapi lagi dan lagi, Algol tidak berhenti menyerangnya, kali ini memukul Alpha berkali-kali, mencegah pemuda itu untuk bangun berdiri. Alpha tergelatak tak berdaya, dari mulutnya yang sobek mengalir darah segar.
“Yang benar saja...” gumamnya sambil meremas pecahan-pecahan batu kecil. “Aku menolak kalah semudah ini!” serunya sambil bangkit berdiri.
“Bagus. Aku memang mengharapkan balasan yang lebih baik darimu,” ucap Algol.
“Delta Velorum : Alpha Beam!”
Alpha menembakkan cahaya secara acak ke arah lawannya. Namun Kraz menghalaunya dengan kubah setengah lingkaran yang terbuat dari kekuatan cahayanya. Algol juga telah ditariknya masuk ke dalam kubah tersebut.
Prajurit-prajurit yang menyaksikan itu panik. Serangan Alpha juga mengarah kepada mereka. Bahkan beberapa pilar bangunan sudah setengah rusak. Puppis yang menyaksikan itu tidak bisa diam. Ia membentuk tembok cahaya untuk menahan serangan Alpha agar tidak menghancurkan markas militer.
Sementara itu, Okul dan Diphda yang tengah menghadapi Ursa setelah pemuda itu keluar dari kolam juga terkejut kaget. Beberapa serangan Alpha mengenai mereka dan cukup menimbulkan luka.
“Aaa... kebiasaan Alpha saat kesal akhirnya muncul. Tapi aku sudah terbiasa dengan serangan asal-asalan ini, menghindarinya sama sekali bukan masalah,” ujar Ursa percaya diri.
Ia berlari ke arah Okul dan Diphda dengan kedua belati di tangan. Ia menantang mereka dalam pertarungan jarak dekat yang merupakan keahliannya. Tidak mudah mengalahkan kedua prajurit itu, tapi jika pertarungan semacam itu diteruskan dalam waktu lama, maka Ursalah yang lebih unggul. Sebab stamina manusia biasa jauh lebih unggul ketimbang manusia bintang.
Kembali pada Alpha.
Ia mengerutkan keningnya melihat serangannya tak menggores kubah Kraz sama sekali. Ia mendekat dengan langkah tenang. Alpha Beam miliknya dipusatkan hanya pada tangan kiri, menyebabkan jumlah tembakan cahayanya mengurang setengah, namun di tangan kanannya muncul martil cahaya besar.
Alpha memukulkan martil itu ke kubah berkali-kali, keras dan bertenaga. Dentumannya cukup mengganggu telinga. Lagi-lagi, hal itu belum menunjukkan hasil memuaskan.
Kesal dengan hasil yang nihil, Alpha mengganti serangannya. Dengan menggunakan kepalan tangan yang serupa seperti milik Algol ia memukul-mukul kubah layaknya samsak tinju. Hal itu malah menunjukkan hasil yang lebih bagus daripada serangan sebelumnya. Kubahnya mampu bergetar.
“Tidak ada gunanya, Alpha. Kubah ini adalah pertahanan kebanggaanku. Kubah ini sekuat baja.”
__ADS_1
“Hm... begitu, ya, baiklah.”
Alpha menghilangkan tangan tambahannya. Ia kelihatan tidak melakukan apa-apa selama beberapa saat di mata Algol dan Kraz. Tapi sebenarnya tidak begitu.
Tanah di dalam kubah tiba-tiba bergetar. Lalu dalam sekejap muncul dua cahaya berbentuk bor yang menyerang Kraz dan Algol. Mereka berlompatan menghindari serbuan bor yang tak terkendali itu.
“Inilah teknik yang belum pernah kutunjukkan. Driller. Aku terinspirasi dari cacing yang menggali tanah dan kugabungkan dengan mesin berpisau tajam yang berputar cepat,” ujar Alpha berbangga diri.
“Kraz.”
“Baik. Akan kuhilangkan kubah yang menahan pergerakan kita ini.”
Seketika kubah setengah lingkaran itu lenyap setelah Kraz membatalkan tekniknya. Keduanya melompat menjauh menghindari bor.
“Menyingkirlah.”
“Baik!”
Kraz melompat mundur seperti yang diperintahkan. Ia memegangi lengannya yang terkena semburan bor. ‘Kapten juga menerima luka yang lumayan dari serangan tadi,’ batinnya.
“Aku juga memiliki teknik yang terinspirasi dari mesin, Alpha. Sederhana seperti milikmu, tapi lebih fleksibel.”
“Coba tunjukkan.”
“Beta Persei : Gear.”
Serangan seperti cakram dilemparkan oleh Algol. Semakin lama cakram yang bergerigi tajam dan berputar cepat itu semakin membesar. Cakram tersebut melewati bor Alpha dan menghancurkan teknik tersebut, namun kecepatannya tidak berkurang.
Gear Algol yang tadinya melaju dengan datar bergerak miring mendekati Alpha.
Pemuda itu mengumpat. “Sial! Cakram itu benar-benar fleksibel! Aku akan terkoyak jika serangannya mengenaiku!”
“Nah, bagaimana kau akan menghindari ini, Alpha?”
“Delta Velorum : Dome!”
“Oh. Rupanya kau juga memiliki pertahanan seperti Kraz. Tapi, bagaimana dengan kekuatannya? Mari kita coba dengan ini.”
Algol melemparkan cakram sekali lagi, tapi hanya ukuran kecil. Cakram itu berputar-putar cepat dan menabrak cakram raksasa yang berusaha menembus kubah Alpha. Cakram raksasa itu tidak hancur, melainkan terpecah menjadi lima, lalu semua cakram itu menghantam kubah Alpha dengan kecepatan tinggi.
“Ngggh!”
Alpha berusaha sekuat tenaga menahan bentuk kubahnya. Sayangnya cakram-cakram Algol terlalu kuat. Kubahnya perlahan retak dan pecah. Cakram-cakram tadi mengenai Alpha, pemuda itu menjerit kesakitan sangat keras.
__ADS_1
“Aaaargghh!”
...***...