
Kota Large Magellanic Cloud merupakan kota besar yang letaknya berada di tengah-tengah Negeri Earth, kota itu juga memiliki penduduk paling padat karena wilayahnya tidak berdekatan dengan daerah Darkotry. Sekalipun masih belum seindah Kota Milky Way yang merupakan ibukota maupun semewah Kota Andromeda yang banyak ditinggali bangsawan dan keluarga terhormat, namun justru kota itulah yang paling bisa disebut sebagai pusat kehidupan di Negeri Earth.
Kota itu dipenuhi banyak pendatang yang hanya singgah ataupun sudah menetap di sana. Perekonomiannya merupakan yang terbesar jika dibandingkan kota-kota atau desa-desa lain. Terdapat pasar-pasar ramai yang tidak hanya terpusat di satu tempat. Rombongan pedagang dari berbagai daerah sudah sering dijumpai di kota ini untuk menawarkan dagangan mereka yang tidak terdapat di wilayah lain. Bisa dikatakan kalau tanpa bersusah-susah mencari sumber penghidupan justru alat-alat pemuas kebutuhan masyarakatlah yang datang ke kota tersebut.
Bukan hanya alasan mendapatkan pembeli yang melimpah yang membuat rombongan pedagang singgah di kota itu, melainkan juga demi mempromosikan daerah mereka agar sama ramainya. Hal tersebut bukannya tanpa alasan. Karena apabila daerah mereka sepi dan tak banyak penduduk maka daerah mereka rawan diserang oleh para ramplite. Selain demi misi ekonomi rombongan dagang itu juga membawa tugas lain.
Perkara itu membuat Alpha dan Ursa kesulitan menemukan rombongan dagang si Gadis Kecil. Mereka berkeliling pasar-pasar, mencari-cari di tempat ramai, juga bertanya ke penduduk lokal, namun tidak juga segera mereka temukan rombongan pedagang yang katanya tak terlalu besar itu. Ciri-ciri mereka terlalu umum. Banyak orang memberi informasi namun bukan yang dicari yang ditemukan.
“Kita tidak menemukannya...” Alpha mendesah lelah. “Dan aku lapar.”
“Bagaimana kalau kita istirahat sebentar dan mencari makan?” Ursa bertanya pada si Gadis Cilik, namun ia tidak diperhatikan karena mata gadis itu menjelajah di kerumunan orang-orang. Ursa tersenyum lembut. ‘Dia pasti sangat cemas dengan orang tuanya,’ pikirnya.
“Ah! Itu mereka!”
Secara tiba-tiba gadis itu menunjuk sejumlah orang yang tengah menikmati makan malam di meja luar sebuah kedai. Ia bergegas cepat menghampiri seraya meneriakkan panggilan orang tuanya.
“Ayaaah! Ibuuuu!”
“Larissa!” Ibunya memeluk sang buah hati sangat erat. Tangisannya langsung membuncah. “Kau selamat, Larissa! Kau masih hidup!”
Berbeda dari istrinya, si Ayah terlihat lebih tenang. Ia memperhatikan sekitar. “Kau hanya sendirian, Larissa. Di mana Guardian itu?”
Larissa menunduk dengan wajah nelangsa. Ia menggeleng sambil menggigit bibirnya. Kedua orang tuanya yang paham hanya bersedih mendapatkan jawab tersebut.
“Lalu... bagaimana kau bisa sampai ke sini?” tanya ayahnya.
Larissa menoleh ke belakang, dengan tak sabar meminta Alpha dan Ursa mendekat menggunakan gestur tangannya. Tentu saja yang datang tidak hanya mereka saja, tetapi juga Kraz dan Diphda. Larissa mau dengan bangga mengatakan kalau kedua Guardian muda itulah yang telah menolongnya namun ia mengurungkan niat tersebut ketika menyadari Kraz dan Diphda berada tak jauh dari mereka.
Sadar akan situasinya Alpha dan Ursa menggunakan kode untuk memberitahu siapa mereka. Keduanya menyentuh belati yang ada di pinggang ketika memperkenalkan diri.
“Alpha, Tuan dan Nyonya. Aku turut senang, um... Larissa akhirnya dapat berkumpul dengan kalian lagi,” ujarnya sopan sambil membungkukkan badan.
“Dan aku Ursa. Kami pastikan kalau putri kecil kalian tidak terluka. Namun sangat disayangkan kami telat menemukannya sehingga tidak bisa menyelamatkan pengawal yang bersamanya. Pejuang itu tewas dalam tugasnya. Kami menguburkannya di bawah pohon dalam perjalanan kemari.” Ursa pun memberikan penghormatan serupa.
Ayah Larissa menepuk pundak Alpha-Ursa dengan dua kali tepukan lembut. Ia memberi senyuman lebar dan sebuah anggukan setelah melirik di mana tangan mereka berada. Ia telah memahami kode yang diutarakan bahwa mereka adalah Guardian. Si Ayah memeluk mereka tiba-tiba.
“Terima kasih! Terima kasih banyak sudah menyelamatkan putriku satu-satunya!” ucapnya keras-keras, sengaja agar didengar banyak orang. “Aku harus membalas budi! Makanlah bersama kami! Kalian juga, Tuan dan Nona Prajurit!” undangnya pada Kraz-Diphda.
Kraz mengangguki ajakan tersebut. “Paman, kudengar dari putrimu kalau kalian adalah rombongan pedagang, akan tetapi aku tidak melihat barang dagangan kalian, apakah sesuatu yang buruk telah menimpa kalian?”
Ayah Larissa mengangguk lemah. “Tidak salah, Tuan. Kami dirampok dalam perjalanan. Dagangan kami ludes. Kuda-kuda terpaksa kami jual untuk biaya perjalanan, membayar pajak, makan, serta berobat anggota kami yang sakit,” jawabnya, yang tentu saja merupakan kebohongan belaka. Rombongan pedagang hanya kedok yang dibuat-buat Larissa. Itulah mengapa mereka tidak menemukan mereka di pasar-pasar.
“Ah, tapi jangan dipikirkan, di kota sebelumnya kami cukup mendapatkan keuntungan. Itu tidak dirampas karena tersembunyi aman di kantong-kantong. Mari... mari... kita harus merayakannya dengan makan-makan sebagai balasan rasa terima kasihku atas kemuliaan kalian menyelamatkan putriku, Larissa,” ucapnya lagi.
Paman tersebut menarik Kraz dan Diphda, mendudukkan mereka di meja sebelah rombongan. “Pelayan! Kemari dan layanilah prajurit-prajurit ini. Berikan yang mereka minta. Aku yang bayar.”
“Baik, Tuan.” Sang pelayan menjawab patuh.
Ayah Larissa kembali menghadap Alpha-Ursa. “Kalian kan yang menguburkan pengawal kami? Tolong, ceritakan padaku bagaimana kematiannya. Duduklah bersamaku,” pintanya.
__ADS_1
“O-oh, ya... baiklah.”
“Hei, kau juga, kemarilah. Rekanmu tewas. Tidakkah kau mau dengar kematiannya?” Paman itu menarik seorang laki-laki muda dari rombongannya.
“Benar. Tolong ceritakan padaku,” jawab laki-laki itu.
Mereka berempat duduk di meja lain, serong kanan dari meja Kraz-Diphda dan berada di belakang meja rombongan paman tersebut. Awalnya Alpha dan Ursa benar-benar menceritakan rincian bagaimana mereka bertemu Larissa dan seperti apa kondisi si mayat. Tetapi setelah yakin Kraz dan Diphda tidak lagi terlalu teliti memperhatikan mereka berempat pembicaraan mereka berubah.
“Aku pernah dengar nama kalian. Dari Youis,” kata Pak Tua itu dengan suara kecil.
“Youis?!” Alpha tampak sangat terkejut. “Paman, jadi kau bertemu dengannya?”
“Kami bertemu dengannya belum lama ini. Dia yang memberitahu ke mana kami harus pergi,” jawab laki-laki yang dipanggil si Paman. Tadi ia sempat memberitahu jika dirinya juga seorang Guardian. Ia yang menjaga rombongan itu bersama satu Guardian lain serta dua prajurit keamanan desa.
“Youis... dia orang yang hebat. Aku mengenalnya sejak dia masih kecil, dulu dia hanya bocah cilik yang sok-sokan, tapi sekarang sangat bisa diandalkan. Aku tahu kalian juga Guardian,” katanya sambil melirik ke belati Alpha, “tetapi kenapa bersama prajurit Negeri Earth?”
“Kami tertinggal di desa saat penyerangan hari itu dan para prajuritlah yang menemukan kami. Dengan harapan bisa mengetahui kebenaran penyerangan itu kami dijadikan tawanan selama lima tahun ini,” jawab Ursa.
“Tertinggal? Itu artinya kalian tidak ikut mengungsi?”
Air muka Alpha dan Ursa berubah cerah mendengar kalimat tersebut. Ursa pun bertanya penuh kelegaan, “Mengungsi... jadi semua penduduk aman?”
Laki-laki itu menggeleng. “Tidak juga. Kami mengungsi, tetapi kami terpencar-pencar ke seluruh penjuru dan banyak yang tak diketahui keberadaannya, bahkan beberapa mungkin berada di wilayah Darkotry. Tetapi setiap rombongan memiliki Guardian dan prajurit yang melindungi serta membimbing mereka ke tempat tujuan.”
“Tempat tujuan apa yang kalian maksud?” tanya Alpha.
“Sebuah tempat rahasia di utara. Tempat itu adalah titik kumpul aman untuk kita. Tuan Nereid yang menemukannya, beliau mengatakan kalau itu merupakan tempat terbaik dan keberadaannya sangatlah tersembunyi. Jauh dari jangkauan ramplite dan penduduk Earthland.”
“Saat ini seluruh Guardian tengah mencari-cari penduduk. Kalian juga, segeralah kabur dari pengawasan mereka dan bergabunglah untuk mengumpulkan kembali penduduk Desa Mayall,” desak Guardian tersebut.
Wajah Alpha berubah sedih. Ia menunjukkan segel yang ada di lehernya tanpa gerakan mencolok. “Ini adalah segel khusus yang mengikatku dengan mereka. Aku tidak bisa kabur.”
“Dan aku tidak bisa meninggalkannya sendirian,” sambung Ursa.
Paman dan Guardian itu mengangguk paham. Mereka hanya menghela nafas kecewa. Kondisi itu tidak bisa mereka ubah dengan mudah.
“Tapi jangan berkecil hati, kami akan tetap membantu desa sebisa kami. Tolong beritahu kami apa yang bisa kami lakukan,” pinta Alpha memohon.
“Apakah kalian dikurung dalam tahanan?”
Ursa menggeleng sebagai jawaban.
“Bagus. Kalau begitu kalian bisa membantu dengan cara memberitahu penduduk desa untuk pergi ke tempat tujuan kita, yaitu di utara Kota Cigar, sekitar 18 kilometer ke arah jam sebelas dari kota itu,” ucap si Guardian.
“Tapi bagaimana kami bisa menandai penduduk desa? Mereka semua menyamar, kan?” tanya Ursa kritis.
Si Paman mengerutkan keningnya. “Loh, memangnya kalian tidak memiliki kalung itu?”
“Kalung?” tanya Alpha dan Ursa bersamaan, pertanda mereka tak tahu menahu mengenai kalung yang dimaksud.
__ADS_1
“Ya. Kalung yang dibagikan pada seluruh penduduk sesaat sebelum mengungsi meninggalkan desa. Sebuah kalung kristal ajaib.”
“Kalung kristal... ajaib?”
Alpha dan Ursa saling pandang, keduanya lalu menggeleng bersama-sama. Pemuda dengan sedikit surai warna aqua itu sedikit mencondongkan badannya. “Kami tidak tahu apa-apa, Paman. Jelaskan tentang kalung itu,” pintanya dengan bisikkan pelan.
Si Paman merogoh ke balik bajunya, ia mengeluarkan sebuah kalung dengan bandul kristal bening. Bandul kristal itu tidak berbentuk rapi, pinggirannya masih kasar, tetapi tidak cukup tajam untuk melukai pemakainya. “Inilah kalung kristal ajaib. Kelihatannya memang kristal biasa, namun kristal ini akan memancarkan cahaya redup jika beresonansi dengan kalung kristal lainnya. Dengan ini kita bisa saling menemukan.”
Mata Alpha melebar. “Sehebat itu?”
“Paman... apakah sumber kristal itu ada di desa kita? Aku tidak pernah mengetahuinya sama sekali,” ujar Ursa.
“Hanya petinggi desa dan para Guardian yang mengetahuinya sebelum ini.”
“Guardian? Kami adalah kandidat Guardian, namun tidak tahu sedikit pun mengenai kalung kristal ini. Mr. Regor tidak mengatakan apa-apa,” lanjut Ursa.
“Hanya Guardian resmi yang diberitahu akan itu.” Si laki-laki Guardian menyela. “Kalian bilang kalian adalah tawanan, lantas bagaimana kalian bisa mendapatkan belati itu?”
“Joa memberikannya pada kami,” ungkap Alpha. “Entah bagaimana dia tahu kalau kami berada di markas militer ibukota. Dia menemui kami dan memberitahukan sedikit informasi.”
“Ah, begitu... Joa, ya? Aku pernah bertemu dengannya dua kali. Dia gadis yang hebat. Dalam lima tahun ini perkembangannya sangat pesat,” puji si Guardian tak tanggung-tanggung. Ia bahkan tersenyum bangga. Namun itu tidak lama. “Kami memiliki dua kalung kristal ajaib bekas dari anggota rombongan yang tewas, pakailah dan gunakan untuk membantu desa kita.”
Alpha dan Ursa menerima kalung yang diberikan oleh laki-laki Guardian tersebut dengan kebingungan. Pasalnya ia memberikannya secara terang-terangan lewat atas meja, padahal apa yang mereka bicarakan saat ini harusnya adalah rahasia.
“Jika ditanyai oleh mereka jawablah kalau ini merupakan jimat keselamatan yang kami berikan sebagai tanda terima kasih sudah membawa Larissa kembali,” ucap laki-laki tersebut. “Karena kalian bersama dengan prajurit maka aku mengandalkan kalian untuk menjauhkan mereka dari penduduk yang kalian temui. Bisa?”
“Bisa atau tidak tetap akan kami usahakan. Kami adalah Guardian Desa Mayall. Akan kami bayar lima tahun masa ketertinggalan kami,” jawab Alpha mantap.
“Nah, setelah selesai makan segeralah kembali.” Pesan si Paman.
Tidak berlama-lama, Alpha dan Ursa segera menghabiskan sajian yang ada di meja mereka. Setelah selesai dan bertukar percakapan ringan mereka bersama Diphda dan Kraz menyegerakan diri kembali ke markas militer di kota tersebut.
“Pembicaraan kalian dengan mereka kelihatan serius di tengah-tengah tadi,” sergah Diphda tiba-tiba.
“Oh. Itu karena kami membicarakan tentang kota Milky Way saat mereka tahu kita berasal dari sana. Kami berdua tidak ingin terlihat payah, apalagi sampai kalian mendengar kami, karena kami hanya mengada-ada tentang cerita di ibukota gara-gara kami juga tidak tahu banyak. Kami serius karena memikirkan kebohongan.” Alpha dengan lancar mengatakan kebohongannya.
“Wow.” Hanya kata yang diucapkan dengan datar yang jadi respons Diphda.
“Jangan begitu, Ms. Diphda, bagaimanapun kami tidak mau mempermalukan diri kami. Mengatakan kalau kami tidak pernah keluar daerah sebelumnya tidak membuat kami keren, padahal kami mengenakan seragam prajurit,” tambah Alpha membumbui dustanya.
“Heh, lucu sekali, padahal cuma tawanan berseragam prajurit yang baru keluar tahanan.” Kraz mengolok-olok. Ia dibalas tatapan jengkel dari Alpha. “Kalian menyombongkan diri dari Milky Way meskipun aslinya dari desa terpencil.”
“Hahaha.” Tawa Ursa datar. “Kami tidak sedungu itu membuka identitas kami secara bebas, Mr. Kraz. Bagaimanapun juga perlakuan mereka terhadap kami akan berbeda kalau mereka tahu kami berasal dari desa pengkhianat itu. Pintar-pintar menilai situasi juga merupakan kebijaksanaan seseorang.”
“Oh-ho. Seperti biasa, Ursa selalu bisa mengatakan kalimat bagus,” ujar Kraz takjub.
“Jadi... hadiah apa yang kalian dapatkan dari mereka?” tanya Diphda sembari melirik kalung kristal ajaib yang menggantung di leher Alpha.
Alpha mula-mula merespons dengan senyum lebar, namun menjawab dengan sedikit nada datar, “Hanya kalung jimat biasa. Ursa juga dapat. A~ah... padahal aku berharap mereka akan memberi beberapa uang. Benar kan, Ursa?”
__ADS_1
“Jangan merengek. Mendapatkan kalung ini dari mereka juga sudah kemujuran,” balas Ursa santai. ‘Yah, tentu saja sangat menguntungkan. Karena kalung kristal ajaib ini akan sangat membantu kami,’ tambah Ursa dalam hati.
...***...