
“Uhuk! Uhuk!”
Alpha bangkit berdiri dari reruntuhan yang menimbunnya. Badannya terasa remuk. Ia mengusap darah yang mengalir dari kepalanya.
“Siapa laki-laki yang muncul tiba-tiba itu sebenarnya? Kenapa dia sangat kuat?”
Alpha telah dikalahkan. Ia terpental sejauh puluhan meter dan menabrak sebuah rumah tua penduduk, bangunan itu roboh dan menimpanya. Alpha sempat tak sadarkan diri selama beberapa menit sebelum terbangun. Laki-laki yang muncul tadi benar-benar kuat. Ia tak kesulitan sama sekali melawan Alpha dan Algol bersamaan.
“Kapten Algol... aku harus segera kembali ke sana dan melihat keadaannya...”
Alpha yang mula-mula berjalan mencoba untuk berlari. Ia meringis kesakitan. Tubuhnya semakin ngilu setiap kali dipaksakan bergerak. Tetapi pemuda itu bertekad untuk pergi sesegera mungkin, karena mengingat betapa kuatnya lawan mereka bukan tidak mungkin Algol membutuhkan bantuannya saat ini.
Alpha telah sampai di tempat pertarungan tadi. Ia terkejut mendapati kerusakan di tempat itu bertambah parah dua kali lipat. Ia mengedarkan pandangannya mencari Algol. Kaptennya tergelatak dengan darah menggenang di tanah.
Mata Alpha yang beda warna melebar ketika melihat laki-laki misterius tadi mencoba untuk memberikan serangan penghabisan untuk Algol. Alpha berteriak kencang, “Hentikaaan!” Dan tubuhnya bergerak sendiri untuk melindungi Algol.
Crack. Crack. Pyaar!
Pedang cahaya yang Alpha gunakan untuk menahan tebasan dari laki-laki tersebut hancur berkeping-keping. Namun, dengan cepat pemuda itu mencabut belati dari pinggangnya dan menyabetkannya pada laki-laki tersebut.
Si lelaki melompat mundur.
Alpha melirik Algol melalui ekor matanya. Pria bersurai biru tersebut tak sadarkan diri. Kondisinya luka parah. Entah dari luka mana saja darah yang menggenanginya. Yang jelas Algol tengah kritis.
‘Kami harus mundur,’ kata batin Alpha.
Tapi ia terganggu dengan sebuah suara ledakan dahsyat yang diikuti hempasan cahaya merah dari ledakan itu. Alpha yang sadar kalau itu adalah keadaan darurat langsung membentuk kubah untuk melindungi dirinya serta Algol. Ia terperangah dengan kekuatan dari ledakan tersebut, meski asalnya dari selatan pemukiman namun daerah utara tempat mereka berada masih kena efek yang kuat.
Kubah Alpha hampir hancur berkali-kali. Ia terus dan terus mengalirkan kekuatan cahayanya agar bentuk dari kubahnya tetap utuh. Alpha tak khawatir dengan dirinya yang tidak mengenakan armor, ia malah menggunakan kekuatan cahayanya untuk memperkuat perlindungan Algol. Sisi kubah yang melindungi Alpha perlahan terkikis, itu membuat lengan kanannya terkena efek ledakan, kulitnya melepuh.
“Uu-uukh...”
Kepala Alpha pening. Pandangannya mulai sedikit mengabur. Meski ia masih mampu menjaga kubah cahayanya tetap ada akan tetapi bentuk kubah itu tidaklah serapi dan sekokoh sebelumnya.
“Sial...” Alpha merintih. “Kekuatanku sudah hampir mencapai batas... nya...”
Alpha ambruk. Kubah cahayanya lenyap seketika. Syukurlah mereka beruntung, sebab tepat pada saat itu juga ledakan cahaya yang memusnahkan tersebut telah usai.
Alpha melirik laki-laki tadi. Lelaki tersebut masih berdiri dengan kokoh tanpa luka sedikit pun. Alpha terheran-heran, padahal ia yakin laki-laki itu tidak sempat berlindung menyelamatkan diri.
“Ba... bagaimana bis...”
Alpha telah hilang kesadarannya sebelum perkataannya tuntas. Lelaki itu hanya menatap dingin pada Alpha juga Algol, lalu ia segera meninggalkan tempat itu menuju ke selatan.
...*** ...
“Ledakannya sudah selesai...” ucap Kraz, ia menyingkirkan papan besi yang digunakannya untuk melindungi kepala.
Kraz lalu mengamati tubuhnya. Pakaiannya compang-camping dan luka-luka terdapat di sekujur tubuh. Begitu juga dengan Okul dan Diphda yang berada di tempat yang sama dengannya. Karena mereka berada cukup dekat dengan pusat ledakan maka mereka menerima dampak yang tidak kecil.
Padahal tempat itu tadinya penuh dengan ramplite, namun sekarang hanya tersisa mereka bertiga. Parahnya, mayat-mayat ramplite yang tewas tidak dalam kondisi tubuh yang utuh. Kebanyakan dari mereka kehilangan sebagian tubuh mereka gara-gara tidak memiliki pertahanan untuk melindungi diri, tidak seperti manusia bintang yang mampu menggunakan armor maupun kubah cahaya. Benar-benar sebuah ledakan yang mengerikan.
“Sumber ledakannya dari tempat pertarungan Luxco, ayo ke sana!” ajak Okul.
Mereka berlari sekencang yang mereka bisa menuju tempat Luxco. Untunglah jaraknya tidak begitu jauh sehingga mereka masih bisa mencapainya tanpa harus memaksakan kondisi tubuh yang sudah terluka.
Di luar sangkaan mereka yang memperkirakan kalau Luxco mungkin saja terluka parah, laki-laki dari Desa Mayall itu malah memancang musuhnya. Ia kelihatan sedang menginterogasinya.
“Mr. Luxco.”
Luxco menoleh. Ia mengacungkan pedang cahayanya pada mereka. Dengan nada mengancam ia memperingatkan, “Tetap di sana dan jangan mendekat. Orang ini berbahaya.”
“O-oh... baik,” jawab Kraz gugup, sejenak tadi ia mengira Luxco akan menyerang mereka.
Luxco kembali menghadapi Anser. Pedang cahayanya yang sangat lancip ia tekankan pada leher Anser. Dengan sebuah tekanan ringan ia menggores leher manusia bintang yang telah berubah menyerupai monster itu.
__ADS_1
“Katakan padaku siapa orang yang pernah memberimu doping?”
“Kukatakan atau tidak kau tetap akan membunuhku pada akhirnya. Maka aku memilih mati dengan tetap membuatmu penasaran.”
Luxco melukai leher Anser. Darah mengalir dari ujung pedangnya. “Katakan.”
Anser menengadahkan wajahnya, membuat sedikit jarak antara kulit lehernya dengan pedang Luxco. “Yang kutahu dia adalah orang yang pelit informasi. Meski kau mengalahkannya seperti yang kau lakukan padaku pun belum tentu dia akan memberitahumu apa-apa. Memangnya apa yang kau ingin ketahui darinya, huh?”
“Kuberitahu pun kau tidak bisa menjawabnya.”
Anser menggemelutukkan giginya. Ia marah. “Kau masih berkata seperti itu lagi! Jangan menganggapku bodoh!”
“Kalau begitu,” kata Luxco, “apa kau tahu obat yang bisa membuat manusia biasa menjadi manusia bintang—itu yang ingin kutanyakan.”
Anser terperangah. Ia tertawa terbahak-bahak kemudian. Sebuah tawa yang mengindikasikan olok-olok.
“Kau benar-benar dungu kalau kau mengira ada obat semacam itu,” katanya setelah selesai tergelak. “Tidak ada manusia biasa yang bisa menggunakan kekuatan cahaya! Jangan samakan makhluk lemah seperti mereka dengan kita! Manusia bintang itu berbeda, mereka spesial, makanya mereka memiliki kekuatan cahaya.
Ramplite, pada dasarnya mereka terlahir dengan campur tangan kekuatan cahaya, makanya mereka juga bisa menggunakan kekuatan cahaya. Tetapi manusia biasa... mereka hanya makhluk lemah yang tak punya apa-apa. Mana ada manusia biasa dengan kekuatan cahaya? Jangan mengada-ada!” tukas Anser.
“Manusia biasa dengan kekuatan cahaya benar-benar ada. Kau hanya belum pernah bertemu dengannya, tapi aku pernah menghadapinya. Dan dia lebih kuat dari siapa pun yang pernah kuhadapi.”
“Hah! Omong kosong!”
“Orang sombong sepertimu tidak akan menerimanya, aku tahu itu, makanya aku bertanya padamu tentang orang yang pernah memberimu doping. Jadi, katakanlah.”
“Baiklah. Akan kuberitahu. Datanglah padanya dan lihat bagaimana dia akan bereaksi dengan kedunguan yang kau bicarakan itu. Namanya—”
“Kutemukan kau, Anser Vulpecula.”
Luxco seketika menoleh mendengar suara berat dan dingin dari belakangnya.
Matanya melebar kaget. Tubuhnya menegang. Itu suara yang ia kenali. Dan sosok yang mendekat padanya kini adalah orang yang tidak akan pernah ia lupakan.
Luxco mundur perlahan secara tak sadar. Tubuhnya memperingatkannya untuk tak berada terlalu dekat dengan laki-laki tersebut.
“Siapa kau?” Anser bertanya.
“Orang yang akan membunuhmu.”
“Hei, hei, ada apa ini? Hari ini begitu banyak orang datang untuk membunuhku. Aku bahkan tidak memiliki urusan dengan kalian,” ujar Anser.
“Kau orang gila yang melakukan percobaan pada anak buahku, gara-gara itu sebagian dari rencanaku gagal. Terimalah penghukumanku.”
“Anak buahmu? Aku tidak ingat menjadikan manusia sebagai kelinci percobaan. Aku hanya melakukannya pada para ramplite—”
“Mereka adalah bawahanku.”
“Lucu sekali! Kau juga mengatakan kekonyolan lainnya. Manusia tidak akan pernah memiliki hubungan dengan ramplite! Habis ini apa, ha? Kau mau bilang kalau kau juga memiliki kekuatan cahaya seperti yang dibicarakan laki-laki itu?”
Manusia biasa itu tidak menjawab apa pun untuk cemoohan Anser, sebagai gantinya ia benar-benar memunculkan kekuatan cahaya dari tangan kanannya. Hal itu membuat semua orang di sana terkaget-kaget, terutama Anser.
“A-apa? Ti-tidak mungkin! Bagaimana bisa?! Padahal hanya seorang manusia bi—”
Slash!
Zraaash!
Dengan sekali gerakan tangan lelaki itu menebas tubuh Anser menjadi dua bagian dengan pedang cahaya yang besar. Tubuhnya terpotong di tengah-tengah, memisahkan antara bagian kanan dan kirinya. Darah menyembur seketika. Pasak-pasak yang dibuat Luxco lenyap dan membuat mayat Anser tergeletak di tanah.
Lelaki itu melindungi dirinya menggunakan tameng cahaya yang ia munculkan di hadapannya.
Okul, Kraz serta Diphda ternganga melihat pemandangan itu. Mereka hampir-hampir tak percaya dengan penglihatannya. Seorang manusia biasa benar-benar bisa menggunakan kekuatan cahaya. Terlebih lagi dia orang kejam dan berpihak pada ramplite.
Siiing!
__ADS_1
Luxco menghunuskan pedang cahayanya. Wajahnya tak menunjukkan ketakutan sama sekali. Malahan ia menyeringai girang.
“Aku menemukanmu,” kata Luxco. “Kali ini kuhabisi kau.”
Laki-laki itu hanya melirik Luxco. “Aku tidak berniat membunuh orang yang tidak menjadi targetku,” katanya datar.
“Aku adalah targetmu! Aku Luxco sang penduduk Desa Mayall! Kau mencari-cari penduduk desa itu, kan? Di sinilah aku menawarkan diriku. Akan kubunuh kau. Akan kubalaskan kekalahanku enam tahun yang lalu.”
Pancingan Luxco berhasil. Laki-laki itu dengan sepenuhnya menghadapkan dirinya pada Luxco. Ia menatap tajam.
“Kalau begitu kebetula—”
Dziiing!
Sebuah cahaya lengkung yang berputar-putar melesat sangat cepat ke arah lelaki misterius itu. Ia bisa menangkisnya hanya dengan halauan tangan yang mengeluarkan seberkas cahaya. Serangan tadi terpental. Ternyata asal dari serangan itu adalah Alpha yang datang dengan membawa Algol di punggungnya.
“Pertarunganku denganmu belum selesai! Aku masih belum kalah!” teriak Alpha lantang.
Luxco terkejut dengan kedatangan Alpha dan tantangannya. Sementara Okul dan lainnya kaget dengan kondisi Algol yang terluka sangat parah serta tak sadarkan diri.
Alpha meletakkan Algol dengan sangat hati-hati di atas tanah. Setelahnya ia memasang kuda-kuda siap bertarung. Melihat itu membuat Luxco panik.
“Hentikan, Alpha! Dia bukan tandinganmu! Kalau kau melawannya kau akan mati!” teriak Luxco.
Namun terlambat, lelaki itu sudah mengumpulkan cahaya di kedua tangannya. Ia bersiap-siap untuk melakukan sebuah serangan. Tapi sayang, seseorang yang tak diduga-duga mendadak mendarat dari atas udara dan menginterupsi pertarungan yang hampir dimulai—seorang ramplite.
Sesampainya di samping sang laki-laki misterius ramplite tersebut menghilangkan sayapnya. Kini penampilannya normal layaknya manusia pada umumnya, tapi dengan kulit yang sangat pucat.
‘Golongan satu tingkat atas...’ Luxco membatin.
“Tuan, aku membawa laporan penting.”
Lelaki tersebut menghentikan niat menyerangnya. Ia menghilangkan kekuatan cahayanya. “Katakan.”
“Orang yang membawa itu berada tak jauh dari sini, Tuan. Dan dia hanya sendirian.”
Mendengar itu si lelaki malah berang. Ia mencekik sang ramplite golongan satu itu. “Lalu kenapa kau malah berada di sini?”
“Ugh... ma-maafkan aku, Tu-tuan. A-aku sudah berusaha melawannya... urgh...” Ramplite itu memegangi lehernya.
“Katakan sampai selesai.” Lelaki itu melepaskan cekikannya.
Si ramplite terbatuk-batuk sebentar. Ia lalu meneruskan, “Aku dan pasukanku sudah melawannya, akan tetapi anak buahku berhasil dikalahkannya hanya dalam sekali serangan. Dia sangat kuat, Tuan. Orang lemah seperti kami tidak bisa menghadapinya.”
“Bawa aku ke tempat orang itu berada.”
“Dimengerti, Tuan!”
Ramplite itu kembali mengeluarkan sayap dari punggungnya, sebuah sayap elang yang kuat dan kokoh. Ia mengangkat tubuh si lelaki, membawanya ikut terbang.
“Jangan kabur! Aku tidak akan membiarkanmu lari begitu saja! Aku akan mengalahkanmu!” teriak Alpha kencang. Ia lalu menembakkan serangan cahaya ke atas.
Ramplite itu bisa menghindarinya dengan mudah.
“Haruskah kubereskan mereka, Tuan?”
“Tidak. Biar aku saja.”
Lelaki tersebut mengarahkan sebelah tangannya pada Alpha. Dari sana muncul lecutan cahaya yang langsung menghantam ke bawah. Suara ledakan keras menggelegar.
“Luxco!” seru Alpha menyadari kalau Luxco menahan serangan itu untuk mereka semua.
“Lumayan,” ujar si lelaki. Ia pun menatap Luxco. “Namaku Enceladus Herschel. Jika kau datang padaku maka dengan senang hati aku akan menghadapimu.”
Setelah mengatakan hal tersebut Enceladus memerintahkan sang ramplite yang membawanya untuk pergi dari sana. Luxco menatap laki-laki itu sampai hilang dari pandangannya. Otaknya mengulang nama Enceladus Herschel berkali-kali.
__ADS_1
“Laki-laki yang selalu membawa ancaman, Enceladus... aku tidak akan melepaskanmu.” Luxco bertekad.
...***...