Terminator Warrior

Terminator Warrior
Di Luar Dugaan


__ADS_3

Seorang pria tinggi kurus dengan rambut merah gelap serta mata cekung keluar dari bayangan sebuah rumah. Ia menatap Luxco dengan jeli, lalu melirik mayat-mayat ramplite yang bergelimpangan di belakang Luxco.


“Kutebak, kau Anser Vulpecula.”


Tidak ada jawaban. Tidak ada sangkalan. Luxco menyimpulkan kalau benar dia adalah Anser.


“Kau yang mengalahkan tamu-tamuku?”


“Ya. Kau keberatan?”


“Sebaliknya, aku malah berterima kasih. Aku datang ke sini untuk menghadapi mereka yang ingin membunuhku, tapi karena kau sudah membereskannya maka aku berterima kasih untuk itu.”


“Membunuhmu? Apa maksudnya itu? Bukankah mereka datang untuk meminta bantuan darimu?”


Anser tertawa mendengar itu. “Lelucon apa yang kau bicarakan? Mereka datang untuk membunuhku, pastinya.”


“Tapi, kenapa?”


“Karena aku telah menjadikan sebagian dari kawanan mereka untuk uji coba penemuanku. Sayangnya itu gagal dan mereka semua tewas mengenaskan. Rupanya para ramplite memiliki dendam padaku dan ingin membalaskannya. Aku sudah siap dengan pertunjukan malam ini, tetapi jika kau mau menanganinya aku—”


“Urusanku denganmu,” potong Luxco.


“Oh.”


“Ada yang ingin kutanyakan,” kata Luxco, “kau membuat obat-obatan untuk meningkatkan kekuatan ramplite, kan?”


“Ya. Meskipun aku mengalami banyak kegagalan.”


“Jangan membohongiku dengan kegagalan yang tidak ada itu,” sentak Luxco. “Sekitar dua tahun yang lalu aku pernah menghadapi ramplite yang memiliki kekuatan tak masuk akal setelah minum sebuah obat. Aku dapat informasi darinya kalau kau yang memberikan obat itu.”


“Pada waktu itu aku belum mampu menciptakan obat semacam itu," jawab Anser. Namun mimik wajahnyanya berubah setelah itu. “Ah, aku baru ingat. Aku memang pernah memberikan obat pada beberapa ramplite untuk dicoba dan ternyata itu berhasil. Tapi itu bukan obat buatanku.”


Luxco terbelalak mendengarnya. Ia pun bergegas bertanya. “Siapa yang membuatnya?”


Anser mengerutkan dahinya. “Dari tadi kau bertanya tentang obat itu. Itu membuatku penasaran.”


“Kalau kau bukan yang membuat obatnya maka kau tidak akan bisa menjawab pertanyaanku.”


Anser mengepalkan tangannya erat. Matanya melotot marah. “Kau meremehkanku! Kau pikir aku tidak lebih hebat darinya, ha?!”


Luxco cukup kaget dengan perubahan sifat itu, tetapi ia malah terkekeh senang. Dengan nada mengolok ia berkata, “Bukannya kau sendiri yang bilang kalau kau sering gagal?”


“Kau—”


“Kalau kesal pada orang itu maka katakan namanya padaku, akan kucari dia untukmu, tergantung situasi aku mungkin akan membunuhnya untukmu.”


Urat-urat kesal pada diri Anser semakin menegang. “Jangan pikir aku orang lemah! Aku bisa mengunggulinya! Aku lebih kuat darinya! Lihat dan rasakanlah!”


Tiba-tiba Anser melancarkan sebuah serangan. Dengan satu tangan terjulur ke depan muncul semburan cahaya yang mengarah pada Luxco. Laki-laki itu menghindarinya dengan melompat ke atas.

__ADS_1


“Harusnya kau tidak melakukan itu.”


Anser mengubah cahaya tadi menjadi tombak berjumlah banyak. Dengan gerakan tangannya tombak-tombak cahaya mengarah cepat kepada Luxco. Namun laki-laki yang memiliki warna rambut kuning lemon tersebut tak kelihatan gentar. Luxco menciptakan sebuah pijakan dari kekuatan cahayanya, dengan rantai yang diputar-putar sangat cepat dan lincah ia mengikat tombak-tombak itu menjadi satu, baru kemudian menggunakan kekuatan lengannya Luxco melempar balik tombak yang telah disatukannya kembali pada Anser.


Anser hanya mengarahkan satu tangan ke depan. Ia membuat perisai cahaya. Tombak-tombak yang menghantam perisai itu langsung hancur berantakan.


Luxco menghilangkan pijakannya. Ia mendarat di tanah dengan anggun. Hanya ujung kakinya yang menyentuh tanah tetapi Luxco langsung maju menyerang. Pijakan yang tidak bagus tak membuatnya kehilangan keseimbangan dan kecepatan larinya. Dari kedua tangannya muncul pedang cahaya.


Trang! Trang! Trang!


Serangannya yang menghunjam perisai cahaya Anser tidak berhasil. Luxco mengincar bagian yang tidak terlindungi oleh perisai, namun perisai Anser bergerak ke mana pun tusukan serta tebasan Luxco mengarah, melindungi pembuatnya dengan cekatan.


“Bagus sekali...” gumamnya di sela-sela menyerang, “nah, bagaimana dengan ini?”


Kedua lengan Luxco terbungkus oleh kekuatan cahayanya. Dampak dari itu adalah gerakan berpedangnya semakin cepat. Bertambah dua kali lipat lebih cepat, tiga kali lipat... empat kali lipat... lima kali lipat... bertambah cepat dan cepat hingga perisai Anser tidak dapat mengikuti gerakannya lagi.


Sreet!


Pedang Luxco mengenai bahu kiri Anser.


Luxco melompat mundur. “Akhirnya berhasil.”


“Hanya goresan di bahu, jangan senang dulu.”


“Benarkah?” Luxco menyeringai lebar. Tangan kanannya terarah ke atas. “Alpha Centauri : Needle Storm.”


Jarum-jarum cahaya yang panjang, runcing, serta tajam berpusar bersamaan membentuk badai jarum. Ujung dari badai jarum itu lancip. Luxco menggerakkan tangannya, mengarahkan badai jarum itu pada Anser. Dengan cepat Anser membentuk kubah untuk melindungi dirinya. Namun sayang, karena serangan Luxco terlalu cepat Anser menerima cukup banyak luka di sekujur tubuh. Darah mengalir dari setiap jarum yang menusuk tubuhnya.


“Sejak kapan?” tanya Anser sambil menahan sakit.


“Setiap pedangku mengalami goresan dengan perisai milikmu aku melepaskan serpihan-serpihan kecil dari pedang cahayaku dan membiarkannya mengambang di udara sampai terkumpul banyak. Semakin aku menambah kecepatan pada setiap ayunan pedangku maka serpihan yang kubuat juga semakin tipis, kuat dan tajam.”


“Tapi pedang cahayamu tidak menyusut.”


“Itu karena aku terus mengalirkan kekuatan cahayaku ke dalam pedang. Setiap bentuk pedangnya terkikis aku memperbaikinya dan membentuknya lagi. Secara tepat dan cepat. Karena gerakanku yang cepat kau tidak menyadarinya karena fokusmu terkunci pada serangan pedangku.”


“Itu...”


“Ya. Sebuah teknik yang memerlukan konsentrasi dan penguasaan tak main-main. Karena aku melakukan banyak hal sekaligus secara bersamaan, tapi itu belum seberapa, aku masih bisa melakukan lebih dari ini. Bagaimana? Apa kau terkesan denganku?”


Wajah Anser ditekuk marah. Ia merasa terhina. “Kurang ajar! Kau pikir kau sudah hebat?! Akan kutunjukkan kehebatan yang sebenarnya!”


“Cih! Dasar tukang pamer.”


Gulp.


Anser menelan sebuah pil. Tidak lama kemudian efek dari pil itu mulai terlihat. Otot-ototnya membesar, tubuh kurusnya berubah kekar berisi, kulitnya berubah menjadi kemerahan.


Luxco tidak terkejut sama sekali, ia sudah menduga kalau orang seperti Anser tentu akan melakukan penelitian yang menguntungkan dirinya sendiri. Dengan jeli Luxco memperhatikan perubahan itu.

__ADS_1


“Sudah kuduga... tidak hanya untuk ramplite, doping untuk manusia bintang pun pasti juga telah dibuat.”


Luxco memicing tak suka. Ia mengepalkan tangannya erat. Masuk ke dalam ingatannya tentang pertarungan enam tahun yang lalu. Saat itu pemimpin dari musuhnya adalah seorang manusia biasa, namun anehnya ia memiliki kekuatan luar biasa yang tak masuk akal.


“Tidak peduli perubahan seperti apa yang kau tunjukkan, aku akan mengalahkanmu, lalu akan kubuat kau bicara tentang semua yang kau tahu tentang doping buatanmu dan juga orang yang kau bicarakan tadi. Mungkin saja kau bahkan tahu mengenai orang yang selama ini kucari-cari.”


Luxco melebarkan matanya saat tiba-tiba Anser menghilang dari pandangannya. Tapi sedetik kemudian pria itu muncul di hadapannya dan langsung menghantam wajahnya dengan keras. Luxco terpental jauh ke belakang. Ia menabrak rumah hingga temboknya hancur. Darah mengalir dari mulutnya yang sobek.


Luxco terbatuk-batuk. Ia mengelap bibirnya. “Kecepatannya bertambah.”


Anser mendekat lagi. Ia berniat menendang Luxco, tetapi laki-laki itu sudah mengantisipasinya, ia membuat perisai cahaya untuk menghalangi tendangan Anser. Lalu dengan secepat yang ia bisa ia melompat menjauh.


Cahaya kuning terang menyelimuti sepatu Luxco. Ia menambahkan kekuatan cahaya di kaki untuk membantunya bergerak lebih cepat karena bila ia lambat dirinya hanya akan jadi samsak tinju oleh Anser. Luxco lalu membuat shuriken cahaya, masing-masing tiga buah di tangannya, ia melemparkannya ke arah Anser, namun bisa dihalau oleh pria itu hanya dengan ayunan tangannya yang mengeluarkan sapuan cahaya.


Luxco berdecak kesal.


Dengan mengarahkan tangannya ke atas dan memusatkan serangan berikutnya dari udara ia membuat puluhan bilah pedang yang menghunus ke bawah. Anser tak gentar sama sekali melihat pedang itu meluncur cepat ke arahnya. Pria itu membuat pedang besar yang memiliki bilah lebar, dengan cekatan ia menangkis semua pedang dari Luxco.


Serpihan-serpihan pedangnya yang hancur tak dibiarkan begitu saja oleh Luxco. Ia mengumpulkannya kembali. Luxco membentuknya menjadi bola-bola besar berwarna kuning yang mengelilingi Anser. Bola-bola itu meledak dengan suara menggelegar.


Tidak sampai menunggu efek ledakannya habis, Luxco maju menghampiri dengan pedang besar yang memiliki ketajaman di kedua sisinya. Ia mengayunkan pedangnya berkali-kali, bisa dirasakannya kalau Anser cukup mampu melawan serangannya meski terhalang oleh asap.


‘Bagus... terus hadapi permainan pedangku dan kau tidak akan menyadari ini,’ batin Luxco. Ia lalu melancarkan tendangan, namun bukan tendangan biasa. Di ujung sepatunya ia sudah membuat pisau cahaya.


Zrassh!


“Arrgh!”


Luxco melompat mundur. Ia merasa puas melihat darah yang cukup banyak mengenai sepatu dan celananya. Itu menandakan kalau serangannya memberikan luka cukup dalam. Luxco mengubah bentuk pedangnya menjadi kipas, mengayunkannya ke depan untuk menghilangkan asap tipis yang tersisa, baru kemudian menyeringai lebar.


“Kau merasa menang padahal dari tadi aku belum menyerang... jangan naif. Kau belum mati sampai hari ini bukan karena kau hebat. Kau hanya beruntung karena bertemu lawan yang lemah,” cemooh Anser memprovokasi.


“Setidaknya aku pernah melawan musuh yang jauh lebih kuat darimu. Aku kalah, tetapi aku masih hidup. Kau tahu apa artinya itu? Itu karena aku masih diberi kesempatan sekali lagi untuk mengalahkannya. Maka dari itu, kalah darimu di sini hanya merupakan guyonan untukku.”


“Sebaiknya kau tarik kembali kata-katamu. Karena aku baru mulai serius menghadapimu.”


Anser mengeluarkan pil lagi dan menelannya. Kali ini perubahan pada tubuhnya semakin cepat. Ototnya lebih membesar daripada sebelumnya. Matanya menggelap. Rambut merah gelapnya berubah menghitam. Sebaliknya, seluruh kulit tubuhnya justru semakin merah padam. Kuku-kuku kaki dan tangannya memanjang. Anser lalu berteriak kencang menyerupai auman hewan buas.


Luxco menelan ludahnya sendiri. Melihat penampilan itu membuatnya tak bisa mengenali Anser sebagai manusia bintang lagi. Perubahan Anser sudah berada di luar dugaannya.


“Oi... oi... yang benar saja, kau membuat dirimu sendiri menjadi bukan manusia. Kau lebih mirip ramplite,” katanya.


“Khu..khu..khu... kau tidak salah. Aku memang mencampur serum ramplite dalam dopingku. Aku tidak perlu khawatir karena jika aku menelan pil lainnya maka aku akan kembali normal. Inilah penemuan terhebatku! Aku tidak kalah genius dari orang itu! Sudah kukatakan bukan, akan kutunjukkan kalau akulah yang terkuat!”


“Ini di luar dugaan. Kukira kau hanya orang pintar yang sedikit gila, nyatanya kau tidak lebih dari monster menjijikkan yang terobsesi pada kekuatan,” kata Luxco sinis.


Tetapi Anser sudah tidak mendengarnya lagi, ia tidak ingin mendengar apa pun, yang dipikirkannya saat ini adalah bagaimana cara menghabisi Luxco yang jadi lawannya.


Perubahannya ternyata tak berhenti sampai di sana. Kepalanya mengeluarkan tanduk spiral yang tajam. Kemudian dari punggungnya keluar sayap kelelawar raksasa berwarna merah darah gelap. Sayap itu mengepak membawa Anser terbang.

__ADS_1


...***...


__ADS_2