Terminator Warrior

Terminator Warrior
Seorang Pemimpin


__ADS_3

Mumpung ide yang digagas Alpha masih menjadi topik pembicaraan yang hangat dan orang-orang tidak memperhatikan mereka, keempatnya keluar dari kedai secara diam-diam. Alpha ingin mencegah kalau-kalau mereka berubah pikiran gara-gara kembali menyadari bahwa yang mengusulkan ide itu tidak lain adalah orang asing yang tak berhubungan sama sekali.


Alpha dan Ursa pun juga tak lagi memiliki keinginan untuk berkeliling pemukiman manusia biasa. Mereka segera mencari jalan keluar dan pergi dari wilayah tersebut.


“Sekarang aku jadi merasa lapar lagi...” ujar Kraz.


Mendengar itu membuat perut semua orang berbunyi. Sesaat tadi mereka lupa tujuan utama ke kedai makan dan sekarang tubuh mereka meronta ingin diisi. Lagi pula jam makan siang memang sudah lewat sejak tadi.


Setelah berunding ingin mengisi perut di mana mereka akhirnya memutuskan untuk pergi ke tempat pengungsian di luar kota. Saat ini tempat tersebut mungkin masih sibuk mempersiapkan makan untuk orang banyak, pikir mereka.


Dan memang benar, sesampainya di sana orang-orang masih sibuk dengan masakan dalam porsi besar. Mereka segera membantu. Lalu bersama-sama menikmati makan siang yang terlambat itu. Setelahnya mereka hanya duduk-duduk santai sambil mengamati kegiatan orang-orang.


“Untuk sementara ini mereka memang hidup berkecukupan akibat bantuan dari pemerintah kota, tapi keadaan ini tidak akan berlangsung lama. Secepatnya mereka harus membentuk kembali pemukiman mereka,” ujar Okul tiba-tiba.


“Mereka harusnya bisa, kan? Soalnya mereka sudah lama hidup di pinggiran dengan cara mereka sendiri,” ujar Kraz.


“Tidak. Kali ini akan lebih sulit. Karena mereka harus dengan segera beradaptasi dengan lingkungan yang bukan milik mereka. Ditambah lagi dengan kebencian penduduk kota ini kepada manusia campuran, mereka tidak bisa terus berada di sini. Cepat atau lambat, mau tidak mau mereka harus menyingkirkan diri dari kota ini.”


“Itu akan sulit dilakukan karena mereka tidak memiliki keamanan. Prajurit juga tidak akan sudi melindungi mereka. Kalau begitu maka peristiwa sebelumnya bisa terjadi lagi,” komentar Diphda.


“Yang kumaksud dengan menyingkir adalah tidak menempel pada kota ini, melainkan pindah ke tempat terpisah, tapi tidak begitu jauh dari kota utama dan kalau bisa masih berada dalam jangkauan kota dan penduduknya,” ucap Okul menjelaskan.


“Ah! Aku paham. Dengan begitu, jika seandainya pemukiman mereka diserang oleh ramplite maka hal itu juga akan berdampak pada kota utama sehingga membuat prajurit tidak bisa tinggal diam. Hal itu akan memaksa mereka untuk melindungi pemukiman manusia campuran secara tidak langsung.”


“Kau benar, Kraz,” tutur Okul.


“Dan di mana tempat yang bagus untuk mereka mendirikan pemukiman?” Diphda bertanya.


“Aku sudah mengamati lingkungan di sekitar sini. Di barat daya kota ada sebuah hutan luas. Tempatnya tidak jauh dari tepi kota dan cukup aman. Tanah di tempat itu subur. Mereka bisa membuka lahan di sana, mulai bercocok tanam, beternak, atau juga berburu. Mereka bisa mendirikan pemukiman di tempat itu.”


Kraz bertanya dengan diselimuti keraguan, “Apakah mereka akan diizinkan?”


“Selama tempat itu tidak sangat dekat dengan kota utama kurasa tidak masalah. Lagi pula mereka tidak suka jika para manusia campuran terlalu menempel dengan mereka, jadi meski hanya sedikit jauh itu sudah memberi kesan kalau mereka sudah meminggirkan diri mereka sendiri,” jawab Okul.


“Kalau diingat-ingat, gagasanmu ini, Okul, bersinambung dengan ide Alpha tadi,” ucap Diphda.


“Ide?”


“Ya. Kami sempat mengunjungi pemukiman manusia biasa dan mengetahui permasalahan yang ada di kota ini, lalu Alpha secara tiba-tiba mengusulkan sebuah ide dengan memanfaatkan kondisi mereka, yang mana ide itu menguntungkan bagi manusia campuran.”


“Alpha yang mengusulkan? Bukan Ursa?”


Diphda mengangguk. “Kami pun terkejut.”


“Aku kira dia bukan tipe pemikir, tapi memang Alpha bukan orang yang bodoh sekalipun sembrono,” komentar Okul. Ia lalu berdiri dari duduknya.


“Mau ke mana kau, Okul?”


“Mengumpulkan penduduk. Aku ingin membicarakan yang kita bahas barusan dengan mereka,” jawabnya terhadap pertanyaan Kraz.


“Jadi, artinya kita akan membantu mereka, ya,” kata Diphda.


“Tidak apa-apa, kan, daripada menganggur. Lagian kita memiliki banyak waktu luang sampai menunggu pulihnya Kapten Algol. Selain itu, akan sangat sia-sia kalau kita tidak memanfaatkan tenaga sandera kita sampai maksimal.”


“Heh. Jadi kau hanya ingin memanfaatkan mereka, huh.”


“Jangan dingin begitu, Kraz. Bagaimanapun juga Okul memiliki hati yang besar. Ia tidak tega kalau tidak melakukan apa-apa untuk para manusia campuran itu,” ujar Diphda sedikit menggoda.


Okul hanya melirik mereka dingin. Ia tak menyanggah perkataan Diphda. Karena memang benar dirinya memiliki simpati kepada orang-orang tersebut. Ia bisa mengerti apa yang mereka rasakan, sebab ia juga pernah merasakan kesusahan seperti itu jauh sebelum dirinya menjadi seorang prajurit. Ya, dia tidak sampai hati membiarkan mereka kesulitan.

__ADS_1


Okul mengumpulkan orang-orang, tidak semua memang, tetapi yang berkumpul adalah orang-orang dewasa dengan pikiran yang matang. Ia menyampaikan apa yang telah dibahasnya bersama Kraz dan Diphda. Namun, di luar dugaan usulannya tidak diterima dengan suka cita.


Penduduk merasa gundah. Mereka tidak bisa menentukan keputusan dengan cepat. Pembahasan macet sampai di situ. Okul tidak memaksa mereka, tapi ia menegaskan agar mereka memikirkan tawarannya karena hal itu juga demi kepentingan mereka sendiri.


“Kenapa mereka tidak setuju?!” Diphda geram, tak habis pikir dengan sifat lamban penduduk, padahal situasi mereka bisa dibilang sedang darurat.


“Aku sudah sadar ini sejak lama... tapi mereka ini terlalu bimbang! Meskipun untuk diri mereka sendiri mereka tidak bisa mengambil keputusan tepat dengan cepat! Benar-benar payah!” Kraz pun tidak kalah jengah. Ia melirik Okul iba. Padahal rekannya itu sudah bertindak jauh sampai memikirkan masa depan dari orang-orang itu. “Lalu, bagaimana tindakanmu setelah ini, Okul? Akankah kau membiarkan mereka begitu saja?”


Okul menggeleng. “Aku tidak bisa.”


“Jadi, mau bagaimana?”


“Kita tidak bisa berbuat lebih jauh dari ini. Sebanyak apa pun kita bertindak itu tak mengubah fakta bahwa kita adalah orang asing untuk mereka. Apabila seseorang harus menggerakkan mereka maka orang tersebut haruslah orang-orang mereka sendiri. Dengan kata lain adalah seorang pemimpin.”


“Menurut sepengetahuanku mereka tidak memiliki seseorang yang seperti itu.” Diphda berkata.


“Kalau begitu kita hanya harus menemukan seseorang yang tepat, membujuknya dan membuatnya mendorong para manusia campuran itu agar mau bertindak dengan rencana kita,” balas Okul.


Kraz memandanginya dengan serius. “Tidak apa-apakah bagi kita untuk turut campur sejauh itu?” tanyanya.


“Demi kebaikan mereka sendiri kurasa tidak.”


...***...


Esok harinya mereka kembali membantu orang-orang di pengungsian dengan kegiatan mereka, hanya saja kali ini mereka lebih memperhatikan dengan teliti. Dibantu juga dengan Alpha dan Ursa mereka menilai siapa-siapa saja yang kompeten untuk menjadi pemimpin dari orang-orang yang berjumlah kurang dari seratus tersebut.


Sebisa mungkin mereka mencari orang yang paling ideal. Walaupun harus disegerakan, akan tetapi mereka tetap tidak asal comot kandidat. Mereka benar-benar menilai. Seseorang itu haruslah bersifat mengayomi, berjiwa besar, berhati lembut tapi tegas, mampu mengambil keputusan dengan bijak, dan tentu saja disegani banyak orang.


Beberapa dari beberapa dipilah, sedikit dari yang sedikit dimantapkan, dan akhirnya mereka mendapatkan seseorang yang dikira pantas mengemban tanggung jawab tersebut. Penilaian mereka semua mengenai orang itu sama. Mereka juga telah melihat sendiri bagaimana orang itu banyak membantu selama proses pengungsian sejak awal.


“Kenapa aku? Apa yang ingin dibicarakan denganku?”


“Jika kalian ingin membicarakan sesuatu yang penting sebaiknya bukan denganku. Ada banyak orang yang lebih dewasa dariku yang lebih layak,” katanya tak enak diri.


“Sudah, sudah... menurut saja dan dengarkan penjelasan kami,” ujar Ursa.


“Tapi—”


Perkataan dari laki-laki manusia campuran dengan rambut hitam serta mata warna magenta itu terputus gara-gara Alpha mendorongnya masuk ke dalam tenda. Okul, Kraz, dan Diphda telah menunggu.


“Aku sudah membawanya, Wakil Kapten Okul!” seru Alpha.


“Namanya adalah Mr. Mab Showalter,” sambung Ursa.


“Se-selamat malam, Sir,” sapanya gugup.


Mereka mengamati lagi Mab dengan intens. Lelaki itu tidaklah berpostur gagah kekar, tubuhnya tidak begitu atletik, parasnya pun tak menunjukkan wibawa atau juga kharisma. Namun, sifat-sifat lelaki itulah yang paling memenuhi standar sebagai seorang pemimpin sekalipun masih cukup muda.


“Dia tidak terlihat bisa diandalkan, tapi mau bagaimana lagi. Hal itu bisa dilatih,” ujar Diphda.


“Setidaknya ia memenuhi kriteria,” sambung Kraz.


“Fisiknya bisa dibentuk. Kharismanya bisa ditumbuhkan. Itu urusan gampang. Hanya dia satu-satunya orang yang pantas.”


Mab tidak paham dengan apa yang dibicarakan di hadapannya. Ia ingin bertanya. Sayangnya Okul telah mendahuluinya.


“Mr. Mab, berapakah usiamu?”


“Dua puluh dua, Sir,” jawabnya.

__ADS_1


“Masih terlalu muda dan kau tidak terlihat memiliki pengalaman, tapi maukah kau menjadi pemimpin untuk orang-orangmu, Mr. Mab?” Okul mengajukan lamarannya.


Mab melebarkan matanya kaget. Ia sempat menoleh pada Alpha-Ursa untuk memastikan. “Maaf, Sir?”


“Kami ingin kau jadi pemimpin dari para manusia campuran itu. Menurut penilaian kami, kaulah orang yang paling pantas untuk itu,” jelas Okul.


Seketika Mab menggeleng cepat, berkali-kali. “Tidak, Sir! Tidak! Dengan sangat aku harus menolaknya! Aku tidaklah kompeten! Aku hanya seorang pengrajin kayu sebelumnya, mana mungkin aku jadi pemimpin, kumohon jangan bercanda denganku, Sir.”


“Kami tidak sedang membuat lelucon. Kami telah menilai semua orang dan kaulah yang paling pas menurut kami. Tolong terimalah.”


Okul menatap langsung ke dalam mata berwarna indah milik Mab. Kedua tangannya mencengkeram bahu lelaki itu, menunjukkan keseriusannya serta kepercayaannya untuk Mab. Diberikan penghormatan seperti itu membuat Mab tidak lagi merendahkan dirinya. Ia bertanya dengan logika.


“Kenapa aku, Sir?”


Mendengar nada suara yang berbeda itu membuat Okul lega. Ia melepaskan tangannya. Okul menjawab singkat, “Karena kami percaya denganmu.”


“Alasannya?”


“Kami telah memperhatikanmu. Satu hal yang penting adalah tidak ada yang tidak menyukaimu di sini. Kau tidak segan membantu siapa saja. Kau tidak mengeluh. Dan meski kelihatan kurang percaya diri kau memiliki keyakinan kuat dari sorot matamu. Kami suka itu. Kami juga rasa kalau itu merupakan sifat penting yang harus dimiliki seorang pemimpin.” Krazlah yang menjawabnya.


“Tapi aku tidak memiliki banyak kelebihan.”


“Justru kau yang selalu menilai kecil dirimu sendiri dengan mengunggulkan orang lainlah yang menjadi kelebihanmu. Kau juga tidak mudah termakan emosi sia-sia. Kau orang yang pantas,” ujar Diphda.


“Namun, bisakah aku?” tanyanya. “Aku hanya seseorang dengan kehidupan normal sebelum ini. Sedangkan menjadi pemimpin membutuhkan keberanian dengan tanggung jawab yang besar. Akankah aku mampu melakukannya? Bisakah kalian menjaminnya?”


Okul menggeleng. “Kami tidak bisa menjawabnya. Atau lebih tepatnya, bukan kami yang bisa menjawab itu.”


“Jika bukan lantas siapa?” tanya Mab bingung.


“Para penduduk,” jawab Okul. “Jika mereka juga menilai kalau kau mampu, maka memang kaulah yang pantas jadi pemimpin mereka. Akan tetapi hal itu tetap tidak bisa menjadi penjamin mampu atau tidaknya dirimu sebagai pemimpin. Sebab yang bisa menjaminnya hanya dirimu sendiri Mr. Mab. Dan jawaban itu bisa kau dapatkan hanya setelah kau mencobanya.”


“Itu artinya kita akan menanyai orang-orang apakah mereka mau mengikutiku sebagai pemimpin mereka.”


“Ya.”


“Kami terbiasa hidup tanpa pemimpin dan menganggap bahwa antara satu sama lain adalah setara. Memang gara-gara itu kami menjadi kurang memiliki ketegasan dan kami lemah. Tetapi sebelum aku menyetujui rencana kalian ini aku ingin mengetahui tujuannya,” ucap Mab.


“Kami hanya ingin membantu kalian memiliki masa depan yang baik. Kami ingin membantu kalian mendirikan pemukiman baru. Tempat tinggal yang lebih baik dari sebelumnya di mana kalian bisa hidup lebih tenteram dari sebelumnya. Hanya itu,” jawab Okul.


Mab terkesan. “Itu mulia,” pujinya.


“Aku sudah mengatakannya pada beberapa penduduk tadi sore, akan tetapi mereka masih belum bisa memutuskan. Mereka tidak percaya diri kalau mereka mampu. Seperti yang kau katakan tadi Mr. Mab, itu gara-gara ketidaktegasan mereka, makanya itu kami butuh seseorang yang mampu mendorong mereka untuk bergerak. Seseorang yang mau memikirkan kebaikan untuk mereka. Seseorang yang mampu menjadi pembimbing mereka. Seorang pemimpin.”


Melihat kesungguhan Okul dalam mengatakan semua itu membuat keraguan dalam diri Mab lebur. Ia mengangguk tegas. Dengan mantap ia menjawab, “Baiklah. Aku akan mencobanya. Aku mau jadi pemimpin mereka.”


...***...


Author Notes :


Halo pembaca sekalian ^_^


Mau kasih pemberitahuan nih, tapi sebelum itu aku mau minta maaf dulu.


Maaf ya aku telah membuat kesalahan di bab terdahulu, yang mana terdapat di bab Menuju Desa Mayall, di sana aku menulis kalau perjalanan dari Milky Way ke Desa Mayall memakan waktu cuman enam hari dengan berkuda santai, tetapi setelah kupikir-pikir lagi ternyata itu kurang masuk akal. Aku lupa kalau petanya itu peta sebuah daratan dan waktu aku ngebayangin petanya malah adanya gambaran peta sebuah pulau, bukan daratan.


Jadi sehubungan itu aku akan memperbaiki bab tersebut. Aku akan mengubah lama waktu perjalanannya agar lebih masuk akal. Untuk kedepannya aku akan lebih berhati-hati lagi dalam menentukan hal semacam itu.


Mohon maaf ya... Dan apabila aku melakukan kesalahan lagi atau juga menulis sesuatu yang tidak/kurang relevan tolong diingatkan agar bisa diperbaiki.

__ADS_1


Sekian pemberitahuanku, sekali lagi aku minta maaf, dan semoga aku tidak mengulangi kesalahan serupa. Terima kasih banyak sebelumnya.


__ADS_2