
“Pertarungan antara tawanan dan regu Algol kemarin benar-benar hebat.”
“Oh. Jadi kau juga menyaksikannya, ya?”
“Saat itu aku memiliki urusan di markas, kebetulan sekali uji kekuatan itu diadakan hari itu. Dan ada Sir Puppis juga di sana.”
“Aku juga melihat pertarungan itu. Sekilas kupikir kalau dua tawanan itu akan menang. Mereka cukup hebat.”
“Kupikir juga begitu.”
“Aku tidak tahu mereka. Jadi, siapakah dua tawanan yang kalian bicarakan ini?”
“Entahlah. Aku tidak ingat siapa nama mereka, tapi mereka masih bocah, asalnya dari desa para pengkhianat itu, Desa Mayall.”
Tak!
Seseorang dengan mantel gelap dan kusam yang mendengar pembicaraan dari para prajurit di belakangnya itu tanpa sengaja menjatuhkan sendok kayu yang dia genggam. Ia menyeringai senang. Keputusannya untuk datang ke tempat makan paling ramai untuk mendapatkan informasi ternyata tidak sia-sia.
“Akhirnya... akhirnya kutemukan juga kalian. Alpha. Ursa."
...***...
Setelah uji kekuatan hari itu, Alpha dan Ursa tidak sadarkan diri selama dua hari, serta butuh waktu dua hari lagi untuk memulihkan diri. Jadi misi pergi ke Desa Mayall masih belum dilakukan.
“Aku tidak sabar saat mendengar kita akan ke Desa Mayall. Besok, kan?”
“Ya.”
“Kalau begitu, Wakil Kapten, apakah kami bebas pergi keluar hari ini?” Alpha bertanya penuh harap.
“Tidak.”
“Oh, ayolah...! Hanya hari ini saja, biarkan kami pergi keluar. Berbaik hatilah pada kami.”
“Kau sebegitunya ingin pergi keluar, huh?”
“Itu sudah jelas! Akhirnya ini adalah kesempatan yang kudapatkan setelah menunggu seumur hidup! Aku sangat ingin merasakan udara bebas!” tukas Alpha.
“Kau berlebihan, Alpha. Kalian berdua hanya terkurung di markas militer ini selama lima tahun, bukan sejak lahir,” sahut Kraz.
“Mungkin bagi kalian hanya lima tahun, tapi bagi kami ini adalah kesempatan pertama kali untuk melihat dunia luar,” ucap Ursa.
“Benar.” Alpha menyambung. “Desa kami memiliki aturan bahwa penduduknya dilarang pergi keluar desa. Kami di sana sejak lahir. Lalu, desa kami diserang, kami tidak sadarkan diri dan saat bangun lagi-lagi kami terkurung. Sudah sewajarnya kalau kami sangat menginginkan kebebasan.”
“Kenapa desa kalian memiliki aturan seperti itu?” tanya Diphda.
__ADS_1
“Karena desa kami berbeda dengan desa-desa maupun kota-kota di negeri ini. Kalian sendiri tahu, Desa Mayall adalah desa yang dicap sebagai desanya para pengkhianat. Itu gara-gara pendiri desa kami adalah mantan komandan yang tidak ingin melanjutkan tugas dan malah membentuk desanya sendiri. Sedangkan para penduduknya adalah mereka yang membelot dan tidak suka dengan kebijakan di daerah mereka lalu memutuskan untuk pindah ke desa kami.”
“Desa kami juga memiliki perbedaan pandangan dengan hampir semua orang di negeri ini. Kami dianggap asing oleh orang-orang negeri ini. Untuk menghindari perselisihan yang tidak diinginkan dengan penduduk dari desa atau kota lain para pimpinan desa kami membuat kebijakan larangan keluar desa tersebut.”
“Selain itu, letak desa yang jauh dan terpencil sangatlah rawan bahaya. Terutama dari para ramplite. Bagi mereka desa kami tak ubahnya seperti gudang pangan. Karenanya, keputusan itu dibuat untuk kebaikan penduduk, kami tidak keberatan karena dibandingkan dengan tempat lain desa kami adalah tempat yang paling nyaman ditinggali.”
Ursa dan Alpha bergantian menjelaskan.
“Jika kalian saja tidak pernah tahu seperti apa dunia luar, kenapa kalian menganggap desa kalian tempat yang paling nyaman?” tanya Diphda lagi.
“Kami tidak keluar desa bukan berarti kami tidak tahu kondisi di luar desa kami. Kami juga tidak senaif itu hidup nyaman di kandang,” balas Alpha.
“Jadi, kenapa?”
“Kalau ditanya kenapa maka jawabannya adalah karena dibandingkan desa kami yang mana menghargai setiap golongan manusia, desa dan kota lain di negeri ini sangatlah tidak adil. Beda desa dan kota maka beda pula perlakuan mereka terhadap penduduknya.
Misalnya adalah kota ini, Milky Way, sekalipun ini kota yang indah dan menerima semua golongan manusia namun masyarakat di dalamnya tetap membeda-bedakan. Aku dengar kalau tidak semua toko atau tempat umum melayani dengan baik golongan manusia biasa. Sebagian juga memperlakukan manusia bintang demikian.
Contoh lain adalah Kota Andromeda. Di kota itu yang berkuasa adalah golongan manusia bintang, sedangkan manusia biasa adalah pihak yang didiskriminasi. Ada lagi Desa Tadpole, yang mana di desa itu tidak mentolerir keberadaan manusia campuran sama sekali.
Sedangkan desa kami, Desa Mayall, berbeda dari mereka. Kami menerima semua orang. Menghargai semua orang. Dan memperlakukan semua orang dengan sama. Tapi justru karena cara pandang yang berbeda itulah kami diasingkan. Konyol sekali.”
Ursa mengakhiri dengan dengusan kasar nan sinis. Mendengar itu mereka tidak bisa berkomentar sama sekali karena benar begitulah adanya.
“Kalian yang tidak pernah keluar desa bagaimana bisa tahu kondisi itu dengan persis?” tanya Okul.
Ursa membekap mulut Alpha dengan segera. “Soal itu merupakan rahasia, Wakil Kapten Okul.”
Okul tetap berwajah datar meski motif asli dari pertanyaan terungkap. Ursa memelototi Alpha. Sementara pemuda itu malah nyengir kuda tak mau disalahkan.
“Aku suka Alpha yang kadang-kadang tak sengaja membuka rahasia, tetapi aku benci Ursa yang menghentikannya sebelum rahasia terbongkar,” ujar Diphda.
“Lega mendengarnya.” Ursa membalas sambil tersenyum manis dibuat-buat.
“Nah, jadi Mr. Okul, bolehkah kami pergi keluar?” Alpha bertanya sekali lagi.
“Kraz. Diphda. Temani mereka berdua,” katanya secara tak langsung menyatakan persetujuan.
Alpha dan Ursa langsung antusias. Bahkan Alpha tidak sungkan memuji-muji Okul sebagai pria baik hati walau berwajah dingin dan datar.
“Okul, kau yakin tidak mau ikut dengan kami? Tanpa Kapten Algol apa kau benar-benar bisa mempercayai kami mampu mengawasi mereka berdua? Yang sedang kita bicarakan adalah Alpha dan Ursa, bocah yang tidak pernah berhenti mencari cara untuk kabur dari kita.” Kraz memancing rekannya tersebut dan... hasilnya sukses.
Okul memimpin mereka keluar markas. Ia pula yang meminta izin kepada para penjaga gerbang sebagai ganti Algol yang tengah mempersiapkan perjalanan untuk misi mereka besok.
Begitu keluar dari markas militer Alpha dan Ursa langsung takjub dengan pemandangan sekitar mereka. Kepala mereka tak berhenti memutar ke sana-sini dengan pandangan takjub. Mereka juga tak henti-hentinya bertanya pada ketiga pengawal yang mengikuti mereka bila penasaran dengan sesuatu.
__ADS_1
Milky Way yang juga merupakan ibukota Negeri Earth merupakan salah satu kota yang sangat-sangat indah dan menggembirakan. Setiap sudut-sudut kota dihiasi dengan batu-batu kristal yang berwarna-warni. Toko-toko didekorasi sedemikian rupa untuk menarik pembeli. Para pemusik dan penari menawarkan hiburan di pinggir jalan.
Kereta-kereta kuda yang mengangkut nona-nona keluarga kaya dan terpandang berlalu lalang dengan kuda yang elok. Pelancong serta berbagai orang memenuhi jalan-jalan yang ramai. Alpha dan Ursa benar-benar membandingkan semua itu dengan pemandangan desa mereka sehari-hari yang selalu damai dan tenteram.
Daripada kristal-kristal penghias, desa mereka malah penuh dengan pohon-pohon atau tanaman sayur di mana-mana. Toko-toko yang tidak banyak hanya berdiri seadanya. Tidak ada tarian atau nyanyian, hanya teriakan pemilik rumah yang jengkel akibat buah di halaman rumah dicuri oleh bocah-bocah kurang ajar. Serta tidak ada kereta-kereta kuda elok, hanya kuda tua yang menarik gerobak hasil panen ladang atau balok-balok kayu dari hutan.
Kota Milky Way benar-benar merupakan pemandangan baru yang menakjubkan untuk dua pemuda yang tak pernah menikmati keindahan dunia luar tersebut. Sebelumnya mereka hanya tahu dari cerita-cerita orang atau tulisan di buku.
“Oh.”
“Ah!”
Mereka terkejut karena bertemu dengan Algol di tengah jalan. Okul mendekatinya dan bertanya perihal persiapan perjalanan besok dan dijawab oleh Algol kalau semuanya sudah beres.
“Kalian sedang jalan-jalan, huh,” ujarnya.
“Ya. Kami mengawasi mereka,” jawab Kraz.
“Kupikir aku akan membeli sesuatu!” seru Alpha gembira.
“Aku juga,” sambut Ursa.
“Oi, oi! Tunggu dulu! Memangnya kalian berdua punya uang?” tanya Kraz.
“Tidak.” Alpha menjawab dengan polos. “Kalian yang akan membayar untuk kami," lanjutnya lagi.
“Seperti kami mau saja!”
“Kalian tidak akan menolak. Atau lebih tepatnya, seragam yang kalian pakai terpaksa tidak bisa menolaknya. Karena prajurit seperti kalian tentunya tidak akan mempermalukan diri tanpa membayar. Sedangkan kami hanyalah tanggung jawab yang dibebankan pada kalian,” kata Ursa cerdas.
“Kau...! Aku selalu tidak suka cara bicaramu yang licik itu!” Kraz mencengkeram kepala Ursa dengan jengkel.
“Lepaskan, Mr. Kraz!” seru Ursa. Dan setelah berhasil ia berkata dengan bangga. “Aku menyebutnya kecerdikan, bukan licik,” ucapnya membela diri. “Lagian yang kuinginkan hanya sesuatu yang sederhana, yaitu kantong senjata.”
“Aku ingin belati. Tanganku lebih lihai menggunakan belati ketimbang pedang,” kata Alpha.
“Kalian bisa mendapatkan itu di markas. Malahan dengan kualitas yang lebih bagus daripada yang dijual di sini,” ungkap Diphda.
“Kalau begitu sesuatu yang lain, seperti—”
“Batu cahaya terbaik! Aku menjual batu cahaya terbaik di negeri ini! Batu cahaya dari Desa Mayall! Lihatlah! Lihatlah!”
Seseorang berteriak lantang. Orang-orang memang kaget dengan teriakan tiba-tiba itu, namun yang paling terkejut adalah regu Algol. Terutama Alpha dan Ursa. Keduanya serta merta mendekati seseorang yang bermantel gelap kusam dengan tudung tersebut.
Sedangkan orang itu, ia menyeringai lebar melihat Alpha dan Ursa datang kepadanya dengan air muka yang jelas-jelas menunjukkan ketertarikan.
__ADS_1
“Oh. Kalian berdua, apa kalian tertarik dengan batu cahaya yang kubawa? Asli dari Desa Mayall."
...***...