
Telah beberapa hari regu Algol beristirahat setelah sampai di Milky Way, mereka tak melakukan kegiatan apa pun kecuali beristirahat di markas militer.
Algol dan Alpha dalam masa pemulihan. Walaupun luka luarnya sudah sembuh, akan tetapi bagian dalam tubuh Algol masih sakit. Ketika Algol menyentuh bagian yang diberitahu oleh dokter di Kota Andromeda bagian tersebut masihlah nyeri.
Berbeda dengannya, Alpha bisa sembuh dengan cepat. Retak tulang di kaki kanannya hampir sembuh total, sedang rusuk-rusuknya juga mengalami perkembangan pesat. Terlalu ajaib, komentar dokter yang memeriksanya. Alpha mengaku memang seperti itulah tubuhnya, memiliki daya pulih yang tinggi.
Sayangnya, bukan berarti mereka bisa bersantai-santai. Karena pada saat ini Alpha dan Ursa malah berada di ruang redup yang ada di markas kecil khusus milik mereka. Ruangan itu sempit dan cukup kosong. Hanya terdapat satu meja persegi, dua kursi di belakangnya, dan satu kursi lain. Ya, itu adalah ruang interogasi.
Alpha dan Ursa sudah berkali-kali berada di sana dengan tuntutan menjawab pertanyaan yang sama berulang-ulang. Pertanyaan yang selalu sama dan jawaban yang tak pernah berubah pula yang terus terdengar di ruangan dengan penerangan minim tersebut. Tapi, sepertinya kali ini interogasi yang berjalan akan berbeda.
Sebab pertanyaan yang diberikan bukan : ‘Apa yang sebenarnya terjadi di Desa Mayall lima tahun lalu?’ atau ‘Apa yang kalian ingat?’. Melainkan, “Katakan padaku segalanya tentang Luxco.”
Dengan wajah datar yang menyiratkan tidak ingin menerima jawaban penolakan, Algol memandang lurus ke dalam mata Alpha dan Ursa. Ia memberi tekanan pada keduanya. Menanggapinya, Ursa menghela nafas panjang.
“Sudah kukatakan padamu bahwa dia sama misteriusnya juga untuk kami,” dia menjawab, “ditambah lagi kami baru bertemu setelah lima tahun ini, tentu ada banyak yang tidak kami ketahui.”
“Sebelum kejadian penyerangan itu kalian pasti tahu sedikit banyak mengenainya,” desak Algol.
“Tidak juga.” Alpha menyahut. “Saat kami baru masuk akademi pendidikan Luxco sudah menjadi seorang kandidat Guardian, lalu tidak lama kemudian dia diangkat secara resmi dan menjalankan misi di luar desa. Ia hanya kembali beberapa kali. Yang mana di waktu-waktu itu ia gunakan untuk pamer petualangannya kepada kami. Kami hanya tahu cerita hebatnya, bukan tentangnya.”
Algol menilai mereka, menentukan apakah masih ada yang disembunyikan atau tidak. Ia lalu menggeleng pasrah. Pria itu mengedikkan bahu, membuat Okul yang menyertainya tidak menuliskan info tambahan tentang Luxco kecuali yang telah mereka tahu.
“Sebagai gantinya, ceritakan tentang rekan-rekan kalian. Joa, Arta, Sega, Youis, Gage, dan Kirime. Katakan semuanya,” tuntut Algol.
Ursa mengernyit sengit. “Kau menguping pembicaraan kami malam itu.”
“Tentu. Lagian, kenapa tidak?”
“Jelaskan pada kami. Secara rinci.”
Alpha menatap tajam Okul. “Kami tidak ingin.”
“Aku akan melakukan ini kalau begitu.” Algol mengaktifkan segel di leher Alpa. Ia membuat rantai cahaya mencekik leher Alpha erat. “Tidak akan kulepaskan sampai kau memberitahu tentang mereka. Aku tak segan-segan membuatmu kesakitan, asal kau tahu.”
Ursa menatap cemas Alpha yang kesakitan memegangi lehernya. “Licik.”
“Tidak masalah. Tolong jangan lupakan siapa kalian, siapa kami,” balas Algol dingin.
Ursa ingin memberontak marah, tapi ia diingatkan lagi bahwa mereka tidak memiliki kebebasan sekalipun diperlakukan dengan baik, mereka hanyalah tawanan. Itulah nasib mereka.
“Mereka seusia kami, anak-anak yang berbakat, dan tidak perlu diragukan lagi adalah orang-orang yang hebat.”
Algol melonggarkan ikatan di leher Alpha, tetap tidak melepaskannya. Alpha terbatuk-batuk. Bibirnya terbuka lebar berusaha memasok udara banyak-banyak untuk dihirup. Setidaknya dia sudah tidak tercekik lagi, batin hati Ursa.
“Kalian sudah tahu Joa, kami tidak perlu mengatakan apa-apa lagi tentangnya. Lalu kemudian, ada Arta. Dia yang paling kuat di antara kami.” Ursa melanjutkan.
“Katakan ciri-cirinya. Yang detail agar Okul bisa membuat sketsa wajahnya.” Algol memerintahkan.
Dengan enggan Ursa menjawab. “Tubuhnya tidak kekar, tapi tinggi. Garis wajahnya hampir serupa dengan Alpha, tapi lebih tegas di bagian dagu dan tulang pipi. Arta punya rambut putih keperakan lurus sepanjang tengkuk, atau begitulah saat terakhir kali aku melihatnya, dan warna matanya dua tingkat lebih gelap dari warna rambutnya, agak keabu-abuan.”
“Bagaimana dengan kekuatannya?”
“Dia kuat.”
__ADS_1
“Lebih jelas.”
“Tidak hanya dalam kekuatan cahayanya saja, fisiknya dan kepandaiannya juga jempolan,” sambung Alpha. “Kekuatan fisiknya lebih rendah jika dibandingkan denganku, akan tetapi berada di atas rata-rata manusia bintang pada umumnya.”
Ursa menyahut, “Itu gara-gara dia memiliki sedikit darah manusia biasa, kan?”
“Yah... menurut yang dikatakannya seperti itu. Ayahnya seperempat manusia campuran. Walaupun begitu penampilannya merupakan penampilan dari seorang manusia bintang sepenuhnya,” lanjut Alpha.
“Seperti inikah dia?”
“Gambar yang bagus, Mr. Okul.” Alpha memuji. Sketsa itu tidak persis dengan Arta dalam ingatannya Alpha, tapi pemuda itu menganggap kalau akan seperti dalam sketsa itulah Arta setelah lima tahun ini.
“Jelaskan lebih detail mengenai kekuatannya, seperti teknik-tekniknya, gaya bertarung, dan lain sebagainya,” lanjut Algol lagi.
“Karena Arta orang yang pintar maka ia menggunakan banyak akal. Bahkan teknik biasa bisa jadi cemerlang jika dia yang menggunakannya.”
...***...
“Alpha Aurigae : Spider Web!”
Jaring-jaring laba-laba terbentuk di beberapa tempat di mana Arta mengarahkan serangannya. Tidak ada prajurit yang terperangkap dalam serangan itu. Arta tidak kecewa sama sekali karena tujuan serangan itu dilancarkan memang bukan untuk menangkap lawan-lawannya.
“Serang dari segala sisi! Bagaimanapun jumlah kita belasan, sedangkan dia hanya seorang!” perintah kapten dari unit kecil tersebut.
Prajurit langsung menyerbu Arta. Mereka mengarah padanya dengan pedang cahaya terhunus.
Pemuda itu tak gentar. Ia menerapkan full armor pada tubuhnya. Kemudian, dengan gesit Arta melawan mereka tanpa senjata, hanya dengan tangan dan kaki yang selain armor juga berlapis kekuatan cahayanya supaya menambah daya serang.
Arta meninju dan menendang mereka yang mendekat padanya dengan sangat kuat. Ia tidak berusaha menghindar karena armor-nya cukup mampu untuk menahan tebasan prajurit yang menebasnya. Arta memang memberi kekuatan cahaya yang banyak untuk armor-nya. Dengan begitu ia bisa leluasa membalas serangan tanpa perlu memikirkan perlindungan dirinya lagi.
Hantamannya selalu diiringi dengan ledakan energi dari kekuatan cahayanya sehingga menimbulkan efek berkali-kali lipat. Tak tanggung-tanggung, bisa sampai membuat lawannya terpelanting. Dan lagi, Arta tidak asal-asalan mementalkan mereka, melainkan diarahkan pada jaring laba-laba raksasa yang telah dibuatnya. Mereka yang terkena jaring itu menempel padanya dan tidak bisa lepas.
“Cih! Sialan! Apa-apaan jaring ini?!”
“Kenapa tidak bisa lepas?!”
“Sial! Bahkan dipotong pun percuma!”
Alpha menyeringai mendengar umpatan-umpatan itu. “Itu hanya jaring laba-laba biasa. Hanya saja daya lengketnya sangat kuat sampai-sampai senjata tajam tak mempan padanya.”
Bugh!
Lagi, pemuda itu mementalkan seorang prajurit yang menyerang dari samping. Orang itu juga masuk ke perangkap jaringnya. “Rasaka—”
Arta berjongkok cepat. Dua ayunan pedang dilancarkan di saat yang bersamaan dari depan dan belakang. Ia lalu bertumpu pada tangannya, kemudian... menggunakan kedua kakinya ia menendang dua prajurit itu menjauh.
Mereka tidak sampai terperangkap jaring dan dengan segera bangkit lagi untuk menyerang Arta bersama prajurit lain. Kali ini menggunakan serangan cahaya. Mereka melancarkan ledakan cahaya warna kuning bersamaan.
Tahu tujuan serangan itu untuk membutakan pandangannya yang mana nanti akan disusul dengan serangan beruntun, Arta tidak tinggal diam. Ia membuat kubah pelindung. Serangan berupa rentetan tombak cahaya ditembakkan pada kubah Arta sebelum efek ledakan cahaya sebelumnya habis. Suara benturan yang kemudian meledak terdengar keras.
“Pelindungnya mulai hancur! Terus serang!”
“Ya!”
__ADS_1
Duaar! Duaar!
Duaar! Duaar!
“Jangan berhenti! Sebentar lagi kubah itu akan hancur dan serangan kita akan mengenainya! Terus serang!”
“Baik!”
Crack—pyaaar!
“Berhasil! Kita berhasil menghancurkannya!”
“Bagus! Lihat bagaimana keadaan orang itu!”
Namun, setelah semua debu menghilang, kapten itu tidak mendapati anak buahnya masih berdiri kecuali satu orang yang tadi menyerukan keberhasilan. Sisa anggotanya telah tumbang tak sadarkan diri.
“Eh, bagaimana bisa...” ucap si anak buah.
Kaptennya membelalak kaget. “Orang itu tidak ada! Di mana dia?!”
“Menanyakan keadaanku, huh? Aku di sini,” ucap Arta yang ternyata berada di belakangnya.
Saat ledakan cahaya dilancarkan ia diam-diam menyelinap keluar dari kepungan dengan berkamuflase menggunakan kekuatan cahayanya. Arta sengaja meninggalkan kubahnya untuk diserang sebagai pengalih perhatian. Setelah berhasil menyelinap keluar ia diam-diam menyerang prajurit lain yang berjumlah belasan itu satu persatu tanpa membuat keributan.
Bugh! Bugh!
Brukh! Brukh!
Arta memukul tengkuk-tengkuk mereka dengan cepat, menyebabkan keduanya jatuh pingsan.
Pemuda dengan surai putih itu lalu berbalik setelah mendengar derap langkah kaki cepat yang mengarah pada tempatnya berada. Seregu prajurit yang terdiri dari sepuluh orang datang dengan wajah jengkel.
“Kau... sialan! Kau menipu kami!”
Arta tersenyum geli. “Salah kalian sendiri yang tidak bisa membedakan apakah orang-orang desaku yang kalian kejar itu adalah manusia sungguhan atau hanya hologram yang kubuat.”
Sesaat yang lalu, ketika ia masih mengawal rombongan penduduk desanya, mereka ketahuan oleh prajurit sebagai orang-orang Desa Mayall. Mereka dikejar dan diburu. Akan tetapi, Arta memiliki akal cerdik. Pemuda itu membuat hologram orang-orang yang bersamanya dan memancing prajurit untuk mengejar mereka, padahal orang-orang aslinya masih ada di dalam kota dan tengah bersembunyi.
Itu merupakan teknik sederhana. Karena hologram hanya meniru bayangan dari sesuatu yang telah direkam, lalu membentuknya ulang menggunakan kekuatan cahaya tanpa perlu meniru sifat-sifat asli dari objek aslinya, berbeda dengan teknik serangan yang umum digunakan di mana tidak hanya bentuknya melainkan juga sifat-sifatnya pula yang ditiru demi mendekati keasliannya.
Bisa dikatakan bahwa hologram merupakan teknik dasar yang paling gampang, juga bukan sebuah teknik serangan, melainkan teknik yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari sebagai fantasi. Namun, Arta mengubah hal itu menjadi sesuatu yang bisa digunakannya untuk mengelabuhi prajurit menggunakan akalnya. Hal itu bisa berhasil sebab mereka menilai Arta sebagai orang yang kuat sehingga menduga pemuda itu akan menggunakan teknik hebat pula, tidak menyangka bahwa dia malah memakai trik murahan.
“Sebagai ganti mereka, tidak akan kubiarkan kau kabur! Kami pasti akan menangkapmu, orang dari Desa Mayall!”
“Coba saja.” Arta membalasnya remeh.
“Serang merek—”
“TUNGGU!”
Sebuah suara keras menggelegar menghentikan para prajurit yang hendak berlari menerjang. Mereka menahan langkah-langkah mereka secara mendadak. Lalu, dari dalam hutan melesat cepat tiga orang yang kemudian mendarat di lahan pertarungan tersebut. Dua laki-laki dan seorang perempuan.
Arta mengamat-amati mereka. Ia tahu, ketiganya bukanlah orang-orang biasa seperti prajurit-prajurit yang barusan ia lawan. ‘Sepertinya akan jadi merepotkan,’ kata batinnya.
__ADS_1
...***...