
“Seorang ramplite menolong kalian? Haha. Jangan bercanda,” cemooh Kraz. Tawanya datar.
“Masalahnya, Mr. Kraz, aku yakin kalau yang menolong kami memanglah seorang ramplite. Golongan satu, sepertinya tingkat atas juga. Dia menerima serangan yang seharusnya ditujukan pada kami.” Ursa menekankan kembali. “Ini memang aneh. Bahkan aku pun tidak mempercayainya,” imbuhnya.
Algol memberi kode pada Kraz untuk tidak memperpanjang perdebatan. Jika itu yang diingat Ursa maka memang begitulah adanya. Dia bukan tipe yang mengatakan kebohongan konyol tanpa alasan.
Algol memerintahkan agar mereka bermalam di desa tersebut. Ursa mengusulkan kalau mereka akan tidur di pondokan dan bukannya di rumah-rumah penduduk. Meski tak bertuan tak seharusnya mereka masuk sembarangan, ujarnya.
Karena di pondokan tempat Ursa dibesarkan memiliki enam ranjang di setiap kamarnya maka mereka hanya tidur di satu kamar, yaitu kamar milik Ursa dulu. Lagi-lagi pemuda itu menggunakan dalih karena dia satu-satunya tuan rumah yang tersisa yang bisa mengizinkan mereka menggunakan ruangan. Ursa ternyata begitu sopan dan kolot, benak mereka semua kecuali Alpha yang telah mengenalnya sejak kecil.
“Berada di sini membuatku teringat masa lalu. Banyak kenangan yang tiba-tiba muncul di kepalaku,” ucap Alpha tiba-tiba. Ia tidak bisa tidur sehingga memutuskan untuk mengobrol dengan Ursa.
“Aku juga. Saat tidur di sini membuatku teringat teman-teman sekamarku,” balas Ursa. “Omong-omong, Alpha, ranjang yang kau tiduri itu milik Arta.”
“Wah...” Alpha menyeringai kemudian. “Kalau dia tahu dia pasti kesal. Aku dan dia sulit akrab.”
“Benar juga. Arta yang memotong rambutmu dulu dan kau menghajarnya hingga babak belur. Waktu itu kau sangat kekanak-kanakan, Alpha.”
“Aku memang masih anak-anak,” dengusnya.
“Aku penasaran, bagaimana kabar Arta dan yang lainnya. Setelah melihat Joa aku jadi yakin kalau teman-teman kita sudah menjadi sangat kuat.”
“Arta di peringkat pertama. Lalu ada Sega, aku, Youis, Gage, kau, Joa dan yang terakhir Kirimi. Itu adalah peringkat terakhir kita sebelum desa diserang. Tapi sekarang, mungkin kita berdualah yang berada di posisi paling bawah,” kata Alpha.
“Maaf saja, tapi aku di peringkat tujuh dan kau yang terakhir, Alpha.”
“Huh? Kenapa begitu?”
“Kau masih tidak sadar juga akan kondisimu sendiri, ya?” desah Ursa lelah. “Kau, Alpha, sebenarnya tidak mengalami perkembangan sejak kita ditahan di markas militer. Semua latihan yang kau lakukan selama ini tidak membuatmu lebih kuat, melainkan hanya mengembalikan kondisimu seperti semula.”
“Maksudmu?”
“Setelah kita sadarkan diri entah karena sebab apa kondisi tubuhmu menurun cukup drastis. Kecepatan, kelincahan, kekuatan, daya tahan dan staminamu jauh lebih rendah dari sebelum penyerangan itu terjadi. Kau tidak menyadarinya karena kau merasakan perkembangan setiap kali berlatih, namun sayangnya itu bukan perkembangan, tetapi hanya pemulihan diri.
Aku bisa merasakannya dengan jelas karena perkembanganku lebih baik darimu, padahal harusnya aku berada sedikit di bawahmu. Apabila kita bertarung satu lawan satu sekarang maka aku yakin akulah yang menang.”
“Aku memang merasa aneh dengan tubuhku setelah aku bangun dari tak sadarkan diri waktu itu. Kukira hanya akibat luka, karena sebelumnya aku belum pernah terluka separah itu.”
“Atau jangan-jangan itu efek dari cahaya putih menyilaukan yang kau lihat itu? Habisnya, kau bilang kau sangat terpengaruh oleh itu, kan?” sergah Ursa. Bahkan ia hampir berdiri dari posisi tidurannya.
“Bagaimana denganmu? Apa kau juga merasakan efek dari kegelapan yang kau lihat itu, Ursa?”
Ursa menggeleng. “Aku tidak merasakan ada yang aneh dengan tubuhku,” jawabnya.
“Itu berarti bukan karena efek samping dari cahaya putih menyilaukan yang kulihat saat itu,” kata Alpha menyimpulkan.
“Belum tentu. Karena kita masih belum mengingat apa yang telah terjadi di hari itu secara persis jadi kita masih belum bisa yakin dengan segala kemungkinan itu. Dan mungkin saja itu bukan hal mustahil.”
“Kau benar...”
Mereka berhenti mengobrol. Masing-masing kembali menggali ingatan mereka mengenai penyerangan hari itu. Sayangnya, lagi dan lagi, ingatan mereka mentok sampai di peristiwa yang sama.
__ADS_1
Para ramplite menyerang dari sisi barat desa, yaitu sisi yang paling memungkinkan, namun itu hanya pancingan semata karena mereka telah menyiapkan serangan lain dari sisi timur desa yang tak terduga. Keributan terjadi. Saat itu teman-teman yang tengah bersama mereka langsung ke desa untuk membantu, sementara Ursa membantu Alpha yang terpeleset di jurang. Ketika mereka naik ke atas jurang mereka bertarung dengan ramplite yang telah menunggu, lalu ingatan mereka terpotong di sana.
‘Membingungkan... sebenarnya apa yang kami lihat waktu itu? Dan kenapa seorang ramplite menolong kami?’ benak Ursa sebelum secara perlahan jatuh tertidur.
...*** ...
Malam semakin larut. Udara dingin menembus kulit, bahkan meski sudah dihangatkan dengan api unggun kecil di hadapannya seorang pemuda dengan warna rambut putih keperakan tetap butuh menggosok-gosokkan tangannya ke kaki-kakinya yang ditekuk. Beberapa kali juga dia mengembuskan uap hangat dari mulutnya ke telapak tangan untuk menambah suhu. Sayangnya hal-hal tersebut tidak terlalu banyak membantu. Dingin tetap menyelimutinya.
Tentu saja, karena saat ini ia tengah berada di tengah-tengah hutan. Pohon-pohon yang tinggi dan lebat serta tanah lembap mengelilinginya. Pemandangan sekitar yang gelap dan juga suara-suara dari binatang malam justru menambah malam itu semakin mencekam dan dingin.
“Pakai ini.”
Seorang pria melemparkan mantel hijau lumutnya pada anak muda tersebut. Yang langsung ditangkap dengan mudah. Si pemuda mengerutkan keningnya tidak suka.
“Aku tidak butuh, Sir. Kau, pakailah. Pakaianmu lebih tipis dariku,” tolaknya sambil melempar kembali mantel itu lewat atas api unggun. Tapi lagi-lagi mantel itu dilempar pada si pemuda. “Sir.”
“Arta, kan, namamu tadi? Jangan meremehkanku hanya karena aku lebih tua darimu. Meski pakaianku tipis atau aku tidak menutupi tubuhku pun aku tidak akan sakit hanya karena kedinginan,” tukasnya.
Arta mengamati pria yang ditemuinya secara tidak sengaja siang tadi. Sejak saat itu pria tersebut terus-terusan mengikutinya. Tapi pria yang mengaku bernama Pyxis itu tak mengganggu sama sekali, malahan tadi dia membantunya mengalahkan ramplite. Arta juga tidak merasakan sinyal buruk darinya, maka ia menyimpulkan kalau pria itu bukan orang jahat, hanya seseorang yang misterius.
Arta melirik Pyxis. Pria itu segera sadar.
“Ada apa? Kalau ada yang kau pikirkan tentangku langsung katakan saja,” sergahnya.
“Sir, kau mengaku kalau dirimu adalah seorang pengembara, tapi dari pakaian yang kau kenakan itu tidak mencerminkan kalau kau salah seorang dari mereka.”
Menanggapi komentar itu Pyxis langsung menengok pakaian yang dikenakannya. Tidak kotor. Rapi. Elegan. Dan cukup mewah.
“Justru salah. Kalau kau memang pengembara harusnya pakaianmu lebih menceritakan tentang petualanganmu. Daripada seorang pengembara kau malah terlihat seperti Tuan Kaya yang tersesat di hutan,” sindir Arta.
Pyxis tersenyum simpul. “Kau tidak bisa menilai seseorang hanya dengan melihat pakaiannya, Nak—”
“Jangan memanggilku seperti itu! Aku bukan anak kecil dan kau juga bukannya sudah tua!”
“Baiklah, Arta—aku akan memanggilmu seperti itu,” ujarnya. “Walaupun pakaianku seperti ini tapi aku sudah mengalami banyak pertarungan. Pengalamanku tidak bisa dianggap remeh.”
“Lalu... apakah kau membeli pakaian baru setiap pakaianmu compang-camping?”
“Tidak. Malahan aku tidak pernah membeli pakaian karena pakaianku tidak pernah rusak dalam sebuah pertarungan. Begini-begini aku ini orang yang kuat,” kata Pyxis, yang walaupun tanpa penekanan sama sekali namun tampak begitu yakin.
“Kau mungkin kuat, tetapi aku mengetahui orang yang lebih kuat daripada kau.”
“Ho. Aku penasaran. Siapakah itu?”
Arta tersenyum miring. Dengan congkak ia menjawab, “Karena orang itu adalah kartu as maka aku tidak bisa mengatakannya. Sayang sekali, Sir.”
...*** ...
Dalam sebuah kegelapan malam tampak seseorang tengah mengamati baik-baik keadaan sekitar. Kegelapan yang menghampar di hadapannya tidak mengganggunya sama sekali. Dengan amat matanya bergulir cepat menilai situasi. Lalu dengan gerakan tangannya ia memberi kode untuk orang-orang yang berada di belakangnya supaya segera berjalan.
“Berjalanlah lurus ke arah jam sebelas, setiap enam kilometer akan ada prajurit yang akan memberitahumu jalan,” bisiknya saat orang pertama melewatinya. Informasi itu dijawab dengan anggukan paham. “Baiklah, mulai dari sekarang kuserahkan penduduk padamu, Prajurit.”
__ADS_1
“Kau bisa mengandalkanku, Guardian Sega.”
Sega terus memberi sinyal agar penduduk desanya terus mengikuti langkah prajurit tadi sambil terus mengamati keadaan sekitar. Sekitar dua belas dari mereka dengan tiga prajurit yang mengawal telah lewat dan berjalan sesuai arahan. Ia mendesah lega.
“Satu rombongan telah berhasil diselamatkan, sekarang tinggal mencari penduduk lainnya.”
Tap.
Sebuah tepukan di pundak membuat pemuda itu terhenyak. Sega merasa tenang ketika tahu bahwa yang menyentuhnya tak lain dan tak bukan adalah rekannya sesama Guardian.
“Youis.”
“Jangan memaksakan dirimu, Sega. Kau juga harus istirahat. Kalau kau terlalu bekerja keras dan malah tumbang justru akan menimbulkan masalah nantinya,” kata Youis menyarankan.
“Baiklah. Kau benar. Tapi, pertama-tama kita harus mencari tempat aman untuk istirahat yang tidak akan ditemukan dengan mudah oleh para prajurit itu,” balas Sega.
“Serahkan padaku! Aku sudah menandai tempat-tempat aman di Kota Cigar ini.”
Dan begitulah, dengan Youis yang memimpin jalan mereka melewati wilayah barat Kota Cigar yang dekat dengan wilayah Darkotry. Pemuda itu mengambil jalan-jalan yang berliku namun aman dari kejaran prajurit yang mengincar mereka.
Di tengah jalan mereka bertemu dengan dua orang rekan, Gage dan Kirimi, mereka yang dari golongan manusia biasa itu memberitahu kalau jalan yang akan ditempuh oleh mereka ternyata sudah dicegat oleh beberapa ramplite golongan satu tingkat rendah. Mereka berempat bergabung menjadi satu kelompok kecil dan mencari jalan lain.
Berbekal pengetahuan Youis mereka pada akhirnya kembali masuk ke Kota Cigar, tetapi bukan ke tempat yang sepi, melainkan sebuah pemukiman kecil yang terletak di pinggiran kota. Youis memiliki kenalan seorang wanita tua yang memiliki rumah yang luas. Wanita tua itu sangat baik dan dapat dipercaya. Meski tahu bahwa Youis orang yang mencurigakan tetapi ia tidak pernah melaporkannya ke prajurit setempat. Youis memperkenalkan teman-temannya dan mereka diizinkan tinggal di sana untuk semalam tetapi harus pergi sebelum matahari terbit.
“Kita beruntung karena kadang-kadang masih bertemu saat menjalankan tugas.”
“Tetapi tidak untuk Arta dan Joa. Mereka selalu melakukan perjalanan terjauh. Mereka tidak segan masuk ke wilayah berbahaya hanya demi mendapatkan informasi yang belum tentu benar,” balas Sega terhadap perkataan Gage.
“Setelah berpisah dengan Arta aku baru bertemu dengannya sebanyak dua kali. Itu pun sudah dua tahun yang lalu,” ungkap Youis. “Aku beberapa kali juga melihat Joa. Terkadang kami terlibat dalam sebuah kerja sama, tetapi itu juga tidak sering.”
“Melihat mereka berdua selalu membuat iri, bukan?” Gage mengungkapkan yang dirasakannya. “Maksudku, ayolah... kita memang tidak lemah dan kita selalu melakukan semaksimal kita, tetapi mereka berdua, Arta dan Joa, mereka selalu melakukan usaha yang melewati batas kemampuan mereka.”
“Dan itu membuat kita juga terdorong untuk berbuat lebih,” sambung Youis.
“Mengetahui mereka hidup dan berjuang untuk desa saja sudah sangat melegakan, tetapi di sisi lain kita sama sekali tidak mengetahui apa pun tentang Alpha dan Ursa. Mengenai apakah mereka masih hidup atau sudah mati. Di mana mereka dan bagaimana keadaan mereka. Serta apa yang tengah mereka lakukan saat ini. Sangat disayangkan kita tidak tahu apa-apa soal itu,” kata satu-satunya gadis di ruangan tersebut, Kirimi.
“Aku tidak tahu menahu tentang mereka berdua, tapi setidaknya aku yakin kalau mereka masih hidup,” ucap Sega menenangkan.
“Tentu saja!” Youis menyahut cepat. Yang kita bicarakan adalah Alpha. Dia tidak akan mati semudah itu bahkan meski nyawanya di ujung tanduk.”
“Dan dia juga bersama Ursa yang cerdik. Ursa pasti selalu menghindarkan mereka berdua dari masalah,” imbuh Gage.
Kirimi tersenyum lega mendengar kepercayaan teman-temannya kepada dua dari mereka yang entah di mana sekarang. “Semoga mereka baik-baik saja. Begitu juga dengan Arta dan Joa,” gumamnya penuh harapan dan doa.
...***...
Author Notes :
Hai, pembaca sekalian...
Aku munculkan banyak karakter-karakter baru nih, tapi baru muncul aja, jatah mereka buat unjuk gigi masih lama (mungkin) 😆
__ADS_1
Ceritanya udah sejauh ini nih, boleh dong author minta tanggapan dari kalian tentang cerita ini, tuliskan di kolom komentar ya ☺️