
“Jangan-jangan itu hanya kebohongan!” celutuk Alpha tiba-tiba.
Seruan itu mengagetkan semua orang. Perhatian langsung tertuju pada pemuda campuran itu.
“Kalau ini benar adalah kalung jimat maka harusnya kalungnya menyala hanya jika penggunanya akan berada dalam bahaya. Anehnya kalung ini menyalanya hanya asal-asalan kapan saja. Jadi, sudah pasti ini bukan kalung jimat seperti yang rombongan dagang itu katakan, melainkan hanya kalung biasa dengan material unik,” lanjutnya.
“Ya... masuk akal...” jawab Deimos terdengar lega.
“Deimos,” sebut Mr. Sinope, “kau bilang orang tuamu melindungi kalung itu mati-matian, tapi ternyata kalung itu tidaklah sespesial itu. Apa tidak apa-apa kalau kau menganggapnya seperti itu?”
Deimos berwajah lesu. “Tidak apa-apa, Mister, yang terpenting adalah kenangan saat bersama mereka,” tegasnya. Ia menunduk sambil kembali menyimpan kalungnya ke dalam baju. Setelah mendongak ia tersenyum lebar pada Alpha-Ursa. “Kalian yang akan membantu di istal ini, kan? Ayo, bantu aku memasukkan kuda-kuda kalian ke kandang!” perintahnya sambil mendorong bahu mereka berdua.
Mereka pun menggiring kuda ke istal. Setelah selesai memasukkan semua kuda ke kandang mereka tidak segera kembali keluar. Ada hal yang harus dibicarakan.
“Kalian juga berasal dari Desa Mayall?”
“Kami adalah Guardian.” Alpha menunjukkan belatinya. Begitu juga dengan Ursa. “Kau hanya sendirian? Atau ada orang yang bersamamu?”
“Aku seorang diri. Aku dan keluargaku terpisah dari rombongan saat kami melarikan diri dari kejaran ramplite. Mereka tewas kecuali aku. Aku akhirnya sampai di kota ini dan bertemu Mr. Sinope. Ia telah merawatku dan menjagaku selama dua tahun ini,” cerita Deimos.
“Aku turut berduka cita,” ucap Ursa.
“Itu cerita lama,” balasnya. “Aku penasaran. Kenapa kalian malah bersama prajurit Negeri Earth? Kalian tidak berkhianat, kan?”
Alpha menggeleng tegas. “Tentu tidak! Kami adalah tawanan mereka, begitulah singkatnya.”
“Meskipun begitu kami masih berpihak pada Desa Mayall. Kami loyal,” tambah Ursa.
“Untunglah. Aku lega. Kupikir kalian memanfaatkan kalung kristal itu untuk menangkapi penduduk.”
“Tentunya bukan,” jawab Alpha. “Deimos, kan? Kelihatannya kau seumuran kami, tapi aku tidak merasa pernah melihatmu di akademi desa.”
“Karena aku tidak pergi ke akademi. Aku hanya manusia biasa. Dan aku tidak tertarik menjadi kuat, jadi aku menghabiskan waktuku mengurus kebun sayur kami daripada pergi ke akademi.”
“Pantas saja.”
Ursa berbicara, “Omong-omong, apakah kau tahu ke mana orang-orang desa kita pergi?”
Deimos menggeleng. “Tidak. Kadang-kadang aku mendapati kalungku bercahaya, sayangnya aku tidak pernah bertemu dengan penduduk desa kita selama aku di sini. Jadi, aku tidak tahu ke manakah semua penduduk akan pergi.”
“Ke dekat—”
“Deimos!” Mr. Sinope berteriak keras dari luar.
“Sepertinya kita harus segera kembali,” ucap Deimos. Mereka pun keluar dari kandang kuda. “Ada apa, Mister?”
“Kenapa kau lama di dalam sana?”
“Aku menjelaskan sesuatu yang mereka tanyakan,” jawabnya dusta.
“Oh. Baiklah,” gumam Mr. Sinope. “Tolong kau antarkan mereka mencari penginapan yang murah. Setelah itu panggilkan dokter untuk memeriksa rekan Sir Okul.”
“Baik,” jawab Deimos patuh. “Mari, Sir.”
Dengan dituntun oleh Deimos mereka memasuki area kota lebih dalam. Pemuda itu membawa mereka ke sebuah penginapan yang memiliki tampilan luar cukup lumayan. Okul sempat cemas kalau-kalau harga sewanya mahal, tetapi Deimos meyakinkan kalau itu adalah penginapan termurah.
Setelah mendapatkan kamar mereka segera membiarkan Algol beristirahat. Diphda mengobati kaptennya dengan kemampuan ala kadarnya. Ia mengompres pria itu dengan air dingin, juga memberinya minuman herbal yang dipesan pada pemilik penginapan, berharap hal yang dilakukannya menimbulkan efek.
“Kalau begitu, Sir, aku pamit mencarikan dokter.” Deimos berkata.
“Tunggu, Deimos. Aku ikut,” sergah Algol.
__ADS_1
Mereka pun pergi. Tanpa membuat Algol menunggu lama, Okul dan Deimos kembali dalam beberapa saat dengan seorang dokter tua. Dokter itu memeriksa Algol. Ia mengatakan kalau panas itu diakibatkan oleh luka dalamnya yang belum pulih benar.
“Melakukan perjalanan berat dan jauh saat lukamu belum sembuh, kau ini sungguh...” Dokter itu tak menyelesaikan kata-katanya. Hanya menggeleng jengah. “Jangan mentang-mentang seorang prajurit lantas bisa seenaknya pada tubuhmu sendiri. Inilah yang selalu membuat prajurit tewas di ranjang dan bukannya di medan perang.”
Algol tertawa datar mendengar gerutuan tersebut. Ia tak bisa komplain.
“Syukurlah kau mendapatkan penanganan baik sebelum ini, kalau tidak entah separah apa tubuhmu sekarang. Untuk sekarang kau tidak perlu khawatir. Dengan resep obat yang kuberikan dan istirahat cukup selama beberapa hari kau akan bisa kembali melanjutkan perjalananmu. Tapi, untuk bisa sembuh kau perlu waktu cukup lama.”
“Seberapa lama?” tanya Algol.
Dokter itu mendekati Algol yang berbaring. Ia menekan pada salah satu bagian tubuh Algol, membuat pria itu merintih kesakitan tak henti-henti. “Sampai saat bagian ini tidak sakit lagi jika ditekan baru kau sembuh total.”
“Y-ya...! Baiklah, aku mengerti.” Algol melepaskan tangan sang dokter darinya. Ia mengelus-elus tempat tersebut dengan wajah kesakitan.
“Ini resep obatnya. Kau bisa mendapatkannya di mana pun di toko obat kota ini,” ucap sang dokter sambil mengulurkan selembar kertas.
Okul menerimanya. Ia lalu memberikan sejumlah uang pada sang dokter dan tidak lupa mengucapkan terima kasih banyak. Dokter itu meninggalkan mereka.
Deimos yang merasa keberadaannya sudah tidak diperlukan memutuskan untuk pamit. “Aku akan kembali ke istal. Untuk kalian berdua,” katanya pada Alpha dan Ursa, “datanglah pagi-pagi sekali. Jangan terlambat.”
“Baik.”
“Oke!”
Deimos mendekati Algol. “Selamat malam. Semoga kau lekas sehat, Sir.”
“Ya. Terima kasih atas bantuanmu.”
...***...
Sesuai janji, Alpha dan Ursa benar-benar datang ke istal pagi-pagi buta. Memang sedari awal mereka tidak memiliki niatan untuk lalai dari tugas mereka. Lagian ada banyak hal yang ingin mereka bicarakan dengan Deimos.
“Aku ingin tahu cara kalian kabur,” kata Ursa sambil terus menggosok punggung kuda yang dimandikannya.
“Kalian tahu tentang jalan-jalan masuk menuju terowongan rahasia?”
“Ya. Sebenarnya ada berapa banyak jalur bercabang?” tanya Ursa lagi.
“Dari pusat berkumpul terdapat empat jalur. Masing-masing dari empat jalur itu terpecah menjadi lima. Dari lima jalur itu masing-masingnya terpecah lagi menjadi tiga.”
Alpha menghitung-hitung. “Enam puluh?!” serunya kaget.
“Hebat. Mereka bisa membuat jalur sebanyak itu tanpa ada yang tahu,” gumam Ursa. “Dan di manakah ujung terowongan itu?”
“Aku tidak tahu. Kelihatannya setiap tempat berbeda-beda,” jawab Deimos. Ia melepaskan tali yang menahan kuda dan memindahkannya ke tempat panas. Setelah itu ia kembali membawa seekor kuda untuk dimandikan. “Bagaimana dengan kalian? Apakah sudah menyelamatkan banyak penduduk?”
Alpha menggeleng seraya berusaha memegangi kepala kuda yang tengah diurusnya. Ia kesulitan membuat kuda itu diam supaya giginya mudah disikat. Deimos mendekatinya dan menunjukkan cara yang benar.
“Jadi, kalian belum pernah menyelamatkan penduduk sama sekali?”
“Begitulah. Kami hanya pernah bertemu rombongan penduduk sekali saja,” jawab Ursa sebelum pergi menjemur kuda yang dimandikannya. Ia kembali lagi dengan kuda baru. “Menyedihkan, bukan? Padahal kami adalah seseorang Guardian.”
“Kalian ditawan, jadi aku bisa paham,” balas Deimos.
“Rombongan itu memberi tahu kami di mana tempat tujuan penduduk desa kita. Yaitu di—”
“Ah! Tidak perlu memberitahuku!” seru Deimos cepat.
Alpha dan Ursa saling pandang kebingungan.
“Ada apa?” Ursa bertanya hati-hati.
__ADS_1
Tanpa memandangi keduanya dan lebih fokus pada kuda yang tengah dimandikannya Deimos menjawab, “Aku mungkin tidak tertarik pergi ke tempat itu.”
“Eeh?!” Alpha kaget.
“Setelah orang tuaku tewas oleh ramplite aku berusaha seorang diri bertahan hidup. Aku sangat putus asa karena tidak juga bertemu dengan rombongan lain. Kelaparan. Ketakutan. Kecemasan. Semua itu memenuhi diriku hingga membuatku berpikir kalau lebih baik aku mati saja. Lalu, Mr. Sinope menemukanku. Dia dan istrinya sangat baik kepadaku. Mereka tak bertanya banyak tentang asal-usulku dan menerimaku sebagaimana anak mereka sendiri.”
Deimos berhenti menggosok punggung kudanya. Ia berbalik menghadap Alpha dan Ursa. Dengan pandangan teduh ia kembali berbicara.
“Mereka membuatku merasakan kehangatan sebuah keluarga. Hubungan kami sudah sangat dekat. Tempat ini sudah membuatku nyaman, aku tidak ingin pergi dari sini, jadi kalian tidak perlu mengatakan ke mana tujuan penduduk desa kita karena itu hanya akan menggoyahkan tekadku.”
“Deimos.”
“Apa tidak apa-apa jika kau memilih bersama mereka daripada penduduk desa yang lain? Mereka orang yang kau kenal belum terlalu lama,” ujar Ursa.
“Sebenarnya, aku dan keluargaku juga belum lama tinggal di Desa Mayall. Baru sekitar empat tahun. Memang, itu adalah tempat yang sangat nyaman untuk ditinggali dan kami juga bahagia hidup di sana. Tapi, bagiku semua itu hanya masa lalu. Orang tuaku sudah tidak ada. Desa itu juga telah hancur.
Bukannya aku tidak loyal, hanya saja perasaanku terhadap desa itu belum sedalam milik kalian yang sudah tinggal di sana sejak kecil. Sementara di sini, aku mendapatkan apa yang telah hilang dariku. Dan semalam, Mr. Sinope memberitahuku kalau ia ingin mewariskan istal yang sangat disayanginya padaku karena mereka tidak memiliki anak. Itu membuatku semakin tidak bisa meninggalkan mereka.
Mereka mungkin hanya orang-orang yang kukenal belum lama, tetapi mereka telah menjadi orang-orang yang penting dalam hidupku sekarang ini. Seperti bagaimana aku ingin dianggap berharga oleh mereka, aku pun tidak ingin mengecewakan mereka. Aku ingin tinggal di sini, itulah yang sebenarnya paling kuinginkan.” Deimos mengakhiri paparan perasaannya.
Mendengar itu membuat Alpha berat hati, tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa karena mengerti dengan apa yang dirasakan Deimos. Walaupun kecewa pemuda itu tidak memilih desanya, Alpha tetap berlapang dada. Ia mengangguk paham sebagai balasan atas apa yang diceritakan Deimos.
“Tidak apa-apa. Orang-orang memang datang dan pergi,” kata Alpha mencoba bijak.
“Hei, jangan berwajah muram begitu,” tegur Ursa. “Kau tidaklah mengkhianati desa. Kau hanya memilih kebahagiaanmu sendiri. Tidak ada yang perlu disesali, mengerti?”
“Um, ya. Terima kasih.”
“Omong-omong, Deimos, kenapa kau masih menyimpan kalung kristal ajaib itu? Aku tahu kalau yang kau katakan kemarin soal itu adalah warisan orang tuamu itu bohong,” kata Alpha.
Deimos menjawab, “Entah kenapa aku tidak bisa melepaskan kalung ini begitu saja. Mungkin karena keindahannya. Atau mungkin juga karena aku masih berharap akan bertemu dengan penduduk lainnya.”
Ursa terperangah. “Kau membuatku teringat sesuatu. Kemarin Mr. Sinope bilang kalau kadang-kadang kalungmu bercahaya, itu artinya ada penduduk di dekatmu, apa kau tidak pernah bertemu mereka?”
“Tidak pernah,” balas Deimos. “Aku mencari-cari mereka, tapi tetap tidak bisa menemukannya. Mungkin gara-gara mereka sangat berhati-hati dengan keberadaan mereka, jadi mereka dengan sangat lihai menyamarkan diri dengan orang-orang.”
“Apakah kejadiannya sering?” tanya Alpha antusias.
“Kadang-kadang.”
“Itu berarti mereka sering mampir ke kota ini. Bukan tidak mungkin kita juga akan bertemu mereka, Alpha.”
Deimos ragu dengan kesimpulan Ursa, maka ia pun membenarkan. “Aku memang bilang kadang-kadang, tapi itu tidak pasti. Kuasumsikan mereka mampir ke sini gara-gara kota ini terletak di pinggiran. Dan itu pun tidak lama.”
Ursa mengangguk mengerti. Ia menatap Deimos. “Aku ingin memastikan sesuatu padamu. Kau tidak membenci Desa Mayall dan penduduknya, kan?”
“Sebenarnya aku cukup menyukainya.”
“Kalau begitu, jika aku meminta bantuanmu maka kau mau, kan?”
“Jika aku bisa melakukannya,” jawab Deimos.
“Gampang!” ujar Ursa. “Yang kuminta darimu hanyalah melindungi penduduk yang kau temui di kota ini dari prajurit. Yang kumaksud melindungi adalah kau tidak harus bertarung demi mereka, melainkan cukup menjauhkan mereka dari prajurit agar tidak tertangkap.”
Deimos mengangguk tegas. “Baik. Akan kulakukan. Namun, hanya sebisa yang aku bisa.”
“Tidak masalah! Itu sudah lebih dari cukup!” sahut Ursa senang. “Kau akan sangat membantu kami, Deimos!”
“Uh, ya. Aku senang jika bisa membantu.”
...***...
__ADS_1