
Keesokan harinya mereka langsung pergi melanjutkan perjalanan tanpa berlama-lama. Setelah berkuda dengan cepat mereka akhirnya sampai di Desa Small Magellanic Cloud. Urusan yang dimaksud Algol ternyata tidaklah besar. Ia hanya dititipi mandat oleh Puppis untuk komandan di markas militer desa tersebut.
Di desa itu pun Algol tidak mengulur-ulur waktu dan segera pergi setelah menambah kebutuhan untuk perjalanan mereka. Di perjalanan berikutnya tidak ada banyak hal yang terjadi. Hanya sedikit gangguan dari para perampok yang menghadang mereka di selatan Kota Bode. Itu pun langsung beres hanya dengan Algol menyebutkan namanya. Sayangnya perjalanan lancar itu tidak berlanjut saat mereka mulai memasuki satu-satunya jalur masuk Desa Mayall.
“Oi... oi... kelihatannya kita mendapatkan sambutan yang terlalu meriah.” Kraz berucap setelah memastikan dirinya tak salah lihat dengan maju ke depan Algol.
“Dilihat dari keramahan mereka yang nol besar sepertinya kita dipaksa menerima sambutan ini, ya,” kata Algol setelah melompat turun dari kudanya. Ia menghunus pedangnya ke depan. “Turun dari kuda-kuda kalian, prajurit! Kita akan bertarung!”
“Ya...!”
...***...
Joa berlari cepat. Kadang pula ia melompat menghindari akar-akar pohon yang menyembul dari dalam tanah dengan gesit. Ia memakai penutup wajahnya. Bukan untuk menyembunyikan bekas lukanya, melainkan untuk mengurangi bau tak sedap masuk ke hidungnya. Dia saat ini tengah berada di wilayah Darkotry, tempat yang tak hanya gelap, suram, namun juga memiliki bau tidak mengenakkan.
Keberadaan Joa di sana bukan tanpa alasan. Ia mengejar seorang ramplite golongan dua tingkat atas—yaitu ramplite yang memiliki kecerdasan, kekuatan dan kecepatan. Berbeda dengan golongan tiga yang tidak memiliki wujud jelas, ramplite golongan dua mempunyai tubuh manusia setengah binatang atau tumbuhan. Misalnya adalah manusia dengan kaki dan tanduk antelop yang tengah mengejar Joa saat ini.
Padahal awalnya gadis Guardian itulah yang hendak menangkap sang ramplite, tetapi begitu ia masuk ke wilayah Darkotry situasi berbalik cepat. Joa telah masuk ke perangkap ramplite tersebut. Saat ini ialah yang justru dikejar oleh kawanan ramplite antelop itu.
“Cih! Sial...! Harusnya aku tahu dia tidak kabur tanpa sebuah rencana!” gerutunya sambil terus berlari. Ia sempat menoleh ke belakang. Jarak antara dirinya dan ramplite yang bisa berlari sangat cepat itu semakin terpangkas. “Aku harus segera menemukan tempat lapang untuk menghadapi mereka,” gumamnya.
Namun ketika Joa baru saja mendapatkan harapan karena melihat tanah lapang jauh di depannya ia sudah dibuat kaget setengah mati dengan kemunculan serangan cahaya yang datang dari arah depannya. Hanya sebuah serangan sederhana berupa tembakan cahaya biru keputihan yang memiliki jangkauan luas. Tetapi serangan sederhana itu sudah membunuh semua ramplite yang mengejarnya, yang mana menunjukkan bahwa pengguna kekuatan tersebut sungguhlah kuat.
Joa terperangah saat kalung kristal ajaib yang ia kenakan memancarkan sinar redup. “Seseorang dari desa kami ada di depan sana,” ucapnya. Ia segera menambah kecepatan larinya.
Betapa kagetnya gadis dengan warna mata kuning itu melihat sebuah hutan hijau lebat yang luas berada di tengah-tengah wilayah Darkotry. Yang mengagetkan lagi adalah seorang wanita yang sangat cantik dan anggun berdiri di sana dengan senyum cerah yang menyejukkan. Wajah yang meneduhkan itu langsung bisa menenangkan Joa. Gadis itu bergegas mendekat.
“Nona Vela!” serunya teramat senang. “Terima kasih banyak atas bantuanmu, Nona. Berkatmu aku selamat.”
Wanita yang memiliki warna rambut aqua yang semakin ke ujung semakin memudar itu mengangguk. “Joa, kan? Kenapa kau ada di sini?”
Joa langsung menggaruk bagian belakang kepalanya dengan salah tingkah. “Itu karena keteledoranku, Nona,” jawabnya malu. “Ah, tapi Nona, kenapa Anda berada di tempat ini?”
“Aku datang untuk menyelidiki sesuatu, sayangnya aku tidak menemukan apa yang kuperkirakan di sini. Aku telah salah tempat.”
Joa mengangguk paham. Ia tidak berani bertanya lebih jauh lagi. “Daripada itu, Nona, aku membawa berita yang menyenangkan. Aku telah bertemu dengan Alpha di Milky Way. Putramu dalam keadaan baik-baik saja bersama Ursa. Sayangnya mereka menjadi tawanan militer.”
__ADS_1
Vela tidak menunjukkan ekspresi berlebih. Wajah ayunya tetap tenang, seolah-olah ia sudah mengetahui persis seperti apa keadaan anak laki-laki semata wayangnya. Bukannya wanita itu tahu, ia tidak memiliki kekuatan cenayang, Vela hanya percaya pada Alpha bahwa ia akan selalu baik-baik saja.
“Sepertinya mereka tidak melarikan diri karena tertahan sesuatu. Nona, tidakkah Anda akan menyelamatkannya?” tanya Joa.
“Tidak perlu.” Vela menggeleng. Lalu tersenyum yakin. “Alpha itu kuat. Jika dia melatih kekuatan cahayanya dengan benar maka dia adalah orang yang sangat kuat... atau begitulah seharusnya,” lanjut Vela dengan senyum simpul.
...***...
“Yang benar saja! Hah... hah... hah... apa-apaan dengan sambutan ini?!”
“Benar-benar tidak ramah dan kita harus menyelesaikan semua ini?! Ini terlalu berlebihan!"
Kraz dan Diphda yang saling melindungi punggung satu sama lain melayangkan protes dengan situasi mereka saat ini. Mereka tidak terlalu beruntung. Lawan mereka kali ini adalah sekumpulan ramplite golongan dua tingkat rendah. Golongan dua memiliki kekuatan dan juga kecepatan, sedangkan kecerdasan mereka rendah. Melawan sekumpulan dari mereka bukan perkara gampang, apalagi yang jadi lawan mereka kali ini adalah ramplite jenis binatang, yaitu manusia setengah harimau.
Dibandingkan dengan rekan-rekannya Alpha justru tampak semangat. Ia menyeringai senang. “Ini dia... jalur masuk desa satu-satunya, pintu masuk neraka—begitulah kami menyebutnya.”
Slash! Slash!
Alpha menebas dua ramplite yang menyergapnya dengan pedang berlapis cahaya yang bergerigi. Teknik yang ia sebut sebagai Slash Saw tersebut memberikan luka dalam yang parah. Dua makhluk itu mati seketika. Alpha lalu melompat mundur lagi dan saling memunggungi dengan Ursa.
“Benar sekali,” sahut Ursa. “Kalau kita tidak mengatasi dengan serangan berskala besar maka kita yang akan kalah. Stamina mereka jauh di atas manusia pada umumnya.”
Seakan-akan mendengar perkataan Ursa, Okul yang berada sekitar sepuluh meter di samping mereka tiba-tiba melancarkan serangan yang serupa dengan yang digunakannya melawan ramplite golongan tiga tingkat rendah yang lalu. Sebuah ayunan pedang melingkar yang akan meledak seketika.
“Pi Capricorni : Circular Swing. Explosion.”
Ledakan besar terjadi. Namun sayang, serangan itu hanya membunuh ramplite yang ada di dekatnya saja. Beberapa yang tak terkena dampak langsung ledakan masih bisa berdiri dan malah melancarkan serangan ganas.
Okul dan Algol berpisah. Mereka melompat ke depan sejauh tiga meter dan berhadapan langsung dengan ramplite yang mengandalkan kekuatan kaki-tangan yang bercakar tersebut. Karena jenis ramplite tersebut adalah harimau maka mereka berniat bertarung dalam jarak dekat.
Para manusia bintang menggunakan kekuatan cahaya mereka membentuk armor untuk melindungi tubuh dari cakaran-cakaran tajam. Hanya Ursa yang tak mampu menggunakannya. Tapi pemuda itu tak merasa harus dikasihani. Dengan pedang di tangannya saja ia sudah cukup mampu membereskan para ramplite dan melindungi dirinya sendiri.
Sriiing!
Pedang Ursa dan cakar manusia setengah harimau itu beradu.
__ADS_1
“Huh?! Cakarmu ternyata tajam juga!” ujar Alpha lalu melompat mundur, hampir saja wajahnya memiliki bekas luka cakar macan kalau dirinya tak gesit menghindar.
“Kau... bunuh...” kata si manusia macan tak jelas.
“Ho... mau membunuhku, ya?” Ursa tanggap dengan dua kata itu. Ramplite golongan dua tingkat rendah memang hanya bisa berkomunikasi secara sangat sederhana, layaknya balita yang baru belajar bicara. “Coba saja kalau bisa!”
Ursa menyerang maju sambil memberikan tiga tebasan. Namun si manusia macam menahannya dengan cakarnya yang panjang. Gesekkan antara bilah pedang dan cakar itu menyakitkan telinga. Ursa menarik pedangnya, lalu dengan segera menusuk ke perut manusia macan, tetapi ramplite tersebut mampu menghindarinya dan malah akan menendang Ursa dengan kaki bercakar panjangnya. Ursa yang melihat itu dari sudut matanya tiba-tiba langsung menebas kaki ramplite tersebut hingga putus.
“Gwaah!”
Berniat segera mengakhiri rasa sakit tersebut, Ursa menusukkan pedangnya tepat di jantung manusia macan yang terjatuh itu. Ia lalu memandang tajam dua ramplite lain yang mengincarnya. Pedangnya tercaung ke arah mereka.
“Sini, majulah!” tantangnya.
Di belakangnya, Alpha pun tak kalah bersemangat membasmi lawan-lawannya. Dengan armor di seluruh tubuh ia tidak perlu khawatir akan terkena luka dari cakaran-cakar ramplite. Dengan keuntungan tersebut Alpha menyerang secara membabi buta. Hanya dengan teknik Saw Slash-nya saja ia telah membunuh banyak ramplite.
Algol yang melirik kedua pemuda di regunya itu menurunkan pedangnya dan menyarungkannya. “Mereka terlalu bersemangat. Akan kuberikan kalian hadiah, kalau begitu,” gumamnya dan lalu membentuk lengan besar dari kekuatan cahayanya. Ia memukul setiap ramplite yang mendekat.
Algol tak mementalkan ramplite-ramplite itu asal-asalan, namun diarahkannya pada Alpha dan Ursa secara sengaja. Dua pemuda itu tak mengeluh mendapati lawan yang mereka berdua hadapi semakin bertambah banyak. Keduanya dengan senang hati menebas makhluk-makhluk itu dengan cekatan. Meski ramplite golongan dua tingkat rendah tidak bisa dikalahkan hanya dengan sekali tebas seperti golongan tiga tingkat rendah namun keduanya tidak tampak kesulitan sama sekali dengan itu.
Alpha tak mudah kehabisan staminanya. Kekuatan cahaya yang menyelimuti tubuh dan pedangnya tetap stabil dan hampir tidak sekali pun meredup. Ursa yang bukan manusia bintang pun tidak masalah menghadapi kecepatan ramplite jenis manusia setengah harimau itu. Dengan tenang dan tangkas ia mengincar titik-titik lemah mereka dan membunuh hanya dengan dua atau tiga kali tebasan dan tusukan ke titik vital.
Tanpa mereka berdua sadari regu Algol yang lain menyingkir dari area pertarungan dan memilih untuk menonton. Mereka dibuat kagum karena dua-duanya sama-sama tangkas dan memiliki kemampuan mumpuni. Memang pantas mereka menyandang gelar Guardian, pikir mereka.
“Si...aaaal!” Teriak satu-satunya ramplite yang tersisa. Ia menyerang maju.
Melihat itu baik Alpha maupun Ursa tidak tinggal diam. Mereka menyambut serbuan itu bersama-sama. Alpha memberikan tebasan menyilang di dada sementara Ursa mengakhirinya dengan memenggal kepala ramplite tersebut. Keduanya tersebut puas. Mereka berbalik menghadap anggota lain dengan pedang terhunus.
“Inilah jalur masuk desa kami! Memang sedikit awal untuk mengatakannya, tapi...” Alpha tersenyum lebar, “...selamat datang di Desa Mayall!” sambungnya bersama Ursa.
...***...
Author Notes :
Halo, pembaca budiman, gimana nih cerita Terminator Warrior sejauh ini? Apakah menarik? Ataukah membosankan? Apa jangan-jangan malah membingungkan dan gak jelas? Tolong kasih tahu pendapat kalian lewat komentar ya...
__ADS_1