
Orang-orang yang menonton di atas berdecak kagum dengan pertarungan yang disuguhkan pada mereka. Alpha dan Ursa memang tangguh, tetapi prajurit dari regu Algol masih bukan tandingan untuk mereka. Para prajurit itu terlalu kuat untuk dihadapi dua bocah 17 tahunan yang tidak punya pengalaman dalam pertarungan sungguhan.
“Kau lihat serangan cakram tadi, pasti sangat menyakitkan.”
“Ya. Aku bertaruh dia tidak akan bangkit lagi.”
“Mungkin dia sudah sekarat.”
Puppis yang mengamati dari bawah hanya berwajah datar. Ia menghilangkan tembok pelindungnya. Alpha tidak akan bisa mengeluarkan serangan besar lagi setelah luka yang diterimanya, jadi aman untuk melepaskan kewaspadaan, pikirnya.
Memang benar. Tubuh Alpha sudah terkoyak akibat cakram-cakram Algol. Tubuhnya berdarah-darah di seluruh bagian. Beberapa tercabik hingga tak hentinya darah mengucur deras. Alpha merintih kesakitan.
“Delta Velorum : Full Armor,” kata Alpha lemah mengucapkan tekniknya. Seketika tubuhnya terbungkus armor lengkap.
“Dengan keadaan seperti itu kau masih ingin bertarung?” tanya Algol tak menyangka.
“Aku belum mati, kan, jadi aku masih bisa bertarung,” jawabnya tak gentar.
“Kraz,” panggil Algol, “aku tidak terlalu tega, jadi selesaikanlah akhirnya.”
Kraz diam sejenak. Ia melirik kaptennya yang telah berbalik. Tanpa mengatakan apa pun Kraz mendekati Alpha. Seperti dugaannya, pemuda itu tidak menghindar, mungkin untuknya hal tersebut sudah sulit dilakukan.
“Beta Corvi : Fan Blow.”
Dengan sekali kipasan dari kekuatan cahaya Kraz yang mana menyerupai kipas tangan Alpha langsung terempas ke samping dengan kencang.
Di sisi lain Okul melakukan hal yang serupa terhadap Ursa. Ia membuat manusia biasa itu terpental ke samping dengan pukulan. Mereka berdua bertabrakan dengan keras, lalu sama-sama terjatuh. Armor di tubuh Alpha menghilang seketika karena kondisinya terlalu lemah untuk mempertahankan bentuk tersebut.
Algol menghadap pada Puppis. “Bagaimana, Sir?” tanyanya dengan sopan santun tinggi.
“Berbaliklah. Mereka masih berdiri. Berikan pukulan akhir.”
Algol melebarkan mata dengan terkejut. “Tapi, Sir, mereka sudah tidak bisa menyerang.”
“Kau membantahku?”
“Bukan begitu. Hanya saja—”
“Lakukan, Algol. Ini perintah.”
Bibir Algol terkatup rapat. Ia tidak bisa melayangkan protes terhadap kalimat sakti Sang Komandan Tertinggi. Algol lalu menjawab dengan gagah.
__ADS_1
“Baik, Sir! Siap laksanakan perintah Anda!”
Algol berbalik. Ia berkonsentrasi, memusatkan kekuatannya pada tangannya, dari sana terbentuk tangan cahaya warna biru ukuran jumbo dan panjang, cukup panjang hingga mampu mencapai tempat Alpha dan Ursa berada.
Algol berniat menepuk dan menggencet kedua pemuda itu. Namun Alpha dengan sigap menciptakan armor untuk Ursa dengan sisa kekuatan cahaya yang dimilikinya. Sementara itu dirinya sendiri bersikap pasrah menerima serangan yang akan datang dari Algol tanpa perlindungan apa pun.
Algol menggertakkan gigi dengan apa yang akan segera diperbuatnya. Ia sebenarnya bukan orang yang kejam. Mengakhiri orang-orang itu tidak mudah untuknya, sekalipun di awal tadi ia berkata tidak segan menempatkan mereka berdua di posisi antara hidup dan mati, namun sesungguhnya ia sama sekali tidak berniat membuat nyawa keduanya di ujung tanduk.
“Hentikan!” Puppis tiba-tiba mengganti perintahnya di detik-detik terakhir. Sekitar sepuluh senti sebelum serangannya menamatkan Alpha dan Ursa. “Sudah cukup,” lanjutnya.
Puppis berjalan ke lapangan. Ia mendekati Alpha, Ursa, dan yang lainnya. Tentu saja Okul dan yang lain menyingkir agar pimpinan tertinggi militer itu dapat lewat dengan leluasa. Puppis menatap dua anak muda itu datar.
“Kenapa kau menghentikan serangannya? Mengasihi kami, eh?” ujar Alpha lemah, namun tetap angkuh dan sinis.
“Untuk orang yang telah diselamatkan kau masih saja sombong. Tapi aku tidak peduli. Kesombongan memang sudah mengalir di darahmu seperti halnya kekuatan bintang yang kau miliki.”
“Kau juga manusia bintang, kau pun memiliki kesombongan itu pula.”
“Ya. Tapi aku menekan sikap itu sampai ke tingkat paling dasar. Walaupun tetap tidak bisa kuhilangkan,” kata Puppis. “Aku sudah membuat keputusan untuk kalian berdua. Kalian akan bebas pergi keluar markas militer mulai sekarang.”
“Kenapa?” Ursa bertanya. Suaranya tidak kalah lemah dari Alpha, malahan ia dengan susah payah mempertahankan diri agar tetap sadar.
“Kedengarannya seperti kau terlalu meremehkan kami.”
“Tidak sama sekali. Aku sudah sadar sebatas mana kemampuan kalian,” balas Puppis terhadap Ursa. “Aku mengizinkan kalian pergi keluar hanya dengan satu kondisi.”
“Kondisi apakah itu, Sir?” tanya Algol.
“Bahwa mereka tetap terikat denganku. Aku sendiri yang akan memastikan mereka tidak akan melarikan diri karena mereka berdua merupakan aset yang penting.”
“Maksudmu, Sir?”
Puppis mengacungkan jari telunjuknya, dari ujungnya muncul semacam pisau kecil dari kekuatan cahayanya. Ia mengiris nadi tangan kirinya. Darah langsung mengucur begitu saja namun ia tetap tenang, berbanding terbalik dengan orang-orang yang menyaksikannya secara terkejut.
Puppis lalu menyayat nadi di leher Alpha. Ia meneteskan darah Alpha yang ada di pisau cahaya ke dalam luka di nadinya sendiri. Ajaibnya luka mereka berdua perlahan menutup, tetapi sebagai gantinya muncul tanda hitam semacam tato yang melingkari pergelangan Puppis dan juga leher Alpha.
Hanya sesaat, ketika tanda itu mulai muncul di lehernya Alpha merasakan sensasi panas dan cekikan yang kuat. Tenggorokannya terasa kering serta perih. Baru ketika tanda melingkar itu selesai terbentuk rasa tidak nyaman itu menghilang.
“Hah... hah... apa yang kau lakukan padaku?” tanya Alpha sambil memegangi lehernya.
“Memasangkan segel padamu. Segel itu terikat langsung padaku. Kau atau siapa pun tidak akan bisa melepaskannya. Hanya aku yang bisa.”
__ADS_1
Alpha melebarkan matanya tak percaya. “Jangan bercanda!"
Puppis tidak menggubrisnya. Ia malah menghadap Algol. “Tidak seorang pun di Earthland yang bisa menggunakan teknik ini selain aku. Tapi aku akan memberikanmu pengecualian, Algol.”
Puppis menusuk tangannya tepat di mana segel itu berada. Darah yang menetes dari sana ia tumpahkan ke gelang di tangan kanannya, tepatnya pada kristal berwarna biru pada gelang perak tersebut. Seperti tadi, darah Puppis juga langsung lenyap, darah itu terserap masuk ke dalam kristal. Puppis lalu memberikan gelang itu pada Algol.
“Ini adalah segel pengikat yang mana mau tidak mau memaksa orang yang diikat mematuhi sang pengikat. Aku memberimu hak untuk menggunakannya. Berbeda denganku yang bisa mengikat Alpha sesukaku, kau memiliki batasan untuk menggunakannya Algol, yaitu hanya jika Alpha berada di jarak 100 meter darimu.”
“Bagaimana cara menggunakannya?”
“Sangat mudah. Hanya pikirkan bahwa kau ingin mengikatnya maka dia akan terikat denganmu,” jawab Puppis. “Seperti ini.”
Kilauan cahaya muncul menghubungkan Alpha dengan Puppis, lalu kilauan cahaya itu semakin jelas membentuk sebuah rantai. Rantai tersebut mengikat leher Alpha dengan pergelangan tangan kiri Puppis.
“Ini adalah segel yang kuat. Senjata apa pun yang digunakan tidak akan memotong rantainya. Hanya aku seorang yang bisa melepaskannya.”
Algol mencobanya. Dan benar saja, rantai yang sama juga muncul menghubungkan antara gelang yang dipakainya dengan leher Alpha. Waktu Algol berpikir untuk melepaskan Alpha secara tiba-tiba juga rantai itu langsung menghilang.
“Rantai ini bisa kau mainkan sebagaimana kau menggunakan kekuatan cahayamu. Memanjang. Memendek. Diputar. Kau bisa menggunakannya dengan bebas tanpa takut merusaknya,” tambah Puppis.
Ia menghilangkan rantai antara ia dan Alpha setelah mempraktikkan apa yang dikatakannya. Akibat dari perbuatannya Alpha jatuh pingsan karena sudah kelewat lemah. Ursa yang menyaksikan hanya mampu melihat sambil mengutukinya.
“Sialan! Kau terlalu kejam!”
“Lalu, bagaimana dengan Ursa—pemuda ini, Sir?” Okul memberanikan diri bertanya.
“Dia tidak butuh rantai. Ia dan Alpha sudah memiliki ikatan yang tak terlihat, yaitu ikatan yang bahkan tidak akan diputus meski mengorbankan nyawa sekalipun,” kata Puppis ringan, “benar begitu, kan?”
Hal tersebut tidak dijawab oleh Ursa. Kepalanya semakin pening. Pandangannya mulai mengabur. Tak lama kemudian ia menyusul Alpha tak sadarkan diri.
“Sir, apakah tujuan dari memerintahkanku memberikan serangan akhir tadi untuk membuktikan dugaanmu ini?" tanya Algol ingin tahu, sebab ia berpikir kalau tadi Puppis sudah kelewatan, namun ternyata pria tersebut memiliki tujuan yang tak mampu dilihatnya.
“Untuk memperkirakan sesuatu atau menghindari yang tak diinginkan di masa mendatang hal seperti itu juga perlu diketahui,” jawabnya datar. Ia berbalik pergi namun masih memberikan perintah. “Berikan perawatan kepada mereka. Segera setelah mereka pulih kau bisa melaksanakan tugas yang kuberikan, Algol.”
“Baik, Sir!” jawabnya diiringi sikap hormat, diikuti juga oleh anggota regu yang lainnya.
“Kapten, tugas apakah yang dimaksud oleh Sir Puppis?” tanya Diphda tak bisa menahan rasa penasarannya lebih lama.
“Tugas yang menyenangkan untuk didengar oleh mereka berdua setelah bangun nanti. Yaitu pergi ke Desa Mayall.”
...***...
__ADS_1