Terminator Warrior

Terminator Warrior
Pertarungan Di Darkotry


__ADS_3

Langit semakin pekat, bintang-bintang mulai tampak, rembulan yang tidak sepenuh hari sebelumnya menggantung tertutup awan-awan. Malam telah datang. Mereka berdelapan memutuskan beristirahat di bawah pohon rindang bersama api unggun kecil.


Zibal menjelaskan maksud dari perkataannya sebelumnya, mengenai apa yang dia maksud tentang alur pertempuran yang semakin membesar. Zibal mengaku firasatnyalah yang berbicara. Ia merasakan kalau pertempuran di tempat itu tidak hanya sekadar mempertahankan perbatasan semata.


“Apa maksudmu?” Okul bertanya dengan tidak sabar.


“Karena kalau mereka benar-benar ingin menjauhkan kita dari tempat ini maka mereka harusnya lebih serius dalam memburu kita, tapi itu tidak dilakukan. Padahal aku tahu ada ramplite golongan satu di sini, bukannya mereka, justru golongan rendahlah yang memburu kami. Itu aneh, pikirku. Lalu, semalam aku mendengar samar-samar suara sebuah pertarungan di dalam wilayah Darkotry.”


“Apakah dari prajurit Hunter Warrior?!”


Zibal menggeleng. “Aku rasa bukan.”


“Lalu pertarungan antara siapa dengan siapa?” Kraz bertanya lagi.


“Entah. Itu yang ingin aku tahu. Pertarungan di dalam wilayah Darkotry jauh lebih dipentingkan oleh para ramplite itu dibandingkan dengan melawan kita. Seolah-olah kita bukan ancaman.”


“Itu jelas. Karena kalian bisa dibantai habis-habisan dalam dua hari mereka pasti menganggap kalian bukan sebagai ancaman,” tukas Alpha.


“Kau salah, Alpha.” Algol menegurnya. “Justru karena semua orang bisa dibantai di hari kedua, tetapi tidak dengan mereka, mereka harusnya malah jadi ancaman. Bukan sebaliknya.”


“Hahaha. Tidak apa-apa, Mr. Algol. Yang dikatakan bawahanmu itu benar. Kami tidak dianggap sebagai ancaman karena kami lemah,” ucap Zibal.


Tidak ada yang tahu mesti menanggapi seperti apa perkataan Zibal, alhasil semua orang terdiam, dan itu menyebabkan suasana canggung muncul. Kebisuan mengunci mulut-mulut mereka. Hanya suara-suara malam yang hadir menghibur mereka. Gesekan-gesekan tangan terkadang ikut ambil menambah bunyi-bunyian kala rasa dingin tidak lagi bisa diatasi hanya dengan hangat api yang semakin mengecil.


Akan tetapi kesunyian itu tidak berlarut-larut, tiba-tiba mereka semua mendengar suara dari dalam wilayah Darkotry, tidak keras ataupun jelas, tetapi mereka yakin itu adalah suara ledakan. Semakin mereka mempertajam telinga dan melebarkan mata mereka dibuat yakin kalau di dalam sana memang ada sebuah pertarungan. Sedikit dan samar-samar, tetapi mereka melihat berkas-berkas cahaya di antara pepohonan mati.


“Aku akan mengecek ke sana.” Pollux berdiri dan berucap tiba-tiba.


“Jangan, bahaya!”


“Untuk kalian mungkin iya, tapi tidak untukku.”


“Sekalipun kau kuat, tetap berbahaya pergi ke sana seorang diri!”


Pollux menatap langsung ke dalam mata Zibal dengan tajam. “Kalau begitu, apa kau mau pergi bersamaku? Meski aku tidak akan menjamin keselamatanmu.”


“Hei!” Kraz berseru ingin menegur, akan tetapi Algol menghentikannya. Laki-laki itu pun menurut. “Aku tidak suka sikap soknya itu. Apalagi terhadap kaptennya sendiri,” gerutunya dongkol.


“Aku yang bertanggung jawab terhadap anak buahku. Kau tidak bisa pergi jika aku tidak mengizinkanmu.”


“Aku bukan bawahanmu!” Pollux menyentak. “Kalau saja aku tidak—” Pollux memotong pembicaraannya sendiri. “Aku tetap akan pergi ke sana.”


Pemuda itu pun bergegas meninggalkan mereka. Ia berlari cepat dengan suara minim menuju wilayah Darkotry yang tidak jauh dari tempat mereka berada. Melihatnya membuat Zibal menghela nafas panjang.


“Dasar bocah,” gumamnya. Ia lalu menoleh pada Algol. “Aku tidak punya pilihan lain kecuali mengikutinya. Bagaimana dengan kalian?”


“Kami di sini sebagai bala bantuan, kalau kami tidak membantumu lantas apa guna keberadaan kami.”


“Seperti yang dikatakan Pollux, jika kita masuk ke wilayah Darkotry maka tidak ada yang menjamin keselamatan satu sama lain. Tanamkan itu pada kepala kalian dan jangan salahkan siapa pun atas apa yang akan terjadi nantinya,” kata Zibal cuek.


“Tidak masalah,” jawab Algol.

__ADS_1


“Kapten,” Okul berwajah kurang senang, “apa baik-baik saja?”


“Tenang, Okul. Yang akan menanggung ini hanya aku dan Mr. Zibal. Ah, tapi jika kalian tidak ingin pergi kalian bisa berjaga di sini.”


“Haha! Mana mungkin kami tidak pergi, kan?” Alpha melemaskan jari-jarinya.


“Baiklah. Ayo!”


Dengan aba-aba tersebut mereka segera menyusul Pollux yang tinggal beberapa langkah lagi masuk ke wilayah Darkotry. Beruntung mereka bisa menyusul pemuda itu sehingga mereka tetap bersama-sama. Diphda dan Kraz membuat bola cahaya yang memberikan mereka penerangan.


“Baunya...” Alpha menutup hidungnya sambil terus berlari kencang mengikuti Pollux yang memimpin jalan. Pemuda itu menoleh ke kanan-kirinya. Ia pun bergumam, “Sama seperti yang dijelaskan di buku,” katanya mengomentari wilayah tersebut.


Darkotry, wilayah yang dikuasai oleh ramplite, tempat di mana mereka tinggal, merupakan tempat yang benar-benar tidak nyaman untuk dimasuki. Wilayah itu terdiri dari hutan-hutan mati, di mana pohonnya tumbuh dengan batang hitam, tanpa daun maupun buah, hanya dahan dan ranting serta akar yang menyembul keluar tanah. Tidak rumput atau bahkan lumut tumbuh di wilayah tersebut. Aroma dari tempat itu pun tak kalah memuakkan, seperti bau bangkai dan anyirnya darah yang membusuk. Berada lama-lama di sana maka perut akan terganggu.


Bila masuk ke sana harusnya membawa wewangian yang dapat membantu mengusir bau mencekam itu, tetapi mereka tidak memilikinya jadi mau tidak mau harus menahannya meski perut sudah mual-mual tak karuan. Sebagian dari mereka tak urung berhenti berkali-kali untuk memuntahkan isi perut.


Pollux yang berada paling depan terenyak saat matanya menangkap secercah cahaya dari balik pohon. Suara langkah dan gerakan-gerakan menyerang dari pertarungan di depan sana semakin jelas. Pemuda itu pun semakin mempercepat larinya.


“Sekarang!” teriak seorang laki-laki berambut cokelat gelap. Ia tengah menarik tambang yang di sana terikat seorang ramplite, ramplite itu tergantung terbalik di dahan sebuah pohon, ia meronta-ronta. “Tembak langsung di dadanya!” perintahnya.


Sebuah cahaya warna kuning melesat cepat ke arah dada ramplite tersebut. Namun, di saat-saat terakhir ia bisa membebaskan diri. Ramplite itu jatuh ke tanah dengan suara keras. Seolah-olah tidak merasa sakit sedikit pun ramplite itu bangkit lalu berlari cepat pada manusia bintang yang menyerangnya. Ia menghantamnya dengan tendangan super keras dari kakinya yang terbalut sisik-sisik keras. Lelaki itu terpental. Ia ditangkap oleh rekannya sebelum menghantam pohon.


“Beristirahatlah. Aku yang akan melawannya,” ucap si lelaki berambut cokelat.


“U-ugh... terima kasih.”


Pemuda berambut cokelat tersebut berlari ke arah sang ramplite dengan dua belati di tangannya. Ia berduel dengan ramplite itu. Tangannya dengan gencar mengincar titik-titik vital dari lawannya, sayangnya ramplite itu selalu memunculkan sisik tebal di tempat si pemuda menusukkan belatinya, membuat segala serangan dari pemuda itu sia-sia.


Sraaak!


Sang pemuda terseret mundur akibat tendangan padanya. Ia mengibaskan lengannya yang kesakitan akibat menahan tendangan yang diarahkan pada dadanya. Matanya awas mengamati pergerakan musuhnya yang sigap menyergap. Kali ini pemuda itu memilih menghindarinya tanpa berusaha melancarkan serangan balik. Sebenarnya ia sedang mengamati tubuh lawannya dari dekat demi menemukan titik lemahnya.


‘Dia ini ramplite golongan satu tingkat rendah. Dilihat dari sisik-sisiknya ia tercipta dari trenggiling. Sisiknya sangat keras. Belatiku tidak mampu melukainya.’


Syuuut.


Sebuah hantaman tangan dilancarkan dari samping, berniat mengincar leher si pemuda, tapi lelaki itu bisa menghindar dengan memundurkan kepalanya. Pemuda itu mencengkeram erat lengan yang berada dekat dengannya menggunakan kedua tangan. Lalu, dengan sekuat tenaga ia menarik sang ramplite dan membantingnya. Kemudian ia menendangnya sekuat tenaga hingga ramplite itu terpelanting menabrak pohon.


Tidak langsung merasa puas, si pemuda berlari cepat menghampiri, ia membombardir ramplite itu dengan serangan belatinya. Serangan itu tidak mempan gara-gara tubuh ramplite terlapisi sisik tebal. Malahan, ramplite itu memanfaatkan jarak dekat mereka untuk mencekik sang pemuda. Ramplite itu mengangkat si pemuda.


“Khe... aargh...!”


“Hahaha! Rasakan! Kau pikir bisa melawanku, hah?! Padahal sendirinya hanya manusia biasa rendahan! Nah, sekarang serahkan benda itu padaku!”


Ramplite itu menggunakan tangan lainnya untuk meraih kantong kecil yang dijadikan kalung oleh si pemuda. Namun, sebelum tangan bersisik itu mampu mendapatkannya si pemuda dengan cepat menusukkan salah satu belatinya pada tangan yang mencekiknya. Ia berhasil. Darah menetes dari tusukannya. Ramplite itu melepaskan cengkeramannya dan kesakitan.


“Brengsek kau!”


Pemuda itu mengambil langkah mundur. “Tubuhmu memang terlindungi oleh sisik, tapi bukan berarti tidak memiliki kelemahan. Sisik-sisik itu memiliki celah di bawahnya. Aku hanya perlu mengincar celah itu.”


“Coba saja!”

__ADS_1


Ramplite itu mencabut kapak yang tersimpan di pinggangnya. Ia menyerang pemuda itu dengan kapaknya. Meskipun senjatanya kalah besar si pemuda tidak tampak kewalahan. Kepiawaiannya bermain belati jempolan. Sambil menangkis kapak yang dimaksudkan untuk membacok tubuhnya pemuda itu melancarkan tusukan-tusukan dari bawah untuk melukai lawannya. Dan ia berhasil. Ia mampu mendaratkan beberapa tusukan yang mendekati ke bagian vital tubuh lawannya. Belatinya kini teraliri darah musuhnya.


“Haa... haa... haa..”


“Ada apa? Apakah sisik-sisikmu memberatkan nafasmu, Tuan Ramplite? Pergerakanmu juga semakin lambat tahu.”


“Akan kutunjukkan kecepatanku kalau begitu.”


Ramplite itu menumbuhkan sisik di seluruh tubuhnya. Ia juga memunculkan ekor. Ramplite itu tiba-tiba melingkarkan tubuhnya. Ia berubah menjadi bola besar bersisik. Ia menggelinding cepat mengarah pada si pemuda. Pemuda itu berhasil menghindar. Ramplite itu tidak berhenti, ia terus berputar cepat dan menggelinding mengarah pada lawannya. Tidak peduli meski ia menabrak pohon atau batu sekalipun, malahan yang ditabraknyalah yang hancur, tubuhnya tidak terluka karena sisiknya begitu keras sehingga mampu melindunginya.


“Kalau aku terkena serangan itu tulang-tulangku bisa langsung patah.”


Pemuda itu naik ke atas pohon. Ia merogoh kantong senjata yang berada di pinggangnya. Ia lalu melemparkan bola-bola peledak. Namun, usahanya itu gagal. Jangankan terbuka, bola sisik itu tidak tergores sedikit pun. Pemuda itu mendengus kesal. Ia mengeluarkan tambang, membentuknya menjadi ****, lalu dilemparkan pada ramplite itu. Berkali-kali ramplite berbentuk trenggiling yang membola itu berhasil lolos dari tangkapannya, tapi setelah percobaan yang belasan kali pemuda itu akhirnya berhasil menangkapnya.


Pemuda itu melompat turun dari pohon. Ia memutar-mutarkan ramplite yang ditangkapnya menggesek tanah. Bekas dari putaran itu membentuk lingkaran selokan sedalam setengah meter. Pemuda itu lalu melemparkan ramplite itu ke atas batuan. Ia menghantamkannya berkali-kali seperti bermain yoyo. Batu itu retak. Darah terciprat. Berkat darah yang licin ikatan tali menjadi kendor dan ramplite itu terlepas.


Secara kebetulan ramplite itu mendarat di dekat rekan si pemuda. Tak menyia-nyiakan kesempatan ia mendekati lelaki yang tidak siap itu dan menangkapnya.


“Le-lepaskan aku!” jerit lelaki itu sambil memberontak. Menggunakan tenaganya yang tersisa ia menendang dan memukuli ramplite tersebut.


Ramplite itu tidak menggubris perlawanan si lelaki. Ia meregangkan bahu dan kepala orang yang ditangkapnya itu. Mulutnya terbuka lebar, bersiap mereguk darah manusia bintang tersebut.


“Sial! Aku tidak akan sempat!” Pemuda itu menggeram marah. Ia mengambil ancang-ancang untuk melempar belatinya.


Klang.


Belati itu jatuh akibat ditangkis oleh si ramplite. Mulutnya semakin dekat dengan bahu mangsanya. Mulutnya semakin lebar. Giginya mulai menyentuh kulit laki-laki manusia bintang itu.


“Aku tidak akan membiarkanmu berubah sempurna!” teriak si pemuda sambil melemparkan belatinya yang lain. ‘Kuharap masih sempat,’ batinnya penuh harap.


“Ja-jangan! Hentikan!”


‘Akhirnya aku akan menjadi sempurna—’


Slash!


Tebasan cahaya menghentikan aksi ramplite tersebut. Namun, ramplite itu tidak melepaskan mangsanya. Ia membawa manusia bintang itu melompat mundur.


Pollux kesal serangannya gagal.


“Delta Velorum : Alpha Beam!”


Swooosh!


Tembakan cahaya yang menyerupai laser menuju cepat ke ramplite tersebut. Ramplite itu ternyata tidak siap karena masih terlalu terkejut dengan serangan-serangan yang mendadak muncul. Tembakan itu mengenai tepat di kepalanya, membuatnya tewas seketika. Laki-laki yang ditahan itu gelagapan kaget dengan serangan yang persis di sampingnya. Matanya membelalak kaget mengetahui kepalanya tidak ikut hancur.


Pemuda berambut cokelat tadi memandangi delapan orang yang tiba di sana dengan mata melebar tidak percaya. Akan tetapi matanya hanya fokus terhadap dua dari mereka. Dengan suara yang menyerupai jeritan ia berucap, “Alpha! Ursa!”


Merasa nama-nama mereka dipanggil, Alpha dan Ursa menoleh ke sumber suara. Dengan tidak kalah berteriak dari pemuda itu keduanya menyeru bersama. “Gage!”


...***...

__ADS_1


__ADS_2